
"Oh jadi awalnya di jodohin ya, ma?" Marcel berkomentar, Niken terkekeh.
"Nggak di jodohin sih tapi entah kenapa dulu kakek tiba-tiba bahas Juna. Mama juga heran. Tapi mungkin kakek kalian cuma nggak mau mama kecewa lagi walau gimana pun kan mama udah pernah hampir menikah dan gagal di tengah jalan. Persiapan pernikahan juga udah mulai di cicil waktu itu. Hampir semua saudara tau kalo mama tiga bulan lagi mau menikah tapi malah nggak jadi. Sedikit banyaknya pasti kakek nenek kalian malu."
"Bayu dan Nabila jahat banget ma. Bahkan perselingkuhan mereka sampai menghadirkan benih " Marsya bersuara menyalurkan kedongkolannya.
"Maka dari itu, mama udah pernah bilang kan, pacaran itu nggak cuma hanya pakai hati tapi pakai otak juga. Setiap perbuatan baik buruknya pasti ada konsekuensinya." Marsya dan Marcel mendengarkan nasehat mamanya dengan seksama walau nasehat seperti ini sudah sering sekali mereka dengar.
"Marsya, suka sama seseorang boleh tapi jangan sampai merendahkan harga diri dan kamu Marcel, jaga anak perempuan orang baik-baik seperti orang tuanya menjaga anak itu. Mengerti kalian?"
"Ngerti maaa!" seru Marsya dan Marcel kompak.
"Udah sore, sana mandi. Papa kalian udah pulang." Perintah Niken yang langsung saja di turuti anak-anaknya.
Tampak sang suami memasuki rumah dan mengucap salam. Wajahnya terlihat lelah. Niken pun segera menyambut dan segera menyuruh sang suami mandi, agar tubuhnya terlihat segar.
Niken tengah bersandar di kepala ranjang dan memainkan ponsel ketika suaminya masuk kamar dan langsung berbaring disamping Niken serta memeluk perutnya. Mereka baru saja berkumpul di ruang keluarga untuk bercengkerama dan di pukul 10 malam mereka membubarkan diri untuk beristirahat di kamar masing-masing.
"Liatin apa sih? Serius banget." tanya sang suami. Tangannya memainkan kancing baju piyama Niken.
"Buka-buka medsos aja. Lihat-lihat berita yang lagi viral," jawab Niken. Tangan kanannya mengelus rambut sang suami dan tangan kirinya masih asyik menggulir layar ponsel.
"Ma!"
"Hmm."
"Umur kita udah berapa ya?" tanya sang suami tiba-tiba membuat Niken mengerutkan kening heran. Diletakkannya ponsel di nakas samping tempat tidur dan ikut suaminya berbaring.
"Kenapa kok tiba-tiba tanya umur?"
"Nggak ada. Tadi di kantor, Farhan tiba-tiba ngundang seluruh karyawan makan siang di rumahnya. Ternyata ada acara aqiqahan anak kembarnya. Anaknya lucu banget. Gimana kalo kita program anak kembar ma?" usul suaminya dengan mata berbinar penuh harap.
Niken mendengus malas, "Kita udah sepakat ya pa, punya anak cuma dua. Kita udah tua, terlalu beresiko kalo punya anak lagi."
__ADS_1
"Tambah satu lagi aja ma tapi kembar kayak bayinya Farhan."
"Tambah satu tapi mintanya kembar. Dimana-mana yang namanya kembar itu udah pasti lebih dari satu, pa." Niken setengah greget setengah nggak habis pikir dengan keinginan suaminya.
"Ya udah deh, dua juga nggak papa," sahut suami Niken pura-pura pasrah.
"No!" Niken langsung menolak dengan tegas.
Suami Niken cemberut, "Papa masih kuat loh ma, buat anak lagi. Kalo mama nggak percaya, yok kita buktikan!"
Suami Niken langsung bangkit dan tengkurap diatas tubuh istrinya itu. Niken tertawa geli dan mengecup singkat bibir suaminya.
"Yang meragukan kekuatanmu itu siapa sih pa? Aku percaya kok kalo suamiku ini masih kuat buat anak banyak tapi istrimu yang udah nggak kuat suamiku," ucap Niken sembari membelai lembut pipi suaminya.
"Ya sudahlah, kalo mama nggak mau punya anak lagi. Nanti Marsya aja kita suruh cepat-cepat menikah dan ngasih kita cucu," gurau suami Niken.
"Sekarang kita nikmati aja prosesnya," lanjut suami Niken sembari ******* bibir istrinya.
Malam ini akan terasa sangat panjang dengan peluh yang membasahi keduanya.
