
Pagi hari sebenarnya cuaca cerah. Tidak mendung tidak juga terlalu menyengat tetapi wajah-wajah lesu peserta teater tidak bisa disembunyikan. Tepat dihari ketiga ini seluruh rangkaian kegiatan telah selesai dan mereka sudah harus bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing tetapi sebelum itu mereka dikumpulkan di lapangan dan diberi wejangan perpisahan oleh kepala sekolah dan pembina ekskul teater.
Tiga hari yang lalu, para peserta juga berdiri di lapangan ini tetapi wajah-wajah mereka sangat berbanding terbalik dengan hari ini. Tiga hari yang lalu wajah mereka berseri antusias, tak sabar untuk mengikuti segala rangkaian acara tetapi hari ini wajah mereka lesu dan kuyu karena kelelahan.
Niken membenahi tali ranselnya yang melorot, "Jun, capek banget aku, rasanya pengen cepet-cepet tidur di rumah."
"Yang maksa-maksa mau ikut acara ini siapa? Sampai ngorbanin orang lain segala," ketus Juna sambil terus menggendong ransel miliknya dan koper pink Niken yang lagi-lagi harus Juna yang membawa.
"Tapi seru tau, Jun." Niken cemberut mendengar suara ketus Juna. Juna hanya memasang tampang malas.
Mereka duduk di bangku dekat pagar sekolah, menunggu mobil jemputan Juna yang katanya akan segera sampai. Niken sih sudah menelpon mamanya minta jemput tapi mamanya memberi tahu bahwa papa Niken sedang tidak berada dirumah. Alhasil, Niken menumpang di mobil Juna karena mamanya tidak dapat mengendarai mobil sendiri.
"Pulang sama siapa, Nik? Ayo aku antar pulang." Niken menoleh mendengar suara itu dan terkejut mendapati Andre sudah berada disampingnya. Motornya terparkir tak jauh dari pintu gerbang.
"Eh, nggak usah kak, aku pulang sama Juna, kok." Niken gelagapan memberi alasan, antara ngarep bisa di bonceng Andre dan mencoba meredam hatinya yang deg-degan.
"Naik apa? Udah sama aku aja," ujar Andre sedikit memaksa. Juna melirik Andre dan melarikan pandangan matanya ke arah jalan raya.
"Ayo Nik, mobilnya udah datang." Juna beranjak, membenarkan tali ransel dan menyeret koper Niken menuju mobilnya yang berhenti tak jauh dari tempat mereka duduk saat ini. Juna hanya mengangguk sekilas kepada Andre yang mengikutinya dengan pandangan mata.
"Hmmm maaf kak, aku nggak bisa ikut kakak, jemputan ku udah datang." Niken mengusap tengkuknya salah tingkah dan tak enak hati karena menolak tawaran tumpangan dari Andre.
"It's ok. Santai aja. Tuh udah ditungguin." Andre tersenyum dan menunjuk letak mobil hitam Juna dengan dagunya.
"Aku duluan ya kak. Makasih sebelumnya atas tawaran tumpangan nya." Niken berucap canggung dan segera melangkahkan kakinya agak terburu menuju mobil Juna.
__ADS_1
'Sungguh dahsyat efek berendam di kolam suci," pikir Niken konyol.
***
"Ada pemain baru," celetuk Marcel menghentikan Niken yang sedang berkisah dan menghentikan galian memori dengan paksa. Masih ada senyum bertengger di wajah Niken bila mengingat masa-masa indah jaman sekolahnya dulu.
"Ternyata mama dulu jadi rebutan ya." Marsya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit iri karena sang mama pernah nge-hits di jamannya sementara dirinya justru hanya di taksir si Irza sang tetangga menyebalkan.
"Apaan dah rebutan, mama masih jomloh itu. Justru mama punya pacar setelah kenal Andre." Niken tertawa menanggapi ucapan Marsya.
"Andre ya, Ma?" tanya Marcel antusias. Niken menggeleng membuat Marsya dan Marcel kompak mengernyitkan kening.
