Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Juna Sakit


__ADS_3

"Maksudnya?" Niken merasa heran, pasalnya dia tidak pernah bertingkah yang aneh-aneh bila masuk ke dalam kelas 10c itu, hanya sekedar menyapa Nabila dan keluar setelahnya.


"Iya, banyak yang kirim salam sama kamu, tanya-tanya kamu gitu deh," ucapan Nabila lagi-lagi mendapat lirikan dari Juna.


"Hahaha, masa sih? Susuk pemanis ku berarti masih ampuh bekerja." Nabila tertawa, Juna sendiri langsung menjulurkan tangannya dan menjewer telinga Niken yang sembarangan berkata.


"Bukan susuk pemanis tapi mata mereka katarak." Juna menyahut ketus.


"Kenapa Jun? Cemburu?" goda Nabila. Nabila yang sudah berkenalan dengan Juna awalnya canggung untuk mengomentari hubungan yang terjalin diantara mereka tapi sekarang dia sudah terbiasa dengan interaksi yang katanya hanya teman itu.


"Ngaco," jawab Juna singkat.


"Hulu-hulu jangan cemburu dong cinta," goda Niken sambil meraih lengan Juna untuk didekap. Niken yang awalnya tersenyum-senyum geli langsung menghilangkan senyumnya begitu kulit tangannya bersentuhan dengan Juna.


Begitu sampai kantin, mereka celingak-celinguk mencari bangku kosong. Jam istirahat pertama seperti ini memang tidak mengherankan bila kantin menjadi tujuan utama para murid setelah bel istirahat berbunyi. Bangku kosong pun menjadi langkah untuk dicari. Nabila menemukan anak sekelasnya yang berada dimeja ujung dan masih ada tiga bangku kosong yang tersisa, pas sekali dengan jumlah mereka.


"Gabung sama temen sekelas ku nggak papa?" Nabila menoleh kearah Niken dan Juna yang juga tengah mengitari penjuru kantin dengan pandangan mata. Meminta pendapat ke dua temannya ini, takut mereka tidak nyaman bila harus bergabung dengan kelas lain.


Niken melirik Juna dan mengangguk. "Nggak papa Bil, bangku mana aja kami oke yang penting duduk."


Nabila pun langsung mengajak Niken dan Juna untuk bergabung ke meja teman-temannya, tak lupa memperkenalkan mereka satu persatu.


"Mau pesen apa kalian? Biar aku pesankan." Nabila bertanya kepada seluruh temannya yang duduk satu meja dengannya.


"Kami udah pada pesen, tinggal kalian aja kok," jawab salah satu teman Nabila yang tadi ikut memperkenalkan diri yang Niken ingat bernama Isah.


"Oh oke. Kalian mau pesan apa?" Nabila mengarahkan pandangan matanya kearah Juna dan Niken.


"Jus mangga dua sama soto dua." Juna yang menjawab. Niken langsung menoleh cepat dan melebarkan matanya, melotot kearah Juna. Juna sendiri sampai heran dengan reaksi Niken.


"Badan kamu anget Jun, jangan minum es." Protes Niken.

__ADS_1


"Masa sih? Aku memang ngerasa lemes sih dari tadi." Juna memegang keningnya untuk memastikan.


"Makanya jangan minum es," omel niken. Nabila tersenyum sendiri melihat perhatian yang diberikan Niken bahkan teman-teman Nabila melirik Niken dan Juna karena Niken yang masih mengomel tentang suhu badan Juna.


"Jadi mau pesan apa ini? Keburu jam istirahat habis." Nabila bertanya kembali karena dilihatnya antrian sudah tidak seramai waktu mereka baru datang.


"Soto dua, jus mangga satu sama teh panas satu." Putus Niken yang juga beranjak mengikuti Nabila.


"Mau kemana? Biar aku aja yang pesen." tanya Nabila heran.


"Ada yang lain yang mau aku beli." Nabila mengarah ke penjual soto dan jus sedangkan Niken berbelok ke penjual air mineral.


Lima belas menit mereka habiskan untuk makan dan sesekali mengobrol. Teman-teman Nabila sudah kembali ke kelas mereka. Juna baru saja menandaskan teh manis terakhirnya waktu Niken menyodorkan Paracetamol dan air mineral yang dibelinya dihadapan Juna.


"Nih minum."


"Males." Niken melotot galak mendengar respon Juna.


