
Adila sengaja tidak memberitahu Niken pasal selama Niken tidak sekolah pun tulisan nyonya Mulyono selalu ada di papan tulis. Adila tidak mau membuat pagi Niken suram apalagi sampai menangis tetapi sepertinya Adila lupa untuk memberitahu salsa dan Marwah agar tidak memberitahu Niken.
"Emang selama gue nggak sekolah tulisan itu selalu ada ya, Sa?" tanya Niken dengan perasaan yang sudah tidak menentu.
Salsa yang tidak peka dengan keadaan sekitar mengangguk dengan polos yang tentu saja disambut tangis Niken setelahnya.
Niken ternyata belum sepenuhnya kebal dengan tulisan selamat datang nyonya Mulyono dan berbagai ejekan teman-temannya tentang dirinya dan Mulyono. Berkali-kali tulisan dipapan tulis dihapus oleh Adila berkali-kali pula tulisan pengganti lainnya akan muncul.
Niken sampai bosan dan menyuruh Adila untuk membiarkan saja tulisan itu tetap utuh dipapan tulis toh kalau guru datang mengajar akan menjadi tugas Dhani untuk menghapus papan tulis walaupun sebelumnya akan ada beberapa guru yang iseng menggodanya terlebih dahulu.
Pagi ini tidak ada kegiatan belajar mengajar disekolah mereka karena akan diadakan acara maulid nabi. Semua siswa yang beragama muslim diwajibkan memakai pakaian muslim dan berhijab. Termasuk Niken. Niken bersama Adila duduk di bangku koridor dan melihat para panitia maulid nabi sibuk berlalu lalang menyiapkan acara yang sebentar lagi akan dimulai.
"Sumpah ya Dil, Rindy tambah cantik banget pakai hijab gitu," komen Niken dengan pandangan berbinar-binar. Niken sendiri heran, bila melihat Rindy rasa terpesonanya dengan kecantikan Rindy tak bisa hilang tapi jangan sampai Niken mendengar suara Rindy, Niken otomatis akan lari terbirit-birit.
"Hati-hati loh, Rindy itu naksir berat sama kak Rayya, jangan sampai kak Rayya juga terpesona sama kecantikan Rindy." Adila menakut-nakuti.
"Gue sadar diri kok Dil, kalo dibandingkan sama Rindy, gue cuma seujung kukunya." Niken mendesah lesu.
"Ish apaan sih lo, gitu aja dibawa hati. Gue cuma bercanda kok. Ya kali gue sandingin lo sama si nenek lampir, ya jauh banget lah. Kalo sampai kak Rayya kepincut sama si kuntilanak itu, gue datangin dia, gue bejek-bejek."
"Sebenernya dia itu nenek lampir apa kuntilanak sih, Dil?" Niken bertanya heran.
"Nenek grandong," sewot Adila. Pandangan mata Adila kearah lapangan dimana tenda-tenda untuk acara maulid nabi akan diselenggarakan. Tak lama Adila tersenyum sendiri dan meremas tangan Niken. Niken meringis kesakitan.
"Apaan sih, Dil? Sakit tangan gue."
"Ya Allah, Niken. Ganteng banget pujaan hatiku." Niken mengikuti arah pandang Adila dan menemukan ada Putra disana diantara puluhan murid laki-laki lainnya.
__ADS_1
"Gue kemarin ketemu dia di gerbang, waktu gue lagi nunggu bus." Beritahu Niken. Secepat kilat cahaya, Adila langsung menoleh kearah Niken.
"Serius, lo?" Niken mengangguk.
"Terus lo nggak minta nomor teleponnya, Nik?" tanya Adila penuh harap. Niken melirik Adila aneh.
"Ya kali Dil, gue tiba-tiba nyamperin dia dan langsung minta no teleponnya, yang ada dia langsung kabur." Adila kecewa.
"Jadi kalian ngapain aja waktu di gerbang?" Lagi-lagi Niken melirik aneh Adila.
"Ya nggak ngapai-ngapain. Kita sama-sama duduk. Begitu gue naik bus, gue liat dia tetep stay."
"Ya elah Nik, gue kirain kalian ngobrol-ngobrol akrab selayaknya teman."
"Teman dari Hongkong. Gue kan cuma ngasih tau kalo gue kemarin ketemu Putra di gerbang."
"Ya siapa tau aja sih, Dil dia juga udah nyamperin cewek yang dia suka dan tukaran nomor telepon." Niken menyahut tenang.
