
Niken meneteskan air mata dan segera menghapusnya sambil terus memandangi arah kepergian Bayu sampai tak terlihat lagi. Niken berharap ini bukan menjadi akhir dari pertemanan mereka. Walau bagaimanapun Niken senang pernah bertemu dan menjalin pertemanan dengan Bayu. Bayu pria yang penyabar dan lembut. Selama mereka berteman tak pernah sekalipun Niken melihat Bayu marah atau membenci sesuatu. Semua hal yang ada di hidupnya ia jalani bagai air yang mengalir.
Niken melangkah masuk kedalam kamar dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dipandanginya langit-langit kamar. Terkenang semua jalan hidupnya yang coba Niken jalani sebahagia mungkin. Entah mengapa Niken jadi merindukan tante Runita dan om Uno.
Andai waktu itu kehidupan sekolah Niken normal-normal saja.
Andai waktu itu Mulyono tidak menyukainya dan jadi bahan olok-olokan teman sekelas.
Andai waktu itu Niken tetap bertahan dan tidak memutuskan pindah sekolah.
Pasti om Uno dan tante Runita tidak akan pindah ke Palembang.
Pasti dirinya masih berpacaran dengan Rayya.
Niken menggeleng panik sewaktu pemikiran terakhirnya terlintas. Niken bangkit dari posisi tidurnya dan memukuli kepalanya pelan agar pemikiran gilanya yang baru saja terlintas enyah dari otaknya.
'Kok jadi ke Rayya sih?' keluh Niken hampir frustrasi.
Dihembuskannya lagi napas lelah. Kini yang terbayang dimatanya justru sorot kecewa di wajah Bayu sewaktu Niken menolaknya. Sungguh rasanya Niken tidak tega memandang wajah itu. Niken jadi bingung sendiri dengan perasaannya, tidak suka dengan Bayu tapi tidak tega untuk menolaknya.
Niken meraih ponsel yang tergeletak disampingnya karena ada getaran tanda pesan masuk yang ternyata hanya dari operator.
Iseng Niken membuka galeri di pilihan menu yang terdapat di ponselnya. Banyak sekali foto-foto dirinya dan Juna juga dengan Nabila yang tak kalah banyaknya. Digulirkan nya foto itu dan dipandanginya satu persatu. Banyak momen indah kebersamaan Niken dan Nabila.
Potret Niken dengan Nabila sewaktu mereka ekskul teater, ikut bergabung dalam proyek kecil-kecilan pembuatan film, kegiatan teater yang mengharuskan mereka menginap di sekolah, tak kalah banyak juga foto mereka sewaktu ikut Juna tanding voly bahkan sampai ke sekolah lain, ikut meramaikan pertandingan basket karena ada Eni sebagai anggota cheers, belum lagi kegiatan mereka sewaktu berada di luar sekolah. Jalan-jalan di hari minggu sering mereka lakukan dan itu meninggalkan foto kenangan di ponsel mereka masing-masing.
Niken meneteskan air mata dengan bibir melengkungkan senyum. Bahagia dengan jalinan pertemanan mereka yang bisa bertahan selama ini. Bisa dibilang jarang ada pertengkaran diantara mereka. Semua indah dalam kenangan.
Tetesan air mata itu lama kelamaan menjadi guguhan tangis, Niken menangis tersedu. Tak bisa Niken membayangkan bila jalinan pertemanan yang selama ini baik-baik saja harus Niken rusak tanpa sengaja bila Niken berpacaran dengan Bayu.
__ADS_1
***
Niken tengah melamun sembari bersandar di punggung Juna yang sedang asyik memainkan game di ponselnya. Pikirannya masih asyik melanglang buana entah kemana. Sesekali pikiran tentang Bayu kembali terngiang. Jujur dari dalam hati yang paling dalam Niken menyimpan sedikit rasa kepada Bayu yang menurut Niken sangat penyabar dan tak pernah marah tapi Niken sadar benar ada hati yang harus dijaga.
Niken tak sadar sudah meneteskan air mata dan menimbulkan bunyi isakan. Sakit yang dirasa hati Niken sudah tidak bisa lagi Niken cerna. Sakit karena menolak Bayu, sakit karena ternyata Niken menyukai Bayu atau sakit karena harus menjaga perasaan Nabila, Niken tidak dapat membedakannya lagi.
