Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Selamat Datang


__ADS_3

"Mending lo tadi nggak usah ikut Rin, daripada bikin suasana mencekam," sengit Marwah galak. Dhani garuk-garuk kepala, pusing sendiri.


Belum sempat Rindy menyahuti Marwah, tante Runita datang membawa minuman dan camilan.


"Diminum dulu ya teman-temannya Niken. Camilannya juga dimakan." Tante Runita datang dengan wajah berseri-seri. Mereka hanya mengangguk dan tersenyum sopan.


"Kalian teman satu kelasnya Niken semua, ya?" Tanya Tante Runita ramah.


"Iya Tan, aku Rindy ketua kelas, ini Dhani wakilnya, Reni sekretaris kami, itu Adila, Marwah, Salsa dan ini Mulyono, Tan." Rindy mengenalkan teman-temannya dengan wajah ramah dan imut-imut andalannya. Tante Runita saja sampai terkagum-kagum melihat wajah dan keramahan Rindy.


Setelah berbasa-basi sebentar, tante Runita pamit karena pasti teman-teman keponakannya ini ingin berbincang-bincang bebas tanpa kehadirannya.


"Kalian tau rumah gue darimana?" tanya Niken heran. Karena seingatnya tidak pernah sekalipun temannya main kerumah ini. Mereka sempat berpandangan sebentar sebelum Rindy menjawab dengan nada jutek.


"Dari kak Rayya. Dia ngabarin gue kalo lo katanya sakit dan ngasih tau alamat rumah lo kalo-kalo kita mau jenguk. Dhani maksa-maksa buat jenguk lo, ya udah deh disini kita akhirnya."


Niken memandang Dhani yang sudah tersenyum-senyum sendiri.


"Bosan gue, Nik, Mulyono nanyain lo mulu, kangen katanya, makanya gue usul ke Rindy supaya jengukin lo." Mulyono langsung memukul punggung Dhani karena malu.


Dhani tertawa-tawa saja mendapat kekerasan dari Mulyono. Padahal sedari tadi Mulyono sudah diam bak patung bernyawa karena grogi bertemu Niken dengan pakaian rumahannya. Mulyono juga sedang berbahagia karena akhirnya dapat mengetahui dimana Niken tinggal.


Setelah bercengkerama sebentar akhirnya mereka semua pamit karena mereka hanya ijin satu mata pelajaran. Sebelum pulang juga Dhani masih sempat-sempatnya menggoda Niken agar cepat sembuh agar Mulyono tidak perlu khawatir lagi. Kelas sepi tanpa couple goals 7b. Niken hanya memandang Dhani dengan wajah datarnya. Ingin rasanya menendang kaki Dhani tapi Niken sadar bukan Dhani yang nanti kesakitan tapi dirinya.


Setelah terkejut dengan kedatangan teman-temannya di siang hari, malamnya Niken lebih terkejut lagi karena kedatangan Rayya.


Bersama kakaknya.


Niken dan Rayya terdiam kaku duduk di ruang keluarga bersama tante Runita dan om Uno. Jangan lupakan kehadiran kakak Rayya yang seingat Niken bernama Sinta. Kak Sinta membawa suaminya yang baru Niken tahu bernama Doni dan anaknya yang bernama Randy.


Ketika orang dewasa sedang asyik mengobrol entah apa, Randy bermain mobil-mobilan yang dibawanya dari rumah, seorang diri. Anak berusia 5 tahun itu berceloteh entah apa. Niken dan Rayya yang masih duduk dengan wajah tegang, curi-curi pandang. Sesekali tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Niken terkejut dengan kedatangan Rayya yang tiba-tiba tanpa memberitahu terlebih dahulu karena Rayya memang berencana memberi surprise kepada Niken dengan datang secara tiba-tiba dan harus menelan ludah gugup sewaktu kakaknya yang bawelnya tujuh turunan empat tanjakan itu mengintrogasi nya. Kakaknya bertanya macam-macam yang terpaksa harus dijawab jujur oleh Rayya bahwasanya ia akan kerumah Niken. Kakaknya yang mengingat jelas Niken adalah keponakan Runita langsung menyeret suaminya dan memaksa ikut berkunjung. Apalagi sewaktu Sinta mengetahui Niken sakit, Sinta semakin mempunyai seribu alasan untuk ikut.


Doa Rayya sekarang ialah jangan sampai Niken memberitahu kakaknya bahwa Niken jatuh karena terkejut memergoki Rayya merokok disekolah. Bisa habis uang jajannya selama setahun dipotong oleh mama dan kakaknya itu. Niken mungkin bisa saja tidak marah dengan ulahnya yang merokok di rooftop sekolah tapi siapa tau isi hati orang. Bisa saja Niken tiba-tiba dendam dan mengadukannya kepada kakaknya.


Mati sajalah Rayya!


"Niken, masih sakit kakinya?" Setelah mereka puas berbincang dan tertawa, sepertinya mereka baru ingat ada dua makhluk terbengkalai yang sedari tadi bak rumput bergoyang.


"Udah nggak sakit kok kak. Besok udah bisa masuk sekolah."


"Jangan dipaksa sekolah kalo masih sakit nanti bisa bengkak lagi, lagian gimana ceritanya sih kok bisa jatuh gitu?" tanya kak Sinta penasaran. Niken melirik Rayya yang nampak menahan nafas menanti jawaban Niken.


