Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Titisan Mak Lampir


__ADS_3

"Lo beneran mau nemenin gue, Dil?" Sembari berkemas karena waktu pulang sudah tiba, Niken bertanya kepada Adila yang sudah mengenakan ranselnya.


"Iya. Lo ngobrol berdua, gue mengawasi dari jarak satu meter."


Niken mengernyit. "Jarak satu meter itu namanya nggak ngawasin Dil, tapi ikut nimbrung." Adila hanya tertawa.


"Woy, kemaren batal ke taman, gantinya hari ini ya?" Salsa menghampiri Adila dan Niken. Mereka berjalan santai keluar kelas disusul Marwah tak lama kemudian.


"Lain kali aja ya. Gue ada keperluan penting." Adila yang merespon karena dilihatnya Niken diam saja. Mungkin bingung mau memberi alasan apa agar mereka tidak pergi ke taman.


"Keperluan penting apa si lo?"


"Ada deh. Mau tau aja lo."


Begitu sampai diluar kelas terlihat Rindy sudah menunggu dan bersandar di pilar. Marwah dan Salsa saling menoleh karena tidak biasanya Rindy bersantai ria di waktu pulang sekolah begini.


"Nik, absen lo udah diantar ke ruang guru?"Adila mengingatkan.


"Oya gue lupa. Absen masih di kelas. Untung lo ingetin, Dil." Niken langsung berbalik dan buru-buru mengambil absen yang tertinggal di meja guru. Bisa habis dia dimarahin Rindy bila sampai tertinggal.


"Udah yok kita pulang duluan." Adila langsung menyeret Marwah dan Salsa.


"Eh Dil, Niken gimana? Masa dia kita tinggal, entar kalo dia dimakan si nenek lampir gimana?" Marwah bertanya dengan panik.


"Gak bakalan. Kak Rayya yang mau nganterin dia pulang." Adila beralasan. Padahal dia juga sedang ketar-ketir, bagaimana caranya agar temannya ini tidak mengetahui pertemuan antara Niken dan Rindy?


"Oh, Syukurlah. Enak ya punya cowok, pulang ada yang nganterin." Marwah menangkup wajahnya sendiri dan tersenyum.


"Kalo lo mau punya cowok, tuh si Mulyono lagi jomloh, dia pasti mau sama lo secara dia pasti patah hati kalo tau Niken udah jadian sama kak Rayya." Salsa menyeletuk.


"Ih najis," sontak saja Adila dan Salsa tertawa terbahak-bahak.


Begitu Adila, Marwah dan Salsa tidak terlihat lagi diluar kelas, Niken langsung menghampiri Rindy. Dalam hati Niken bersyukur punya teman seperti Adila yang sangat pandai mencari alasan. Nanti Niken pasti akan mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepadanya.


"Kamu biasanya gak pernah pulang telat, Rin karena takut ketinggalan bus?"


"Bukan urusan lo kan gue telat atau nggak?" Niat hati ingin beramah tamah terlebih dahulu malah dijawab dengan semburan naga. Senyum di wajah Niken langsung luntur.


" Lo jadian sama kak Rayya?" Sepertinya Rindy tidak mau berbasa-basi.

__ADS_1


Ditembak pertanyaan seperti itu membuat Niken kebingungan sendiri mau menjawab apa. Pasalnya hanya Rayya yang mengklaim bahwa mereka berpacaran. Niken kan tidak menjawab apa-apa waktu itu. Alhasil Niken hanya mengangguk mengiyakan. Konsekuensi ditanggung nanti.


"Modal apa lo bisa jadian sama kak Rayya? Diam-diam ternyata lo juga naksir sama dia ya. Kapan lo nembak dia?"


Niken pusing dengan serentetan kalimat pertanyaan yang dilontarkan Rindy.


"Gue nggak pakai modal apa-apa, yang nembak juga kak Rayya bukan gue."


"Nggak mungkin kak Rayya nembak lo. Selera dia nggak mungkin yang kayak gini." Rindy berujar sinis sembari memandang Niken naik turun. Niken mengepalkan tangannya. Kata-kata Rindy memang selalu menusuk, seharusnya Niken sudah biasa. Niken jadi berpikir apa dia sejelek itu.


"Lagian lo nggak cocok sama Kak Rayya. Lo lebih cocok sama Mulyono."


"Lo cuma mau ngomongin ini?" Niken masih berusaha sesabar mungkin menghadapi tingkah Rindy.


"Sebenernya banyak yang mau gue omongin sama lo, biar lo bisa sadar diri pantas nggak lo bersanding sama kak Rayya." Rindy mengucapkannya nyaris berbisik dan wajahnya seketika berubah ceria melihat seseorang yang sedang berjalan di belakang Niken.


"Hai kak."


"Hai. Lagi ngapain? Kok nggak langsung pulang?" Rayya bertanya tak kalah ceria dari Rindy. Tak sia-sia Rayya berlari sekencang mungkin menghampiri kelas Niken dan syukurnya Niken belum pulang.


