Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Papa Ditipu


__ADS_3

"Nggak tau siapa namanya," ucap Ardi cuek.


Niken jadi bingung sendiri. Apa selama ini Nabila dan Bayu memang seakrab itu hingga menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Tapi Niken segera tersadar dari pikirannya, baguslah kalau memang Bayu dan Nabila sekarang bisa dekat, Niken jadi tidak perlu dihantui rasa bersalah walaupun Niken tak habis pikir, baru kemarin Niken menolak perasaan Bayu dan ternyata Bayu sudah jalan dengan Nabila. Walau Niken belum tau pasti hubungan yang terjalin diantara keduanya.


Niken beranjak dari kantin dan Ardi mengikuti langkahnya. Niken hanya melirik dan terus berjalan dengan cuek.


"Sejak kapan sih kamu pacaran sama Jujun, Nik?" tanya Ardi penasaran.


Sedangkan Niken mengernyitkan kening heran, "Jujun siapa?"


Ardi menolehkan kepala sejenak dan cengengesan sendiri, "Juna kekasih hatimu lah."


"Oh." Niken membulatkan bibirnya dan manggut-manggut.


"Sejak kapan, Nik?" tanya Ardi lagi pantang menyerah.


"Kok kepo sih," sewot Niken melihat kekepoan Ardi yang sepertinya sudah level maksimal.


"Ya iyalah, gimana nggak kepo, dia udah curi gebetan aku. Dia diam-diam aja eh nggak taunya tau-tau udah jadian aja." Penjelasan berapi-api Ardi seketika membuat langkah Niken terhenti dan Ardi pun refleks ikut berhenti mengikuti Niken.


"Kenapa?" tanya Ardi heran.


"Juna curi gebetan kakak? Siapa?" tanya Niken penasaran setengah mati.


"Ya kamulah." Ardi masih menyahut dengan nada sewot yang tidak terlalu di pedulikan Niken.


"Ha?"


"Ha he ho ha he ho. Aku tuh suka sama kamu tau, kamu nggak tau kan? Eh si Jujun sableng itu tiba-tiba malah bilang kalo kamu udah jadian sama dia, asem bener." Ardi masih sibuk menggerutu.


Niken meneruskan langkahnya pelan sambil garuk-garuk rambut yang sebenarnya tidak gatal. Diliriknya kakak kelas yang masih asyik misuh-misuh itu.


"Kakak sejak kapan suka aku?" lirih Niken. Malu juga sebenarnya bertanya tentang ini tapi daripada penasaran kan lebih baik di tanyakan.


"Eh?" Ardi menoleh kaget menatap wajah Niken.

__ADS_1


"Aku tadi ngomong apa ya?" Ardi memukuli bibirnya pelan.


"Ngomong kakak suka aku," jawab Niken polos.


"Masa sih?" Ardi berucap tak percaya tapi mendapati Niken menganggukkan kepala Ardi jadi panik sendiri.


"Ya Allah aku kenapa sih kok bego banget. Mati aku." Ardi menggeleng panik dan memegangi kepalanya. Dilihatnya sejenak Niken dan langsung kabur tanpa mengucapkan apa-apa.


Niken sampai heran sendiri dan terbengong menyaksikan tingkah absurd Ardi yang dikenalnya lewat Juna itu.


Niken masuk kedalam kelas dan sudah menemukan Juna duduk manis di bangkunya. Niken langsung menghampiri dan duduk dihadapan Juna yang hanya terhalang meja. Dengan menyangga tangan di pipi Niken memandangi Juna.


Biasanya teman-teman mereka yang beropini kalau Niken dan Juna berpacaran dan Niken menganggap hal itu sudah sangat biasa tapi dengan Ardi mengapa justru Juna yang mengatakan kalau mereka berpacaran? Tumben-tumbenan sekali Juna mau peduli dengan urusan remeh perihal pacaran?


Juna yang mendapati Niken terus memandanginya jadi grogi sendiri, diusapnya tengkuk dan bertanya ada apa tapi Niken hanya menggelengkan kepala membuat Juna jadi bingung sendiri dengan tingkah Niken.


***


Marsya dan Marcel tertawa ngakak membuat Niken mengerutkan kening. Bingung, bagian mana dari ceritanya yang terdengar lucu hingga kedua anaknya ini kompak tertawa.


"Temen mama si Ardi itu kok lucu banget sih. Mama hipnotis dia ya sampek nggak sadar gitu ngungkapin perasaannya langsung," ucapan Marsya membuat Niken mengerti mengapa anak-anaknya bisa sampai tertawa geli.


