Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Kolam Suci


__ADS_3

Niken yang mendengar pertanyaan Nabila semakin geli saja dan sudah tidak sanggup mengeluarkan suara walau hanya sekedar berkata ya. Niken mengulurkan tangannya setelah sebelumnya menyingkap lengan kaosnya. Nabila melihat tangan Niken yang diarahkan tepat diwajahnya. Dari situlah Nabila tau, mengapa Niken bisa tertawa sampai terbahak-bahak seperti ini.


Nabila sendiri juga ikut tertawa geli dan mengacak-acak rambut Niken karena geram. Benda yang sedari setengah jam lalu mereka cari dengan mengelilingi ruangan dan mengacak-acak isi tas serta sampai mengeluarkan keringat karena kelelahan ternyata tersemat dengan sangat manis di pergelangan tangan kiri Niken.


Alhasil mereka tertawa-tawa sampai murid yang lain memasuki ruangan dan melirik mereka aneh.


***


Hari kedua ternyata kegiatan lebih melelahkan dari hari pertama. Dari pagi begitu mata baru terbuka dari lelapnya tidur, mereka sudah diwajibkan berolahraga dengan berkeliling lapangan yang membuat Niken nyaris pingsan.


Siang hari mereka berpetualang kehutan dekat sekolah, melakukan permainan mencari benda tersembunyi yang sebelumnya sudah disiapkan panitia. Dalam misi pencarian itu, Nabila tak henti-hentinya menggoda Niken dengan insiden pita kemarin sore.


Sampai malam menjelang mereka dikumpulkan untuk melakukan kegiatan berendam di kolam suci tapi sebelum itu mereka menonton film terlebih dahulu. Film produksi dari anak-anak teater terdahulu alias karya dari kakak-kakak kelas mereka.


Begitu acara menonton film selesai, semua peserta dianjurkan untuk bersiap-siap mengikuti kegiatan berendam di kolam suci. Niken melirik jam tangan yang dipakai Juna. Pukul satu dini hari. Niken yang awalnya biasa saja, begitu tau pukul berapa sekarang jadi ketar-ketir juga.


"Bil, ini beneran kita mau berendam di kolam tengah malam begini?" bisik Niken mulai panik.


"Kayaknya sih beneran, Nik." Nabila pun jadi ikut berbisik tak kalah panik.


Begitu mereka akan berangkat ke kolam suci, Niken melihat Andre Sanjaya, si mantan ketua OSIS berdiri di jajaran para panitia. Niken mengernyit heran melihat kehadiran Andre. Dari acara baru dimulai hingga detik ini tak pernah sekalipun Niken melihat Andre, agak aneh rasanya begitu tau Andre hadir malam ini padahal esok pagi mereka sudah harus kembali ke rumah masing-masing.


Para peserta diarak menuju kolam dengan berjalan kaki. Jarak yang ditempuh sekitar lima ratus meter menuju danau buatan. Begitu sampai di danau buatan itu mereka diwajibkan untuk masuk ke air dan berendam seperti seorang pertapa. Niken merasa sangat konyol saat ini. Tengah malam dan berendam di air, untung saja tidak ada taburan bunga, kalau ada Niken sudah semakin merasa seperti seorang perempuan yang tengah mencari kesaktian.

__ADS_1


Niken melirik Nabila yang menggigil kedinginan disebelahnya. Tak lama kemudian ada peserta laki-laki yang digotong panitia naik ke daratan karena pingsan. Niken tetap berdiri tenang di tempatnya karena arahan panitia yang memerintahkan untuk tetap tenang walau apapun yang terjadi di sekitar mereka.


Niken merasakan air bergoyang dan tak lama kemudian seorang perempuan digotong naik karena pingsan juga. Sampai acara berendam selesai totalnya sudah ada 5 peserta yang pingsan. Dua laki-laki dan tiga perempuan.


"Bil, are you ok?" tanya Niken khawatir dengan kondisi Nabila yang sudah hampir membiru bibirnya. Nabila hanya mengangguk dengan bibir bergetar.


Mereka berjalan pelan menuju ke tepi danau dan saat itulah Niken mendapati Andre mengulurkan tangan, menolong Niken agar dapat naik dengan mudah. Niken yang pernah menyimpan rasa untuk Andre tentu saja merona apalagi setelah tau Andre hanya mengulurkan tangan untuk dirinya seorang.


