
Niken tersenyum geli. Rupanya suaminya mulai curiga dengan kegiatannya bersama anak-anak akhir-akhir ini. Sepertinya Niken harus pintar mengatur waktu lagi agar kegiatannya mendongeng tidak menimbulkan kecurigaan.
Niken malu bila sampai suaminya tau, tingkah konyolnya didengar anak-anaknya. Anak-anaknya pun sepertinya sudah terlanjur penasaran dengan kelanjutan kisah tingkah konyolnya.
"Kamu penasaran ya kami lagi bahas apaan?" Iseng Niken menggoda suaminya.
"Kalian pasti lagi ghibahin aku," rajuk suami Niken membuat Niken semakin tertawa geli.
"Kamu kayaknya kebanyakan gaul sama rekan-rekan perempuan kamu deh, makanya kenal istilah ghibah," sahut Niken masih geli dengan prasangka suaminya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan istriku. Kamu ada berkomplot apa dengan anak-anak?" tuduhnya semakin menjadi dengan istilah-istilah yang semakin nyeleneh.
"Nggak ada loh suamiku. Cuma kebetulan aja kamu pulang kerja selalu lihat kami duduk bareng. Dasar kamu ini ya, anak sendiri juga di curigai."
"Kok aku masih nggak percaya ya? Ya pasti aku curiga lah, anak-anak biasanya lebih betah di kamar masing-masing, akhir-akhir ini mereka justru betah di ketiak kamu."
Niken semakin mengeraskan tawa, lucu dengan pemikiran suaminya.
"Kalo kamu penasaran, ikuti terus ya kisah ini," ucap Niken membuat suaminya bingung dan garuk-garuk rambut.
***
"Kak, udah diperiksa lagi kan barang bawaan kita? Jangan sampai ada yang tertinggal." Marsya mengecek kembali barang bawaan yang berada di ransel nya begitu papanya mengingatkan. Niken pun ikut membantu anak gadisnya mengecek tas-tas kecil bawaan mereka. Tak lupa koper khusus oleh-oleh pun digenggam erat oleh Marcel.
"Selamat sore pak!" Mereka kompak menoleh mendengar sapaan itu. Tampak bu Dina berjalan tergesa dengan menenteng paper bag coklat.
Suami Niken menoleh kearah istrinya sejenak sebelum tersenyum dan mengangguk membalas sapaan rekan kerjanya selama di Jogja itu.
"Wah, ternyata bapak rombongan. Saya kira bapak cuma berangkat berdua dengan adik bapak," ucap bu Dina ketika langkahnya sudah berhenti di dekat koper-koper bawaan Niken.
"Adik?" Marcel berucap memastikan.
__ADS_1
"Maksudnya adik siapa ya?" Marsya juga ikut-ikutan bertanya. Pandangan matanya tajam menatap perempuan berkulit hitam manis didepannya itu.
"Oh saya salah ya?" kekeh bu Dina malu dan menutup mulutnya, "Atau kalian ini keponakannya?" lanjutnya lagi. Tapi sepertinya perempuan itu tidak membutuhkan jawaban karena matanya langsung mengarah ke lelaki paruh baya yang sejak tadi berdiam diri disebelah Niken.
"Saya ada sedikit kenang-kenangan untuk bapak, itu asli buatan anak Jogja, semoga bapak suka." Bu Dina menyerahkan paper bag coklat yang sejak tadi berada di genggamannya.
Marcel menerima sodoran paper bag itu dengan cepat, "Makasih Tante, papa pasti suka," celetuk Marcel.
"Papa? Oh kalian ini anak-anaknya?"
"Iya dan ini mama kami. Emang Tante siapa sih? Kok ganjen banget," ketus Marsya geram melihat tingkah wanita yang sudah disiram air kelapa oleh mamanya ini terus menebar senyum malu-malu. Sepertinya ia belum jera mendapat air kesejukan dari mamanya atau karena ia belum tau bahwa yang menyiramnya dengan air es itu istri dari lelaki yang ia taksir?
"Maaf, bapak masih punya istri?" tanya Dina terkejut dan melotot menatap suami Niken.
Suami Niken mengangguk, "Masihlah, ini istri saya."
"Bapak kok nggak pernah bilang?" sentak Dina dengan wajah memerah, entah marah entah malu, hanya ia dan Tuhan yang tau.
Dina menhentakkan kakinya dan merebut paper bag yang berada di tangan Marcel. Setelahnya ia berlalu meninggalkan Niken dan ketiga manusia lainnya tanpa pamit.