"Aku meleng kak jalannya, terpijak tali sepatuku sendiri, jadi jatuh deh." Niken garuk-garuk rambut. Tidak yakin apakah jawabannya ini meyakinkan semua orang disini atau tidak.


"Lain kali hati-hati ya, Niken. Keseleo itu nggak enak banget rasanya, aku udah pernah ngalamin sendiri." Kak Sinta menunjukkan wajah prihatinnya.


"Udah malam nih, yok kita pulang, Randy udah rewel ngajakin pulang." Bang Doni berpamitan seraya bangkit menggendong Randy yang memang sudah terkantuk-kantuk dan merengek minta pulang.


"Mau ngobrol apa sih? Besok juga ketemu disekolah. kamu tadi dengar sendiri kan besok Niken udah bisa masuk sekolah. Lagian kamu itu masih kecil Ray, waktunya belajar bukan malah pacaran," omel kak Sinta sembari menyeret Niken untuk mengikuti langkahnya keluar rumah. Rayya cuma bisa pasrah dan cemberut.


Tante Runita dan om Uno hanya tertawa mendengar omelan Sinta. Niken sendiri sudah bersembunyi dibalik badan om Uno, memegang ujung kemeja omnya itu erat-erat untuk menutupi rasa malunya.


***


Memasuki kelas setelah berhari-hari tidak sekolah, Niken pikir akan membuat mood nya ceria karena sejujurnya Niken merindukan sekolah tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Niken disambut meriah memang oleh teman-temannya.


Begitu satu langkah kakinya melewati pintu masuk, teman-temannya menyorakinya dengan ucapan selamat datang yang begitu heboh. Niken masih tenang dan hanya tersenyum melihat antusias teman-temannya menyambut kedatangannya yang bak atlet membawa medali emas. Tetapi begitu Niken duduk di bangkunya dan melihat papan tulis, senyum yang menghiasi bibirnya langsung surut.


Selamat datang nyonya Mulyono!


Niken meremas tasnya yang baru saja ia letakkan diatas meja. Diedarkannya pandangan ke penjuru kelas. Teman-temannya masih seheboh ketika Niken memasuki kelas tapi bukan karena kedatangan Niken yang di hebohkan mereka, mereka sudah berganti topik untuk menjadi bahan tertawaan. Tidak ada yang bisa dicurigai Niken untuk menjadi tersangka atau dalang dibalik tulisan menjengkelkan dipapan tulis itu. Niken menelungkupkan wajahnya dibalik lipatan tangannya. Hancur sudah semangat paginya untuk memulai hari.

__ADS_1


Niken mengangkat kepalanya begitu merasakan tepukan di bahunya. Tulisan dipapan tulis itu sudah hilang. Niken menoleh ke seseorang yang sudah duduk manis disebelahnya.


Adila.


"Udah gue hapus tulisannya." Beritahu Adila padahal Niken tidak bertanya. Niken hanya memandangi saja Adila dan sepertinya Adila paham dengan arti pandangan itu tanpa perlu Niken bertanya.


"Makasih, Dil," lirih Niken pelan.


Adila menghembuskan nafas lelah melihat kelesuan yang ditampilkan Niken, "sebenarnya siapa sih yang iseng banget nulis tulisan nggak jelas kayak gitu? Kurang kerjaan banget."


"Kalo aku tau udah aku datangi orangnya, Dil."


"Emang berani?" tanya Adila meremehkan. Dan benar saja Niken hanya mengedikkan bahu.


Adila sudah hapal betul dengan sifat pemalu dan pendiam yang ada di diri Niken. Sering dimarahi Rindy dengan masalah sepele saja Niken tidak pernah melawan apalagi untuk melabrak orang yang iseng dengannya. Adila yakin seratus persen Niken tidak akan berani.


"Kaki lo udah beneran sembuh?" tanya Adila sembari melirik secara terang-terangan kaki Niken.


"Udah nggak sakit. Kayaknya kalo disuruh lari keliling lapangan sepuluh kali juga gue bisa," jawab Niken sombong.


"Gaya lo!" dengus Adila.


"Bisa pingsan maksud gue." Adila geli dengan lawakan Niken yang menurutnya tidak ada lucu-lucunya.


"Nikeeeenn!" Niken menoleh kearah pintu masuk begitu mendengar seruan heboh itu. Salsa dan Marwah berlari kearahnya dan langsung tertawa-tawa sembari memeluknya.


"Akhirnya lo masuk sekolah juga. Udah sehat kan lo, Nik?" Salsa bertanya sembari memeriksa tubuh bagian atas Niken. Niken sampai meringis di buatnya.


"Perasaan yang sakit kakinya Niken deh Sa bukan badannya." Marwah berujar heran.


"Oh iya gue lupa. Kaki lo ya yang keseleo. Tapi ya siapa tau aja hati lo juga keseleo, kan perlu juga gue periksa." Salsa nyengir salah tingkah dan melirik papan tulis, "tumben tulisan Niken si nyonya Mulyono nggak nampang dipapan tulis? Udah lo hapus ya, Nik?" tanya Salsa yang justru mengundang kernyitan di kening Niken dan aksi garuk-garuk rambut Adila.

__ADS_1


__ADS_2