Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Alasan Bayu


__ADS_3

Niken merasakan seperti ada angin ****** beliung dan ia ikut terseret dalam pusaran angin itu. Kepalanya pusing dan pandangan matanya berkunang-kunang. Kalimat pembuka dari Bayu mampu membuat linangan air mata jatuh di pipi Niken dan segera Niken hapus dengan kasar. Pelayan datang menyuguhkan kopi yang mereka pesan. Mereka terdiam. Niken juga tidak tau harus merespon apa.


"Sejak kapan?" Lirih Niken.


Bayu yang tengah menunduk dan mengaduk-aduk kopi di gelasnya mendongak, "Apanya?" tanya Bayu bingung dengan ucapan tiba-tiba Niken.


"Sejak kapan Abang bermain gila dengan Nabila sampai dia hamil?" Niken memperjelas pertanyaannya. Walaupun sakit tapi Niken juga penasaran dengan alasan Bayu meninggalkannya.


Bayu menghembuskan napas berat, "Itu kesalahan Niken. Kami melakukannya hanya dua kali. Kami tidak pernah menjalin hubungan seperti yang kamu pikirkan. Aku tergoda karena aku mencari pelampiasan atas penolakan yang selalu kamu lakukan. Aku nggak mau merusak kamu dan begitu Nabila datang, menawarkan yang selama ini aku butuhkan, aku melampiaskannya dengan dia. Tapi sumpah kami hanya melakukannya dua kali."


"Walau kamu bersumpah atas nama Tuhan pun tidak akan merubah kenyataan bang, kalo kamu dan Nabila pernah melakukan hubungan tercela. Kamu berdalih tidak mau merusak aku tetapi kamu justru merusak Nabila dan semakin terjerumus ke pernikahan yang justru menyakiti aku. Aku tanya sekali lagi, sejak kapan kamu bermain gila dengan Nabila?" tanya Niken tajam walau suaranya sudah semakin parau. Tangis yang ditahan sungguh mencekik tenggorokannya. Niken ingin menjerit rasanya agar sesak di dada dapat terurai.


Bayu terdiam sesaat, mungkin dia bingung memilih jujur atau memendam dosa itu lebih lama. Jujur sama dengan menyakiti perempuan yang sedang duduk di depannya ini. Perempuan yang dari pertama kali Bayu melihatnya, sudah jatuh cinta terlalu dalam bahkan hingga kini, rasa cinta itu masih melekat erat di dalam hati. Tapi apalah daya, akibat kebodohannya, Bayu melepas perempuan paling berharga di hidupnya. Yang mau menerima dirinya tanpa pamrih dan keluh kesah.


"Kamu ingat, waktu Nabila minta antar aku ke kampusnya?" tanya Bayu. Niken sempat mengernyit dan berusaha mengingat.


Ingatan Niken melayang ketika pagi itu ia dan Nabila sama-sama akan berangkat kerja dan ke kampus. Nabila justru meminta tolong kepada Bayu untuk mengantarkannya ke kampus sementara Niken juga terburu-buru untuk berangkat kerja. Niken mengijinkan Bayu mengantar Nabila dan dirinya mengalah dengan naik ojek. Hari itu adalah hari dimana Nabila meminjam uang 300 ribu kepadanya dan sampai sekarang bel kembali.


"Sepulang dari kampus, Nabila kembali meminta jemput dan meminta tolong untuk fotokopi proposal miliknya. Abang bawa dia ke toko, Nabila naik lantai ke atas dan Abang nyusul. Abang juga nggak tau gimana ceritanya kami bisa berbuat hal itu Nik, keesokan harinya Nabila datang lagi dan kami kembali melakukannya." Bayu menunduk setelah menjelaskan kejadian itu. Antara malu, menyesal, marah, merutuki kebodohannya dan sejuta sesal lainnya.

__ADS_1


"Setelah kejadian yang kedua kali itu, Abang sempat berhubungan intens lewat ponsel dan Nabila yang sering datang ke toko tapi kami nggak pernah melakukannya lagi. Dua bulan kami dekat dan setelah itu Abang perlahan menjauh karena Abang sadar apa yang Abang perbuat itu salah. Nabila masih sering kirim pesan dan telepon tapi nggak pernah Abang tanggapi. Abang juga nggak tau kalo kejadiannya bakal kayak gini. Nabila hamil tapi dia sama sekali nggak ada ngomong sampai dia pulang kerumah orang tuanya dan orang tuanya datangin Abang untuk minta pertanggung jawaban."


Niken gemetar sewaktu mendengar penjelasan panjang lebar dari Bayu. Ia dulu menantikan momen ini. Momen dimana ia bisa duduk berdua dan mendengar penjelasan dari Bayu mengapa bisa ia di tinggalkan tanpa sebab. Tapi ketika momen itu terjadi dan sebab itu dapat ia dengar, Niken justru ingin pingsan rasanya. Ini lebih sakit dari saat Niken kelimpungan mencari keberadaan Bayu yang tiba-tiba menghilang.