Siang itu ketika Marsya dan Marcel sama-sama menginjakkan kaki kedalam rumah sepulang dari sekolah, Niken masih sibuk menyusun gelas-gelas keramik di lemari kaca yang terdapat di ruang keluarga. Gelas-gelas itu ia beli sewaktu mereka berlibur ke Jogja waktu itu.
Marcel memasuki rumah dengan bersemangat bahkan keluar senandung nyanyian dari bibirnya kontras sekali dengan Marsya yang memasuki rumah dengan wajah cemberut. Begitu memberi salam, mereka langsung masuk kedalam kamar masing-masing dan keluar lagi sekitar sepuluh menit kemudian dan langsung menuju meja makan.
"Kamu kenapa, Sya?" tanya Niken yang ikut duduk di meja makan dan ikut menemani anak-anaknya menghabiskan makan siangnya.
"Sebel aku ma sama papa," sungut Marsya sembari memasukkan satu sendok penuh nasi kedalam mulutnya.
"Sebel kenapa?" tanya Niken heran.
"Kakak disuruh cepet-cepet nikah ma biar segera mendapatkan cucu." Marcel mengadu yang membuat Marsya mendengus dan Niken melongo, tak menyangka suaminya serius dengan ucapannya tadi malam.
"Kapan papa bilangnya?"
__ADS_1
"Tadi, waktu berangkat ke sekolah. Malahan papa gencar banget jodohin kakak sama Irza, kata papa ngapain cari jodoh jauh-jauh kalo di depan mata udah ada." Marcel semangat menggebu-gebu sewaktu mengaduh perihal ucapan papanya tadi pagi.
"Dasar ya papa kamu itu. Ada-ada aja kelakuannya." Niken berucap dan masih tak habis pikir.
"Maaaa bilangin dong sama papa, jangan suruh aku buru-buru nikah," rengek Marsya. Makanan di piringnya sudah habis dan kini tengah tertunduk lesu dengan kepala yang menempel di atas meja makan.
"Iya nanti mama bilang sama papa. Papa kamu itu bercanda kak, mana mungkin papa kamu ngebiarin kamu tamat sekolah langsung nikah. Papa juga pengen lah lihat kamu sekolah yang tinggi dan mewujudkan cita-cita kamu." Niken menenangkan Marsya yang sepertinya ketakutan akan dipaksa menikah muda.
"Bener ya ma, mama bakalan bilang ke papa. Aku bakalan minggat dari rumah kalau sampai tamat sekolah harus menikah apalagi kalo menikahnya sama Irza. Dih amit-amit." Marsya mengetuk meja dan kepalanya bergantian. Ekspresi wajahnya menunjukkan gestur jijik membuat Niken menggelengkan kepalanya.
"Nggak boleh ngomong gitu ah kak, jodoh nggak ada yang tau loh. Hanya Allah yang bisa menentukan dengan siapa nantinya kita berjodoh."
"Bener kak, hari ini bilang amit-amit eh besoknya amin-amin. Bucin. Berharap berjodoh sama kak Irza," celetuk Marcel. Marsya mendengus malas.
"Ma, lanjut cerita mama dong, selagi papa belum pulang kerja." Marcel mengganti topik pembicaraan dan Marsya yang tadinya lesu kini menegakkan punggung. Bersemangat ingin mendengar kelanjutan kisah mamanya.
"Nanti malam saja ya, hari ini mama mau bersih-bersih. Nanti malam kan papa kamu ronda jadi kita bisa cerita sepuasnya."
"Bener nanti malam ya ma," ucap Marcel memastikan dan dijawab Niken dengan anggukan yakin.
"Tidur siang sana," usir Niken yang langsung membuat anaknya beranjak dan menuju kamar masing-masing.
Begitu anak-anaknya sudah memasuki kamar masing-masing, Niken meraih ponsel nya dan menghubungi suaminya. Ada rasa ketakutan tersendiri didalam hatinya begitu mendengar suaminya membahas perihal cucu kepada Marsya.
"Halo, assalamualaikum," sapa suara di seberang sana yang tak lain adalah suara suaminya.
"Waalaikumsalam. Udah makan siang pa?" tanya Niken.
"Baru aja pulang dari kantin. Ada apa? Kangen?" goda suaminya.
"Iya nih, aku kangen sama kamu." Niken membalas godaan suaminya dengan bibir yang tak berhenti tersenyum.
"Servis tadi malam masih kurang? Padahal kamu udah ampun-ampun minta udah," ucap suaminya vulgar.
__ADS_1
"Ih, kamu ini ngomong apaan sih? Kalo ada yang dengar gimana?" rajuk Niken dengan wajah yang sudah semerah tomat.
Suami Niken hanya tertawa karena sudah berhasil menggoda istrinya itu.