Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
SMA


__ADS_3

Marsya dan Marcel lagi-lagi tertawa ngakak, "Jadi mama juga banyak yang kirim salam tapi nggak sadar," ucap Marcel masih terpingkal-pingkal.


"Juna juga sok ngaku-ngaku jadi pacarnya mama biar nggak ada cowok yang deketin mama. Ih so sweet sekali kalian," kekeh Marsya geli.


Niken sendiri, garuk-garuk rambut, bingung sendiri dengan kelakuan absurd nya dulu. Apalagi bila mengingat ratusan salam dari para penggemar Juna tak ada satupun yang sampai ditelinga Juna padahal Juna sesekali menyampaikan salam dari cowok-cowok yang naksir dirinya.


"Excuse me!" Niken, Marsya dan MarcelĀ  kompak menoleh. Mereka mengerjap, mendapati seorang bule muda dan tampan menghampiri mereka. Ketiganya saling lirik dan menerka barangkali bule ini ingin tanya alamat.


"Boleh kenalan?" tanyanya dengan logat Indonesia yang masih sangat kaku dan terbata-bata.


"Sama siapa? Aku? Aku Marcel." Bule itu sempat mengerjap sesaat dengan raut bingung, apalagi Marcel langsung menyodorkan tangan mengajak bersalaman. Tak ayal bule itu pun ikut membalas jabatan tangan Marcel.


"Patrick," ucapnya memperkenalkan diri. Sepertinya bule yang bernama Patrick ini sedikit banyak sudah mulai paham dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi tata kerama dan sopan santun.


"You?" tanya Patrick menunjuk Niken. Marsya dan Marcel kompak menoleh menatap mamanya membuat Niken terdiam kebingungan.


"Niken." Niken akhirnya menyebutkan nama tanpa mengulurkan tangan seperti yang dilakukan Marcel.


"So look beautiful," puji Patrick yang langsung membuat ketiga wisatawan asal Pekanbaru itu cengo mendapat pujian seperti itu.


Marsya dan Marcel saling colek dan memberi kode, takut mamanya tergoda dengan bule yang entah berasal dari negara mana ini. Apalagi visualnya, papa mereka kalah ganteng bila dibanding dengan bule bermata biru itu.


"Hai sayang!" Marsya dan Marcel menghembuskan napas lega melihat kehadiran papanya. Mereka yakin papanya pasti dapat mengatasi dan mengusir bule yang sepertinya kepincut dengan mama mereka.


Marsya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 5. Pantas saja papanya sudah menyusul kesini. Karena keasyikan bercerita mereka sampai tidak sadar waktu sudah sore.


"Siapa?" tanya suami Niken begitu sudah sampai di tempat anak dan istrinya duduk serta mendapati ada lelaki asing diantara mereka.


"Saya mengajak berkenalan perempuan cantik ini." Patrick berucap dengan bangga dan menggunakan bahasa Inggris yang fasih.


Suami Niken itu sempat terkejut sesaat dan melirik anak serta istri. Ketiganya terdiam dan menggelengkan kepala, "Oh, ini anak dan istri saya."


"Really? I'm sorry. I don't know," ucap bule itu dan melenggang pergi.

__ADS_1


"Dadah bule tampan," ucap Marsya dan Marcel kompak seraya melambaikan tangan. Niken tertawa, suaminya mendengus.


"Kalian gimana sih, kok bisa-bisanya biarin mama kalian di godain cowok bule gitu."


"Ya orang dia tiba-tiba datang ngajak kenalan kok, Pa," bela Marcel, "Eh tapi, ganteng juga itu Patrick, matanya biru bening."


"Patrick temennya Spongebob," sungut suami Niken.


"Bisa-bisanya aku yang masih muda belia nggak di ajak kenalan. Dia cuma mau kenalan sama mama yang jelas-jelas buntutnya ada 2." Marsya berucap seraya menggelengkan kepala, sengaja membuat papanya makin cemburu. Papanya semakin berwajah masam, sedangkan mamanya duduk tenang.


"Gimana rasanya liat aku di godain sama laki-laki lain, Pa?" tanya Niken menggoda.


"Hmm tapi aku nggak langsung eksekusi kayak kamu kemarin ya," elak si suami yang masih menampilkan raut cemberut. Niken tertawa ngakak sementara Marsya dan Marcel saling lirik, tidak mengerti maksud percakapan mama papa mereka.


"Kalian tau, mama kalian kemarin abis menyiram klien papa dengan es kelapa muda." Marsya dan Marcel terkaget mendengar info yang disampaikan papanya.


"Kok bisa pa?" tanya Marcel hampir tidak percaya. Mamanya perempuan kalem dan lemah lembut, tidak mungkin berbuat kekerasan.


"Apalagi alasannya kalo bukan karena cemburu."


Anak-anaknya langsung memeluk mama mereka, "Bagus ma, berantas pelakor sampai ke akar-akarnya!" Marsya berseru nyaring.