"Aku udah mendingan, Nik, lagian nanti aku ngantuk kalo abis minum obat." Alasan Juna.


"Minum nggak?" Niken menekan suaranya dan menampilkan wajah galak yang menurut Juna nggak ada galak-galak nya sama sekali.


"Udah minum aja Jun, lagian ngantuk tinggal baring di UKS." Nabila menengahi perdebatan mereka.


"Nanti aku yang bilang sama guru kalo kamu sakit. Udah buruan minum." Niken bahkan sampai mengupas obat itu dan membuka tutup botol agar Juna bisa langsung meminumnya.


"Ck." Juna berdecak malas namun tak urung meminum juga obat itu. Niken bahkan sampai bertepuk tangan gembira.


***


Sepanjang jam pelajaran berlangsung sampai bel pulang berbunyi Niken tak henti-hentinya melirik Juna. Takut Juna mengantuk seperti keluhannya di kantin tadi dan takut juga masih merasakan pusing di kepalanya. Ingin sekali rasanya Niken menjulurkan tangannya dan memeriksa kening Juna tapi Niken masih sayang nyawa, bila ketahuan guru kan bencana itu namanya.

__ADS_1


Syukurnya hingga bel pulang berbunyi, Juna masih aman-aman saja, tidak ada tanda-tanda Juna semakin lemas ataupun akan pingsan.


'Emangnya kamu Nik yang sakit sedikit saja udah nggak bisa ngapa-ngapain, tergolek lemah di ranjang,' keluh Niken dalam hati.


Niken terburu-buru memasukkan peralatan sekolahnya kedalam tas. Juna sendiri sudah keluar kelas yang membuat Niken langsung berlari mengejar Juna yang sudah berada di parkiran. Orang tinggi langkahnya panjang, membuat Niken sebal dengan tubuh pendeknya yang harus berlari-lari mengejar Juna. Padahal Juna lagi sakit tapi langkah kakinya tidak ada lemas-lemasnya.


Niken langsung memegang tangan Juna yang baru akan memegang stang motornya dan masih terasa panas di kulit Niken.


"Aku aja yang bawa motornya," ucap Niken cepat. Juna melirik dan menyingkirkan tangan Niken yang masih bertengger di atas tangannya.


"Aku cuma nggak enak badan Nik, bukan lumpuh," sahut Juna sebal.


"Badanmu masih panas, Jun, biar aku aja yang bawa. Aku bisa kok."


Ya, Niken memang sudah belajar naik motor sejak kelas 2 SMP. Sedangkan Juna, tentu saja dia merasa malu bila harus dibonceng Niken. Apalagi ini masih dilingkungan sekolah, bisa makin menjadi nanti gosip antara Niken dan dirinya tengah menjalin hubungan.


"Aku nggak papa Ris, udah ayo buruan naik. Ku tinggal mau?" Ancam Juna sadis. Niken langsung naik dengan wajah cemberut.


"Pelan-pelan aja, Jun," sungut Niken. Juna yang mendengar itu langsung melajukan motornya dengan kencang.


"Juuunnnnnnaaa!" teriak Niken kaget sambil memeluk erat pinggang Niken.


***


"Sampai rumah langsung istirahat," sungut Niken sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan, hasil dari kebut-kebutan yang dilakukan Juna.


"Iya bawel." Juna pun jadi ikut-ikutan bersungut-sungut. Sebal juga dengan kebawelan perempuan bertubuh mungil ini. Niken melirik sengit dan menghentakkan kakinya, masuk kedalam rumah.


Niken langsung masuk kedalam rumah, tak didapatinya keberadaan sang mama. 'Mungkin dibelakang," pikir Niken. Niken cuek saja masuk ke kamarnya dan mengganti pakaian. Setelah selesai dengan urusannya, Niken ke dapur, bermaksud untuk makan siang sekalian mencari keberadaan mamanya.


Sudah menjadi kebiasaan Niken bila habis keluar rumah pasti yang dicari mamanya, belum puas rasanya bila belum setor muka ke mama. Kalau papa jangan ditanya, sudah pasti siang hari begini tidak akan ada dirumah, sedang mencari rezeki untuk keluarga.

__ADS_1


"Jadi gimana nasib uang kita, pa?" Niken menghentikan langkah begitu akan sampai ke dapur. Di intip nya sang mama melalui celah gorden yang dijadikan Niken sebagai pelindung tubuh. Mamanya masih menerima telepon ternyata.


__ADS_2