
Bayu yang mengetahui Niken kebetulan turun tentu saja tersenyum sumringah. Itu artinya, Bayu tidak perlu meminta tolong teman Niken yang kebetulan lewat untuk memanggil Niken agar turun kebawah dan menemuinya.
"Hai bang." Belum sempat Bayu menyapa Niken, muncul Nabila dan menyapa Bayu dengan ceria. Bayu terkejut mendapati Nabila yang berada di kos Niken. Karena terlalu fokus memandang Niken, Bayu sampai tidak menyadari kehadiran Nabila.
"Hai bil, kok bisa disini? Main atau nginep?" tanya Bayu beruntun karena mereka sudah jarang berkomunikasi hingga tidak tau kegiatan satu dengan yang lain.
"Pindah kesini aku bang. Abang kok bisa ada disini?" Nabila juga tak kalah heran dengan kedatangan Bayu
Sejak kapan Bayu dekat lagi dengan Niken?
Bukannya semenjak ditembak dulu Bayu memutus komunikasi dengan Niken?
Berbagai pertanyaan berseliweran didalam kepala Nabila. Diliriknya Niken yang hanya terdiam disampingnya. Nabila juga tidak pernah mendengar dari Niken kalau Niken dan Bayu dekat kembali.
"Main aja, pengen nemuin Niken," jawaban yang diberikan Bayu berhasil memunculkan kernyitan di kening Nabila dan pelototan mata Niken.
"Oh." Hanya itu respon yang diberikan Nabila. Setelah nya Nabila melirik jalan raya yang berada dibalik gerbang dan menemukan tukang nasi goreng masih mangkal disana.
"Kami mau makan, Abang udah makan belum? Biar sekalian dibeli."
Bayu menggelengkan kepala, "kalian belum makan, ya?" Bayu menggaruk rambutnya bingung. Niken dan Nabila kompak menjawab belum.
"Abang bawa sate sih tapi cuma satu porsi, Abang nggak tau kalo Nabila juga ada disini."
Nabila menoleh menghadap Niken, "kamu mau sate atau nasi goreng, Nik?" tanya Nabila.
"Hmm sate aja deh." Niken bingung sebenarnya mau menjawab apa. Di satu sisi Niken suka sate tapi di sisi lain nasi goreng rasanya lebih nendang dan tahan sampai besok pagi untuk mencegah lapar. Ingin tetap memesan nasi goreng tidak enak hati dengan Bayu yang sudah repot-repot mau membelikannya sate.
__ADS_1
"Ya udah deh aku pesen nasi goreng sendiri. Abang beneran nggak mau?" Sekali lagi Nabila menawarkan dan jawaban Bayu tetap gelengan kepala. Akhirnya Nabila berangkat seorang diri memesan nasi goreng.
Niken mengajak Bayu duduk dan segera membuka sate pemberian Bayu dan memakannya. Baru setengah porsi Niken memakan satenya, Nabila datang membawa bungkusan nasi goreng dan ikut bergabung bersama Niken dan Bayu.
"Abang sejak kapan dekat lagi sama Niken?" Niken dan Bayu sama-sama menoleh kearah Nabila dengan pertanyaan yang diajukan olehnya.
Niken dan Bayu saling lirik, Bayu yang diberi pertanyaan tapi Niken yang deg-degan, apalagi bila teringat perkataan Juna bahwa Nabila pernah naksir Bayu dan Bayu juga sepertinya menunggu Niken, siapa tau Niken berkenan menjawab pertanyaan Nabila.
Nabila memperhatikan kedua manusia beda kelamin didepannya ini yang bukannya menjawab pertanyaan sederhana darinya tapi malah justru saling lirik.
"Belum lama, baru sekitar seminggu yang lalu kami ketemu lagi." Akhirnya Bayu juga yang menjawab pertanyaan Nabila. Nabila manggut-manggut sambil tetap mengunyah nasi gorengnya mendengar jawaban dari Bayu.
Niken sendiri memandangi Nabila, mencoba membaca raut wajahnya tetapi Niken tidak menemukan apapun kecuali mata, hidung dan bibir Nabila yang masih lengkap sempurna.
"Kenapa, Nik?" tanya Nabila setelah tersadar bahwa Niken sedari tadi terus memandanginya.
