
Niken menelepon Bu Salwa untuk ijin libur kerja ketika tengah menunggu buburnya selesai diracik. Syukurnya bu Salwa mengijinkan karena Niken juga termasuk karyawan yang jarang berlibur. Selesai bubur nya diracik, Niken segera kembali ke kamar Nabila dan menemukan Nabila tengah berada di kamar mandi. Ia muntah kembali membuat Niken segera menyusulnya. Kembali hanya sedikit cairan yang keluar.
Nabila yang semakin lemas dibantu Niken merebahkan tubuh di ranjang. Bantal Niken susun agar Nabila bisa duduk bersandar dan memakan buburnya. Dengan telaten Niken menyuapi walau Nabila berkali-kali menolak.
"Udah Nik, aku mual." Niken menghentikan suapannya. Setengah porsi sudah dihabiskan Nabila. Niken merasa sudah cukup daripada perut Nabila sama sekali tidak terisi makanan.
"Tugas kuliahmu lagi banyak-banyaknya ya, Bil?" tanya Niken. Ia membuka bubur ayam miliknya dan menyuapkan ke dalam mulut.
"Kenapa emang?" Nabila menjawab walau suaranya masih lemah.
"Biasanya kau banyak tugas sampek lupa makan." Niken mengingat jelas kebiasaan Nabila yang sering mengabaikan makan.
"Lumayan banyak walaupun nggak banyak-banyak banget. Aku akhir-akhir ini nggak berselera makan Nik. Tiap pagi bawaannya mual." Niken melirik Nabila dan tetap melanjutkan makannya.
"Mungkin gejala masuk anginnya udah lama, sekarang ini puncaknya." Niken mencoba menebak lagi. Nabila hanya mengedikkan bahu dengan mata terpejam.
Selesai menghabiskan bubur ayam miliknya, Niken mengumpulkan sampah yang berserak di sekitar kamar dan membuangnya di tong sampah. Nabila kembali berlari ke kamar mandi dan memuntahkan kembali isi perutnya. Kali ini tidak hanya cairan yang keluar tetapi seluruh isi bubur yang ia makan.
Niken kembali memijit tengkuk dan punggung Nabila. Ikatan rambut, Niken perbaiki agar tidak mengganggu dan terkena muntahan. Nabila yang lemas kembali ke ranjang dan Niken membersihkan muntahan dengan menyiramkan air.
"Panggil dokter ya, Bil?" Niken memberi usul karena sepertinya kondisi Nabila semakin parah.
Nabila menggeleng dan menenggelamkan badannya di balik selimut.
"Nanti makin parah loh, Bil." Niken khawatir dengan kondisi sahabatnya ini. Apalagi mereka sama-sama jauh dari orang tua.
__ADS_1
"Aku nggak papa." Nabila menyahut dari balik selimut.
"Aku belikan obat masuk angin deh kalo gitu." Niken beranjak tanpa menunggu persetujuan Nabila.
Jam yang melingkar di tangan Niken sudah menunjukkan pukul 11 siang dan Niken nekat berpanas-panasan serta berjalan kaki menuju apotik yang tak begitu jauh dari tempat kosnya. Obat masuk angin dan minyak gosok serta minyak angin Niken beli semua. Ia ingin sahabatnya itu segera sembuh dan ceria kembali seperti biasa. Apalagi Nabila sempat berkata sudah dari kemarin gejala masuk angin itu ia rasakan.
Niken segera bergegas ke kamar Nabila dan menemukan Nabila masih tergolek di ranjangnya. Ia tengah memandang ponsel dan terdapat lelehan air mata di ujung matanya yang berhasil Niken tangkap.
"Mau pulang aja kerumah mamamu, Bil?" tanya Niken sembari meletakkan kantong obat yang sudah ia beli. Nike duduk dilantai tepat di hadapan Nabila. Nabila menggeleng.
"Telepon mamamu aja, biar mereka kesini." Lagi-lagi Nabila menggeleng. Niken menghela napas dan mengupaskan bungkus obat agar dapat segera diminum Nabila. Untungnya kali ini ia tidak menolak.
Niken juga mengoleskan minyak anginĀ di sekujur punggung dan dada Nabila. Nabila tertidur dan Niken memutuskan untuk kembali ke kamarnya setelah sebelumnya memeriksa kening Nabila yang ternyata bersuhu normal.