"Kalo nyesel udah nolak Bayu gih sana samperin, ngapain nangis-nangis disini, nggak guna," omelan nyelekit dari Juna menyadarkan Niken yang masih menangis dan segera Niken mengangkat sandaran kepalanya dari punggung Juna. Segera diusapnya sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi.
"Sekarang aku bingung sama perasaanku sendiri Jun, suka tapi nggak enak sama Nabila," lirih Niken yang langsung mendapat tatapan tajam dari Juna. Juna bahkan sampai mempause game nya demi dapat menatap Niken.
"Kamu beneran nyesel nolak Bayu, Nik?" tanya Juna memastikan. Niken hanya menjawab dengan helaan nafas kasar dan kedikan bahu.
"Kalo jodoh nggak kemana. Kalo nggak jodoh ya Alhamdulillah."
"Maksudmu apa sih, Jun? Kok kayak nggak seneng gitu aku sama bang Bayu?" tanya Niken sewot.
"Bener Jun, aku bakalan ngerasa bersalah banget dan nggak nyaman pacaran sama bang Bayu kalo Nabila belum bisa ngilangin rasa sukanya sama bang Bayu."
"Bagus, anak pinter."
***
"Tuh kan kak, perasaan Juna masih jadi misteri." Marcel pertama kali memberi komentar begitu Niken menghentikan ceritanya.
Marsya masih merenung dan tak lama kemudian keluar celetukan dari bibirnya, "Kasian Bayu, di tolak tanpa alasan."
"Kisah mama masih penuh misteri. Ayo Ma lanjut lagi," desak Marcel sembari menggoyangkan lengan mamanya.
"Udah sore. Kalian mandi dulu. Besok kita lanjut lagi. Oke anak-anak, mama juga butuh mandi." Niken berdiri dan diikuti oleh anak-anaknya.
__ADS_1
"Janji ya Ma, besok lanjut lagi," teriak Marcel karena sang mama yang sudah berada diatas tangga.
Niken hanya mengangguk menanggapinya.
***
Niken mengunjungi kelas Nabila seperti biasa dan tidak menemukan Nabila didalamnya.
"Nabila nggak sekolah." Itu jawaban singkat dari salah satu teman Nabila yang sempat Niken tanya dan Niken memutuskan untuk pergi ke kantin sendiri. Juna ada rapat dengan tim voly sehingga Niken tidak bisa mengganggu Juna untuk memaksanya menemani ke kantin.
Begitu sampai ke kantin, Niken langsung memilih menu dan duduk dengan khidmat memakan makanannya karena perutnya yang memang sudah keroncongan.
"Hei pacarnya Juna," sapa Ardi dan langsung duduk dihadapan Niken. Niken hanya melirik dan tetap melanjutkan kegiatan makannya. Disebut pacar Juna sudah menjadi hal biasa bagi Niken dan Niken sudah tak ambil pusing bila kakak kelasnya ini juga menyebutnya dengan pacar Juna.
"Juna sama Nabila kemana kok tumben sendiri?" Ardi tetap mengoceh walau Niken sepertinya enggan memandang kehadirannya.
"Juna lagi rapat, Nabila lagi nggak sekolah, mungkin sakit," jawab Niken ogah-ogahan. Kasian juga bila terus dicuekin.
Ardi yang sedang sibuk mengamati keadaan sekitar kantin, menoleh menghadap Niken dan mengernyitkan dahi, "Sakit apa Nabila?"
"Aku nggak tau sih dia sakit atau nggak, dia jarang absen, mungkin hari ini absen karena sakit. Tebakan aku aja sih." Niken meringis tidak enak hati pasalnya Niken juga tidak tau pasti alasan mengapa Nabila tidak bersekolah hari ini.
Ardi manggut-manggut, "Oh kirain beneran sakit soalnya tadi malam aku liat dia jalan-jalan di tugu zapin, sehat-sehat aja kok dia."
Kini giliran Niken yang mengernyitkan kening, "Oya? Sama siapa?" Entah mengapa tiba-tiba saja Niken kepo dengan kehidupan Nabila. Apalagi Nabila tidak pernah menceritakan kehidupan asmara ala-ala remajanya kepada Niken. Yang Niken tau hanyalah Nabila suka bang Bayu, itupun Niken mengetahuinya dari Juna.
"Sama pemilik toko fotocopy itu loh, yang deket sekolah." Ardi menjawab cuek dan tidak curiga sama sekali dengan gelagat kepo yang ditampilkan Niken.
"Bayu?!" seru Niken antara terkejut dan heran.
__ADS_1