Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Kelas 8


__ADS_3

"Kamu pulang naik apa, Nik?" Juna menghampiri Niken yang celingak-celinguk kebingungan ditepi jalan raya.


"Eh!" Niken menggeser badannya selangkah kesamping kiri karena kaget tiba-tiba disapa Juna, "belum tau entah pulang naik apa. Mungkin naik bus."


"Udah bareng aku aja," tawar Juna yang memang tengah nangkring diatas motornya.


"Emang aman?" Niken bertanya dengan sangsi. Pasalnya umurnya baru 13 tahun, apa sudah boleh mengendarai sepeda motor?


Eh tapi kak Rayya juga sesekali ke sekolah naik motor. Tapi kan kak Rayya sudah 15 tahun, walaupun belum cukup umur juga sih untuk memenuhi syarat untuk mengendarai motor.


"Amanlah," jawab Juna yakin.


Niken yang selalu punya kendala bingung jika waktunya pulang sekolah, akhirnya memilih ikut Juna naik ke boncengannya dan merapal doa sepanjang jalan semoga ia selamat sampai tujuan yang syukurnya semua doanya di jabah oleh Yang Maha Kuasa.


***


"Gimana sekolah barunya, Nik?" tanya Rumila, mama Niken. Niken yang sedang melamun di teras rumahnya menoleh kearah mamanya yang tengah menghampirinya dengan secangkir teh di tangan.


"Gak gimana-gimana sih ma, semua baik-baik aja."


"Udah dapet temen baru belum?"


"Belum ma, eh tapi tadi aku ketemu Juna masa, dia sekolah di Hang Tuah juga, ma." Info Niken semangat.


"Oiya mama lupa ngasih tau kamu kalo Juna juga sekolah di Hang Tuah. Kalian udah ketemu tadi?" Niken mengangguk.


"Tadi aku juga pulang dibonceng naik motor sama dia. Aku bingung juga tadi mau pulang naik apa, eh dia datang nawarin bantuan, ya udah aku ikut aja. Mama nggak marah kan?" Niken bertanya sangsi.


Pasalnya kan mereka masih tergolong kedalam golongan anak-anak dibawah umur, Niken takut juga kalau mamanya akan marah karena Niken naik motor walaupun hanya duduk manis di jok belakang.


"Ngapain mama marah, malah bagus karena mama nggak perlu risau lagi kamu pulang sama siapa dan naik apa, asal jangan kamu aja yang terus minta belikan motor, kalo itu nggak akan mama kasih." Niken meringis mendengar kalimat panjang mamanya.


Kok bisa tau sih kalau Niken sudah punya niatan untuk minta dibelikan motor juga biar kalau pergi nggak mesti diantar papa dan pulang nggak nebeng sama Juna lagi. Terbaik memang mamanya ini, bisa membaca jalan pikiran Niken.

__ADS_1


"Ish besok aku pulangnya gimana, ma? Masa mau nebeng Juna lagi?" Niken mengeluarkan jurus cemberut andalannya. Setidaknya besok ia akan minta jemput biar nggak kayak orang bego nunggu angkutan umum dipinggir jalan, walaupun banyak juga murid lain yang senasib dengan dirinya.


"Besok mama bilang sama Juna biar boncengin kamu tiap pulang sekolah."


"Ih malu lah ma, entar aku dikira pacaran sama Juna kalo tiap hari nebeng dia mulu."


"Pacaran sama Juna juga nggak papa, dia juga nggak jelek-jelek amat untuk jadi calon mantu mama, tapi masalahnya emang Juna mau pacaran sama kamu yang manja nya udah nggak tertolong lagi?"


"Ih mama ngomong apaan sih?" Niken yang malu bukan kepalang dengan godaan mamanya memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya diiringi oleh tawa mama Rumila yang sepertinya tengah berbahagia sekali karena berhasil menggoda putri satu-satunya itu.


***


Niken dikejutkan dengan kedatangan Juna di hari senin pagi ini, yang tengah rapi dengan pakaian sekolahnya dan sepeda motor yang akan menemaninya berangkat sekolah.


"Aku diperintahkan kanjeng ratu untuk antar jemput sekolah putri semata wayangnya." Juna menjelaskan sebab dia sudah berada dirumah Niken sepagi ini.


Padahal Niken belum bertanya. Mungkin Juna sudah bisa menebak raut bingung di wajah Niken yang ditandai dengan kerutan di kening.


