
"Ma, mama inget temen kakak nggak, si Nindi sama Selly? Mereka kemarin jatuh dari motor." Marsya mengadu dengan mata yang masih terfokus menatap layar ponsel.
"Inget dong, mereka kan sering main kerumah," jawab Niken.
"Apalagi aku, inget banget. Mereka itu temen-temen kakak yang paling keganjenan, kerjaannya godain aku mulu." Marcel mengomel sembari menggigit kasar kentang goreng yang berada di tangannya.
Marsya dan Niken kompak tertawa. Kedua wanita itu sadar betul, Marcel sudah mulai terlihat tampan sejak kecil dan beranjak remaja seperti sekarang ini, ketampanan itu semakin terlihat saja. Jadi wajar bila sudah mulai banyak perempuan yang melirik dan bahkan terang-terangan menggoda bocah kelas 1 SMP itu.
"Jadi gimana keadaannya kak? Parah nggak? Kok bisa jatuh sih?" tanya Niken setelah selesai menertawakan Marcel.
"Nggak papa kok ma, lecet pun nggak. Mereka bercanda gitu di atas motor, godain cowok, eh malah oleng terus jatuh."
"Ya ampun, syukurlah kalo nggak papa. Makanya jangan bercanda kalo lagi naik motor." Niken memberi nasehat dan jadi membayangkan bila saja hal itu menimpa anak-anaknya.
"Akibat keganjenan sih. Syukurin jatuh dari motor." Marcel memberi komentar yang bersebrangan arah dengan ibunya.
"Hush, nggak boleh gitu ngomongnya dek." Niken menegur.
"Tapi mereka santai aja kok. Malah bilang kejadian itu bakalan jadi kenangan memalukan yang wajib dikenang dan nggak akan terlupakan."
Saat ini Niken, Marsya dan MarcelĀ menyusuri pantai dengan berjalan kaki, tak lupa sebungkus camilan menemani mereka. Si kepala rumah tangga sedang menjalankan tugas mencari sesuap nasi dan sebongkah permata. Jadilah mereka berjalan-jalan hanya bertiga.
"Tapi mama pernah juga loh, ngalamin kejadian memalukan gitu bareng temen-temen mama," ucap Niken yang membuat Marsya dan Marcel segera mengajak mamanya duduk di pasir putih dan siap mendengarkan cerita mamanya.
"Cerita, ma!" Pekik mereka kompak dan tertawa-tawa.
Niken tersenyum geli dan memulai ceritanya.
__ADS_1
***
"Eh Nik, nanti kita hunting foto yok." Bel tanda jam pergantian mata pelajaran baru saja berdering, tapi Fanny sudah heboh menghampiri bangku Niken. Mungkin Fanny memburu waktu sebelum guru berikutnya datang.
"Untuk apa hunting foto?" tanya Niken heran.
"Ya untuk kenang-kenangan dong. Ada tempat wisata baru yang cantik banget untuk foto-foto. Pokoknya kamu harus ikut, Eni udah setuju, kita berangkat sepulang sekolah ini. oke."
Tanpa menunggu persetujuan dari Niken, Fanny langsung meluncur kembali ke bangkunya karena guru yang akan mengajar jam pelajaran terakhir sudah memasuki kelas. Niken tak habis pikir, Fanny dan hobinya berfoto sulit sekali dihilangkan. Fanny bahkan punya beberapa kamera di rumahnya dan selalu di bawa salah satunya di sekolah. Niken sampai menebak, Fanny punya semua koleksi foto teman-teman sekelasnya.
Bila menemukan tempat cantik sedikit saja, maka ia akan mengabadikan tempat tersebut. Bersua foto dengan berbagai gaya. Seperti saat ini. Tak hanya dirinya yang akan bergaya di depan kamera tapi juga ia ikut menyeret teman-temannya untuk ikut bersua foto.
Semenjak mengenal Fanny, Niken sudah tidak bisa menghitung, sudah berapa kali ia ikut Fanny mengabadikan momen.
