Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Jadi Pacarku


__ADS_3

Begitu lonceng pulang berbunyi, anak-anak langsung berhamburan keluar seperti emak-emak berebut antri sembako. Niken memilih keluar paling akhir karena dia harus menitip absen ke kantor terlebih dahulu. Setelahnya pun Niken tak langsung pulang karena Adila, Marwah dan Salsa mengajaknya jalan-jalan ke taman yang tempo hari didatanginya bersama Rayya.


Setelah sebagian murid keluar kelas barulah Niken dan Adila beranjak keluar. Salsa dan Marwah sudah keluar terlebih dahulu karena pamit akan ke toilet. Begitu keluar dari kelas, nampak Rindy dan Rayya mengobrol di lorong depan kelas mereka. Rayya sempat melirik Niken dan tersenyum yang dibalas Niken dengan senyuman juga. Begitu mata Niken tak sengaja bertemu pandang dengan Rindy yang tengah menatapnya dengan pandangan sinis, Niken langsung mengusap lengannya. Entah mengapa bila sudah ditatap oleh Rindy dengan pandangan sinis nya, Niken selalu teringat film Suzanna yang selalu ditontonnya tiap malam satu suro.


"Ngapain tuh kak Rayya, kok tumbenan nongol didepan kelas kita sepulang sekolah gini?" Adila bertanya kepo sembari terus berjalan kearah ruang guru.


"Lo nggak lihat apa dia lagi ngobrol sama Rindy. Mungkin ada keperluan OSIS atau mungkin ada obrolan penting lainnya."


"Bisa jadi sih. Walaupun gue nggak yakin. Kalo ada obrolan penting pasti wajahnya Rindy udah sumringah. Ini dia natap lo aja udah kayak natap pelaku pembunuhan. Pasti suasana hatinya lagi buruk."


"Gue sampai merinding Dil tadi ditatap Rindy sampai segitunya. Gue salah apa ya?"


"Salah lo ya karena ditaksir kak Rayya. Rindy kan naksir berat sama kak Rayya."


"Sembarangan lo. Nggak mungkinlah kak Rayya naksir gue. Kalo dibandingin Rindy, gue nggak ada seujung kukunya. Secara Rindy itu cantik banget, imut lagi."


"Minus mulutnya yang kayak neraka jahanam."


"Kita penghuninya dong."


"Iya, harus siap sedia kena semburan apinya." Niken tertawa dengan gerutuan Adila.


Begitu sampai di ruang guru, Niken langsung meletakkan absen ke meja pak Jhon dan segera menghampiri Adila yang memilih menunggu di luar. Mereka berjalan keluar sekolah dan duduk di undakan tangga menunggu Salsa dan Marwah kembali dari toilet.


"Sebenernya Salsa sama Marwah ini kemana sih? Ke toilet aja lama bener. Cari wangsit kali ya?" Adila menggerutu sembari mengeluarkan roti dari dalam tasnya dan menyerahkan satu kepada Niken.


"Makasih." Niken membuka bungkus roti dan langsung memakannya.


"Masih kebelet kali Dil. Udah sabar aja."

__ADS_1


"Eh Nik, lo jujur sama gue ya, cuma kita berdua nih disini." Adila menjeda ucapannya. Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa tidak ada orang lain selain mereka berdua yang dapat mencuri dengar obrolannya, "lo udah jadian belum sih sama kak Rayya?"


Niken yang sedang menguyah rotinya kontan saja langsung berhenti dan menoleh kearah Adila yang tengah menarik turunkan alisnya, tak lupa senyum menggoda Adila sematkan diwajahnya.


"Nggak ada yang jadian sama kak Rayya, Dil. Sumpah gue nggak bohong. Gue bahkan nggak pernah kepikiran kalo kak Rayya bakalan nembak gue."


"Kok gitu?"


"Ya gue sadar dirilah Dil. Gue ini siapa, cuma adik kelas yang kebetulan pernah duduk sebangku waktu di bus dan pernah dianterin pulang naik motornya. Dibandingkan sama Rindy atau kak Intan gue nggak ada apa-apa nya."


"Kak Intan sekretaris OSIS? Kok jadi larinya ke dia?"


"Ya abisnya dia cantik banget. Nggak kalah cantik sama Rindy."


"Ihhh Niken, kok lo jadi insecure gitu sih. Lo itu juga cantik tau. Lo manis. Rindy memang cantik sih tapi kan kayak yang gue bilang tadi mulutnya kayak neraka jahanam. Kalo kak Rayya tau mulutnya Rindy aslinya kayak mana, dia pasti juga kabur."


"Ngomongin siapa sih? Seru amat." Salsa tiba-tiba nimbrung dan duduk ditengah antara Adila dan Niken membuat kedua nya menggeser duduknya sembari menggerutu.


"Kak Rayya kayaknya mau kesini deh." Marwah memberi info karena dilihatnya Rayya yang memang berjalan kearah mereka.