"Abang minta maaf Niken, udah mengacaukan semuanya. Abang sadar Abang salah. Begitu dari rumah orang tuamu, kami sekeluarga tinggal di rumah saudara kerena malu. Kelakuan Abang nggak cuma mencoreng keluarga Abang sendiri tapi keluargamu juga." Bayu menunduk dan menatap kakinya, "Abang nggak sanggup ketemu kamu dan menjelaskan semuanya."


Niken masih terdiam. Mendengar kata demi kata yang di ucapkan Aris dan menikmati sakitnya. Niken melihat sekeliling dan orang-orang tengah menikmati menu makanan yang mereka pesan sedangkan Niken untuk meneguk segelas kopi yang tersaji di hadapannya saja rasanya sulit sekali.


"Maaf juga kalo selama menjadi pacar dan tunangan Abang, aku belum sempurna. Sekarang Abang udah menikah dan jaga baik-baik sahabatku serta calon ponakan ku. Jangan ulangi lagi kesalahan yang pernah Abang buat, cukup aku yang merasakan sakitnya. Semoga kalian bahagia dan langgeng sampai jannah. Aku pulang dulu." Niken langsung beranjak dan pergi secepat kilat meninggalkan Bayu


Bukan karena berharap agar di kejar Bayu tetapi Niken ingin segera menumpahkan air mata yang sedari tadi ia coba tahan. Niken duduk di halte dan segera memesan ojek. Di hapusnya kasar air mata yang tidak bisa berhenti mengalir. Ternyata sesakit ini kenyataan yang harus ia alami. Penjelasan yang ia tunggu dan harapkan berakhir dengan luka.


Si pengemudi ojek melirik Niken melalui kaca spion, "Mbak, baik-baik aja kan?" tanya si pengemudi. Mungkin ia khawatir karena Niken masih terus membersit ingus dan menangis dalam diam.


Si pengemudi diam karena sepertinya ia tau, penumpang nya kali ini butuh ketenangan.


***


"Jahat banget kelakuan Bayu. Aku nggak nyangka dia bakalan ninggalin dengan cara kayak gitu." Seperti biasa, setelah Niken bercerita pasti ada saja komentar dari anak-anaknya.

__ADS_1


Kali ini, Niken menyempatkan diri bercerita di sela-sela waktu malam mereka. Suaminya tengah ijin pulang malam karena ada pekerjaan yang harus di tinjau. Marcel sengaja membeli makanan ringan untuk menemani mereka mengobrol. Jadilah mereka mendengarkan mamanya bercerita sambil mulut terus mengunyah.


"Ikhlas banget mama, ketemu Bayu dan mendoakan mereka langgeng sampai jannah. Kalo aku jadi mama udah aku siram itu muka si Bayu pakai kopi panas yang belum mama minum." Marsya juga ikut berkomentar dengan nada berapi-api.


"Doa yang baik Insya Allah akan berujung baik juga untuk yang mendoakan. Mama marah-marah pun nggak akan merubah kenyataan bahwa mereka udah menikah kan?" nasehat Niken.


Sekarang lidah Niken lancar sekali mengucapkan kalimat itu padahal saat kejadian itu berlangsung, Niken hampir frustasi menghadapinya. Malam-malamnya dilaluinya hanya dengan menangis dan menangis serta menjalani hari dengan wajah yang sudah sepucat mayat.


"Jadi gimana dengan kuliahnya Nabila, ma? Bukannya dia lagi kuliah ya?" tanya Marcel penasaran.


"Mama nggak pernah ketemu lagi semenjak itu. Kami putus hubungan. Sepertinya sih mereka pindah karena toko fotokopi Bayu yang dekat sekolah Hang Tuah itu pun tutup. Mereka menghilang bak di telan bumi."


"Mungkin mereka malu ma kalo harus menetap disitu." Marsya berspekulasi yang diangguki oleh Niken.


"Maka dari itu kalian kalo akan bertindak harus dipikirkan betul-betul. Jangan hanya mengandalkan nafsu dan hati tetapi logika juga penting. Setiap perbuatan yang kita perbuat pasti akan ada konsekuensinya, mau itu buruk ataupun baik." Lagi-lagi Niken menyelipkan nasehat.


"Hati-hati juga memilih teman ya kan, ma?" celetuk Marsya yang sepertinya menyindir mamanya.


Niken tertawa, "Bener, jangan menilai orang dari sampulnya. Yang terlihat buruk kelakuannya belum tentu buruk hatinya begitu juga sebaliknya."

__ADS_1


"Terus ma, kehidupan mama selanjutnya gimana setelah nggak satu kos lagi dengan Nabila?"


"Setelah mama ditinggal nikah dan nggak satu kos lagi sama Nabila...."


__ADS_2