
Inilah sebab mengapa Niken malas sekali bila harus membeli sesuatu di warung ini, si ibu pemilik warung terlalu kepo dengan urusan orang lain. Ingin di lawan, orang tua. Tidak dilawan tapi keterlaluan.
"Belum ada jodohnya Bu, makanya belum nikah." Niken masih menjawab kalem walaupun dalam hati ingin segera pergi.
"Cari pacar harus yang bener-bener Nik, jangan sampai gagal lagi kayak yang kemarin itu, kan bikin malu. Jangan cuma di lihat dari tampang dan harta saja tapi lihat juga kelakuannya. Pacar kamu dulu itu ganteng sih, punya usaha lagi tapi malah nikahnya sama orang lain. Cari orang sini aja, nggak perlu cari-cari orang kota segala." Rupanya si ibu belum selesai mengomentari hidup Niken membuat Niken jengah.
Bayu bukan orang kota, dia termasuk masih orang sini tetapi tetap saja kelakuannya membuat emosi jiwa. Setia tidak nya seseorang bukan lihat dia orang kota atau orang kampung.
"Bu, mie saya." Niken memperingatkan penjualnya tentang niat awal dia mendatangi warung.
"Oya, ibu hampir lupa, saking keasyikan ngobrol."
Ngobrol apaan, ibu sih cuma julid dari tadi. Gerutu Niken sudah hampir menghentakkan kaki karena sebal.
"Beli berapa Nik mienya?"
Niken melihat uang yang diberikan mamanya dan menyerahkannya kepada si pemilik warung, "Semuanya Bu,"
"Banyak amat, untuk apa? Ada tamu ya? Pacar kamu mau ngapel malam mingguan dan kamu masakin mie?" tanya si ibu pemilik warung beruntun.
Niken menggelengkan kepala, "Nggak tau Bu, mama yang nyuruh, untuk stok kali," jawab Niken malas menjawab yang aneh-aneh. Pasti si ibu akan menjadi-jadi dan berbicara kesana kemari.
"Oalah, kirain mau masakin pacarnya mie," jawab si ibu sembari menyerahkan plastik berisi mie.
"Permisi Bu," pamit Niken dan bergegas pulang.
Sesampainya dirumah, di letakkan mie keatas meja dengan wajah cemberut. Mamanya memandang heran.
"Kenapa?"
"Males banget aku kalo ke warung lagi," sungut Niken.
__ADS_1
"Emang kenapa?" tanya mamanya geli karena sudah mengetahui sebab mengapa anaknya paling malas bila harus disuruh ke warung.
"Dahlah, mau mandi aja, walaupun nggak di apelin seenggaknya harus mandi." Niken beranjak ke kamarnya dan segera meraih handuk menuju kamar mandi.
"Nik, ini kenapa kamu beli mienya banyak banget?" pekik mama Niken heran melihat jumlah mie yang dibawa anaknya.
Niken yang mendengar pekikan suara mamanya mengeluarkan kepalanya dari celah pintu kamar.
"Apa ma?" Niken bertanya dengan wajah polos.
"Kamu beli mie berapa?"
"Uang yang mama kasih aku belikan semua."
"Ya ampun Niken! Uang dua puluh ribu kamu belikan mie semua," pekik mama Niken kembali.
"Mama kan nggak ada bilang beli berapa."
Niken buru-buru menutup pintu sebelum mamanya mengamuk hanya gara-gara mie yang dibelinya salah.
Ketika Niken sudah menyelesaikan ritual mandinya dan akan duduk-duduk di teras sembari memainkan ponsel, Niken dikejutkan dengan kedatangan Andre yang sudah duduk manis di sofa bersama papanya dan secangkir kopi di meja. Tak lupa martabak yang sepertinya buah tangan dari Andre tengah di makan oleh papa dan mamanya.
"Kamu mandi atau semedi Nik? Lama banget." Mama Niken sudah hampir mengomel melihat Niken yang baru selesai mandi hampir satu jam kemudian dari saat terakhir pamit ke kamar mandi.
