
"Nik, aku kok dapat undangan reuni dari Hang Tuah ya. Itu beneran?" Kebetulan sekali, Juna membahas reuni, Niken jadi sekalian akan mengajak anak ini untuk menghadiri acara yang akan diadakan seminggu lagi itu.
"Iya bener kok. Aku juga dapat pesannya. Oya, berangkat bareng yok!" ajak Niken. Walaupun Niken baru sadar, Juna harus merogoh kocek dalam kalau nekat menghadiri acara ini karena perjalanan yang akan di tempuhnya lumayan jauh belum lagi ijin cuti yang belum tentu akan di dapat.
"Males. Acaranya seminggu lagi, aku belum gajian," tolak Juna langsung membuat Niken menurunkan bahu, lemas.
"Ya, masa aku berangkat sendiri sih Jun. Entar kalo aku ketemu Nabila gimana? Dia pasti datang lah ke acara itu, dia kan alumni Hang Tuah juga." Niken memberi alasan yang cukup masuk akal. Diani sudah pasti datang ke acara ini dengan perut buncitnya dan sudah pasti ditemani oleh sang mantan tunangannya alias suami Nabila.
"Yang salah kan mereka ngapain kau yang takut ketemu mereka. Justru seharusnya mereka yang malu ketemu kau. Gimana sih?" Niken mencebik mendengar kalimat yang dilontarkan Juna.
"Jadi kau beneran nggak datang, Jun?" Niken masih berharap Juna mau berubah pikiran.
"Nggaklah. Lagian kita masih dua tahun tamat dari Hang Tuah, belum ada yang berubah dari kita-kita."
"Hmm, masa aku harus pergi sendiri sih, Jun."
"Ajak temen kos mu. Masa nggak ada yang alumni Hang Tuah juga." Juna memberi ide. Niken mengingat-ingat sepertinya tidak ada teman kos nya yang satu sekolahan dengannya.
"Ya udah deh, entar aku pikir-pikir lagi, mau datang apa nggak." Niken menyahut lesu. Obrolan via telepon itu berlanjut membicarakan hal lain.
***
Niken sudah memutuskan untuk tidak hadir di acara reuni yang diadakan di sekolahnya itu. Acara nya akan diadakan besok dan Niken merasa malas sekali rasanya hadir tanpa ada teman dekat yang menemani. Disana nanti Niken pasti akan bertemu teman-teman lamanya tetapi Niken tidak begitu akrab dengan mereka. Ada Eni yang dulu cukup dekat dengannya bahkan mereka sudah saling kenal sejak duduk di bangku SMP tetapi Eni sudah memberi kabar tidak bisa hadir karena jadwalnya bertepatan dengan adanya ujian di kampusnya.
__ADS_1
Niken memijit lehernya begitu turun dari ojek yang membawanya pulang dari butik Salwa. Lehernya terasa kram karena terlalu lama menunduk. Ketika Niken mendongak dan menatap jalan dengan benar, Niken menemukan Juna sudah duduk manis di ruang tunggu. Ada sepeda motornya yang terparkir di halaman yang baru saja Niken lewati. Mungkin karena terlalu fokus memijat tengkuk lehernya, Niken sampai tidak menyadari keberadaan motor tersebut.
Niken langsung menyerukan nama Juna dan hampir memeluknya ketika Juna justru menahan kepala nya dengan tangan.
"Jangan peluk-peluk. Kau baru pulang kerja, belum mandi dan banyak kuman," celetuk Juna rese. Niken cemberut dan hampir menendang tulang kering Juna kalau saja teman baiknya itu tidak segera menghindar dan duduk kembali di kursinya. Ia tadi sempat berdiri ketika Niken menyerukan namanya.
"Katanya nggak bisa pulang, belum gajian, kok udah disini aja?" tanya Niken senang karena Juna ada dihadapannya.
"Kasian aku sama seseorang yang pengen hadir di acara reuni tapi nggak berani datang sendiri. Aku sampai bela-belain utang duit sama bos untuk ongkos pulang." Juna menyindir dan Niken hanya bisa tertawa dengan sindiran itu.
"Males banget Jun datang sendiri. Temen kos ku nggak ada yang alumni Hang Tuah. Nggak mungkin kau utang duit sama bos mu. Aku tau ya gajimu perbulan berapa."
"Heran aku, apa sih yang di takuti? Serius cuma takut ketemu Nabila?"