"Aku nggak mau punya mama 2. Cukup mama seorang di hati!" Marcel berseru tak kalah lantang.


Si kepala rumah tangga hanya menghela napas frustasi. Berniat cari dukungan malah anak-anaknya lebih memihak istrinya.


Apes!!!


***


Niken sudah berkeliling hampir ke seluruh penjuru sekolah tapi belum menemukan yang mana ketua OSIS di SMA Hang Tuah ini. Karena lelah setelah menghabiskan hampir tiga puluh menit berjalan mondar-mandir tak tentu arah akhirnya Niken duduk di bangku yang terdapat di lorong kelas dekat pintu masuk kelas 11a.


'Dasar ketua MOS kampret, bukannya dikasih tau ciri-ciri ketua OSIS itu gimana malah seenak jidatnya nyuruh-nyuruh nyari si ketua OSIS.' Niken ngedumal dalam hati sambil menyeka keringat yang menetes di pelipis. Di tolehkannya kepala ke kanan dan ke kiri barangkali ada anak sekolah yang kebetulan lewat dan tertulis ketua OSIS di jidatnya atau minimal dia melihat keberadaan Juna. Namun nihil, hanya ada segelintir siswa yang sama sepertinya, peserta MOS.

__ADS_1


Juna juga nggak kelihatan batang hidungnya, satu-satunya manusia yang bisa Niken harapkan, itupun kalau Juna tahu ketua OSIS mereka yang mana. Akhirnya Niken memutuskan untuk kembali kelapangan saja, biarlah dia dihukum karena tidak menemukan ketua OSIS dan mendapatkan tanda tangannya daripada lelah sendiri.


Hari ini dirinya resmi menyandang sebagai murid SMA yang berseragam putih abu-abu dan sedang menjalani masa orientasi sekolah. Segala tugas aneh-aneh sudah jadi makanan mereka termasuk Niken yang harus mencari ketua OSIS dan meminta tanda tangannya.


Niken memandangi buku tulis yang ia bawa dan sempat terlintas ide jahat untuk menanda tangani sendiri buku tulis itu toh mereka juga belum tentu hapal benar tanda tangan ketua OSIS mereka seperti apa tapi Niken segera menggelengkan kepala dan membuang jauh-jauh niatan licik itu. Bukan karena Niken sadar akan perbuatan tidak baiknya tapi lebih ke karena Niken sama sekali tidak tahu nama ketua OSIS mereka siapa.


Niken beranjak dari tempat duduknya dan baru akan memutar badan, Niken tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang sepertinya akan melangkah keluar dari kelas 11a. Akibatnya pena yang Niken genggam terlempar agak jauh dari kakinya.


"Eh maaf-maaf, nggak sengaja," sahut Niken panik. Murid yang ternyata berjenis kelamin lelaki itu hanya mengangguk dan segera mengambil pena Niken yang terjatuh.


"Lain kali hati-hati, ya."


"Iya kak, makasih." Niken menyahut lirih sembari menerima pena yang dikembalikan lelaki itu.


"Kamu peserta MOS?" tanya lelaki itu saat menyadari penampilan Niken yang dikucir dua dan mengenakan kalung nama dari kertas bertuliskan kodok.


"Iya, kak."


"Kok berkeliaran disini? Seharusnya kan kalian di lapangan?"


"Aku disuruh cari ketua OSIS dan minta tanda tangannya kak," jawab Niken sembari membetulkan kalung namanya yang terlihat miring. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang Niken pikir pasti tengah mencemooh penampilannya.


"Ciri-ciri ketua OSIS nya seperti apa?"


"Jangankan ciri-cirinya kak, namanya aja aku nggak tau." Niken tidak sengaja mengeluarkan kegondokan hatinya yang justru membuat anak lelaki itu terkekeh geli.


"Sini pinjam bukunya!" Niken menyerahkan buku yang dibawanya dan tampak lelaki itu menuliskan sesuatu di lembar pertama.


"Mau ngapain kak?" tanya Niken panik karena takut lelaki asing ini akan berbuat yang tidak-tidak pada bukunya.


"Mau ngasih kamu dispensasi biar nggak dihukum karena nggak menemukan ketua OSIS," jawabnya sambil menyerahkan buku itu kembali ke tangan Niken.


"Beneran kak?" Niken tentu saja antusias mendengarnya.

__ADS_1


"Beneran. Tapi ya antara dua sih, beneran dikasih dispensasi atau justru dihukum dua kali lipat." Niken menampilkan raut kaget yang tidak dibuat-buat, sudah cemas bukan main.


"Udah sana lari, keburu hukuman kamu tambah berat." Niken yang masih shock tanpa pikir panjang langsung berlari ke arah lapangan. Perut kram pun sudah tidak begitu dihiraukan Niken.


__ADS_2