"Semedi ma, cari wangsit," sahut Niken sembari duduk di sebelah Andre dan mencomot martabak red valvet diatas meja.
Papa dan Andre tersenyum geli mendengar jawaban Niken sedangkan mamanya sudah hampir melayangkan cubitan karena gemas dengan kelakuan anak gadisnya itu.
Papa dan mama Niken pamit undur diri begitu Niken sudah hadir diantara mereka dan berbincang-bincang sejenak. Membebaskan anak gadis dan kekasihnya menghabiskan waktu mengobrol berdua.
"Kakak nggak jualan?" tanya Niken begitu orang tuanya berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
"Anjas sama temennya yang nge-handle gerai," jawab Andre. Tangannya ia topangkan di samping kepala dan bersandar di kepala sofa menghadap Niken yang terlihat semakin cantik di matanya. Padahal Niken baru saja selesai mandi dan tanpa sapuan make up sedikitpun di wajahnya.
"Kalo aku di kos kenapa kakak nggak suruh temen Anjas nge-handle gerai juga biar bisa kita malam mingguan? Ini aku disini kakak malah ikut juga jauh-jauh kesini," sungut Niken sebal. Padahal Niken kan juga ingin seperti teman-temannya yang menghabiskan malam minggu bersama kekasihnya. Seperti saat dulu ketika ia berpacaran dengan Bayu.
Sekarang, Niken punya pacar tetapi jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
Ponsel Andre yang berada diatas meja bergetar dan Andre hanya melihatnya sekilas tanpa berniat menjawab.
Andre justru menyelipkan jumputan rambut Niken ke belakang telinga dan membelai pipinya sekilas, "Tau nggak, kalo malam minggu itu kakak berharap, pacar kakak datang nemeni kakak jualan biar kakak semangat mencari uang."
Ponsel Andre bergetar kembali padahal Andre sepertinya belum menyelesaikan ucapannya. Niken yang penasaran mendekatkan tubuhnya ke meja dan melihat nama Nova sebagai si pemanggil.
Nova?
Mau apa anak itu menelepon Andre sampai berkali-kali?
Niken memandang Andre sembari mengernyitkan dahi. Andre justru mengangkat bahu tanda tak tahu maksud dari Nova yang terus menghubunginya berkali-kali. Bahkan kini ponsel itu masih bergetar dengan panggilan yang sama.
"Aku angkat, kakak yang ngomong," tandas Niken. Tanpa persetujuan Andre, ia menjawab panggilan itu dan me-loud speaker.
"Halo kak Andre. Dimana sih kok panggilan aku nggak di jawab-jawab?" tanya Nova diseberang sana dengan suara jengkel begitu sambungan telepon terhubung.
"Ada apa sih Nov? Kakak lagi nggak di gerai," jawab Andre tenang. Ponselnya masih dalam genggaman Niken.
"Aku tau kakak lagi nggak di gerai karena sekarang aku lagi di gerai sama kak Anjas. Kakak di mana ini?"
"Emang kenapa kok tanya-tanya kakak dimana?" Andre sepertinya enggan menjawab pertanyaan Nova.
Nova di seberang sana mendengus, "Tinggal jawab aja apa susahnya sih kak. Aku mau malam mingguan sama kakak lah," ucap Nova yang sepertinya tidak tau Niken ikut mendengarkan percakapannya.
"Ngapain pula malam mingguan sama kakak? Kamu malam mingguan sama pacar kamu lah." Andre menyahut heran.
__ADS_1
"Ih kakak ini. Kakak lagi dimana sih? Aku susulin ya, bete banget di gerai nggak ada kakak. Kakak lagi di kos perempuan itu ya?" Niken kembali mengernyitkan dahi dengan kata perempuan itu yang di ucapkan Nova.
Dirinya kah yang dimaksud oleh Nova sebagai perempuan itu?