"Loh Juna udah datang? Ayo sarapan dulu!" Mama Niken datang tergopoh-gopoh begitu dilihatnya bayangan motor Juna yang sudah parkir manis di halaman rumahnya.


"Lain kali deh Tan, udah hampir jam 7, takut telat." Juna menjawab sesopan mungkin sembari menyalami tangan Rumila


"Kalo gitu mama buatkan bekal ya?"


"Ih ma, apa-apaan sih, kita bukan anak TK lagi yang berangkat sekolah harus bawa bekal." Niken mencegah mamanya masuk kedalam rumah dan berbicara dengan nada merajuk.


"Nggak mesti anak TK loh, Nik yang berangkat sekolah bawa bekal." Sahut Rumila membela diri.


"Pokoknya nggak ada itu acara bawa-bawa bekal segala. Lagian kata mama kemarin aku pulangnya aja bareng Juna, kok ini berangkatnya juga?"


"Ya udahlah sekalian, pulang pergi sama aja juga, ya kan nak Juna?" Rumila mencari dukungan kepada Juna yang berdiri bak pilar diberi nyawa.


"Iya, Tante." Juna mengangguk, "kalo begitu kami berangkat dulu Tan, keburu siang, nanti telat." Juna segera menyalami kembali mamanya Niken sebelum terjadi perdebatan lagi antara ibu dan anak ini. Sepertinya bila di biarkan akan berlangsung sampai sore menjelang.

__ADS_1


"Oh iya, hati-hati dijalan ya kalian." Pesan Rumila sambil melambaikan tangannya dengan riang berbanding terbalik dengan Niken yang naik ke motor Juna dengan wajah bersungut-sungut.


***


"Masuk kelas mana, Jun?" Juna yang tengah asyik memandangi Mading menoleh kearah seseorang yang menepuk bahunya, dilihatnya Niken yang nyengir konyol.


"8b. Kamu masuk kelas mana?" tanya Juna kembali.


Hari ini mereka resmi menyandang status sebagai murid kelas 8 di SMP Hang Tuah. Mereka harus menemukan nama mereka di daftar kelas yang ditempel di Mading untuk menentukan dikelas mana mereka akan terdampar.


"Ya kita nggak sekelas dong, aku masih setia dikelas c." Niken cemberut mengetahui dirinya tidak berada dalam kelas yang sama dengan Juna.


Padahal selama menghabiskan sisa kelas 7, Niken sudah nyaman berteman dengan Juna walaupun harus sabar-sabar menjawab pertanyaan teman-temannya tentang status dirinya dengan Juna. Mereka kan cuman berteman, dasar teman-temannya aja yang terlalu kepo.


"Yaelah, aku keluar kelas, ngintip dari jendela kelas mu udah nampak batang hidungmu," sahut Juna sembari mendengus.


"Eh jangan salah, nanti kalo aku rindu gimana?" Belum sempat Juna membalas perkataan Niken terdengar suara 2 anak perempuan yang heboh memanggil Niken.


Niken langsung menghampiri mereka dan melambai riang meninggalkan Juna. Juna hanya memandangi punggung Niken sampai Niken menghilang di belokan koridor kelas.


"Masih pagi juga udah ngobrol mesra aja sama Juna, padahal tadi pagi berangkat juga udah bareng," goda Eni, temen sekelas Niken yang kebetulan tahun ini juga berada didalam kelas yang sama kembali.


"Apel pagi loh En, jangan pura-pura buta dan tuli deh." Giliran Fanny yang ikut-ikutan menggoda Niken. Niken sendiri hanya mendengus tak ambil pusing. Sudah biasa.


"Aku sama Juna pisah kelas masa, dia naik di kelas 8b, kok aku malah stay dikelas 8c sih." Eni dan Fanny sontak tertawa mendengar gerutuan Niken. Membuat Niken mengernyitkan kening.


"Apanya yang lucu coba? Kok pada ketawa sih?"


"Lucu aja, katanya temen tapi pisah kelas aja udah sedih banget." Niken mendorong Fanny hingga Fanny oleng ke arah kanan.


"Akuin aja kenapa sih kalo kalian itu emang pacaran," ucap Eni sambil terus menyusuri koridor dan menyapa anak-anak yang kebetulan lewat dan ia kenal. Niken dan Fanny masih dorong-dorongan sambil tertawa-tawa.


"Apanya yang mau diakui coba. Aku sama dia itu tetangga, nggak ada itu yang namanya pacar-pacaran." Eni mencebikkan bibir tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2