"Mama juga bingung waktu itu, bisa-bisanya dia keceplosan dan nggak sadar bilang suka sama mama." Niken garuk-garuk kepala dan ikutan terkekeh geli.


"Inget nggak sih kak, waktu Dhani juga keceplosan bilang suka sama Rindy dihadapan mama, kejadiannya pas rapat OSIS di SMP Budaya."Marsya mengangguk, "Kita harus waspada kak, sepertinya memang mama punya bakat menghipnotis orang," lanjut Marcel lagi dan mengundang tawa ketiganya.


"Ngawur kamu." Niken tak ayal juga ikut geli dan menekan bantal sofa di wajah Marcel.


"Nabila akhirnya jadian sama Bayu ya, Ma?" tanya Marsya penasaran.


"Hmm, penasaran ya?" Iseng Niken menggoda anaknya.


"Aku lebih penasaran sama kelanjutan hidup mama setelah nenek kakek bangkrut sih," celetuk Marcel


"Setelah nenek kakek bangkrut ya?" Niken berucap sembari matanya menerawang jauh.

__ADS_1


"Jadi setahun setelah itu--"


***


Niken baru pulang dari sekolah saat hari sudah menjelang petang dan memasuki rumahnya sembari meregangkan urat leher. Sejak menjadi siswi kelas 12, kegiatan disekolah Niken semakin padat. Kegiatan ekstrakurikuler sudah ditiadakan dan di fokuskan ke pendalaman materi. Hari-hari Niken sudah dipenuhi dengan belajar, belajar dan belajar. Sudah jarang Niken bersantai ria tanpa ditemani buku.


"Maaa!" Niken berteriak memanggil mamanya dan menemukan sang mama duduk di meja makan. Terlihat mamanya yang sedang mengusap air mata di pipi dan Niken yang mendapati mamanya sedang menangis langsung berlari menghampiri.


"Kenapa ma? Kok nangis?" tanya Niken yang entah kenapa jadi ingin ikut menangis.


"Nggak papa kok, kelilipan tadi. Kamu baru pulang?" kelit mama Niken dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


Niken diam dan menatap wajah sendu mamanya, "Aku udah besar Ma, udah nggak bisa Mama bohongin dengan alasan kelilipan. Cerita sama aku Ma, ada apa?"


Mata mama Niken kembali memerah dan membelai wajah Niken lembut.


"Kamu mandi dulu ya, setelah itu makan. Mama janji nanti akan mama ceritain semuanya."


Niken ragu untuk beranjak dan meninggalkan mamanya tetapi Niken tetap menuju kamar dan membersihkan diri. Penat yang sedari tadi dirasakan sudah berganti dengan kecemasan karena tidak biasanya mama Niken menangis seperti ini.


Selesai mandi dan makan yang semua itu Niken lakukan dengan secepat kilat Niken menghampiri mamanya yang sedang berada didalam kamar.


"Ma, boleh masuk?" Niken mengetuk pintu kamar yang langsung dibuka dari dalam oleh mamanya.


Wajah mama Niken masih sembab dan terlihat kuyu seperti yang terlihat sore hari sewaktu Niken pulang sekolah tadi. Tanpa mengatakan apa-apa Niken memeluk mamanya dan ikut menangis.


Niken belum tau masalah apa yang menimpa mamanya tapi Niken seperti sudah ikut merasakan beban bathin yang dirasakan mamanya.


Sedangkan mama Niken ikut tergugu dan memeluk Niken dengan erat. Berusaha melenyapkan beban dan kegundahan hati yang selama berbulan-bulan ini membelenggu hatinya. Mama Niken juga tak menyangka bahwa anak yang selama ini selalu dianggapnya masih anak kecil dan selalu akan jadi bayi kecilnya, sudah beranjak dewasa dan akan mulai mengerti permasalahan hidup.


"Ada apa sih ma? Papa kemana?" Setelah puas menangis Niken bertanya karena sudah tidak dapat lagi memendam rasa penasarannya.


"Papa pergi ke Palembang ikut om Uno untuk sementara waktu," lirih mama Niken menjawab pertanyaan anaknya. Niken diam mendengar jawaban mamanya walau banyak sekali tanya dalam hatinya.


"Papa ditipu rekan bisnisnya, semua tabungan kita habis terkuras. Papa ikut om Uno untuk cari kerja disana." Penjelasan dari mama Niken bagai hujan es disiang terik bagi pendengaran Niken. Dingin. Sekujur tubuh Niken dingin mendengar kata dari mamanya.

__ADS_1


__ADS_2