Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Bertengkar


__ADS_3

Niken menelungkupkan kepala diantara lipatan tangannya dengan lesu. Disampingnya duduk Dhani yang sudah heboh kesana kemari, menjahili anak yang ikut rapat hari ini. Seperti biasa, Rindy tidak bisa hadir karena bus jemputan nya yang tidak bisa menunggu dan digantikan dengan Dhani. Peserta rapat juga belum terlalu ramai, belum banyak yang hadir. Niken terlalu cepat datang karena Dhani yang langsung menyeretnya begitu lonceng pulang berbunyi.


"Lo kenapa Nik? Lesu amat. Belum sarapan lo?" Dhani menyenggol lengan Niken membuat Niken mengangkat kepalanya dan menoleh kearah Dhani.


"Seharusnya lo tanya makan siang bukan tanya sarapan," sahut Niken malas.


"Iya juga ya. Jangan pingsan lo, Nik, gue nggak mau gendong lo, kak Rayya belum datang."


"Apa hubungannya sama kak Rayya?" Niken bertanya heran.


"Kalo ada kak Rayya kan bisa dia yang gendong lo."


"Nggak jelas lo."


Tak berapa lama masuk Intan dengan sebuah map ditangannya. Dia tersenyum, tak mengatakan apa-apa. Langsung duduk di bangkunya dan membuka buku entah apa. Niken memandanginya dengan wajah malas. Teringat kejadian di perpustakaan tadi siang dimana kak Intan menggandeng lengan Rayya.


"Kak Intan cantik banget ya. Ramah, lembut tutur katanya." Kata-kata Dhani mendapat lirikan Niken.


"Coba aja cewek yang gue taksir bisa seramah dan selembut kak Intan, nggak perlu lah gue berjuang sampai mempermalukan diri sendiri biar bisa dapet perhatiannya."


Niken menopang dagu mendengar sahutan Dhani. Sepertinya Dhani tidak menyadari bahwa dia tengah menyuarakan isi hatinya dengan lantang karena dia berbicara dengan tatapan kosong dan masih memandang kak Intan.


"Emang siapa sih cewek yang lo taksir, Dhan? Gue kenal nggak?"


"Ya kenal lah, satu kelas kita juga kenal dia semua. Dia terkenal paling cantik tapi juga terkenal paling galak."


"Rindy ya, Dhan?" Niken berusaha menahan nada suaranya agar Dhani tidak kaget dan menyudahi acara tanya jawab dadakan ini.


Padahal sejujurnya sudah menahan tawa dan shock dengan berita baru ini. Seorang Dhani yang petakilan bisa suka dengan si nenek lampir titisan Suzanna macam Rindy.


"He-eh. Gue suka banget sama dia tapi dia juga galak banget sama gue." Nada suara Dhani terdengar sangat nelangsa.

__ADS_1


Niken sudah tidak tahan lagi, alhasil Niken tertawa sejadi-jadinya. Dhani kaget dan langsung menoleh kearah Niken. Para peserta rapat yang sudah hadir pun menoleh kearah Niken termasuk kak Intan. Tapi mereka memilih cuek karena ada Dhani disampingnya. Mereka beranggapan Dhani pasti lagi ngebadut makanya Niken bisa sampai tertawa ngakak seperti itu.


"Jadi lo suka sama Rindy, Dhan? Nggak nyangka gue, Dhan." Niken masih tertawa geli.


Dhani panik. Alhasil Dhani langsung menjepit kepala Niken dengan ketiaknya. Niken meronta-ronta minta dilepaskan. Niken bahkan sampai memukuli punggung Dhani agar melepaskan kepalanya yang dijepitnya.


"Lo ngomong apa sih, Nik? Jangan ngaco lo," sahut Dhani panik.


"Lah, ya lo yang ngomong apa. Lo yang ngasih info ke gue secara cuma-cuma. Lo yang sering ngegodain gue sama Mulyono nggak taunya lo juga senasib sama Mulyono, sama-sama punya cinta terpendam."


"Awas kalo lo bocor kemana-mana, Nik. Gue kejar lo sampai ke akhirat." Dhani melepaskan kepala Niken dari jepitan ketiaknya. Niken masih tertawa geli. Begitu Dhani melepaskan kepalanya, Niken langsung merapikan rambutnya yang berantakan dan masih tertawa-tawa.


