
Niken terdiam dan berpikir. Kalau Niken setuju, ini kedua kalinya mereka akan tidur bersama setelah insiden kehujanan dulu. Niken mengangguk mengiyakan karena Niken percaya Bayu tidak mungkin akan macam-macam kepadanya.
Bayu yang senang pun langsung memeluk dan menghirup wangi rambut Niken dan mencium kembali bibir Niken. Kegiatan menyecap bibir dan leher pun terulang kembali sampai Niken menghentikannya dan mereka memilih bercakap-cakap sembari berpelukan hingga rasa kantuk menyerang.
Niken tidak tau ini pukul berapa ketika terdengar suara langkah kaki samar-samar terdengar dari luar kamar. Niken membuka mata sedikit dan melihat Bayu masih tertidur dengan tangan memeluk pinggangnya. Niken pun memutuskan memejamkan mata kembali karena kantuk masih menggelayuti matanya.
Belum sempat Niken terpejam terdengar suara pintu kamar terbuka. Niken langsung menoleh dan menemukan mama Bayu menyembulkan kepala di pintu yang hanya terbuka sebatas badan. Mereka sama-sama kaget. Mama Bayu terkaget karena menemukan anaknya tengah tidur berduaan dengan perempuan dan Niken yang terkaget karena ketahuan oleh mamanya Bayu. Serasa terpergok tengah berbuat mesum.
Mama Bayu menutup pintu kembali tanpa mengatakan apa-apa sedangkan Niken langsung berguling dan berniat untuk bangkit tanpa menyadari bahwa posisinya sudah dipinggir ranjang. Alhasil Niken terjatuh dari ranjang dan meringis karena pantat dan pinggangnya terasa nyeri.
Suara gedebuk membuat Bayu membuka mata dan kaget mendapati Niken sudah meringis di bawah lantai.
"Kamu ngapain di bawah situ? Mimpi apa kok bisa jatuh?" tanya Bayu heran antara geli dan panik. Ia bangkit dari ranjang dan menarik tangan Niken agar berdiri dan duduk di ranjang kembali.
"Mama kamu datang dan masuk kamar, aku kaget mau bangkit malah jatuh." Niken menjawab masih sambil meringis dan mengusap bokongnya.
"Mama kesini?" tanya Bayu terkejut dan cepat-cepat menyingkap selimut turun dari ranjang dan keluar kamar.
Niken sendiri bingung harus ngapain. Ikut menyusul Bayu atau tetap berdiam diri di dalam kamar. Alhasil Niken memutuskan untuk mengikuti Bayu menemui mamanya. Ia berjalan pelan dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Sudah Niken katakan kan, ia berasa seperti ketahuan tengah berbuat mesum padahal mereka hanya tidur dan real benar-benar tidur.
Niken sudah berada di ujung tangga ketika samar-samar mendengar suara mama Bayu dan anaknya tengah berbincang di ruang fotokopi di lantai bawah. Niken melirik jam yang tergantung di anak tangga paling bawah. Masih pukul 4.30 pagi dan mamanya Bayu sudah datang mengunjungi anaknya.
"Kami nggak ngapa-ngapain ma." Sayup-sayup Niken mendengar suara Bayu.
"Jangan di ulangi lagi Bay, sabar sampai hari pernikahan kalian tiba. 3 bulan lagi itu nggak lama. Kalian memang nggak ngapa-ngapain untuk saat ini tapi setan itu selalu senantiasa menggoda umatnya. Masih syukur mama yang mergoki kamu, nggak tau lagi mama kalo sampai yang lain lihat kelakuan kamu sama Niken di kamar cuma berduaan."
__ADS_1
Tidak ada sahutan dari Bayu. Mamanya juga sepertinya sudah selesai mengomel dan menasehati anaknya. Niken menghembuskan napas kasar, tidak tau harus merasa lega atau justru semakin tidak enak hati. Niken memutuskan kembali kedalam kamar dan bersiap untuk pulang ke kos.
Terdengar notifikasi pesan yang berasal dari ponsel Bayu dan Niken melirik karena penasaran. Tertera nama Nabila membuat Niken mengerutkan kening heran.
Sesubuh ini?
