
"Aku masukin FB ah," celetuk Niken sembari tersenyum-senyum. Ia dan Andre nampak serasi bersanding di poto itu.
FB memang lagi nge-hits pada saat itu dan Niken yang merasa sebagai anak muda masa kini tak ketinggalan untuk mengikuti tren yang ada. Segera di bukanya Opera mini dan masuk ke akun FB serta memposting hasil selfinya bersama Andre.
Andre diam memperhatikan keasyikan Niken memilah poto untuk diunggah hingga Niken selesai dengan kegiatannya dan baru sadar Andre terdiam memperhatikannya.
"Kenapa?" tanya Niken heran. Andre hanya menggeleng dan tak lama kemudian menggumam, "Kamu cantik."
Kontan saja Niken merasa hawa hangat menjalari wajahnya. Jarang-jarang Andre memuji dirinya dan ini kesempatan langkah. Niken jadi takut Andre kesambet penghuni empang karena tiba-tiba memujinya.
Selesai memakan ikan hasil tangkapan mereka, mereka memutuskan pulang dan Niken berinisiatif ikut Andre berjualan hari ini.
"Apa nggak sebaiknya kita pulang dulu? Ijin sama orang tua kamu. Aku bawa kamu dari rumah loh Nik, nggak enak aku sama orang tua kamu," tolak Andre sewaktu Niken meminta untuk turun saja di gerai dan ikut membantu Andre berjualan.
"Nanti telpon aja. Gerai lebih dekat dari sini daripada kita harus bolak-balik kerumah aku. Nanti aku pulangnya ke kos aja, nggak pulang ke rumah mama lagi."
Andre sebenarnya tidak enak hati karena tidak mengantarkan Niken pulang kerumahnya kembali dan justru langsung membawa Niken ke gerai, tetapi Niken memaksa dengan alasan capek dan ribet kalau harus bolak-balik akhirnya Andre mengalah dan memilih meminta ijin memulangkan Niken langsung ke kos melalui sambungan telepon.
Begitu urusan ijin mengijinkan sudah selesai, Andre langsung membawa Niken ke rumahnya untuk menyiapkan segala keperluan untuk berjualan.
"Kita kerumah ku dulu Nik, bahan-bahan martabak belum di bawa ke gerai sama Anjas," teriak Andre. Mereka saat ini tengah mengendarai motor dan Andre harus berteriak agar Niken dapat mendengar suaranya.
"Oke." Niken pun menjawab dengan sedikit mengencangkan suaranya.
Mereka sampai di rumah Andre dan terlihat Anjas yang tengah sibuk menyusun peralatan membuat martabak keatas motor. Ia tersenyum sumringah melihat kedatangan Niken dan berteriak heboh dengan menyapa dengan kata kakak ipar seperti biasa.
Andre akan masuk kedalam rumah dan begitu sampai di depan pintu, muncul seorang gadis dan menyapa Andre dengan suara ceria bahkan terkesan memekik menurut Niken.
"Abang Andre." Senyumnya cerah dan langsung surut begitu melihat kehadiran Niken di belakang Andre.
__ADS_1
Niken sempat mengernyit karena baru pertama kalinya bertemu gadis itu. Niken prediksi ia masih sekolah karena terlihat jelas dari wajahnya yang masih sangat muda. Niken melengos dan tak jadi ikut Andre masuk kedalam rumah. Ia menghampiri Anjas yang masih serius mengikat keranjang di motornya.
"Napa? Cemburu?" goda Anjas seraya terkekeh.
Niken cemberut, "Apaan sih? Siapa juga yang cemburu."
"Udah deh, nggak usah gengsi. Laki-laki itu suka loh sama cewek yang nggak jaim. Kalo cemburu bilang cemburu, kalo marah bilang marah. Laki-laki itu makhluk nggak peka, jadi jangan suka suruh laki-laki menebak-nebak apa yang kalian rasa."
Niken terdiam meresapi ucapan Anjas dan menghela napas kasar, "Emang dia siapa sih, Njas?" ceplos Niken akhirnya. Tak tahan dengan rasa penasaran yang menghantui dirinya apalagi begitu Andre masuk kedalam rumah, gadis belia itu juga ikut masuk kedalam.
"Tuh kan, cemburu." Bukannya menjawab, Anjas justru menggodanya kembali membuat Niken ingin melempar sendal ke wajah tengilnya.
