
Niken yang terpengaruh dengan ucapan Cindy agak begidik ngeri dan pelan-pelan membuka paper bag itu. Di keluarkannya kotak dari dalam dan mendapati tiga kotak martabak manis dengan merek A'a di stiker yang tertempel di kotak. Terdapat tiga rasa yang berbeda di martabak manis itu.
"Wah, ini sih dari Anjas!" seru Cindy yang ingat betul gerai yang pernah mereka datangi dan merek dagang yang mereka gunakan.
"Berarti aman ini Cin, nggak perlu takut ada racunnya," kekeh Niken mengingat mereka sempat berburuk sangka.
"Panggil teman-teman yang lain dong Cin, kita makan rame-rame, nggak abis ini aku makan sendiri. Aku mau sisiran dulu." Niken berucap sembari membuka gulungan handuk di rambutnya.
Cindy pun langsung melesat secepat kilat memanggil teman-teman sekamar mereka yang berada di lantai dua. Ada makanan gratis dan kesempatan langka ini tidak boleh disia-siakan. Cindy hanya memanggil penghuni di lantai dua karena bila memanggil penghuni lantai satu juga, martabak yang hanya tiga kotak itu tidak akan cukup untuk dibagi.
"Wah, sering-sering kayak gini Nik, bisa perbaikan gizi ini karena di isi dengan makanan gratis terus," ucap Anna sambil menyuap sepotong martabak rasa matcha.
"Ini sih bukan perbaikan gizi tapi memperbanyak lemak kalo tiap hari dimakan," sanggah Febi tetapi mulutnya masih menyuap martabak kejunya.
"Aku kan nggak bilang makan tiap hari, aku cuma bilang sering-sering," sanggah Anna.
"Ya tetep aja, sering-sering itu menambah lemak." Sepertinya Febi tak mau kalah apalagi ada sahutan lain dari teman-teman Niken yang ikut berkomentar.
Niken memilih diam dan membuka ponselnya. Asyik menikmati martabak manis gratisan ini sampai lupa mengucapkan terima kasih kepada yang memberi. Di carinya kontak Anjas dan segera Niken mengiriminya pesan.
Makasih ya Njas, martabaknya udah aku nikmatin bareng temen-temen ku. Banyak banget kau ngasih, tiga kotak gratis. Jangan sering-sering nanti kau bangkrut.
Setelah terkirim balasan datang lima menit kemudian.
Aku nggak ada kirim martabak. Ini aku lagi di rumah belum berangkat ke gerai. Kak Andre yang hari ini buka gerai.
Niken mengernyit membaca balasan dari Anjas. Jangan bilang ini orang iseng seperti dugaan awalnya dengan Cindy tadi. Tapi tertera jelas merek A'a yang tertera di kotak itu dan sudah pasti ini martabak hasil produksi dari gerai Niken.
Serius kau Njas nggak ada ngirim? Aku dapat tiga kotak loh, merek nya A'a. Itu bukan dari geraimu?
Niken deg-degan menunggu balasan dari Anjas hingga bunyi ting yang berasal dari ponselnya, secepat kilat ia buka. Suara tawa dari teman-temannya yang tengah menikmati martabak tak di dengarkannya. Niken takut sekali bila sampai bukan Anjas yang mengirimkan martabak ini.
Martabak merek A'a udah pasti dari gerai kami. Tapi serius aku nggak ada ngirim.
Oke deh! Mungkin temanku yang lain yang ngirimin ini. Nanti ku tanya-tanya yang lainnya.
__ADS_1
Akhirnya hanya itu balasan yang bisa Niken kirim. Diliriknya kotak martabak dan yang tersisa hanya kotaknya saja. Niken berpikir bila sampai martabak itu ada racunnya maka seluruh penghuni lantai dua ini akan mati bergelimpangan dengan mulut yang mungkin berbuih.
Saat Niken sedang berkecamuk dengan pikiran-pikiran buruknya, notifikasi pesan di ponselnya berbunyi. Niken awalnya menduga itu balasan dari Anjas tetapi begitu ia membuka ponsel, didapatinya nomor baru yang mengirimi pesan.
Martabak kiriman dari aku sudah sampai kan?
Niken yang memang penasaran dengan sosok si pengirim pun secepatnya membalas.
Sudah. Ini siapa?
Martabak kiriman dari aku sudah sampai kan?
Niken yang memang penasaran dengan sosok si pengirim pun secepatnya membalas.
Sudah. Ini siapa?
Andre!
Niken menghembuskan napas lega begitu tau bahwa Andre lah yang mengirim martabak itu. Selamatlah nyawa penghuni lantai dua, tak jadi mati dengan cara mengenaskan.
Niken menyimpan ponselnya dan ikut bergabung dengan obrolan seru teman-temannya yang tengah membicarakan gosip artis terbaru.
