Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Malu


__ADS_3

Niken hampir tertidur di dalam bus kalau saja seseorang tidak menyenggol lengannya. Niken menoleh dan menemukan Rayya sudah duduk disampingnya.


"Jangan tidur, bus udah mau jalan entar rumah kamu terlewat."


Niken menghembuskan napas kasar dan memilih tidak menjawab ucapan Rayya. Dia ngantuk dan anak-anak dari sekolah Budi Utomo belum memenuhi bus. Bus belum bisa jalan bila belum terisi penuh.


Niken menyandarkan kepalanya di kaca jendela dan memejamkan mata.


"Ngantuk?" Rayya bertanya dan menyenggol kembali lengan Niken.


"Iya." Niken menegakkan badannya setelah bus perlahan mulai jalan. Niken melihat tali sepatunya terlepas dan dia membungkuk untuk mengikat tali sepatunya yang terlepas itu. Saat itulah dia melirik lengan Rayya yang berada diatas pangkuan si empunya.


Benar kata Adila, warna kulit Rayya bening banget.


Setelah selesai dengan urusan tali sepatunya, Niken menegakkan kembali badannya dan jadi memandangi wajah Rayya.


Lagi-lagi Adila benar, ni cowok mandi susu kali ya?


Merasa dipandangi oleh Niken, Rayya pun menoleh. Yang mana membuat Niken bingung harus diarahkan kemana pandangan matanya alhasil Niken diam terpaku dan masih menatap Rayya.


"Ada yang mau diomongin?" Saat itulah Niken berpaling dan terlihat jelas raut bingung diwajahnya. Niken bingung harus menjawab apa. Niken tidak mau sampai ketahuan tengah mengagumi kulit bersih Rayya.


"Hmm...." Niken mengusap tengkuknya dan berpikir keras jawaban apa yang akan ia berikan. Rayya masih menunggu jawaban Niken dan masih memandanginya membuat Niken tambah bingung sekaligus grogi setengah mati.


"Ongkos kali ini aku yang bayar." Syukurlah kenek bus lewat untuk menagih ongkos membuat Niken tiba-tiba teringat dia masih punya hutang dengan Rayya.


Rayya hanya tersenyum menyaksikan Niken buru-buru mengeluarkan uang dan menyerahkannya kepada kenek bus.


"Kamu lucu," celetuk Rayya tiba-tiba.


"Ha?" Niken menoleh kearah Rayya begitu mendengar ucapan itu.


Rayya lagi-lagi hanya tersenyum. Niken jadi berpikir bahwa senyum Rayya murah sekali. Tak mau terjebak kedalam ke canggungan, Niken berinisiatif membuka obrolan.


"Nomor Dhani udah kakak minta juga?"


Rayya menoleh dan menunjukkan raut bingung, "Dhani siapa?"

__ADS_1


Gantian Niken yang menunjukkan wajah bingung, "Dhani wakil ketua kelas aku yang kemarin pergi rapat bareng aku."


"Oh, temen cowok yang sama kamu itu. Untuk apa aku minta nomor dia?"


Niken jadi kebingungan sendiri. Dia jadi merasa sudah salah memilih bahan obrolan. "Terus kakak minta nomor aku untuk apa? Untuk keperluan kelas dan OSIS kan?"


"Kalo aku minta nomor kamu untuk OSIS aku bisa aja minta dari data kelas nggak perlu repot-repot langsung nyamperin kamu. Tapi sayang, kamu nggak punya telepon padahal aku minta nomor kamu untuk keperluan...."


"Keperluan apa?" Niken penasaran karena Rayya menggantung kalimatnya.


"Rahasia." Rayya tertawa melihat Niken langsung memasang wajah datar begitu mendengar jawabannya.


"Tuh rumah kamu udah nampak."


Niken turun dari bus tanpa pamit karena masih merasa gondok dengan Rayya sementara Rayya mengikuti kepergian Niken dengan pandangan matanya dan tak lupa senyum masih terpatri di bibirnya.


***


Niken sedang asyik mendengarkan radio dengan volume kencang saat Tante Runita mengetuk pintu kamarnya. Berkali-kali pintu itu diketuk tapi tak ada jawaban. Membuat Tante Runita membuka saja pintu kamarnya yang ternyata tidak dikunci. Ia menggelengkan kepala melihat Niken tengkurap di ranjangnya sembari bersenandung kecil mengikuti irama lagu.


"Niken!" Tante Runita menyenggol kaki Niken membuat Niken terlonjak kaget.


"Tante ketuk pintu kamar kamu berulang kali tapi kamu nya nggak denger. Rupanya gara-gara ini." Tante Runita mengecilkan volume radio bahkan mematikannya.


"Apa sih Tan? Aku mau tidur." Niken merebahkan kembali badannya.


"Bangun dulu. Temani Tante kerumah temen, ada urusan."