"Dia anak tetangga sini kok. Tuh rumahnya keliatan dari sini." Beritahu Anjas dan menunjuk sebuah rumah paling megah yang pernah Niken lihat di daerah sini.
"Anak orang kaya ya? Rumahnya bagus," puji Niken.
"Iya, anak juragan dia. Pokoknya kalo nikah sama dia hidupnya bakalan terjamin tujuh turunan."
"Dah, nggak usah jutek gitu. Makin jelek tau. Kau mau ikut ke gerai kan? Yok lah, entar kau boncengan sama kak Andre aja biar aku yang bawa motor ini. Ngomong-ngomong kok lama banget sih tuh anak nggak keluar-keluar." Anjas celingak-celinguk kearah rumahnya berharap tiba-tiba rumahnya menjadi tembus pandang dan ia bisa melihat apa yang terjadi didalam.
"Keasyikan pacaran sama gadis belia kali," sungut Niken masih sebal dengan keberadaan anak tetangga Anjas.
"Jemput sana Nik," perintah Anjas seenak jidat.
"Ih ogah," tolak Niken mempertahankan gengsi walau dalam hati ketar-ketir dan penasaran apa yang sedang di lakukan Andre didalam sana yang mana hanya ada mereka berdua. Orang tua Andre pergi ke ladang dan akan pulang saat waktu menjelang magrib.
"Nanti mereka berbuat mesum loh." Anjas mengompori membuat Niken melemparnya dengan kerikil kecil yang berada di dekat kakinya.
"Mulutmu minta di rukyah," sungut Niken sebal.
__ADS_1
"Siapa yang minta di rukyah?" tanya Andre yang tiba-tiba sudah berada di belakang Niken.
Niken dan Anjas bertatapan sejenak karena tidak tau kapan Andre keluar dari rumah. Anak tetangga berada di sebelah Andre dan menenteng sebuah pastikan hitam.
"Adik kakak ini minta di rukyah biar nggak gangguan jiwa," lapor Niken sengit.
Andre dan Anjas hanya terkekeh sementara si anak tetangga diam tak menunjukkan reaksi apapun alias datar.
"Yok ah berangkat, udah jam empat lewat," ajak Anjas seraya bangkit dari duduknya.
"Aku ikut juga ya kak." Tiba-tiba si anak tetangga mengeluarkan suara membuat semua mata menatapnya.
"Kau mau sama siapa? Kak Andre sama pacarnya nggak mungkin kan kau sama aku? Tapi kalo mau naik keranjang ya nggak papa sih." Anjas cengar-cengir. Si anak tetangga cemberut.
"Kenapa bawa perlengkapan jualannya nggak pakai mobil aja sih kak? Kan lebih praktis, nggak susah-susah di ikat keranjang kayak gini," ucap si anak tetangga lagi.
"Mau pakai mobil siapa Nov? Doain aja ya biar rezekinya lancar dan bisa beli mobil," sahut Andre kalem dan mengambil bungkusan yang berada di tangan si Nov-nov itu.
"Mobil ayah ada tuh. Banyak yang nganggur. Kalo kak Andre pinjam pasti di kasih. Untuk kak Andre juga boleh asal kakak mau nikah sama aku."
Semua terdiam dengan celotehan yang keluar dari mulut si anak tetangga. Andre dan Anjas melirik Niken yang terdiam. Mata Niken tertuju ke anak tetangga sedangkan si anak tetangga cuek saja seolah perkataannya tidak berpengaruh apa-apa.
"Yok berangkat. Nov, kau nggak usah ikut. Kau belum mandi." Anjas memecah suasana canggung yang terjadi dan segera naik ke motornya, meninggalkan mereka semua.
Andre pun ikut beranjak dan naik keatas motornya setelahnya di ikuti Niken yang naik keboncengan motor Andre.
"Duluan ya Nov," pamit Andre.
"Aku nanti nyusul kak," teriak si anak tetangga karena posisi Arlan yang semakin menjauh.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Niken sebal tetapi tidak tau entah sebal kepada siapa. Enak sekali si bocah anak tetangga itu berkata akan memberi Andre mobil asal mau menikah dengannya. Niken juga sebal kepada Andre yang hanya diam saja dengan celetukan bocah gila itu. Niken mengepalkan tangannya erat dan berharap tidak kelepasan menempeleng kepala Andre yang tepat berada di depan matanya.