
Niken berjalan kaki menuju rumah Juna dan sesampainya disana Niken mendapati mama Juna sedang duduk santai di beranda rumah.
"Loh Niken, sini nak." Mama Juna melambai riang begitu mendapati teman putranya itu sedang celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.
"Eh tante." Niken cengengesan dan langsung ikut duduk. Mama Juna menyodorkan sepiring kue lapis dan langsung diambil Niken lalu dimakannya.
"Buat sendiri Tan, enak banget." Niken memberi pujian setelah memakan sepotong kue lapis itu. Niken tidak berbohong dan tidak hanya sekedar memuji, kue buatan mama Juna memang terkenal sangat enak rasanya.
"Iya, tadi siang iseng nggak ada kegiatan daripada tidur mulu, Tante buat aja kue, kebetulan bahan-bahannya tersedia dirumah."
"Kapan-kapan ajarin aku buat kue juga Tan, kita masak bareng." Niken menawarkan diri, hitung-hitung belajar membuat kue biar bisa seenak kue buatan mama Juna.
"Boleh, Tante seneng kalo ada temennya masak, kak Eta selama kuliah jarang dirumah. Oya kamu cari siapa? Tante lihat baru datang tadi muter terus kepalanya?"
"Hehehe, cari kak Eta Tan, mau nonton film." Niken garuk-garuk rambut salah tingkah karena ketahuan seperti maling yang sedang mencari target.
"Barusan aja kak Eta nelpon Tante, ngabarin kalo dia nginep dirumah temennya, ada tugas besok pagi buta yang harus pergi ke kota." Mama Juna memberitahu sambil terus memakan kue lapis buatannya.
"Yah, nggak jadi ke bioskop deh." Niken menyahut kecewa dan justru mengundang tawa di bibir mama Juna.
"Juna ada, Tan?" tanya Niken. Tak bertemu Eta bertemu adiknya pun jadilah. Tujuan awalnya kan bila tak bertemu Eta maka Niken akan menganggu Juna.
"Ada itu di kamar, masuk aja." Mama Juna membuat gerakan seolah mengusir. Niken memakan kembali kue lapis yang masih tersisa di piring dan beranjak setelah kue ditangannya habis.
"Aku nemuin Juna dulu deh, Tan." Mama Juna hanya mengangguk dan memandangi punggung Niken yang menjauh memasuki rumah.
"Ngapain? Aku memang suka dia, suka banget, tapi aku mau memantaskan diri dulu. Udah tenang aja, aku pasti bisa dapetin cintanya." Niken baru akan memegang handle pintu begitu suara Juna terdengar dan Niken langsung menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Juna sepertinya sedang menelpon seseorang, karena tidak ada suara orang lain selain suara Juna sendiri. Niken menempelkan telinganya ke daun pintu berharap dapat mendengar percakapan Juna selanjutnya tapi sepertinya Juna sudah memutuskan panggilan.
Niken masih berdiri mematung di depan pintu kamar Juna dan mulai berpikir.
'Mengapa semua orang menyembunyikan perasaan yang mereka rasakan darinya padahal selama ini Niken selalu mencurahkan isi hatinya kepada mereka?"
Niken memutuskan untuk kembali pulang dan beralasan Juna sedang mandi saat di tanya mama Juna kenapa tak jadi menemui anaknya. Pikiran Niken semrawut, entah mengapa sepertinya banyak sekali beban pikiran yang mengganggunya. Masalah Bayu belum beres, ada Nabila yang ternyata diam-diam suka Bayu sekarang Juna juga diam-diam tengah menyukai seseorang yang entah siapa, Niken tak tau karena Juna yang tak pernah bercerita kepadanya.
***
Seminggu sudah sejak Bayu menyatakan cinta terlewati, hidup Niken aman-aman saja awalnya, tapi sepertinya tidak untuk hari ini. Bayu yang tidak pernah menemui dan menghubungi nya tiba-tiba datang ke sekolah Niken menawarkan tumpangan diiringi senyum manis yang selalu menghiasi bibirnya.