"Lagi pada ngapain?" Benar saja, Rayya menghampiri mereka dengan senyum khasnya.


"Duduk-duduk aja kak." Salsa yang menyahut. Rayya ikutan duduk di sebelah Adila yang memang posisinya lebih dekat dengannya berdiri.


"Ada les atau gimana kok belum pulang?" Rayya bertanya kembali karena heran, tumbenan Niken berada diantara mereka dan tidak langsung pulang. Setahu Rayya, Niken paling anti pulang telat karena takut naik bus sendiri.


"Kami rencananya mau jalan-jalan sebentar ke taman kak. Biar keliatan akur gitu." Lagi-lagi Salsa yang menjawab sambil cengengesan.


"Ooohh gitu ya. Kamu nanti emang berani pulang sendiri, Nik?" Niken yang sedari tadi terdiam sembari menunduk memandangi sepatunya langsung mendongak dan menoleh kearah Rayya. Teman-temannya sudah saling lirik dan saling sikut. Mungkin mereka gemas dengan perhatian yang diberikan ketua OSIS ini kepada sekretaris kelas mereka.

__ADS_1


"Eh, hmm a-aku udah mulai memberanikan diri kak." Niken menjawab canggung sampai terbata-bata.


"Bisa ngobrol sebentar nggak?" Niken yang bingung pertanyaan itu ditujukan untuk siapa, menunjuk dirinya sendiri dengan jari tangannya. Bermaksud bertanya apakah dirinya yang dimaksud. Rayya mengangguk mengiyakan.


"Berdua."


***


Saling berdiam diri padahal sudah 10 menit mereka duduk dibawah pohon yang tak begitu jauh dari undakan yang diduduki oleh Niken dan teman-temannya. Niken sampai pegal sendiri menoleh ke kanan dan ke kiri, duduk dengan gelisah menunggu Rayya bersuara. Tapi sepertinya Rayya juga lebih gelisah dari Niken. Bocah 15 tahun itu berulang kali mengusap tengkuknya, menjilat bibir, menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal, mengusap lengannya, apapun Rayya lakukan untuk menghilangkan groginya tetapi sepertinya usahanya itu sia-sia.


Tetap saja dia bingung kata apa yang akan dia ucapkan. Padahal sepanjang pelajaran berlangsung hari ini Rayya tidak berkonsentrasi belajar karena isi kepalanya penuh dengan rangkaian kata yang akan dia ucapkan didepan Niken.


Niken menoleh kearah Rayya yang ternyata Rayya juga kedapatan tengah memandangnya. Kontan saja mereka berdua langsung membuang muka kearah lain. Malu.


"Niken, kamu mau nggak jadi pacarku?" Daripada mati berdiri karena gemetar dan bingung harus merangkai kata apa, Rayya memutuskan langsung to the point saja. Walaupun resikonya dia harus merasakan panas di seluruh wajahnya.


Niken terdiam. Menoleh kearah Rayya dengan tangan yang sudah sedingin es. Seumur-umur yang memang baru berumur 13 tahun ini, baru kali ini ada laki-laki yang mengajaknya berpacaran.


"Kak."


"Ya?" Rayya sudah deg-degan setengah mati. Padahal Niken hanya memanggilnya dengan wajah yang tak kalah merah dari wajahnya. Tapi dimata Rayya, Niken semakin manis. Ah efek jatuh cinta memang seperti ini rupanya.


"Hmm a-a-aku aku aku."


"Oke stop, jangan dijawab." Niken terkejut karena Rayya mengatakannya sambil mengangkat tangan dan suara yang agak tinggi.


"Aku anggap kamu jawab iya. Mulai hari ini kamu jadi pacarku. Kamu pulang bareng teman-teman kamu kan? Aku malu. Jadi tolong jangan tanya-tanya apapun. Aku pulang dulu. Bye pacar."


Rayya bersuara dengan kecepatan super dan ngacir setelahnya, keluar gerbang dan tak lama kemudian kembali lagi karena dia lupa ternyata hari ini dia membawa motor. Grogi ternyata bisa membuat orang menjadi bodoh.

__ADS_1


Sementara itu, Niken terbengong dengan tingkah Rayya. Baru kali ini Niken melihat kakak kelasnya itu malu. Mungkin seperti itulah Niken waktu kabur setelah insiden pukul lonceng tak sampai dan ditolong Rayya. Untung saja Rayya langsung kabur, kalau pakai acara cium pipi dulu mungkin Niken sudah pingsan. Niken menutup wajahnya yang terasa seperti terbakar. Ya ampun, Niken mikir apa sih. Baru beberapa detik punya pacar pikirannya sudah kotor.


Sampai teman-temannya datang berlari menyerbu Niken pun Niken masih menutup wajahnya. Rasanya ingin menjerit, guling-guling dan menggaruk tembok untuk melampiaskan rasa dihatinya tapi syukurnya Niken masih sadar dia berada dimana.


__ADS_2