***
Setelah Andre mengiriminya tiga kotak martabak yang hampir membuat Niken berpikiran buruk, hubungan mereka semakin dekat. Mereka sering bertemu dan sering berkirim pesan. Lebih tepatnya Andre yang sering mengunjungi Niken ke kosannya.
Tepat dua bulan semenjak mereka semakin dekat, Andre menyatakan cinta dan Niken yang memang sudah lama mengagumi sosok Andre dengan senang hati menganggukkan kepala. Walaupun Niken merasa bahwa hubungan mereka lancar jaya tanpa hambatan, Niken tetap yakin akan mencoba menjalani hubungan ini dengan sebaik mungkin.
Sesekali Niken teringat dengan ucapan Juna kampret bahwa hubungan yang kurang greget dan tak banyak rintangan kebanyakan tak berjodoh. Niken berusaha menepis omongan kosong Juna walau kadang sesekali ucapan itu mengganggu pikirannya.
"Kakak ipar, ayo aku antar pulang?"
Niken yang baru saja keluar dari pintu masuk dan keluar di butik Salwa dan tengah menunduk memainkan ponsel hampir saja menjatuhkan benda yang berada digenggamannya saat mendengar suara itu.
"Ngagetin aja sih," sungut Niken sebal.
__ADS_1
Anjas hanya terkekeh pelan, "Yok aku antar pulang?"
Niken diam sejenak, "Kau darimana? Kok bisa ada disini?"
"Aku mau belanja kebutuhan gerai. Yok ikut sekalian bawain belanjaannya," ajak Anjas seenak jidat.
"Kau manfaatin aku ya?!"
"Hehehe, jangan suudzon gitu dong kakak ipar. Cuma bawain belanjaan aja kok," kekeh Anjas membuat Niken mau tak mau ikut juga ke boncengan motor yang di bawa Anjas.
Niken sebenarnya lelah dan ingin segera beristirahat tapi tak bisa menolak ketika Anjas mengajaknya berbelanja. Biasanya sesekali Andre yang akan menjemputnya bekerja dan mengantarkannya pulang tetapi hari ini kekasih hatinya itu tengah membuka gerai lebih cepat dari biasanya karena ini malam minggu.
Setelah berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk membeli tepung dan segala keperluan membuat martabak, Anjas menurunkan Niken di gerai dan ia lanjut pulang ke rumah untuk menyimpan belanjaan yang telah mereka beli. Biasanya Andre dan Anjas mengolah adonan di rumah dan bila adonan telah selesai baru di bawa ke gerai untuk selanjutnya di jadikan martabak bila ada yang memesan.
"Kok kamu bisa sama Anjas?" tanya Andre heran ketika mendapati kekasihnya itu berboncengan dengan Anjas sembari membawa keperluan untuk perlengkapan membuat martabak.
"Iya, dia tadi datang ke butik dan minta temeni belanja," jawab Niken sembari meneguk air mineral yang di angsurkan Andre.
"Ih bener-bener ya anak itu. Lain kali kamu jangan mau kalo di suruh minta temeni belanja. Pasti kamu juga belum pulang ke kos kan?"
Niken menggeleng karena memang itulah kenyataannya. Badan rasanya lengket dan ingin sekali rasanya mengguyurnya dengan air.
"Aku belikan makan ya, tapi makannya di sini karena gerai nggak ada yang jaga. Kamu mau makan apa?" tawar Andre sembari mengelus rambut Niken. Niken memiringkan tubuhnya menjauh, pasti rambutnya lepek, ia merasa insecure di sentuh Andre.
"Aku langsung pulang aja deh kak," tolak Niken tidak enak. Takut mengganggu pekerjaan Andre juga.
"Makan dulu baru aku antar pulang. Bentar lagi juga Anjas datang. Kamu mau makan apa biar kakak belikan!"
Niken mengedarkan pandangan dan matanya berkeliling melihat-lihat gerai yang berjejer dengan segala menu pilihan siap untuk di pesan. Niken menyebut salah satu yang menarik seleranya dan Andre secepat kilat memesankan menu yang di inginkan Niken.
Mereka makan didalam gerai dengan lesehan. Bila dilihat dari luar pasti gerai ini seperti tidak ada yang menunggu. Jam menunjukkan pukul tujuh malam dan Andre mengatakan waktu ramai pengunjung dimulai dari pukul delapan.
"Umur kamu berapa, Nik? 20 ya?" tanya Andre di sela-sela kegiatan makan mereka.
Niken sempat heran dengan pertanyaan yang di ajukan Andre tetapi tak urung ia mengangguk juga.
__ADS_1
"Kamu udah ada keinginan untuk menikah belum?" tanya Andre lagi.