Niken melirik Nabila yang kebetulan sedang bersamanya karena Juna yang sedang ada latihan voly sehingga tidak bisa pulang bersama. Nabila tersenyum singkat kepada Bayu setelah itu sibuk melambai kepada teman-teman yang dikenalnya yang juga akan menuju kerumah masing-masing.
"Nggak pulang bareng Juna, kan?" tanya Bayu yang membuat Niken langsung menoleh kearah Bayu.
"Pulang sama Abang, ya?" Niken terbengong sebentar sebelum menoleh kearah Bayu kembali.
"Gimana kalo Abang antar Nabila dulu?"
"Apaan? Aku naik bus?" Nabila langsung menolak ketika sadar namanya dibawa-bawa. Niken jadi merasa semakin tidak enak saja.
"Ada yang mau Abang omongin sama kamu." Lirih Bayu.
Niken mau tidak mau mengangguk dan naik keatas motor Bayu, meninggalkan Nabila sendiri. Sepertinya Niken harus siap menghadapi dan menyelesaikan kegalauan hatinya segera. Tidak enak sekali rasanya terbelenggu rasa tidak nyaman selama seminggu ini.
"Maaf selama seminggu ini Abang nggak ada hubungi kamu, Abang nggak mau ganggu proses berpikir kamu." Niken menganggukkan kepala tanda mengerti walau suara gemuruh mengganggu hati.
__ADS_1
Saat ini Niken dan Bayu tengah duduk di beranda rumah Niken dengan Niken yang masih mengenakan seragam sekolah. Bayu sendiri sudah disuguhkan teh oleh mamanya Niken begitu mengetahui calon menantu idamannya bertandang kerumah.
"Kamu nggak papa, kan?" tanya Bayu yang sempat membuat Niken bingung sejenak. Niken menjawab tidak apa-apa walau masih bingung dengan maksud pertanyaan Bayu.
"Abang yang kenapa-kenapa?"
"Ha? Abang sakit?" Niken bertanya khawatir yang mengundang senyum di bibir Bayu.
"Iya, sakit nahan rindu." Bayu menjawab kalem. Wajah Niken merona merah mendengar gombalan Bayu.
'Duh, gebetan teman gini amat,' batin Niken nelangsa.
"Boleh Abang minta jawabannya sekarang?"
'Duh mampus!'
Ketakutan yang dialami Niken selama seminggu ini akhirnya hari ini berada di puncaknya. Niken menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memainkan jari tangannya, bingung setengah mati.
"Maaf bang, aku nggak bisa jadi pacar Abang." Lirih Niken pelan. Dipandangnya wajah Bayu yang masih memandanginya dan nampak jelas kekecawaan bersemayam dimatanya.
"Kenapa?" tanya Bayu berusaha menormalkan nada suara dan perasaan yang bergemuruh di dadanya. Gabungan dari rasa kecewa dan marah. Kecewa karena cintanya bertepuk sebelah tangan dan marah karena egonya sebagai lelaki terluka.
"Aku nggak bisa. Maaf. Aku nggak bisa kasih alasan kenapa aku nggak mau jadi pacar Abang." Bergetar suara Niken sewaktu mengucapkannya, dipikirannya saat ini hanya ada Nabila yang pasti akan sangat terluka bila tau lelaki yang dicintainya menyatakan cinta pada orang lain.
Lama Bayu terdiam dan masih memandangi wajah Niken yang malah semakin betah menunduk tak berani menatap sorot kecewa di mata Bayu. Bayu menghembuskan napas gusar dan beranjak dari bangku yang duduki nya.
"Udah nggak papa. Jangan merasa bersalah gitu. Abang baik-baik aja kok. Abang sayang sama kamu dan akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, semoga kamu mendapatkan lelaki terbaik di hidup kamu." Bayu berlalu dan pamit pergi setelah sebelumnya mengusap lembut rambut Niken.
__ADS_1