Begitu Niken duduk tegak menghadap depan, sudah ada Rayya yang menatapnya datar. Tawa Niken langsung lenyap.


***


Niken duduk dengan lesu di pemberhentian bus sekolah dekat gerbang. Di tolehkannya kepala ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siswa Budaya yang dia kenal. Niken memang sekuper itu. Selain teman satu kelasnya, bisa dihitung dengan jari teman dari kelas lain yang Niken kenal.


Niken menghela napas. Coba saja Niken membawa motor, pasti saat ini ia sudah sampai rumah dan bisa tiduran, hal yang menjadi kegemarannya tapi Niken kembali ingat, ia tidak bisa naik motor.


"Aku nggak pernah sekalipun ditemani Dhani nunggu bus kak."


"Kalau diantar pulang pasti pernah lah ya." Niken mengerutkan kening mendengar nada bicara Rayya.


"Aku juga nggak pernah diantar dia pulang kak." Niken menyahut jengkel.


Perut keroncongan ditambah pertanyaan Rayya yang tiba-tiba membawa-bawa nama Dhani membuat cacing dalam perut Niken kian berdendang ria.


"Tapi kalo dipeluk-peluk udah pasti pernah kan?"


"Maksud kakak apa sih?"

__ADS_1


Niken berdiri dari duduknya. Rayya menegakkan badan saat mendengar suara Niken yang sudah naik satu oktaf.


"Nggak usah pura-pura nggak tau. Maksud kamu apa coba selingkuh didepan aku. Pake acara mesra-mesraan diruang rapat."


"Selingkuh?"


Niken menolehkan kepala kesekililingnya. Terlihat beberapa anak murid yang melirik kearah mereka dengan penasaran, ada juga yang cuek bebek dan kembali mengobrol dengan temannya. Niken sebenarnya malu, tapi apa boleh buat, Rayya sepertinya mengajak bertengkar di lokasi yang tidak tepat.


"Kakak nuduh aku selingkuh?"


"Iya." Rayya menjawab cepat. "Kamu mesra-mesraan sama Dhani, pakai acara peluk-pelukan didepan aku, apa coba namanya kalo nggak selingkuh?"


Niken mendengus mendengar tuduhan Rayya. Bukannya tadi siang Rayya ya yang asyik-asyikkan memilih buku dengan bergandengan tangan mesra bareng Intan?


"Dhani tadi nggak sengaja curhat bahwasanya dia lagi naksir Rindy terus aku godain. Karena dia kepalang malu dia bekap aku di ketiaknya, darimana ceritanya kami mesra-mesraan coba?" Gantian Rayya yang mendengus.


"Bisa-bisanya kamu aja kan mengarang cerita. Kamu akrab sama Dhani, pergi rapat selalu berdua, bisa aja kan diam-diam kalian saling naksir."


"Iya juga ya. Bisa aja kami saling naksir. Sama tuh kayak ketua OSIS dan sekretaris OSIS yang bisa aja diam-diam saling naksir."


"Kamu nuduh aku selingkuh sama Intan?"


"Iya," sewot Niken.


"Kamu yang selingkuh sekarang nuduh aku selingkuh."


"Kalo nggak selingkuh apa namanya coba yang pergi ke perpustakaan berdua, milih buku berdua, bergandengan tangan, mau nuntun orang buta?" ucap Niken emosi.


Rayya seketika terdiam. Setelah jeda beberapa detik barulah Rayya dapat bersuara. Niken sudah terduduk kembali. Wajahnya merah menahan malu dan marah dari anak-anak yang curi-curi pandang kearah mereka.


"Kamu tadi siang di perpustakaan?"

__ADS_1


"Kalo iya kenapa?" Niken menjawab jutek.


Rayya mengusap wajahnya dan duduk disebelah Niken. Niken langsung menggeser duduknya menjauh. Niken sebal sekali dengan Rayya hari ini sedangkan Rayya hanya melirik Niken yang menggeser duduknya dan memalingkan wajah berlawanan dengan arah Rayya duduk.


__ADS_2