
Niken berjalan santai menyusuri koridor dengan Juna yang berada disampingnya. Sesekali menyapa murid yang mereka kenal dan tak sengaja berpapasan dengan keduanya. Hari ini mereka berangkat kepagian, karena tumben sekali Niken tidak mematikan kembali alarm di kamarnya. Juna menduga Niken tidak punya list film yang akan ditontonnya sehingga matanya langsung terbuka begitu alarm berdering.
"Nih." Juna menyerahkan sekotak minuman rasa kacang hijau dihadapan Niken yang diterima Niken dengan wajah tertekuk.
"Jun, aku tau kamu baik hati dan dermawan tapi kalo mau bersedekah sama aku itu ya lihat-lihat juga dong. Aku kan udah sering bilang aku nggak suka sari kacang ijo." Niken mendumal sebal.
"Mukamu pucet. Jangan sampai kamu pingsan lagi, kasian yang ngangkat. Serasa ngangkut karung beras," sahut Juna cuek.
"Kurang asem. Badan kecil mungil gini kau bilang karung beras." Niken mencak-mencak tidak terima. Juna cuma melirik tanpa minat.
"Diminum!"
"Iyaaaaaaa." Niken menjulingkan matanya sebal.
Juna sering sekali memberi minuman sari kacang hijau secara percuma kepada Niken padahal Juna tau betul Niken tidak menyukai minuman itu. Bila Niken bertanya apa maksudnya, Juna selalu menjawab karena wajah Niken terlalu pucat untuk ukuran manusia.
Padahal alasan sebenarnya karena Juna tau Niken punya anemia dan ibunya Niken selalu mengeluh Niken yang tidak bisa terlalu capek, gampang sakit serta tidak pernah mau memakan bubur kacang hijau buatannya. Jadilah Juna selalu berinisiatif membeli sari kacang hijau bila dilihatnya wajah Niken lebih pucat dari biasanya. Tentu saja membuat Niken mau meminumnya butuh kesabaran ekstra.
"Ishh kenapa sih begitu tau dia udah punya pacar malah sering ketemu, kemarin-kemarin waktu belum tau dia nggak punya pacar malah nggak pernah ketemu," gerutu Niken. Matanya mengarah ke depan mading. Tahulah Juna siapa yang dimaksud Niken.
Andre Sanjaya. Si gebetan tak kesampaian.
Juna mengambil kembali minuman di tangan Niken dan memasang sedotan, di arahkannya sedotan itu di mulut Niken. Setelah Niken menelan satu tegukan barulah Niken sadar apa yang dilakukan Juna.
"Junawan brengsek!" Juna tertawa karena dapat menemukan cela agar Niken meminum sari kacang hijau yang sedari tadi hanya digenggamnya.
"Ishh kenapa sih harus ada minuman dengan rasa aneh kayak gini." Niken misuh-misuh, lupa kalau tadi sempat mengalami suasana hati yang buruk hanya karena melihat Andre.
Niken berbelok kearah kelasnya yang berlawanan dengan mading, masih mengomel kepada Juna karena terus memaksa nya untuk menghabiskan minumannya tanpa menyadari Andre tengah menatapnya dari tempat ia berdiri.
***
__ADS_1
Tak terasa awal bulan telah tiba. Para murid sudah antusias heboh ingin segera memulai ekskul yang mereka pilih. Selain itu mereka juga tengah disibukkan dengan pemilihan ketua OSIS baru, karena ketua OSIS mereka Andre Sanjaya (si brengsek menurut Riska karena sudah mematahkan hatinya) yang sekarang sudah kelas dua belas akan diganti karena akan disibukkan dengan persiapan ujian-ujian kelulusan.
"Nggak berminat jadi ketua OSIS, Nik?" tanya Anjas iseng. Dia yang duduk didepan Niken harus memutar badannya bila akan mengajak Niken ngobrol.
"Ish, ogah." Niken bergidik ngeri membayangkan betapa lelahnya ia bila menjadi ketua OSIS karena Niken tau kesibukan ketua OSIS itu seperti apa.
"Keren tau kalo jadi ketua OSIS, bisa dikenal di seantero sekolah."
"Nggak harus jadi ketua OSIS juga aku udah keren."
"Gaya," cibir Anjas.
