
Niken beranjak setelah dipersilahkan oleh pak Jhon kembali kedalam kelas karena lonceng tanda pelajaran dimulai telah berbunyi. Niken berjalan lesu menuju kelasnya. Begitu sampai kelas, diliriknya Rindy yang memandangnya dengan wajah sinis andalan, Adila yang melambai riang kepadanya dan Marwah serta Salsa yang seperti biasanya rebutan buku menulis sontekan.
Murid-murid lain ribut tidak karuan karena guru mereka belum memasuki kelas. Niken menghembuskan napas kasar. Akankah pemandangan ini masih dapat ia lihat keesokan hari?
"Kata Dhani, Lo dipanggil pak Jhon. Kenapa?" Niken melirik Adila yang sudah siap sedia mengajak bergosip. Niken tak berniat menjawab yang syukurnya didukung dengan masuknya guru fisika menyapa mereka dengan salam. Masih pagi, suasana hati buruk ditambah dengan pelajaran fisika. Sungguh kombinasi yang sangat sempurna.
Niken mengeluarkan buku pelajaran dan betapa terkejutnya Niken melihat buku fisikanya penuh dengan coretan nama Mulyono. Dari lembar kosong yang pertama sampai lembar kosong terakhir. Tak ada ruang untuk Niken menulis di lembar yang baru. Wajah Niken yang sudah normal, kembali dingin bagai disiram air es langsung dari Antartika. Diambil nya kembali buku lain, pun semua sama, penuh dengan coretan nama Mulyono di lembar kosong.
Niken langsung menumpuhkan wajahnya di lipatan tangan dan menangis dalam diam karena tidak mau membuat Adila heboh dengan tingkahnya tapi sayangnya Adila menyadari keanehan sifat Niken. Digoyangnya lengan Niken dan berbisik ada apa. Niken terpaksa mengangkat kepalanya dan mengangsurkan semua buku pelajaran yang telah keluar dari dalam tas kepada Adila.
Adila yang awalnya ingin berkomentar tentang wajah Niken yang sudah merah padam siap menangis terpaksa mengurungkan niatnya. Dibukanya lembar demi lembar buku Niken dengan heran dan terkejut menemukan semua buku Niken penuh dengan coretan bertuliskan nama Mulyono. Tak mau membuat keributan, Adila mengangsurkan buku lain yang ia punya kepada Niken agar Niken tetap dapat mencatat pelajaran hari ini. Buku itu diterima Niken dengan lesu.
Semua itu Adila lakukan dalam diam tanpa mengeluarkan komentar apapun. Selain karena guru fisika didepan sana sedang mengoceh dengan serius, Adila berpikir pasti Niken sedang tidak ingin diganggu. Adila mengusap punggung Niken yang justru mengundang Niken untuk ikut mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya yang dengan lancang mengalir.
Niken menghembuskan napasnya dengan kuat, mengatur posisi duduk dan siap menampung pelajaran hari ini. Memberi semangat pada diri sendiri, esok hari semua pasti akan baik-baik saja.
Ya! Semoga saja semua akan baik-baik saja.
Pasti akan baik-baik saja.
***
Sepertinya semua kata semangat yang sepanjang hari coba Niken bangun hancur lebur begitu sepulang sekolah Niken memasuki kamarnya. Begitu melihat ranjang dalam kamarnya, Niken langsung merebahkan tubuh dan menangis sejadi-jadinya. Tanpa berganti pakaian bahkan tas sandang yang ia kenakan masih melekat dibadan. Pertahanannya hancur.
Kilas balik dari ia berangkat sekolah dengan hati riang, dihadang Rindy hanya karena masalah terlupa menitip absen bahkan sampai harus berujung dipanggil pak Jhon, merembet ke masalah Mulyono, lembaran buku yang penuh dengan nama Mulyono, semua berputar dalam ingatan Niken yang membuat air matanya semakin deras mengalir.
Belum lagi kemarahan Adila sewaktu jam istirahat berlangsung. Adila bahkan sampai menggebrak meja untuk menyalurkan emosinya kepada orang yang berani mencoret-coret buku Niken walaupun sampai detik ini mereka belum tahu siapa orang yang kurang kerjaan melakukan kegiatan tidak bermanfaat itu.
__ADS_1
Marwah dan Salsa bahkan sampai nekat menggeledah semua tas teman sekelasnya dan mencocokkan semua tulisan teman-temannya dengan tulisan orang iseng dibuku Niken. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tulisannya sama persis dengan tulisan yang terdapat dibuku Niken.