"Siapa ma?" Kembali Marcel mengajukan pertanyaan karena rasa penasaran yang sudah tidak dapat dibendung.
"Kalau mau tau jawabannya, kalian harus tidur dulu. Udah malam, besok mesti sekolahkan. Pak RT juga sepertinya sebentar lagi bakalan pulang." Perintah Niken membuat anak-anaknya kecewa.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Niken berbaring ke ranjang dan kembali tersenyum sendiri. Mengulang kembali kisahnya kepada anak-anak ternyata juga harus mengulang kembali memori itu. Masa di mana semua suka dan duka kehidupan masa remaja dan dewasanya terjadi.
Niken beruntung, selama 18 tahun menjalani biduk pernikahan, jarang sekali perselisihan terjadi antara ia dan suaminya. Mungkin Tuhan sudah mengujinya lewat badai sebelum pernikahan. Dimana banyak sekali prahara yang terjadi. Sampai dirinya bahkan hampir menyerah.
***
"Assalamualaikum!" Salam dari pintu depan membuat Niken menghentikan kegiatannya menuang susu di gelas suaminya. Marsya langsung cemberut mendengar salam itu karena dia sudah hapal luar kepala siapa pemilik suara itu.
Rutinitas pagi ini kembali terulang seperti biasa. Bangun tidur, bersiap untuk memulai kegiatan yang tak lupa sebelumnya mengisi perut dengan sarapan yang sudah disiapkan oleh nyonya dan mama tercinta.
__ADS_1
"Waalaikumsalam!" Niken menyahut dan beranjak menuju pintu depan.
"Oh nak Irza. Mau jemput Marsya, ya? Anaknya masih sarapan. Yuk masuk, ikut sarapan bareng," ajak Niken antusias.
Pemuda berseragam putih abu-abu itu tersenyum kikuk dan mengusap leher, "Nggak usah deh Tan, aku tunggu disini aja," tolaknya halus.
"Udah nggak papa masuk aja. Ikut sarapan bareng." Niken memaksa membuat Irza pun akhirnya mengikuti langkah yang mudah-mudahan menjadi calon mama mertuanya itu.
Marcel terbahak begitu mendapati Irza melangkah mengikuti mamanya. Niken dan suaminya langsung melotot, memarahi Marcel melalui pandangan mata. Tidak sopan ada tamu tapi justru di sambut dengan tawa.
Marsya jangan ditanya. Wajahnya sudah seperti jeruk purut, "Kenapa malah di suruh masuk sih, Ma?" Protes Marsya sebal.
"Kakak!" tegur papanya lirih membuat Marsya diam dan memakan sarapannya kembali dengan cemberut.
Irza berdiri dengan canggung dan menyapa satu persatu penghuni rumah. Dilihatnya Marsya yang berwajah masam tetapi tetap cantik bak bidadari di matanya.
"Duduk Za, mau sarapan pakai apa?" tawar Niken manis dan menuangkan susu untuk penghuni baru di sesi sarapan mereka pagi ini.
"Roti aja Tante, aku tadi udah sarapan dirumah."
"Kalo udah sarapan kenapa mesti ikut sarapan disini?" selak Marsya galak.
"Mama yang ajak loh kak. Kamu jangan galak-galak gitu ih." Niken menyahut, mencoba memaklumi sikap Marsya yang selalu ketus kepada pemuda yang tak lain tetangganya ini.
"Iya kak, jangan galak-galak. Entar kalo nanti malam terbayang-bayang wajah bang Irza kan berabe urusannya," celetuk Marcel membuat Marsya menggeram sebal.
__ADS_1
Marsya akan membuat perhitungan kepada tetangganya yang sedang santai makan roti ini agar tak perlu lagi sok sibuk menjemputnya setiap pagi sementara Niken dan suaminya justru mempunyai rencana untuk menjodohkan Marsya dengan Irza.
Sepertinya seru bila anak mereka mempunya kisah seperti di novel-novel. Kisah perjodohan yang awalnya benci jadi bucin.