Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Permen Karet


__ADS_3

Hari-hari yang dijalani Niken selama bulan Ramadhan berjalan dengan biasa saja. Libur Idul Fitri pun sudah usai. Kembali ke rutinitas sekolah yang terasa menyenangkan dan menyebalkan bagi Niken. Menyenangkan karena dapat berkumpul dengan Adila, Marwah dan Salsa. Tak lupa pula Rayya yang turut andil mewarnai masa SMP nya. Tapi juga menyebalkan apalagi bila sudah berkaitan dengan Mulyono.


Seperti pagi ini, entah ada angin apa, begitu Niken datang, Mulyono sudah duduk manis di bangku Niken. Awalnya Niken cuek saja, meletakkan tasnya di laci meja dan sempat melirik Mulyono yang disambut dia dengan senyum manis yang membuat Niken hampir bergidik. Tapi sikap cuek Niken bertahan sebentar karena begitu Niken berbalik ingin keluar kelas, Mulyono mengikuti langkahnya.


"Ngapain, lo?" tanya Niken sengit. Bila berhadapan dengan Mulyono, Niken tiba-tiba jadi punya penyakit hipertensi. Padahal kesalahan Mulyono hanya satu yaitu naksir Niken.


"Siap-siap kelapangan mau upacara, kan?" Mulyono balik bertanya dengan nada kalem mendayu-dayu khas dirinya.


"Nggak, gue mau ke toilet. Mau ikut lo?"


"Boleh. Biar aku temenin." Niken melirik sengit.


"Cieee romantis amat sih, ke toilet aja pake acara ditemenin segala. Couple goals sih emang beda ya gaya pacaran nya."


Rindy yang biasanya berwajah galak menampilkan wajah menggodanya. Senyum manis dia sunggingkan tapi sungguh kali ini Niken tidak sudi untuk mengagumi wajah imutnya walau dalam hati. Niken hanya melirik Rindy sesaat dan melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti. Mulyono dan Rindy mengikuti langkahnya.


"Lo lebih cocok sama Mulyono loh Nik daripada sama kak Rayya. Nggak ada pantes-pantesnya kalo lo sama kak Rayya." Rindy dengan mulut tajamnya memang kombinasi yang sangat pas dan mematikan. Niken rasanya ingin menjambak rambut Rindy tapi apalah daya nyalinya belum seberani itu.


"Kamu beneran jadian sama kak Rayya ketua OSIS kita itu ya, Nik?" Mulyono bertanya penasaran. Mulyono bahkan sampai mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan Niken, meninggalkan Rindy dibelakang sendirian.


"Kalo kata orang dulu, sebelum janur kuning melengkung masih bisa ditikung. Jadi, jangan menyerah ya Mulyono, kami anak-anak 7b lebih mendukung lo jadian sama Niken. Percaya deh, Niken lebih cocok sama lo daripada sama kak Rayya."


Mendengar dukungan dari Rindy kontan saja membuat Mulyono besar kepala. Semangatnya menggelora untuk mendapatkan cinta Niken. Wajahnya sudah berseri-seri dan merona malu.


"Kalian ngapain sih ngikutin gue?" Niken sudah tak tahan lagi. Dihentikannya langkah dan berbalik badan menghadap Rindy dan Mulyono yang masih asyik berceloteh tidak jelas.


"Dih GR amat lo, gue juga mau ke toilet kali," ujar Rindy sinis. Rindy berlalu sembari menabrakkan bahunya di bahu Niken. Niken menghembuskan nafas jengah dengan tingkah Rindy. Kini Niken menghadap Mulyono dan menyilangkan tangan didepan dada. Mengintimidasi Mulyono dengan mencoba bersikap angkuh.

__ADS_1


"Kalo lo mau ngapain? Mau ikut gue ke toilet juga? Apa perlu gue pinjemin lo rok sekolah gue?" Mulyono gelagapan mendapat bentakan dari Niken. Padahal bila Mulyono jeli memperhatikan, tangan dalam dekapan Niken juga gemetar karena seumur-umur baru kali ini Niken yang manja membentak seseorang.


"Nggak deh. Lo duluan aja, gue mau balik ke kelas aja." Mulyono segera kabur setelah mengatakan itu. Niken pun melanjutkan langkahnya menuju ke toilet.


Sesampainya di toilet, Niken menoleh ke kanan dan ke kiri. Nampak Rindy yang tengah mencuci tangan di wastafel, Niken pun memutuskan untuk mencuci tangan juga karena sejujurnya Niken ke toilet hanya untuk menghindar dari Mulyono. Maka begitu sampai di toilet, Niken bingung sendiri mau ngapain.