"Lagi ngobrol aja sama Niken kak. Ada keperluan kelas yang lagi kami diskusikan. Oya kak, kakak naik motor?" Rayya mengangguk menjawab pertanyaan Rindy. Ada raut bingung diwajahnya.


"Kamu udah tau bus cuma satu kenapa nggak langsung pulang sih?" Rayya bertanya heran.


"Ya keperluan kelas kan juga penting kak."


"Keperluan kelas kan seharusnya bisa dibicarain waktu istirahat tadi. Biar nggak ganggu jadwal pulang."


"Kakak nggak mau nganterin aku pulang ya?" Rindy cemberut. Niken sendiri memandangi Rindy dan merasa Rindy memang lebih cocok jadi pacar Rayya.


"Aku ngomong sama Sandi ya. Dia searah sama rumah kamu kan? Biar dia yang nganterin kamu."


"Tapi aku maunya di anterin kakak," Rindy masih membujuk dengan wajah imut andalannya.


"Sandi belum pulang nanti aku sampaikan sama sandi biar dia nganterin kamu." Rayya masih kekeh dengan pendapatnya membuat Rindy seketika mencebik kesal.


Niken merasa pilar dan dirinya tidak ada bedanya. Sama-sama diam mematung.


"Pulang dulu ya semuanya." Niken berpamitan dan baru selangkah Niken beranjak, Rayya sudah terlebih dahulu menghadangnya.

__ADS_1


"Aku anterin pulang ya."


"Kakak nggak mau nganterin aku pulang tapi malah nganterin Niken. Kakak kok pilih kasih?" Rindy merajuk yang lucunya justru membuat wajahnya semakin imut.


"Kakak ngomong sama Sandi dulu. Biar dia jemput kamu disini. Oke."


Rayya langsung menarik tangan Niken dan mengajaknya untuk segera pergi meninggalkan sekolah. Rindy yang menyaksikan itu semakin cemberut.


Ketika akan berbelok di koridor, Niken menyempatkan diri untuk melihat kebelakang dan terlihat Rindy yang masih menatap mereka dengan tatapan yang entahlah, Niken sendiri tidak bisa menjelaskan.


Niken mengusap lengannya yang masih digandeng Rayya. Sudah pernah Niken katakan kan kalau Niken selalu teringat Suzanna bila melihat Rindy sedang menatap seseorang dengan pandangan tajamnya. Begitu berbelok di koridor, Niken terkejut karena mendapati Adila sedang berdiri dan bersandar di dinding kelas, menatap jari-jari tangannya dan sesekali memainkan kukunya.


"Loh Dil, kok lo masih disini?" Adila langsung berdiri tegak begitu mendengar seruan Niken.


Dipandanginya Niken dan Rayya bergantian. Pandangan matanya juga jatuh di tangan Niken dan Rayya yang masih bergandengan. Niken yang menyadari itu sontak saja langsung melepaskan tautan tangan mereka, membuat Rayya menoleh kearahnya. Syukurnya Rayya tidak mengatakan apa-apa.


"Tadi kan gue udah bilang mau nungguin lo ngobrol sama Rindy."


"Ya lo bilang kan tadi mau nungguin dengan jarak 1 meter, makanya gue kira lo udah pulang."


"Maksud gue juga tadi pun gitu, tapi gue liat lo udah ditungguin kak Rayya, makanya gue milih nunggu disini."


"Marwah sama Salsa mana?" Niken bertanya begitu karena terakhir kali dilihatnya mereka pulang bersama meninggalkannya mengambil absen yang tertinggal.


"Udah pada pulang, mereka sempat curiga karena gue balik lagi kesini, tapi gue bilang aja kalo gue mau ke toilet."


"Emang kenapa kalo Marwah sama Salsa ikut kalian?" Rayya yang sedari tadi diam saja rupanya penasaran dengan isi obrolan mereka. Adila dan Niken berpandangan sesaat.


"Hmm nggak papa kak. Oya Dil, lo mau bareng gue jalan sampai gerbang atau ikut gue ke ruang guru dulu? Gue mau nitip absen bentar." Niken mengalihkan pembicaraan.


Niken berfirasat kalau menceritakan keburukan Rindy pasti Rayya tidak akan percaya. Karena wajah Rindy yang seimut itu tidak akan membuat orang percaya bahwa dia sebenarnya titisan Mak Lampir.


"Gue pulang duluan aja deh. Lo udah ada kak Rayya juga yang nemenin. Byeee."


"Makasih ya, Dil." Adila yang sudah melangkah agak menjauh, menoleh mendengar seruan Niken. Adila sempat mengerutkan kening mendapat ucapan terima kasih dari Niken.


Terima kasih untuk apa? Dia kan tidak melakukan apa-apa.


Tapi Adila tak ambil pusing, Adila hanya mengangguk dan terus melangkah menuju gerbang. Besok saja dia tanyakan apa maksud ucapan terima kasih itu. Mau bertanya sekarang tidak leluasa karena ada kak Rayya disamping Niken, Adila sungkan.

__ADS_1


"Nitip absen bentar ya, kak." Rayya hanya mengangguk.


__ADS_2