
"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana?"
"Ya beginilah," sahut Niken sembari mengangkat bahu cuek.
"Jadi temen Anjas yang pesan martabak itu kamu?"
"Eh." Niken terkejut, "Kakak, abangnya Anjas?" Anggukan lah jawaban dari Andre.
"Serius?" tanya Niken memastikan dan hampir tidak percaya.
"Serius lah. Kami nggak mirip ya?" Andre terkekeh sewaktu menanyakannya. Niken jadi terdiam dan mengamati wajah Andre. Tidak ada kemiripan sama sekali antara Andre dan Anjas.
"Ini pesanan kamu." Andre menyerahkan sekotak martabak yang sedari tadi berada di pangkuannya.
"Berapa bang?" tanya Niken sembari membuka kotak martabak itu dan aroma martabak langsung tercium membuat cacing di perut Niken yang belum sempat di beri makan malam berdemo.
"Gratis. Sebagai salam karena kita udah lama kita nggak jumpa."
Niken terdiam sejenak karena teringat Bayu juga pernah mengucapkan kata-kata itu ketika mereka pertama kali bertemu kembali dua tahun lalu di supermarket.
"Beneran ini?" tanya Niken sembari menepis sekelebat ingatan tentang Bayu di pikirannya. Andre mengangguk mengiyakan.
"Asyik!" seru Niken senang. Sebagai anak kos tentu jiwa-jiwa gratisan sudah melekat erat dalam jiwanya.
Niken mengambil sepotong dan memakannya. Di tawarinnya Andre dan gelengan kepala lah jawabannya. Tentu saja dia menolak, ia sudah bosan melihat martabak setiap hari.
"Kamu tinggal di sini, Nik?" tanya Andre ketika Niken sedang asyik menikmati makanannya.
"Iya, udah dua tahun aku di sini," jawab Niken.
"Kuliah dimana, Nik?"
"Aku kerja kak di butik Salwa."
"Butik Salwa yang ada di kota?" Niken mengangguk dan sempat Niken lihat Andre berdecak kagum.
__ADS_1
Mereka berbincang tak tentu arah sampai ponsel Andre berdering dan nama Anjas tertera di layar.
"Oke, meluncur."
Hanya itu jawaban yang didengar Niken sedetik setelah Andre mengangkat panggilan.
"Aku pulang ya, Nik. Keasyikan ngobrol sama kamu sampai lupa Anjas jaga gerai sendirian. Pembeli lumayan ramai malam ini." Pamit Andre beranjak dari duduknya.
"Aku yang harusnya makasih. Udah di antarin martabak, gratis pula. Makasih ya."
"Nggak masalah. Oya, kapan-kapan aku boleh kan main kesini lagi?" Andre harap-harap cemas menantikan jawaban Niken.
"Boleh."
Andre tersenyum senang dan berlalu meninggalkan kos Niken dengan sepeda motornya.
Niken naik ke kamarnya dan sempat berpapasan dengan Cindy yang akan keluar dari pintu kamarnya. Niken menyerahkan martabak yang masih tersisa banyak dan di terima Cindy dengan senang hati.
Sesampainya di kamar, Niken masih tidak percaya bahwa ternyata Andre adalah Abang dari Anjas. Anjas dulu adalah teman Juna yang selalu menggoda Niken tentang hobinya yang suka menonton film dan seingat Niken, Anjas juga pernah menawarkan Niken untuk menggantikan posisi Andre sebagai ketua OSIS.
Niken berguling-guling di ranjangnya, malu sekali dengan kelakuan absurd nya jaman sekolah dulu. Memberi tahu kalau dia naksir Andre di depan adik kandung Andre sendiri.
***
"Ma, lihat dompet papa nggak?" teriak suami Niken dari ujung tangga. Terlihat hanya kepalanya saja yang menyembul.
"Di lantai atas pa," balas Niken yang juga ikut berteriak.
"Bisa nggak sih sehari aja hidup aman tenteram bahagia tanpa ada yang teriak-teriak mencari barang yang hilang," keluh Marsya jengah dengan keadaan pagi yang selalu ada saja anggota keluarga yang kehilangan barang.