"Yah, sayang banget padahal jam tangan kayunya bagus, kelihatannya juga mahal." Marcel menyesal mengapa tidak menggenggam erat paper bag pemberian tante ganjen itu.
Marsya meraup wajah Marcel dan seolah-olah sedang baca mantra agar adiknya itu sadar. Marcel yang tidak terima dengan kelakuan kakaknya segera menarik topi yang dikenakan Marsya dan jadilah mereka bergulat seperti anak kecil.
Niken dan suaminya hanya geleng-geleng kepala. Sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Kalau lelah mereka juga akan berhenti sendiri, tak perlu di lerai.
"Klien kamu itu janda, ya?" tanya Niken menebak.
"Single kata pak Bambang. Aku juga nggak tau pasti." Suami Niken mengedikkan bahu tak peduli. Digandengnya istri dan melerai anak-anaknya yang tengah bergulat karena pengumuman keberangkatan sudah terdengar.
***
__ADS_1
"Cel, jangan main game terus, sepatu yang kamu jemur itu diangkat, sebentar lagi hujan." Niken berteriak sebal karena Marcel yang fokus bermain game tidak bisa diperintah sama sekali.
"Iya mamaaa." Marcel beranjak dan berjalan pelan menuju tempat dimana sepatu sekolah miliknya tengah dijemur. Ponsel masih dalam genggaman karena sedetik pun Marcel tidak mau melepaskan game yang sedang dimainkannya.
Niken mengintip anak sulungnya yang sedang rebahan dikamar dan buku novel dalam genggamannya. Tidak bisa dibiarkan! Niken harus berbuat sesuatu agar anak-anaknya tidak seharian penuh memegang ponsel dan buku di hari libur ini. Kebetulan sekali, suaminya sedang ada urusan dengan saudaranya dan sudah berpamitan akan pulang malam.
Niken mengumpulkan anak-anaknya di ruang keluarga. Awalnya Marsya dan Marcel cemberut karena mamanya mengganggu kesenangan mereka tetapi begitu mendengar mamanya akan melanjutkan kisah sekolah yang sudah sebulan ini tidak mereka dengar kelanjutannya, Marsya dan Marcel mendadak antusias dan duduk manis bersiap mendengarkan kelanjutan kisah mamanya.
***
Niken bersyukur saat dirinya masuk SMA yang masih satu yayasan dengan SMP Hang Tuah, Juna juga memutuskan untuk bersekolah disini kembali. Karena disaat genting seperti ini Niken bisa mengandalkan Juna yang sudah seperti super hero dimatanya.
"Jun, bener semua kan jawabannya ini?" tanya Niken sangsi tapi tangannya tak berhenti menggoreskan tinta di bukunya setelah terlebih dahulu melirik buku Juna yang terpampang dihadapannya, berdampingan dengan buku yang Niken goresi tinta. Bahasa jadulnya mensontek.
"Udah nyontek, meragukan jawabannya lagi. Kalo ragu nggak usah liat," sewot Juna. Niken hanya terkekeh menanggapinya.
"Sembarangan bilang aku nyontek. Aku cuma copy paste ya." Juna memutar bola mata malas.
"Ya ampun Nik, pasti tadi malam begadang nonton film lagi." Anjas yang duduk didepan Niken memutar badannya.
"Hehehe tau aja deh kamu."
"Kali ini ketawa-ketawa atau nangis-nangis?" tanya Anjas. Niken paham betul pertanyaan yang diajukan Anjas. Sudah pasti tentang adegan yang bisa mengaduk-aduk perasaan yang ditanyakannya.
"Ada ketawa-ketawanya ada nangis-nangisnya. Aku nangis Bombay Njas, waktu Cinta ditinggal Rangga ke Amerika." Curhat Niken masih dengan tangan secepat kilat menyalin tugas Juna.
"Kamu ke bioskop sama siapa, Nik?" tanya Juna heran pasalnya Niken tak merengek padanya untuk menonton bioskop seperti biasa.
"Sama mama. Kemarin papa ngajak jalan-jalan dan mama ngajakin ke mall, mau beli sesuatu, ya udah aku kesempatan dong ajakin nonton."
"Kak Janeta kemarin nonton film ada apa dengan cinta." Beritahu Juna dan Niken langsung menoleh antusias.
__ADS_1
"Serius? Wah aku juga kemarin nonton itu. Aku nanti mau ke rumahmu deh, bahas film itu sama kak Janeta."