"Lagian nggak dapet ketua OSIS, dapet jabatannya pun jadilah." Niken memberengut karena diingatkan lagi oleh kekonyolannya yang bisa-bisanya naksir pentolan sekolah. Anjas pasti tau tentang Andre dari Juna.
"Aku udah berubah haluan," sahut Niken sombong.
"Maksudnya?" tanya Anjas tidak mengerti maksud perkataan Niken. Juna yang sedari tadi santai memasukkan buku-buku pelajarannya didalam tas dan hanya jadi pendengar percakapan Anjas dan Niken sampai menoleh kearah mereka karena penasaran dengan maksud Niken.
"Siapa, Nik?" Juna bertanya kepo sehingga Niken menolehkan kepalanya kearah Juna dan menggerak-gerakkan alisnya.
"Kepo kalian semua." Niken beranjak meninggalkan kelas dan wajah-wajah melongo Anjas dan Juna.
"Gaya bener ah tingkahnya," lirih Anjas geleng-geleng kepala.
Niken keluar kelas dan menuju ruang teater tempat dimana ia akan memulai ekskulnya pertama kali. Ini hari rabu dan kemarin Niken sudah membaca pengumuman di mading tentang jadwal ekskul yang harus dipatuhi oleh seluruh murid SMA Hang Tuah ini.
Eni sudah pulang, karena ekskul cheers dilaksanakan di hari jumat. Jadilah Niken berangkat sendiri karena dari kelasnya hanya ada segelintir murid saja yang berminat di teater. Mereka kebanyakan lebih memilih ekskul PMR, mungkin karena tidak harus berpanas-panas ria di lapangan bila upacara. Setau Niken sebagian akan ditugaskan di UKS bergiliran dengan yang standby di lapangan.
Tapi jangan harap Niken akan masuk ekskul PMR karena bila tiba giliran Niken berjaga di lapangan bisa-bisa bukan dia yang menolong orang tapi justru dia yang akan ditandu karena pingsan.
Begitu sampai di ruang teater, sudah banyak murid yang berkumpul disana. Niken mengedarkan pandangan mencari tempat duduk kosong dan menemukan ada satu yang dirasa Niken pas, karena berdekatan dengan seorang murid perempuan yang sepertinya belum menemukan teman.
__ADS_1
Niken meletakkan tasnya di atas meja dan duduk patuh. Diedarkannya sekali lagi pandangan matanya ke penjuru kelas, suasana nya berisik sekali. Sudah persis seperti dengungan lebah.
Pandangan mata Niken berhenti di anak perempuan yang duduk persis disebelah kiri Niken. Dia hanya diam, tidak ribut seperti teman-teman yang lain.
"Hai." Niken mencoba menyapa, membuat murid perempuan itu menoleh dan tersenyum.
"Hai juga."
"Nama aku Niken dari kelas 10b." Niken mengulurkan tangannya yang disambut ramah dengan menerima jabatan tangan Niken.
"Aku Nabila dari 10c."
"Sendirian?" sambung Nabila. Niken celingak-celinguk mencari teman sekelasnya.
"Ada beberapa sih temen sekelas aku, tapi aku kurang akrab makanya waktu jalan kesini aku sendirian, nggak tau juga siapa-siapa aja yang masuk teater."
"Aku juga sama," sahut Nabila tanpa ditanya.
"Kok bisa nyasar di teater?" tanya Niken setelah mereka diam-diaman sejenak.
"Aku dari dulu suka drama, pengen banget ikut Opera. Teater yang paling mendekati, ya udah deh aku masuki. Kalo kamu kenapa ikut teater?" Nabila sudah menyerongkan badannya kearah Niken, sepertinya dia juga bosan duduk diam seperti anak patuh, tak ada teman ngobrolnya sama sekali.
"Aku kesasar," sahut Niken ngaco.
"Ha?" Nabila sepertinya bingung dengan ucapan Niken. Niken yang mendapati ekspresi kocak Nabila tertawa geli.
"Iya, aku nggak bisa kecapekan, makanya aku pilih ekskul yang aman, yang nggak terlalu menguras tenaga." Nabila menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Niken yang lebih masuk akal dicerna otaknya.
"Selamat sore semuanya." Suara anak laki-laki yang baru masuk memutus percakapan Niken dan Nabila. Nabila langsung meluruskan badannya menghadap depan sedangkan Niken begitu melihat siapa yang masuk terkejut bukan main.
"Kok dia bisa di sini?" lirih Niken pelan.
__ADS_1