
Berkali-kali Niken membaca dan memastikan nama yang tertera di undangan itu tetapi tetap tidak berubah. Nabayu Aditama dengan Nabila Maharani. Tertulis dengan warna dan ukiran yang indah.
Niken sampai gemetar ketika kembali melihat undangan itu. Ia jatuh terduduk di kursi yang berada belakang tubuhnya hingga membuat Anna khawatir.
Apa maksud semua ini?
Belum mendapatkan jawaban dari hilangnya Bayu dan Nabila. Niken kini dikejutkan dengan kedatangan selembar kertas terkutuk itu. Lembaran kertas itu bukan ditujukan untuknya tetapi Niken hancur begitu ikut membacanya.
"Nik, kau nggak papa. Ke kamar aja yuk! Kau pucat banget," ucap Anna khawatir.
Niken yang bingung dengan keadaan yang di alaminya hanya menurut ketika Anna membimbingnya untuk kembali ke dalam kamar.
"Ini beneran Nabila, Nik? Bukannya Nabila masih kuliah ya? Kok tiba-tiba langsung nikah aja. Sama anak mana lagi ini mempelai laki-laki nya." Anna mendumal sembari membolak-balik undangan yang di pegang nya. Tidak ada poto prewedding disana sehingga mereka tidak mengetahui wajah mempelai laki-laki nya.
Selama ini mereka hanya mengetahui pacar Niken bernama Bayu tanpa mengetahui nama lengkapnya yang tak lain adalah Nabayu Aditama.
Niken ingin menampik bahwa bisa saja nama calon suami Nabila sama dengan nama calon suaminya tetapi bila melihat desain undangan yang sama persis seperti yang ditunjukkan Bayu padanya beberapa hari lalu, sulit bagi Niken untuk menyangkalnya bahwa mereka mempunyai calon suami yang sama.
Haruskah Niken kembali mendatangi kediaman Bayu dan orang tuanya untuk mengemis penjelasan atau pasrah saja dengan keadaan dan menikmati sakit yang menghujam hati. Keduanya menanggung resiko yang sama-sama menyakiti hatinya.
Bila Niken nekat mendatangi kediaman Bayu dan meminta penjelasan, Niken harus bersiap dengan resiko tidak bertemu dengan Bayu seperti kemarin atau justru bertemu dan menanggung sakit begitu mendengar penjelasan dari mantan tunangannya itu.
Bila Niken berdiam diri menerima keadaan, Niken harus bersiap menanggung resiko tidak akan tau mengapa Bayu tiba-tiba memutuskan hubungan dan justru menikahi Nabila. Niken bingung harus memilih pilihan yang mana.
"Kapan acaranya, An?" tanya Niken lirih dan masih terduduk padahal Anna sudah siap mengantar Niken kembali ke kamar. Anna khawatir dengan kondisi wajah Niken yang sudah sepucat mayat.
__ADS_1
"Empat hari lagi sih," jawab Anna dengan membaca kembali undangan itu untuk memastikan.
"Kau di undang?"
"Belum. Ini aku tadi dapat dari temenku yang juga teman Nabila. Mungkin undangan untuk anak kos ini sore nanti atau besok," jelas Anna berharap di undang.
Anna penasaran dengan sosok suami Nabila. Selama ini Nabila tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki dan tiba-tiba saja menikah. Niken yang sering di apeli Bayu malah belum kunjung mendengar kapan akan menikah.
"Aku ke kamar dulu ya? Mau siap-siap kerja," pamit Niken sembari beranjak naik ke kamarnya.
"Yok, aku temani, aku takut kau pingsan. Mukamu pucat banget. Syok banget kayaknya lihat teman mau melangsungkan pernikahan," kekeh Anna sambil berjalan di samping Niken.
Niken diam tak menanggapi candaan Anna dan juga diam sewaktu Anna menawarkan menemaninya ke kamar. Toh kamarnya dan kamar Anna berdekatan.
Niken merasa bukan darahnya yang berada di titik terendah melainkan hidupnya. Mengetahui sahabat yang selama ini selalu bersamanya kini tengah hamil tanpa terikat pernikahan, diputuskan secara sepihak padahal pernikahannya tinggal tiga bulan lagi terlaksana dan tiba-tiba sang pacar akan menikah dengan sahabatnya yang tengah hamil tersebut.
