Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Bermuka Dua


__ADS_3

"Pagi pacar." Rayya berbisik di telinga Niken. Niken yang baru saja turun dari bus sontak menoleh kaget.


"Pa-pa-pagi kak." Hufftt sudah jadi pacar pun Niken masih sering gagap bila berhadapan dengan Rayya. Rayya tersenyum, sepertinya Niken tidak sadar bahwa mereka satu bus.


Rayya masih memandangi Niken sembari berjalan. Niken yang grogi dipandangi Rayya terus menerus pun semakin mempercepat langkahnya, begitu pun dengan Rayya yang juga jadi ikut mempercepat langkah kakinya.


Begitu terus sampai mereka sudah hampir sampai di lorong kelas. Niken yang tidak tahan pun jadi menghentikan langkahnya begitupun dengan Rayya.


"Stop kak! Kakak jangan ikutin aku!" Niken langsung berlari sekencang mungkin meninggalkan Rayya yang terbengong melihat tingkahnya.


Niken terus berlari. Pintu kelasnya sudah terlihat, begitu Niken akan masuk ternyata ada seseorang yang juga akan keluar kelas. Alhasil, tabrakan pun tak terelakkan. Niken meringis, merasakan sakit di bokongnya karena ia jatuh terduduk. Sementara orang yang Niken tabrak pun kondisinya tak jauh berbeda dengan Niken. Ikut jatuh terduduk juga.


"Tumpa se ahe, yumus kurahe, tumere janehem, ya kenahotahe. ham to merahe ya kenas hotahe, ya karo ahe kuch kuch hotahe, ya karo ahe kuch kuch hotahe." Niken berdiri dengan di iringi nyanyian asal nan heboh dari Dhani.


Niken menepuk-nepuk belakang roknya, menghilangkan debu yang pasti menempel disana. Begitu Niken melihat siapa yang ditabraknya, barulah Niken sadar mengapa Dhani begitu heboh menyanyikan lagu India kuch-kuch ho ta hai yang dulu sempat fenomenal itu.


Mulyono.


"Ceileh, pagi-pagi udah ada adegan romantis aja nih. Pakai pegang-pegangan tangan dong, biar makin menjiwai ala ftv-ftv itu loh." Herman tak kalah heboh dari Dhani.


"Gimana Mul, rasanya ditabrak sama Niken? Berbunga-bunga kan pastinya. Icikiwir." Dhanu mengebuk-gebuk meja menjadikannya sepertinya drum.


"Langsung 3 hari nggak mandi. Hahahaha," ucapan Herman mengundang tawa seluruh penghuni kelas. Mulyono seperti biasa, hanya tersenyum malu dan melanjutkan langkahnya keluar kelas. Sementara Niken, mencoba menebalkan wajah dan duduk disebelah Adila yang kebetulan sudah datang.


***


Marsya dan Marcel tertawa mendengarkan kelanjutan kisah mamanya. Malam ini mereka melanjutkan kisah Niken yang ternyata sedang mengisahkan adegan uwu-uwu menggelikan membuat mereka bertiga tergelak bersama.


Si papa sedang mendapatkan giliran ronda malam sehingga mereka dapat leluasa melanjutkan cerita receh ibu mereka. Niken sendiri sudah mewanti-wanti kepada anak-anaknya agar jangan membocorkan kisah ini kepada papanya, tujuannya sudah jelas, Niken malu bila ketahuan sang suami betapa menggelikan masa-masa sekolahnya dulu.


Marsya dan Marcel tentu saja setuju dengan syarat yang di berikan mamanya. Bagi mereka kisah mamanya pasti ada hikmah yang bisa diambil. Jadilah, setiap si papa tidak ada di rumah mereka akan curi-curi waktu untuk merengek kepada mamanya dan melanjutkan cerita jaman mamanya dulu.


"Ada lagi kisah yang menurut mama juga nggak kalah lucu," lanjut Niken setelah tawa mereka reda.


"Ikutin ya...."


***


"Niken, absen nanti jangan lupa letak di kantor." Seperti biasa Rindy selalu mengingatkan buku absen. Niken hanya mengangguk mengiyakan.


Istirahat kedua seringnya anak-anak jarang pergi ke kantin. Mereka lebih memilih duduk-duduk di lorong kelas atau didalam kelas sekalian. Adila, Marwah dan Salsa bergosip ria menceritakan lagu-lagu di radio yang sedang hits. Niken duduk disebelah mereka tetapi dengan kegiatan berbeda. Mencatat pelajaran. Ada pelajaran sejarah yang diharuskan mencatat di papan tulis.


Niken mendongak dari buku catatannya karena tak terdengar suara teman-temannya yang sedari tadi asyik menggosip. Rupanya ada Rayya yang sudah berdiri diantara mereka dan sedang memperhatikannya menulis.

__ADS_1


"Tulisan kamu bagus."


"Ya bagus dong kak, kalo nggak bagus nggak mungkin dia jadi sekretaris." Adila yang menjawab dengan nada bangga.


Rayya tersenyum dan menarik bangku untuk didudukinya tapi belum sempat Rayya duduk, Rindy datang menghampiri mereka dan duduk dibangku yang ditarik oleh Rayya.


"Hai semuanya. Lagi cerita apa sih? Kayaknya seru banget." Rindy menyapa dengan ceria. Hilang pandangan judesnya, berganti dengan senyum ceria membuat wajahnya yang sudah imut semakin bertambah imut.


"Makasih ya kak bangkunya. Kakak boleh ambil bangku lain kok." Rayya mengangguk dan menarik bangku lain untuk didudukinya.


Adila, Marwah, Salsa dan NikenĀ  saling berpandangan. Heran dengan tingkah Rindy.. Sejak kapan Rindy mau beramah tamah seperti ini?