"Ini tempatnya?" tanya Eni sambil menatap sekeliling. Fanny mengangguk semangat.
"Bagus kan?"
"Alah whatever lah, mau halaman orang kek, mau kandang ayam kek yang penting bagus untuk foto." Eni mendengus dan melangkah kearah bunga yang menurutnya paling cantik.
"Fotoin aku dulu." Eni mulai mencari spot dan berpose.
"Dia yang komen tapi dia juga yang mau difoto pertama kali," gerutu Fanny. Tapi tetap mulai mengatur kameranya dan mulai menjadi fotografer dadakan. Selagi mereka asyik berpose, Niken berkeliling mengamati satu persatu bunga yang ada dihalaman ini. Daripada disebut halaman, ini lebih cocok disebut taman bunga. Pilihan bunganya bermacam-macam dan warna-warni, membuat siapapun yang melintasi rumah ini pasti akan terpukau.
Pantas saja Fanny menyebutnya sebagai tempat wisata.
"Ayo Nik, kita foto bertiga!" teriakan Eni menyadarkan Niken dari kegiatan mengamati bunga-bunga itu dan menghampiri mereka.
__ADS_1
Setelah puas berfoto ria, ketiga anak SMP itu berjalan pelan menyusuri jalan raya sembari melihat galeri. Melihat-lihat hasil foto mereka yang jumlahnya sudah tidak terhitung. Tapi, Fanny berjanji akan mencetak semuanya dan membagikannya kepada Eni dan Niken.
"Beli es yok, haus banget. Panasnya ampun-ampunan, makin gosong aku gara-gara Fanny."
"Ih kok gara-gara aku?" sahut Fanny tak terima dengan tuduhan Eni yang menurutnya sangat semena-mena.
"Ya iyalah gara-gara kamu yang sibuk hunting foto, katanya ditempat wisata, eh nggak taunya dihalaman rumah orang," gerutu Eni sembari mengipasi wajahnya dengan kardus bekas yang ia temukan tergeletak dipinggir jalan.
"Halah, sok ngedumel tapi dianya ambil foto paling banyak." Eni hanya cengengesan.
Niken sendiri memilih mengedarkan pandangan mencari penjual es. Benar kata Eni, suasana panas sekali dan rasa haus sudah tak tertahankan. Tapi sejauh mata memandang, belum ada terlihat penjual es mangkal. Sepertinya si penjual juga sedang bersembunyi dari panasnya terik matahari.
"Eh foto kan gue disitu dong, cantik banget gambar mural nya." Tunjuk Fanny bersemangat pada sebuah dinding perbatasan antara rumah dan sebuah ruko yang tengah tutup.
"Ada selokan Fan, cari tempat lain aja," usul Niken yang ngeri melihat selokan dipinggir dinding itu.
Mural di belakangnya bergambar toko anime dengan memegang boneka dan bunga serta ada hiasan abstrak batik disekelilingnya. Terlihat sangat cantik dengan paduan warna yang pas, tak heran bila Fanny langsung kepincut dengan lukisan itu.
"Sebentar aja."
"Serem Fan, selokannya lumayan lebar loh."
"Ih cerewet deh kamu Nik, timbang fotoin doang." Fanny langsung menyerahkan kameranya kepada Niken yang ternyata fitur kameranya sudah on. Eni sendiri tengah asyik mengipasi wajahnya sembari melihat Fanny yang berjalan dengan semangat menuju dinding mural dan siap berpose.
Entah terlalu bersemangat atau memang lagi apes, ketika sampai dipinggir selokan dan akan berpose, Fanny tak melihat ada batu yang lumayan besar didekatnya dan ter pijak. Batu yang dipijak Fanny tergelincir membuat Fanny pun ikut oleng dan tidak dapat menyeimbangkan diri. Karena dinding mural terlalu jauh untuk digapai tangannya alhasil Fanny terjatuh.
Byuuurrr...
__ADS_1
Cekrek..
Niken tak sengaja menekan tombol on di kamera Fanny tepat ketika Fanny jatuh ke dalam selokan diiringi oleh tawa Eni.