Sebuah pemikiran menyentak Niken hingga kepalanya pusing. Mungkinkah Nabila hamil anak Bayu?
Niken langsung menggeleng guna menepis pemikiran konyolnya. Selama ini dia tidak pernah melihat Bayu dan Nabila dekat dan tidak mungkin mereka tega melakukan itu kepadanya.
Niken segera beranjak dan bersiap bekerja sebelum pikirannya melayang tak tentu arah dan berpikir yang tidak-tidak.
Sepanjang hari yang dilalui Niken hanya melamun dan melamun. Ia bahkan sampai kena tegur oleh asisten ibu bos karena sering melamun dan tidak konsentrasi saat bekerja. Niken sampai hampir frustasi sendiri karena bingung harus dengan cara apa ia mengembalikan fokusnya.
Kepalanya pusing dan hanya satu harapan Niken, ia tidak pingsan. Terakhir kali dirinya pingsan adalah saat masih berstatus sebagai siswi di sekolah Hang Tuah dan ia mendapat hukuman lari keliling lapangan sepuluh kali putaran oleh pak Harto. Niken tidak mau kembali pingsan.
__ADS_1
Niken pulang kerumah hampir pukul enam sore karena ia menyempatkan membeli es krim dan menikmatinya di sebuah kafe yang tak jauh dari butik Salwa untuk mengembalikan moodnya yang anjlok. Begitu sampai di kos, ia mendapati teman-temannya tengah berkerumun dengan selembar kertas berwarna hitam yang tidak asing di mata Niken.
"Lagi pada ngapain?" tanya Niken begitu sampai di tempat teman-teman satu kosnya berkumpul.
"Oh Niken. Ini kami lagi bagi-bagi undangan untuk anak kos sini dari Nabila." Salah satu dari perempuan yang sedang berkerumun itu menjawab.
"Untuk aku mana?" todong Niken, sangat yakin ia juga akan dapat satu. Mudah-mudahan Juna juga mendapat undangan itu agar ia bisa pergi bersama.
Mereka memandang undangan di tangan masing-masing dan baru tersadar bahwa tidak ada nama Niken di daftar undangan itu.
"Eh Nik, baru sadar, namamu kok nggak ada ya di salah satu undangan ini padahal undangan ini masih lengkap dan baru aja di antar kurir," jawab salah satu dari mereka heran.
"Mungkin karena kau teman dekatnya undangannya beda kali Nik, mau di undang langsung atau via telepon."
Niken mengangguk saja walaupun dalam hati sudah mulai gelisah. Teganya Nabila, diantara puluhan penghuni kos disini hanya dirinyalah yang tidak mendapat undangan.
Niken berlalu ke kamarnya setelah sebelumnya permisi untuk membersihkan diri dan beristirahat. Dihempaskannya tubuh ke ranjang dan menatap langit-langit kamar kosnya yang mulai kusam. Pikirannya semerawut memikirkan hal-hal mengejutkan yang terjadi beberapa hari ini. Semua serba mengejutkan dan Niken belum siap menerima serangan mendadak seperti ini.
Diraihnya ponsel karena tiba-tiba saja teringat dengan percakapan yang terjadi di lantai bawah tadi. Sedikit berharap Nabila akan mengundangnya walau hanya melalui telepon. Di tekannya nomor Nabila dan aktif. Niken sampai menegakkan tubuhnya dari berbaring karena terkejut nomor itu aktif setelah berhari-hari mati.
Tapi sayang panggilan itu tidak di jawab. Niken mencoba menelepon kembali dan nomor itu sudah tidak aktif. Niken menghela napas lelah. Sebegitunya kah Nabila menghindarinya hingga menerima telepon darinya pun ia enggan.
Niken menelepon Bayu dan nomor itu masih tidak aktif. Niken ingin menyerah dengan perasaannya tetapi ia tidak bisa. Semua ini terjadi tanpa aba-aba. Niken merasa dicampakkan setelah ia melambungkan angan terlalu tinggi.
Niken beranjak membersihkan diri dan kembali rebahan di ranjang, matanya tertutup hingga pagi menjelang. Bahkan Niken sampai lupa bahwa ia melewatkan makan malam. Hal yang sangat jarang terjadi.
__ADS_1