
"Pas banget tadi aku mau nelpon kamu dan tanya alamat gerai eh mataku nggak sengaja lihat penampakan mu. Ya udah aku samperin deh. Nih, temenku udah terpikat sama rasa martabak mu." Niken menunjuk Cindy yang berdiri diam di sebelahnya. Di tunjuk seperti itu Cindy jadi melotot menatap Niken. Sebal karena Niken terang-terangan mengatakan bahwa ia menyukai rasa martabak dengan nama A'a di banner yang terpampang di dekat gerai.
Anjas terkekeh sembari menyerahkan sekotak martabak kepada pembeli terakhir yang antri di gerainya. Ia mengeluarkan adonan martabak yang sudah matang dari dalam loyang dan memberi topping coklat keju serta meletakkan di dalam kotak. Anjas keluar dari kotak yang mengurung dirinya dan ikut duduk di sebelah Niken. Di samping sebelah kanan gerai. Diserahkannya martabak rasa coklat keju kepada Cindy dan diterima Cindy dengan wajah bingung.
"Untuk kalian, gratis sebagai salam perkenalan. Nama ku Anjas. Nama kamu siapa?" Anjas tersenyum dan Cindy salah tingkah sedangkan Niken tertawa geli, salut dengan cara perkenalan Anjas yang menurutnya anti mainstream.
"Namaku Cindy, bang." Cindy masih malu-malu ketika menyebutkan namanya.
"Panggil Anjas aja. Aku sebaya kok sama Niken. Dulu kami sekelas." Cindy mengangguk mengiyakan dan mencubit sedikit martabak di kotak yang ia pegang untuk dimakan. Kotak itu Cindy serahkan kepada Niken agar mereka dapat makan bersama.
"Aku bakalan sering-sering kesini Njas, biar selalu dapat martabak gratis," celetuk Niken iseng.
Anjas terkekeh, "Iya deh, biar sering ketemu bang Andre juga."
Niken melotot kaget karena sejenak tadi hampir melupakan Andre padahal Niken sempat mencarinya. "Kok kamu nggak pernah bilang sih kalo kalian itu kakak adik?" Niken sebal sekali begitu mengetahui fakta itu. Sebal dan malu lebih tepatnya.
Kali ini Anjas benar-benar tertawa kencang, "Jarang yang tau memang kalo aku itu adiknya bang Andre. Nggak pernah gembar-gembor juga. Aku pengen ngakak aja loh rasanya waktu tau kau tergila-gila sama bang Andre."
"Nggak sampai tergila-gila juga kali. Aku cuma kagum sama kebaikannya karena ngasih tanda tangan cuma-cuma tanpa aku minta waktu MOS dulu." Niken hampir menggali lubang untuk mengubur diri sewaktu mengatakan itu. Malu tak tertahankan.
"Masa sih?" goda Anjas. Niken mengangguk yakin. Yakin malunya dan Cindy menjadi pendengar budiman sembari memakan martabak coklat kejunya.
"Oya, Juna kapan pulang, Nik? Kangen juga aku sama anak itu. Semenjak tamat sekolah belum pernah ketemu lagi."
"Aku kurang tau. Anak itu nggak pasti pulangnya kapan. Suka kadang mendadak muncul tanpa kabar kalo mau pulang. Aku aja kadang sering terkejut karena kadang tiba-tiba dia udah ada di kosan ku."
Terakhir kali Niken bertemu Juna adalah saat mengantarkan Juna ke terminal untuk kembali ke Medan. Saat itu adalah saat-saat terpuruk Niken pasca ditinggal Bayu menikah walaupun mereka sempat menjadi tamu undangan dan menjadi pusat perhatian karena kado kereta bayi yang di bawa Niken.
__ADS_1
"Masih aja ya anak itu penuh kejutan. Dulu juga kadang dia sering tiba-tiba ngaku-ngaku jadi pacarmu saking capeknya dititipin salam sama anak-anak Hang Tuah."
Mereka kompak terkekeh begitu memori masa-masa sekolah terkenang kembali. Membawa ingatan mereka terbang menuju masa lampau. Masa dimana hanya ada tawa dan canda. Masa paling indah di sejarah hidup mereka.
"Kamu kerja atau masih kuliah, Cin?" tanya Anjas begitu teringat masih ada teman Niken yang sedari tadi tanpa sadar mereka acuhkan.
"Aku kuliah, bang," jawab Cindy yang sempat terkejut karena tiba-tiba diajak terlibat dalam pembicaraan mereka. Cindy menyebutkan nama universitas nya.