"NIKEEEEENNN KOK LO JAHAT? MAKSUD GUE CEWEK YANG DIA SUKA ITU YA GUE BUKAN CEWEK LAIN." Adila teriak heboh sembari mencubiti Niken. Sepertinya Adila sudah lupa dengan kondisi lorong kelas yang ramai dan para siswa yang menoleh kearah mereka karena teriakan hebohnya. Niken hanya tertawa geli yang syukurnya datang Marwah dan Salsa tak lama kemudian. Menyelamatkan kulit nya dari biru-biru akibat dari cubitan Adila.
"Kalian ngapain sih heboh bener," dumal Marwah, "acara udah mau mulai, kalian nggak ada yang mau ke lapangan cari bangku?" Mendengar ucapan Marwah, Niken dan Adila langsung beranjak mengikuti langkah Marwah dan Salsa. Mereka tidak mau kalau sampai tidak kebagian bangku karena berebut dengan ribuan murid lainnya.
Tiba di lapangan, kondisi bangku masih banyak yang kosong, membuat keempat anak perempuan yang baru puber itu bebas memilih bangku yang mereka kehendaki. Tentu saja mereka memilih bangku yang paling pinggir dan masih agak maju ke depan. Tujuannya jelas, dipinggir agar mudah kalau mau kabur ketika acara nya membosankan tanpa harus melewati murid lainnya dan agak maju didepan agar dapat melihat dengan jelas acara apa saja yang akan ditampilkan.
Salsa membagikan minuman yang berada dalam wadah plastik dan sedotan kepada Niken dan Adila. Marwah sudah dapat bagian terlebih dahulu. Niken langsung meminumnya karena haus tanpa bertanya terlebih dahulu dari siapa minuman itu. Yang penting gratis karena Salsa tidak memungut bayaran.
"Disini rupanya kalian." Rayya datang ketika Niken dan Adila tengah berbisik-bisik menceritakan Putra. Marwah dan Salsa juga tengah asyik berceloteh dengan anak kelas sebelah yang kebetulan duduk disebelah mereka.
__ADS_1
Niken menoleh dan tercengang setelahnya. Adila meremas lengannya membuat Niken sadar dari keterpanaannya dan menoleh menghadap Adila yang tengah menatap Rayya dengan mata berbinar-binar. Kebiasaan Adila kalau sedang terpana pasti meremas tangan orang yang berada disebelahnya.
Rayya dengan baju koko biru laut dan celana kain warna hitam serta kopiah warna hitam bertengger di kepalanya. Entah mengapa terlihat menyilaukan dimata Niken dan Adila.
"Kenapa, kak?" tanya Niken tak mengacuhkan Adila yang masih meremas tangannya. Niken berusaha fokus agar biasa saja melihat Rayya. Mau ditaruh dimana wajahnya kalau sampai ketahuan terpesona dengan Rayya. Rayya sendiri sudah duduk di depan Niken yang kebetulan belum ada yang memiliki bangkunya.
"Tadi ke kelas kamu tapi kamunya udah nggak ada. Es nya udah diminum?"
"Es?" tanya Niken heran. Diliriknya Adila yang menggeleng seolah paham dengan lirikan Niken. Remasan ditangan Niken sudah tidak ada. Mungkin Adila sudah menguasai keadaan.
"Tadi aku titipin es sama Salsa."
"Udah kami minum kok kak. Makasih." Adila menyahut riang. Niken melirik Salsa dan Marwah yang sepertinya tidak sadar dengan kedatangan Rayya.
"Kalian duduknya jangan pindah-pindah ya. Disini aja?"
"Kenapa, kak?" tanya Adila heran. Niken sendiri pun sebenarnya heran dengan maksud Rayya.
"Nanti ada kata sambutan dari aku sebagai ketua OSIS. Biar gampang aja liat kalian kalo duduknya tetap disini," jawab Rayya malu-malu.
"Cieeee. Semangat kak." Adila tertawa-tawa menggoda. Niken sendiri sudah akan menenggelamkan diri ke segitiga bermuda rasanya.
"Oya aku juga nanti ada perform. Tunggu sampai aku tampil ya, jangan kabur duluan waktu masih kata sambutan."
"Perform apa kak?" Adila bertanya sembari mengernyitkan kening. Kalau sudah ada Adila diantara Rayya dan Niken, Niken tidak perlu capek-capek bersuara karena ada Adila yang jadi jubir.
"Ada deh. Tungguin ya? Aku mau kepanitiaan dulu, bantu-bantu mereka." Niken dan Adila mengangguk mengiyakan.
__ADS_1