"Nggak bisa kak. Itu udah jadi tradisi keluarga kita," celetuk Marcel yang baru muncul dari kamarnya dan langsung duduk. Bersiap untuk menyantap sarapannya.
"Tolong dong kebiasaan buruk itu dirubah," keluh Marsya lagi.
"Yang penting kan nggak mengganggu kesehatan dan keuangan kak," sahut papanya yang sepertinya sudah menemukan dompet yang di carinya.
__ADS_1
"Kesehatan jantungku terganggu pa." Marsya masih mengeluh.
"Kesehatan kantongku juga terganggu pa, butuh uang jajan tambahan," celetuk Marcel yang membuat ia mendapat cubitan di lengan dari Marsya.
"Jajan mulu nih bocil," sungut Marsya.
"Kalo mau tambahan uang jajan, tunggu umur juga bertambah." Papanya menyahut sembari membalik piring.
Niken sudah menyelesaikan masakannya dan kini tengah menuangkannya ke
piring suami dan anak-anaknya.
"Bulan kemarin uang jajan kalian udah bertambah, jangan lagi mengeluh tentang uang jajan." Niken memberi ultimatum yang mendapat kekehan dari suaminya. Sementara Marsya dan Marcel saling lirik.
Gagal deh dapat tambahan uang jajan kalo si mami udah mengeluarkan suara.
Setelah selesai sarapan suami dan anak-anaknya berpamitan untuk berangkat ke tujuan masing-masing. Tinggallah Niken sendiri di rumah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sudah menunggu. Kadang rutinitas ini membosankan tetapi Niken bahagia dan menikmati momen setiap detik yang ia lalui baik itu saat sendiri ataupun saat bersama dengan suami dan anak-anaknya tercinta.
Ketika Niken sedang melipat baju, terdengar suara salam. Niken bergegas ke depan dan mengira bahwa itu adalah tetangga nya yang terkadang main kerumah sekedar untuk mengobrol ataupun terkadang membutuhkan bantuannya.
Sesampainya di depan, Niken terkejut mendapati tamu yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Tamu yang tak pernah Niken pikir akan bertatap muka kembali dengannya.
Niken berjalan pelan menuju pintu. Dijawab nya salam dengan lirih. Heran, bingung dan tak percaya berbaur menjadi satu dalam benaknya. Benarkah yang bertamu ke rumahnya ini adalah dia. Sosok yang sudah lama tak ia lihat wajahnya. Wajah itu masih sama, tidak banyak perubahan yang terjadi selain sedikit kerut di sekitar mata walau sudah puluhan tahun Niken tidak melihat wajahnya dan rasanya ia hampir merasa asing.
"Apa kabar Niken?" Lirih sekali suara tamu itu ketika menanyakan kabar.
"Kabar aku baik. Mari masuk. Silahkan duduk, maaf berantakan." Niken menyingkirkan beberapa buku musik Marcel yang berserakan di meja.
Tamu itu duduk dengan canggung dan matanya sesekali berkeliling mengamati keadaan rumah Niken.
"Kamu apa kabar, Nabila?" tanya Niken setelah membereskan buku-buku Marcel dan ikut duduk menghadap Nabila. Perempuan yang dulu pernah menjadi sahabatnya sebelum peristiwa kelam itu terjadi.
Nabila mengangkat bahu dan tersenyum sendu, "Kabar aku ya seperti inilah. Semakin tua."
"Alhamdulillah masih bisa merasakan tua. Nggak semua orang bisa mengalami tua," jawab Niken sembari terkekeh.
__ADS_1
Nabila hanya tersenyum menanggapi gurauan Niken. Mereka terdiam dan sama-sama canggung. Bingung harus membangun percakapan seperti apa. Mungkin bila keadaan mereka masih baik-baik saja, kecanggungan ini tidak akan terjadi. Mereka akan saling berpelukan, cipika-cipiki dan heboh bila bertemu apalagi pertemuan ini terjadi setelah puluhan tahun lamanya terpisah. Tetapi apalah daya, semua itu tidak akan pernah terlaksana.