Peserta berganti pakaian terlebih dahulu sebelum kembali ke sekolah. Dengan badan gemetar karena kedinginan, semua peserta terburu-buru berganti baju agar dapat segera kembali ke sekolah dan tidur. Niken yang sudah selesai berganti baju di kamar mandi yang telah disediakan panitia sebelumnya, berdiri di dekat pintu masuk karena menunggu Nabila yang belum selesai.


"Gilak, dingin banget." Niken menoleh dan mendapati Nabila tengah memeluk lengan dengan gemetar.


"Syukur kita kuat," celetuk Niken


Begitu keluar dari area kamar mandi, Niken mendapati Andre tengah berdiri di dekat jalan yang akan dilalui para peserta untuk kembali ke sekolah. Sebagian peserta yang sudah selesai berganti baju diperbolehkan jalan terlebih dahulu dan kembali ke sekolah.


"Udah selesai, Nik?" tanya Andre begitu Niken akan melewati tempatnya berdiri. Niken yang terkejut menghentikan langkah dan memandang Andre. Terasa Nabila menyenggol lengan Niken pelan.


"Hmm udah kak. Kakak nunggu siapa?" tanya Niken heran karena Andre tiba-tiba mengajaknya berbicara. Ini kedua kalinya Niken mengobrol dengan Andre. Tentu saja yang pertama saat Niken tidak sengaja menabrak Andre dan Andre memberinya tanda tangan dengan cuma-cuma. Niken bahkan sampai heran karena Andre tau namanya.


"Nunggu kamu," jawaban yang diberikan Andre membuat Niken semakin terheran-heran. Apalagi setelah itu Andre meraih tas dari tangan Niken yang berisi pakaian basah.


Ini beneran Andre?

__ADS_1


Jangan-jangan efek dari berendam di kolam suci bisa membuat aura menguar dan membuat silau orang yang kita suka?


Sepertinya memang benar, berendam di kolam suci dapat membuat aura kecantikan seseorang terpancar. Buktinya Andre, dia yang tak pernah bertegur sapa dengan Niken kini tengah berjalan santai di samping Niken, menemaninya berjalan menuju sekolah. Walau sudah sekitar 300 meter mereka berjalan, belum ada sekalipun kata yang keluar dari mulut mereka.


Niken sendiri jangan ditanya, wajahnya sudah merona dengan jantung yang sudah bertalu-talu dan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Siapa coba yang tidak merona bila orang yang selama ini diperhatikan diam-diam dan ditaksir sejak pandangan pertama dapat berdiri di sampingnya dengan membawa plastik berisi baju basahnya.


"Nik!" seruan Juna mengalihkan Niken dari senyum yang masih saja tersemat di wajahnya.


Niken memandangi Juna yang masih mengatur napas, sepertinya habis berlari.


"Kau selamat," lirih Juna dengan memeluk bahu Niken dan menuntunnya agar terus berjalan. Pasalnya begitu Juna datang memanggil, Niken seketika menghentikan langkahnya membuat Andre pun ikut menghentikan langkah dan memandangi Juna dengan heran.


"Kenapa memangnya aku?" Niken melirik Juna aneh.


"Ku kirain kau pingsan, soalnya kan banyak yang pingsan tadi, bahkan yang cowok-cowok badannya gede pun bisa pingsan juga."


"Aku malah nggak ngerasa apa-apa. Cuma dingin doang. Tuh yang udah biru badannya, sampek berharap bisa pingsan tapi nggak bisa juga," kekeh Niken sambil menunjuk Nabila dengan dagunya. Juna melirik Nabila yang sepertinya masih menggigil, terbukti dari jalannya yang terburu-buru dan tangan yang masuk kedalam kantong jaket.


"Syukurlah kalo kau nggak sampek pingsan. Nggak tenang aku tadi selama berendam."


"Ihh so sweet." Niken bergelayut manja di lengan Juna dan Juna mengacak rambut Niken gemas.


Obrolan mereka berlanjut sampai tiba di sekolah. Niken sampai tak sadar bahwa Andre masih setia berjalan disampingnya dengan membawa plastik pakaian kotor miliknya.

__ADS_1


__ADS_2