"Kakak ada perlu apa kok tumben main kesini? Mau ada pengumuman rapat ya?" Rindy bertanya kepada Rayya, masih dengan wajah cerianya.


"Nggak kok, cuma pengen main aja. Kayaknya minggu ini sih nggak ada rapat."


"Ooo, bangku aku disebelah sana kalo kakak pengen tau." Rindy menunjuk ketempat duduk yang biasa ia gunakan untuk belajar.


Rayya menoleh kearah yang ditunjuk Rindy dan menganggukkan kepalanya. Marwah tanpa sepengetahuan Rindy sudah menunjukkan gestur mau muntah membuat Adila dan Salsa ter kikik dengan aksinya. Niken sendiri memilih melanjutkan catatannya.


"Catatan lo belum siap, Nik?" Niken menoleh kearah Rindy sembari terus mencatat.


"Belum."


"Udah hampir selesai kok, Rin." Rasanya lidah Niken hampir keseleo mengobrol dengan Rindy yang berwajah ceria seperti ini. Biasanya mereka bertukar sapa apabila Rindy memarahinya dengan wajah judes bin galaknya.


"Lo pasti nggak mau ya gue bantuin mencatat karena tulisan gue nggak sebagus lo." Mendengar ucapan Rindy yang diucapkan dengan nada memelas membuat Niken langsung menghentikan ayunan penanya dan menoleh kearah Rindy. Belum sempat Niken bersuara, Rayya sudah terlebih dahulu menyela.


"Kalian emang biasa istirahat didalam kelas aja ya? Istirahat pertama kalian juga nggak keluar ngantin?"


"Kalo istirahat pertama sih biasanya anak-anak hampir semua ke kantin kak, cuma mereka-mereka aja yang selalu di dalam kelas." Rindy menjawab dengan ceria seraya menunjuk Niken, Adila, Marwah dan Salsa.


Entahlah, semenjak datang bergabung bersama Niken dan kawan-kawan senyum tidak pernah luntur dari wajahnya yang mana kejadian seperti itu harus menunggu 1000 purnama, baru terjadi.


"Kakak biasanya kalo ngantin di kantin mana kak? Depan atau belakang?" Rindy bertanya dengan antusias.


"Nggak pasti sih. Tergantung keadaan juga. Kalo teman ngajak kantin belakang ya ayok, kantin depan ya ayok."


"Kalo aku yang ngajak ke kantin, kakak bakalan jawab ayok juga nggak?" Rindy bertanya dengan wajah penuh harap.


Rayya langsung menoleh kearah Niken. Niken justru menoleh kearah teman-temannya yang sudah saling sikut. Rindy sendiri masih memandang Rayya.


"Kalau kamu mau ngajakin pacarku juga sih nggak papa?" Rindy terkejut dengan jawaban yang diberikan Rayya karena setahu dirinya, Rayya belum mempunyai pasangan.

__ADS_1


"Ka-kak pu-nya pa-car?" Rindy bertanya dengan terbata. Tak dipedulikannya Adila dan Salsa berdehem-dehem tidak jelas. Entah apa maksudnya.


"Punya."


"Siapa?"


"Niken Aryani."


Mereka semua menoleh kearah Niken yang sudah terduduk kaku dengan wajah pias.


Setelah berhasil membuat wajah Niken pucat pasi, Rayya kembali ke kelasnya dengan alasan lonceng sudah berbunyi, tanda waktu istirahat sudah selesai.


Kini tinggal mereka berlima yang tersisa dengan pandangan semua tertuju kepada Niken. Senyum ceria yang selalu melekat di wajah Rindy sejak ada Rayya sudah hilang tak berbekas. Berganti dengan raut galak yang memang selalu menghiasi wajahnya.


Anak-anak sudah mulai memasuki kelas satu persatu tapi Rindy sepertinya masih enggan untuk beranjak. Sepertinya emosi nya sudah akan meledak bila tidak teringat dengan keadaan kelas yang mulai ramai dan jabatan yang ia pegang saat ini.


"Udah bubar-bubar. Ngapain sih masih ngumpul disini? Kembali ke bangku masing-masing." Adila berinisiatif membubarkan diri karena mereka malah mematung padahal si pemilik bangku yang kebetulan sedang didudukinya sudah terlihat memasuki kelas.


"Pulang sekolah, ada yang mau gue omongin sama lo." Rindy berucap sebelum kembali ke bangkunya sendiri.


Niken sendiri sudah gelisah sedari tadi. Jujur saja Niken takut dengan Rindy. Rindy yang galak dan selalu memarahinya apabila ada kesalahan sedikit saja sudah membuat Niken ketakutan.


"Mau ngapain lagi tuh nenek lampir?" Adila rupanya mendengar apa yang diucapkan Rindy. Niken hanya mengedikkan bahu.


"Gue temenin lo nanti pulang sekolah. Tenang aja. Gue takut lo di apa-apain sama tuh anak."


"Makasih Ni. Oya Dil, jangan bilang-bilang sama Marwah Salsa ya tentang ini."


"Kenapa?" Adila mengernyit heran, "malah bagus dong kalo mereka tau. Kita bisa main keroyokan kalo dia macem-macem."


"Justru itu Dil, gue nggak mau ada keributan."


"Nggak asyik lo. Gue padahal udah pengen banget jambak-jambak rambut dia."


"Terus jadi tontonan murid sesekolahan. Gila aja lo Dil!"


"Gue sih oke-oke aja kalo ada yang mau nontonin gue berantem."


"Ya ampun Dil, jangan cerita berantem deh. Ingat umur."


"Iya ya. Jangan pacaran, Nik ingat umur."


Kontan saja Niken langsung mencubit Adila yang malah tertawa-tawa.

__ADS_1


__ADS_2