Berarti Nabila memang masuk angin karena tidak ada demam yang menyertai.
"Halo," sapa Niken setelah sambungan telepon terjawab.
"Halo. Udah kangen lagi?" sahut Bayu geli. Tidak biasa-biasanya setelah bertemu, Niken akan meneleponnya seperti ini.
"Iya nih, kangen!" goda Niken tersenyum.
"Udah makan siang?" Mereka bertanya kompak.
"Belum," jawab Bayu karena Niken hanya terdiam.
__ADS_1
"Aku juga belum. Oya, nanti nggak usah dijemput ya. Aku nggak jadi pulang kerumah mama. Hari ini aja aku nggak kerja."
"Loh kenapa kok nggak kerja? Kamu sakit, Nik?" Bayu bertanya dengan nada panik.
"Bukan aku yang sakit tapi Nabila. Kasian kalo ditinggalin sendiri, nggak ada yang nemeni. Ini aja aku baru mandi dari tadi liatin kondisi dia."
"Sakit apa emang dia? Bawa ke dokter kalo kondisinya makin parah. Nanti kamu ikutan sakit karena kelelahan ngurusin dia," sahut Bayu setelah terdiam beberapa saat.
"Kayaknya sih masuk angin. Dari tadi pagi muntah-muntah. Udah aku bujuk ke dokter tapi dia nggak mau. Lihat nanti sore lah, kalo kondisinya makin parah baru aku paksa bawa ke dokter. Nanti lagi ya bang, aku mau beli makan siang. Abang jangan jemput. Oke." Niken mematikan sambungan telepon setelah mendapat jawaban oke dari Bayu.
Niken beranjak dari ranjang yang didudukinya dan keluar kembali dari kamarnya untuk membeli makanan. Nasi Padang menjadi pilihan karena paling dekat dengan tempat kosnya. Lelah juga mondar-mandir membeli sesuatu dari tadi pagi. Padahal baru satu hari.
Niken membuka pintu kamar Nabila dan Nabila masih terlelap di balik selimut. Makanan yang Niken beli ia letakkan di atas meja kecil, berjejer dengan tempat make up. Setelah itu Niken kembali ke kamarnya untuk mengisi perut dengan makanan yang baru ia beli.
Niken mondar-mandir dari kamarnya ke kamar Nabila untuk mengecek kondisi Nabila. Sampai sore, kondisi Nabila makin membaik. Ia sudah tidak muntah-muntah walau makanan yang masuk ke perutnya hanya sedikit. Malamnya Niken pun memutuskan untuk menemaninya tidur, jaga-jaga kalau Nabila kembali muntah-muntah. Tetapi malam nya mereka tidur nyenyak tanpa ada gangguan apapun.
Pagi hari saat Niken masih terbuai dalam mimpi, ia seperti mendengar suara seseorang muntah-muntah. Niken membuka matanya dan tidak menemukan Nabila disampingnya. Bergegas Niken ke kamar mandi dan Nabila tengah berjongkok mengeluarkan isi perutnya.
"Ke dokter aja yok Bil, kayaknya makin parah sakit mu." Niken memberi usul sembari memijat pelan tengkuk Nabila. Sama seperti sebelum-sebelumnya, Nabila hanya menggeleng.
"Aku telepon mamamu ya, biar kau di bawa pulang atau nggak di bawa ke rumah sakit." Nabila kembali menggeleng membuat Niken bingung harus berbuat apa.
Alhasil yang Niken lakukan sama seperti kemarin, membeli 2 porsi bubur ayam untuk menu sarapan mereka. Disuapi nya kembali Nabila. Wajahnya tampak kembali pucat padahal kemarin sore kondisinya sudah semakin membaik. Setelah menyuapi Nabila, Nabila ijin pamit tidur kembali.
Niken pun mengangguk karena terlihat Nabila semakin kepayahan. Setelah memakan bubur ayamnya, Niken membereskan bekas makan mereka dan saat tengah menyusun minyak angin yang dibelinya kemarin Niken menemukan sesuatu yang membuat ia mengerutkan kening.
__ADS_1
Sebuah bungkusan tergeletak sembarangan. Karena penasaran Niken membuka bungkusan yang sudah terkoyak itu dengan tangan gemetar. Diliriknya Nabila yang sudah terlelap.
Sebuah tespek dengan garis berwarna merah dua baris!