Dengan ragu Niken mendekati ponsel Bayu dan belum sempat Niken menyentuh ponsel itu terdengar suara pintu terbuka dan Bayu masuk setelahnya.
"Aku mau temuin mama dulu ya?" pamit Niken yang langsung di halangi Bayu.
"Mama barusan pulang. Tadi kesini cuma ngasih sarapan aja."
"Sepagi ini?" tanya Niken heran. Adzan subuh saja belum berkumandang dan mama Bayu sudah mengantar sarapan. Berasa makan sahur kalau jam segini sudah mengisi perut.
"Mama mau pergi ke rumah saudara. Sekalian singgah eh malah mergoki kita lagi tidur berdua." Bayu melenggang duduk di ranjang dan memeriksa ponselnya.
"Santai ajalah. Kita juga nggak ngapa-ngapain. Mau pulang sekarang?" tanya Bayu karena dilihatnya Niken sudah bersiap-siap memasukkan keperluannya kedalam tas kecil yang ia bawa.
"Iya. Abang antar aku ke kos aja, nggak perlu ngantar aku berangkat kerja. Entar kelamaan." Niken menyahut sambil menyisir rambutnya.
"Abang bisa tunggu kamu siap-siap berangkat kok."
"Nggak usah. Nanti sore aja jemput aku lagi. Aku mau pulang kerumah mama. Tapi kalo toko rame, aku pulang sendiri aja naik ojek."
"Nggak. Nanti sore Abang jemput."
__ADS_1
Niken diam dan memperhatikan Bayu yang sepertinya sedang berbalas pesan. Mungkin dengan Nabila.
Setelah adzan subuh selesai berkumandang, mereka memutuskan berangkat. Perjalanan yang harus ditempuh sekitar satu jam untuk sampai di kos Niken. Pukul 6 mereka sudah sampai dan Bayu memutuskan kembali ke tokonya.
Niken naik ke kamarnya dan berniat untuk siap-siap berangkat kerja. Pintu kamar Nabila terbuka dan terlihat si empunya kamar tengah duduk merunduk di lantai. Niken yang penasaran pun memutuskan masuk ke dalam.
"Bil, kenapa?" Nabila mengangkat kepalanya begitu mendengar suara Niken. Wajahnya pucat dengan rambut yang berantakan.
"Bil, kau sakit?" Niken bertanya panik. Belum sempat pertanyaan Niken dijawab, Nabila sudah berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Tak ada yang keluar karena dari kemarin belum ada satu makanan pun yang masuk ke perutnya. Hanya sedikit cairan yang keluar dari mulut Nabila.
Niken yang menyusul Nabila ke kamar mandi pun mengurut punggung dan leher Nabila sembari memegangi rambut nya agar tidak terkena muntahan. Nabila berjongkok lemas dan Niken membantu membasuh wajahnya yang berantakan.
Niken membimbing Nabila berjalan ke ranjangnya dan membantunya merebahkan badan. Di carinya minyak angin tetapi tak di temukan hanya minyak kayu putih yang terdapat di deretan bedak-bedak. Segera Niken mengoleskan ke punggung dan dada Nabila.
"Terakhir makan kapan, Bil?" tanya Niken setelah selesai mengoleskan minyak kayu putih.
"Kemarin siang," jawab Nabila dengan suara parau.
"Kamu masuk angin kayaknya Bil," ucap Niken menebak. Karena dia juga tidak tau menahu jenis-jenis penyakit.
"Udah dari kemarin aku kayak gini Nik."
"Aku belikan bubur ayam ya, biar ada isinya perutmu, masuk anginnya juga nggak makin parah." Niken beranjak dan berniat membeli bubur ayam yang sepertinya sudah mangkal di dekat gerbang kosnya.
"Nggak usah Nik, makin parah nanti muntahnya kalo di isi makanan. Kau berangkat kerja aja, aku udah nggak papa kok," tolak Nabila.
__ADS_1
Niken menggeleng dan tak tega meninggalkan Nabila seorang diri tanpa ada yang merawat dan menemaninya, "Aku ijin libur kerja biar bisa nemenin kau. Udah disini dulu, biar aku beli bubur ayam." Niken segera meninggalkan kamar Nabila, tak dihiraukannya panggilan Nabila yang melarangnya membeli makanan.