Rindy melirik Niken yang juga tengah mencuci tangan disebelahnya.


"Gue heran sama selera kak Rayya, jelas-jelas gue sama lo lebih cantikan gue kemana-mana tapi bisa-bisanya dia lebih milih lo." Rindy berujar sinis sembari menggelengkan kepalanya dan berlalu keluar dari toilet meninggalkan Niken yang lagi-lagi hanya bisa menghela nafas.


Setelah keluar dari toilet, Niken berniat kembali ke dalam kelas. Niken ingin membaringkan kepalanya sejenak. Adila tidak masuk sekolah hari ini sedangkan Marwah dan Salsa pamit ke koperasi sekolah. Rencana Niken untuk kembali ke dalam kelas urung terlaksana karena Niken bertemu dengan Rayya yang tengah bersandar di pintu kelas 7e. Entah apa yang sedang dilakukan Rayya dikelas juniornya itu.


"Kirain tadi aku salah orang waktu liat kamu lewat, makanya aku tungguin disini. Kok tumben sendirian? Udah berani ke toilet sendiri? Entar kalo jumpa hantu gimana?" Rayya menggoda Niken. Kini Rayya tau bahwa selain pendiam dan pemalu, Niken juga penakut.


'Bukan hantu yang aku temuin kak, tapi nenek lampir.' batin Niken.


"Padahal kalo tadi belok dulu kesini aku dengan senang hati akan menemani."


"Makasih kak," sahut Niken datar. Rayya langsung tertawa dan mengacak rambut Niken. Niken sampai heran sendiri dimana letak lucunya.


Rayya merogoh saku bajunya dan menyerahkannya kepada Niken.


"Nih!" Niken melihat tangan Rayya dan terdapat sebungkus permen karet disana.


"Untukku kak?" tanya Niken memastikan. Bukannya apa, Niken tidak mau salah persepsi dan berujung memalukan diri sendiri.


"Biar nggak cemberut terus." Otomatis bibir Niken melengkungkan senyum. Diraihnya permen karet itu dan dimasukkannya kedalam saku bajunya. Mungkin efek perkataan Rindy di toilet tadi membuat Niken tidak sadar telah cemberut sepanjang jalan dan Rayya yang memang telah menunggunya di pintu kelas menyadari itu.

__ADS_1


"Dimakan dong!"


"Iya nanti pasti aku makan."


"Mau dijadikan pajangan biar bisa dipandangi tiap malam ya? Terus dikasih catatan 'dari pacar'," sahut Rayya kepedean. Niken tertawa dengan perkataan ngawur Rayya.


"Minggir woy, jangan godain anak orang didepan pintu kelas, bidadari jadi nggak bisa lewat." Terdengar sahutan keras dari belakang punggung Rayya.


Rayya menoleh kebelakang dan menggeser sedikit posisi berdirinya. Rayya dan Niken sama-sama tidak menyadari bahwa posisi mereka ternyata tepat didepan pintu dan berpeluang besar jadi bahan tontonan seisi kelas. Niken memajukan kepalanya sedikit untuk mengintip isi kelas 7e dan syukurnya penghuninya bisa dihitung dengan jari.


"Berisik loh, Yah." Rayya menyahut ketus.


"Loh, kak Diah!" seru Niken kaget. Yang dipanggil Diah oleh Niken itu pun menoleh.


"Loh kamu kan yang pingsan waktu itu kan?" Kak Diah memastikan.


"Iya kak." Niken menyahut pelan karena malu. Duh kak Diah ini kenapa mesti disebutin agenda pingsan itu sih, kan jadi malu. Mana ada Rayya lagi disini. Tuh kan jelas banget Rayya yang menoleh bingung memandang Niken dan Diah secara bergantian.


"Ohh jadi ini yang namanya Niken, Ray?" Diah sudah senyum-senyum tidak jelas begitupun dengan Rayya membuat Niken berpikir mereka berdua sepertinya punya gangguan jiwa.


"Kenapa kak?" Niken akhirnya bertanya juga kepada siapapun yang sudi kiranya menjawab pertanyaannya karena penasaran dengan senyum mereka.


"Nih, Rayya buat pengumuman seantero sekolah kalo dia udah punya pacar bahkan sampai guru-guru pun dikonfirmasi sama dia." jelas Diah.


Blusshh.


Membayangkan saja Niken sudah malu bukan kepalang.

__ADS_1


__ADS_2