"Satu kos atau bagaimana kalian ini?" tanya Anjas lagi karena bingung bagaimana Niken mendapatkan teman yang berbeda jauh profesinya dengan kegiatannya saat ini.
"Iya bang, kami satu kos."
"Lebih tepatnya dia penjaga gerbang Njas. Kalo mau ke kos aku dan cari orang dia selalu siap sedia untuk di tanya dan di suruh-suruh panggil orangnya." Info Niken yang mendapat cubitan di lengannya dari Cindy.
"Hmm nasib kamar dekat gerbang dan ruang tunggu." Cindy pura-pura mengeluh.
"Hmm sa ae lu tong.” Niken mendengus malas mendengar jurus gombalan Anjas yang sepertinya sudah mulai di lancarkan.
"Bang, beli martabak matcha satu ya!" Tiba-tiba terdengar suara seorang pembeli menyebutkan pesanan membuat Anjas segera beranjak untuk melayaninya dan ijin meninggalkan Niken sejenak.
Niken berencana akan pulang saja ketika suara seseorang menyebutkan namanya. Niken menoleh dan sempat menahan napas karena terpesona dengan penampilan lelaki yang memanggilnya tersebut.
Masih sama seperti penampilannya sebulan lalu saat terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya masih bergaya bun dan anting hitam masih melekat di telinga kiri serta kali ini dipadu dengan kemeja panjang yang digulung sampai siku. Mampu membuat Niken terpesona dan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya kepada orang yang sama.
"Kok bisa tau alamat gerai ini? Dari Anjas, ya? Kalau mau pesan kan bisa aku antar." Andre menyapa dan ikut duduk di sebelah Niken, Andre melirik Cindy dan tersenyum.
"Nggak sengaja ketemu kak." Niken menjawab singkat. Efek terpesona rupanya masih melekat dalam dirinya. Matanya berbinar menatap Andre.
__ADS_1
"Kami pulang dulu deh kak, udah malam." Niken pamit undur diri.
"Eh, aku baru datang masa udah pulang. Nggak bentar lagi aja. Nanti aku antar pulang," tawar Andre dengan mimik kecewa karena Niken cepat sekali undur diri padahal dia baru datang.
"Maaf kak. Lain kali kami main lagi. Udah malam, Cindy besok ada kelas pagi." Niken memberi alasan dan segera berlalu setelah sebelumnya pamit pulang juga kepada Anjas dan berterima kasih karena traktiran martabaknya.
Niken memang terpesona dengan Andre maka dari itu Niken harus cepat-cepat berlalu dari hadapan Andre agar tidak melakukan tindakan-tindakan konyol diluar kendalinya. Niken akui, Andre semakin tampak dewasa dari terakhir kali Niken melihat nya sekitar 4 tahun lalu. Sosok yang membuat Niken jatuh cinta karena kebaikan hatinya.
***
Rutinitas Niken masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Bangun tidur, bersiap-siap untuk berangkat kerja, kerja hingga sore hari dan malam menghabiskan waktu hanya dengan rebahan di kamar hingga kantuk menjelang. Selalu seperti itu. Niken mulai merasa jenuh dengan kegiatannya yang itu-itu saja. Ingin mencari tantangan baru tapi tidak tau harus melakukan apa.
Seperti malam ini, kegiatannya hanya dihabiskan dengan rebahan di kamar dan bermain ponsel. Teman-teman kosnya yang lain memilih menghabiskan malam mereka dengan sang kekasih sedangkan Niken harus gigit jari karena sang kekasih sudah lari.
Terdengar nada pesan berbunyi yang berasal dari ponselnya. Dibukanya pesan itu dan ternyata pesan dari alumni sekolahnya yang akan mengadakan reuni. Semua angkatan diundang dan Niken jadi tertarik untuk turut serta meramaikan acara.
Dibukanya kontak dan memutuskan menelepon juna. Niken kangen juga dengan celetukan-celetukan pedas Juna. Sudah lama mereka tidak saling bertukar suara. Selama ini hanya bertukar kabar melalui pesan. Niken juga berencana akan mengajak Juna menghadiri acara reunian itu.
"Halo Juna tersayang," sapa Niken sok genit. Terdengar suara dengusan di seberang sana membuat Niken terkekeh geli.
"Telinga ku lagi sakit, nggak nerima curhatan cewek galau," ucap Juna sadis seperti biasa.
"Aku lagi nggak mau curhat. Suudzon aja kau."
"Baguslah. Sehat-sehat kau disana, kalo hatimu sakit segera ke rumah sakit, ganti hati biar nggak cepet mati."
"Kampret!"
__ADS_1