Niken mengangkat bahu, "Entahlah. Aku jadi teringat dulu waktu sekolah di Budaya, aku juga takut naik bus sendiri." Pikiran Niken menerawang teringat masa-masa indahnya bersekolah di Budaya. Niken bahkan pernah merengek-rengek kepada Dhani agar mau menemaninya menunggu bus tetapi Dhani sableng itu malah menitipkannya dengan Rayya.
"Besok berangkat jam berapa?" Pertanyaan Juna memutus lamunan Niken.
"Acaranya mulai jam 10. Kita berangkat jam 9 lah biar sampai sana pas jam 10. Kau sampai sini kapan, Jun?" tanya Niken penasaran. Kebetulan acara di adakan di hari minggu, hari dimana Niken selalu libur kerja.
"Tadi pagi sampai rumah. Aku naik mobil sama temenku yang kebetulan mau pulang ke Padang. Aku numpang. Kan lumayan, irit ongkos untuk naik bus."
"Ya terserah kau lah. Yang penting kau udah sampai sini. Aku mau mandi dulu, kau mau pulang atau nunggu aku selesai mandi?"
__ADS_1
"Aku mau kerumah temenku dulu bentar nanti aku kesini lagi minta makan." Mereka sama-sama beranjak dan menyelesaikan urusannya masing-masing.
Niken berlalu menuju kamarnya dan heran dengan ucapan Juna yang akan meminta makan. Padahal selama ini kalau Juna datang berkunjung, abang-abang penjual makanan gerobakan lah yang memberi mereka makan.
***
"Rame juga yang datang, Jun," ucap Niken sembari mengamati gedung aula yang disulap menjadi ruang pertemuan reuni ini. Ada lima angkatan yang diundang dalam acara ini. Dua tingkat diatas dan dua tingkat dibawah Niken. Jadilah Niken berada di angkatan tengah-tengah.
"Iya. Padahal seharusnya sebagian besar dari mereka disibukkan dengan kuliah. Mungkin yang datang ini kebanyakan para pengangguran." Niken mendelik sebal dengan celetukan Juna. Kalau sampai para pengangguran itu dengar kan bisa gawat.
"Eh aku kesana bentar. Kau cari gih temen mu yang sesama perempuan." Juna langsung berlalu setelah mengatakan itu.
Niken menolehkan kepala mencari gerombolan manusia yang sekiranya dia kenal dan kebetulan ada satu meja yang berisi teman-teman sekelasnya dulu. Niken bergegas mendekat dan segera menyapa dengan ramah.
"Lagi sibuk apa nih, Nik?" tanya salah satu temannya yang bernama Mila.
"Aku sibuk cari duit, biar bisa beli berlian," gurau Niken. Mereka saling menyimpan nomor tetapi jarang sekali berkomunikasi. Mungkin efek dari kesibukan mereka. Niken dengan kesibukannya bekerja dan teman-temannya dengan kegiatan kuliahnya.
"Ya elah, cari duit banyak-banyak untuk apa Nik? Modal nikah? Itu sih tugas para bujang." Teman Niken yang lain pun bergurau membuat meja mereka ramai dengan gelak tawa.
Acara penyambutan dari ketua reuni pun dimulai. Acara demi acara formal mulai terlaksana satu persatu. Para guru dari Hang Tuah yang turut hadir di buat bersimbah air mata ketika satu persatu para alumni menyalami mereka dan sesekali mengenang kenakalan ataupun kebaikan para muridnya. Ketika acara formal telah selesai, para alumni dipersilahkan menikmati acara santai dengan mengobrol dan berkumpul dengan teman-teman lainnya.
Niken pun melanjutkan obrolan dengan para temannya yang turut hadir di acara itu. Gelak tawa dan sesekali ejekan saling bersahut-sahutan. Suasana begitu meriah dan penuh canda tawa. Sejenak mereka melupakan kesibukan yang selama ini membelenggu mereka.
__ADS_1
Acara bubar di pukul tiga sore. Para alumni di ijinkan membubarkan diri. Niken bersyukur di sepanjang acara tak menemukan keberadaan Nabila. Mungkin dia tidak hadir. Dan kini Niken tengah duduk di halte dekat gerbang sekolahnya agar memudahkan Juna menemukannya. Ketika sedang asyik menunduk dan memainkan ponsel, Niken di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba ikut duduk di sebelahnya.
"Aku cari-cari kamu dari tadi nggak ketemu. Udah bubar acaranya baru keliatan."