"Sendiri aja Tan. Aku dilarang keluar siang-siang begini." Niken beralasan yang justru mendapat kernyitan di dahi tantenya.


"Siapa yang ngelarang? Mama kamu nggak ada tuh pesan ke Tante, kamu dilarang keluar siang-siang begini. Lagian ini udah pukul 4 sore, siang dari mananya?"


Sebelum menjawab pertanyaan tantenya, Niken menyempatkan diri melirik jam dinding yang tertempel di dinding kamarnya. Benar, sudah pukul 4 sore.


"Komisi Perlindungan Anak Indonesia Tante, yang ngelarang."


"Ih dasar kamu ini. Udah ayo temani Tante. Ganti baju ya." Tante Runita langsung beranjak tanpa mendengar protes dari Niken.

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu Tan."


"Udah nggak usah pake mandi segala. Mandinya nanti aja kalo kita pulang dari sana."


"Sayang Tan, ganti baju tapi nggak mandi."


"Udah cepetan jangan banyak cakap."


***


Niken misuh-misuh begitu sampai dirumah yang katanya temen tante Runita ini. Jarak rumahnya memang dekat, hanya sekitar 10 menit dari rumah Niken tapi panasnya nauzubillah. Sekarang sudah pukul 4 lewat tapi sepertinya panasnya tak mau minggat.


Tante Runita mengetuk pintu rumah yang terbuka itu. Tidak sopan katanya bila langsung masuk saja walaupun pintu rumah terbuka dan tante Runita kenal dengan si tuan rumah. Niken melirik mobil berwarna hitam digarasi samping rumah. Ada sebuah motor juga terparkir disana. Sepertinya si empunya rumah rajin berkebun terlihat dari banyaknya jajaran pot bunga memenuhi halaman rumah. Tak lama muncul seorang wanita yang langsung menyambut kedatangan mereka dengan riang dan mempersilahkan mereka masuk. Riska merasa tidak asing dengan wajah cantik itu.


"Sore banget baru kesini?"


"Cuacanya panas banget. Nunggu sore ternyata masih juga panas."


"Iya nih, akhir-akhir ini cuacanya memang nggak bersahabat banget. Siang panasnya cetar entar malam malah ujan. Anakku jadi gampang sakit."


"Oya kemana nih si Randy. Kok nggak kelihatan?"


"Biasalah dibawa neneknya ke toko."


Obrolan mereka berlanjut menceritakan entah apa yang Niken tidak mengerti. Karena merasa cuma dijadikan pajangan, mata Niken berkeliaran mengamati foto-foto yang terpajang didinding. Sampai tiba di foto keluarga, Niken seperti mengenal salah seorang diantaranya.


"Nik, Tante tinggal bentar ya. Kamu disini dulu." Tante Runita beranjak sembari menepuk paha Niken, membuat Niken terlonjak dan memutus pandangan dari foto yang sedang diamatinya.


Niken hanya mengangguk ditinggal pergi ke sebuah ruangan oleh tante Runita dan temannya. Karena jujur Niken masih penasaran dengan foto keluarga itu. Sepeninggal tante Runita, Niken beranjak dan melihat pigura foto itu lebih dekat. Ada 4 orang didalam foto, Seorang ayah, ibu, anak perempuan yang sepertinya teman tante Runita tadi dan seorang lagi yang mencuri perhatian Niken sedari pertama kali melihat foto itu. Anak laki-laki yang berusia sekitar 9 tahunan itu terlihat mirip....


"Hei! Lo siapa?" Niken menoleh mendengar seruan itu dan langsung menghadap pigura foto kembali karena malu melihat penampakan yang terpampang didepannya.


"Loh, Niken? Kamu beneran Niken kan? Ngapain kamu disini?" Rayya mendekati Niken bahkan sampai menyentuh bahu Niken agar Niken mau menghadap ke arahnya membuat Niken bertambah malu dan semakin menundukkan wajahnya.


"Ii ii iiya aku Niken. Ka ka kakak bisa nggak jangan deket-deket aku atau minimal pakai baju dulu gitu?" Rayya menundukkan pandangan dan saat itulah dia tersadar bahwa dia hanya mengenakan boxer berwarna kuning dan tanpa baju di badannya.


"Masya Allah." Rayya langsung ngibrit lari ke kamarnya. Wajahnya merah padam. Sudah pasti dia malu. Niken yang melihat saja malu apalagi Rayya yang mengalami.

__ADS_1


Niken menghembuskan napas yang tanpa sadar ditahannya. Badan Rayya seperti badan anak SMP pada umumnya. Niken yang anak tunggal dan tidak pernah melihat secara langsung badan laki-laki kecuali ayahnya tentu saja malu bukan kepalang. Dilihatnya kembali foto keluarga itu. Pantas saja Niken merasa familiar dengan wajah anak laki-laki itu, ternyata itu foto Rayya sewaktu kecil. Dari kecil saja sudah ganteng pantas saja sudah besar bentukkannya begitu.


__ADS_2