Niken yang ketahuan tentu saja gelagapan dan lebih memilih menggelengkan kepalanya daripada bingung harus menjawab apa. Niken memalingkan wajahnya ke hadapan Bayu dan menemukan Bayu yang tengah tersenyum memandanginya.
"Hmm, besok banget bang?" tanya Niken ragu atau lebih tepatnya tak enak hati. 'Kenapa Bayu mengajak jalan tepat didepan Nabila, sih?' keluh Niken.
"Besok minggu dan kamu libur kerja kan? Kalo hari lain aku takut ganggu waktu kerja kamu," jelas Bayu berharap sekali Niken mau dengan ajakannya.
Niken melirik Nabila yang masih asyik makan setelah reda dari tersedak. Nabila anteng saja seolah-olah tak mendengar apapun percakapan yang terjadi antara dirinya dan Bayu.
"Hmm boleh deh bang." Niken mengiyakan ajakan Bayu lebih ke rasa tidak enak hati untuk menolak.
"Yes!" Bayu bahkan sampai mengepalkan tinju ke udara untuk mengekspresikan rasa senang akibat ajakan jalannya di terima Niken.
__ADS_1
Niken menoleh ketika Cindy, teman satu kos mereka memanggil Niken dan memberi tahu bahwa ponsel Niken berdering terus menerus didalam kamar. Niken pun segera bangkit dan berpamitan kepada Bayu untuk mengangkat telepon.
Seperginya Niken bertepatan dengan selesainya makan Nabila. Setelah minum dan membuang kertas nasi ke dalam tong sampah, Nabila menghadap Bayu yang malah asyik bermain game.
"Bang," panggil nabila. Bayu mempause game yang sedang dimainkan dan mengangkat pandangan dari layar ponsel.
"Abang serius mau deketin Niken, lagi?" tanya Nabila sangsi.
"Serius banget," jawab Bayu dengan yakin.
"Tapi dia pernah nolak Abang, loh?" Nabila bertanya dengan nada sangsi kembali.
"Abang nggak peduli bahkan Abang udah nemuin mamanya Niken untuk minta restu ngelamar anaknya."
Dan Nabila shock dengan ucapan Bayu.
"Abang yakin sama keputusan Abang? Menikah itu bukan sekedar ijab kabul sah, malam pertama ***-*** punya anak dan hidup bahagia loh, bang?" Nabila bertanya sangsi. Meragukan keputusan besar yang diambil temannya ini.
Bayu tertawa lirih, "Bahasa mu itu loh Bil, kok ya gampang banget nyeplos." Kekehan geli masih lolos dari mulut Bayu tapi Nabila masih memandangnya dengan tatapan datar. Tak habis pikir dengan kepekaan lelaki yang duduk disampingnya ini.
"Aku serius bang," ulang Nabila yang masih tak habis pikir.
"Abang juga serius, Bil. Abang udah suka dia dari pertama kali kau bawa dia ke toko Abang. Itu 2 tahun lalu dan walaupun setahun lalu dia sempat nolak Abang ternyata nggak mudah buang rasa suka itu. Abang udah coba tapi tetep aja bayang-bayang Niken nggak bisa lepas dari ingatan."
Nabila diam mendengar penjelasan Bayu. Dihelanya napas dan mencoba tersenyum, "Kalo Abang udah yakin sama perasaan dan keputusan Abang, aku cuma berdoa semoga kalian bahagia."
Bayu mengangguk dan kembali menekuri game di ponselnya sembari menunggu Niken kembali dari lantai atas. Tanpa mereka tau, Niken masih berdiri kaku di balik tembok menuju tangga. Mendengar semua percakapan mereka.
__ADS_1
Niken tidak tau maksud Nabila mengatakan hal itu kepada Bayu untuk tujuan apa. Karena Nabila sayang kepada dirinya kah atau karena Nabila mencintai Bayu sehingga ia tidak rela bila Bayu menikah dengannya.
Dengan pelan, di langkahkannya kaki menaiki tangga dengan pikiran berkecamuk. Haruskah kali ini ia menolak kembali perasaan Bayu? Sementara ia sendiri tidak tau apa kehendak hatinya, seperti apa perasaannya terhadap Bayu? Niken bingung sendiri dengan perasaannya.