Syukurnya, seharian ini Niken tidak bertemu dengan Rayya, baik disekolah maupun didalam bus. Mungkin Rayya sibuk menyelesaikan kegiatan maulid nabi yang berlangsung kemarin. Niken tidak tahu reaksi apa yang akan ia tampilkan bila bertemu Rayya dengan kondisi hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
***
"Ya ampun ma, temen-temen mama kok kayak iblis semua sih." Marsya menangis membayangkan mamanya berada di masa sulit sewaktu masih sekolah dulu.
"Itu termasuk pembullyan bukan sih?" tanya Marcel lumayan jengkel mendengar cerita mamanya. Diam-diam dia mengelap sudut matanya yang berair.
"Ya pasti itu udah pembullyan sih namanya. Dasar temen-temen nggak berakhlak. Aku sebel banget sama temen-temen mama itu." Marsya masih marah-marah dan tidak terima mamanya menjadi korban bullying.
"Jadi ma, udah ketahuan belum siapa yang buat ulah itu semua?" tanya Marcel penasaran.
Niken menatap langit-langit. Sesak juga bila mengingat kejadian memilukan itu. Seraya menggeleng, Niken menjawab pertanyaan Marcel, "sampai mama pindah sekolah, mama nggak tau siapa dalang di balik itu semua."
"Iya, mama pindah sekolah," jelas Niken.
"Gimana ceritanya ma?" Marcel bertanya heran dan makin penasaran.
"Jadi gini ceritanya...."
***
"Tan."
"Hmm." Tante Runita melirik keponakannya yang sore ini berwajah murung. Setelah memanggilnya, Niken justru tertunduk lesu memainkan jari-jari tangannya. Membuat tante Runita mengernyitkan kening, heran dengan tingkah Niken yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Kenapa? Cerita sama Tante kalo ada masalah," bujuk tante Runita.
Ditinggalkan kegiatannya yang sedang mengecat kuku kaki. Kemurungan di wajah keponakannya lebih penting daripada mengecat kuku kaki yang bisa dikerjakannya nanti lagi.
"Aku mau pindah sekolah Tan, mau ikut mama aja." Tante Runita terdiam. Wajahnya berubah mendung.
"Kenapa?" tanyanya pelan. Sungguh sebenarnya Niken tidak tega, tapi Niken juga sudah tidak sanggup bila harus melanjutkan sekolah di Budaya lagi.
"Kamu nggak betah tinggal sama Tante?" tanyanya lagi karena dilihatnya Niken yang hanya diam.
"Bukan Tan, aku betah banget tinggal sama Tante."
"Terus kenapa harus pindah sekolah ikut mama kamu?" sela tante Runita.
Niken kebingungan mau menjawab apa. Sungguh dia tidak menyiapkan satu pun alasan yang masuk akal kenapa dia ingin pindah. Tapi tekadnya sudah bulat. Ia harus pindah.
"Aku nggak betah disekolah itu, Tan." Akhirnya hanya kalimat itu yang sanggup Niken keluarkan sebagai alasan.
"Kalo nggak betah disekolah itu kan bisa pindah sekolah lain yang masih disekitar sini, nggak harus ikut mama kamu." Tante Runita mencoba bernegosiasi, dia belum mau berpisah dengan keponakannya ini. Baru 5 bulan dia merasa bahagia karena dapat merasakan rasanya mengurus anak tapi sepertinya rasa itu hanya bertahan sampai disini.
"Aku nggak mau pindah sekolah deket-deket sini Tan, aku mau ikut mama aja."
Apa jadinya kalau Niken pindah sekolah tapi masih disekitaran sini. Niken tidak mau bila suatu hari berpapasan dengan pak Jhon, dengan Rindy si titisan kuntilanak apalagi bila tak sengaja bertemu dengan Mulyono, biang dari semua masalah yang membuatnya harus nekat pindah sekolah.
"Sebulan lagi kan ujian semester, kita tunggu sampai kamu selesai ujian aja ya, biar gampang ngurus surat pindahnya." Tante Runita masih pantang menyerah rupanya yang sayangnya dibalas Niken dengan gelengan kepala.
"Aku maunya besok udah diurus surat pindahnya Tan," sahut Niken keras kepala. Niken beranjak dari duduknya dan langsung memasuki kamar, mengunci pintu dan menangis didalam tumpukan bantal agar suaranya teredam dan tidak terdengar oleh tante Runita.
__ADS_1