
"Beneran pa, papa bakalan tinggal di sini lagi?" tanya Niken antusias saat pagi itu papa Niken memberi pengumuman bahwasanya ia sudah bisa berkumpul bersama keluarganya lagi.
"Beneran dong," jawab papa Niken diiringi senyuman.
Niken langsung bersorak senang, "Nggak ke Palembang lagi kan?"
"Masih tapi sesekali aja untuk memantau."
Tak apa! Yang penting papanya bisa berkumpul kembali bersama mereka. Menemani mamanya yang sendirian di rumah karena di tinggal merantau anak dan suaminya.
"Kamu juga kapan menikah? Biar nggak tinggal lagi di kos? Udah dua tahun kalian pacaran kan? Jangan kelamaan pacaran lebih baik disegerakan." Pertanyaan papanya membuat Niken menghentikan kegiatan sarapannya sejenak. Dimasukkannya sendok berisi nasi kedalam mulut untuk mengurangi kegugupannya.
Tak terasa sudah dua tahun memang hubungannya dengan Andre berjalan. Tumben sekali papanya membahas pernikahan biasanya papa nya santai dan tak membebani anaknya pasal menikah.
"Kami masih ngumpulin uang pa, biar kalau menikah nggak tinggal di rumah sewa."
"Kamu anak papa satu-satunya, kalau kalian nggak punya tempat tinggal setelah menikah kalian bakalan tinggal di rumah ini. Ngapain pusing mikirin rumah." Papa Niken sedikit heran dengan pemikiran anaknya.
"Tapi kak Andre nggak mau pa, kalo kami tinggal dirumah orang tua atau dirumah sewa." Niken memberi jawaban sesuai dengan ucapan yang pernah di berikan Andre.
"Rumah sekarang mahal Nik, sudah terkumpul berapa uang kalian? Kalau memang tidak sanggup papa bisa bantu. Bukannya papa sombong atau apa, ekonomi kita udah merangkak naik. Papa ingin menebus kesalahan papa yang nggak bisa menguliahkan kamu." Jelas sekali rasa bersalah hadir pada nada suara yang ditimbulkan papanya membuat Niken tersenyum untuk menenangkan papanya.
"Papa apa-apaan sih. Aku justru sekarang bersyukur pa dengan keadaan kita. Kalau papa nggak bangkrut mungkin sampai sekarang aku belum bisa menghasilkan uang sendiri. Kami mau memulai semuanya dari nol pa, uangnya belum banyak sih tapi kami yakin kami bisa. Nanti kalau sekiranya kami udah nggak sanggup, aku pasti bilang sama papa kok."
Mama Niken langsung mencubit kedua pipi Niken dengan gemas, "Ih anak siapa sih ini? Udah dewasa sekarang kamu nak, udah nggak manja dan cengeng lagi," ucap mama Niken dengan haru. Dielusnya pipi bekas cubitan tangannya ketika Niken mengaduh dengan bibir cemberut.
"Ya sudah kalau itu keputusan kalian. Papa cuma bisa mendoakan semoga segala keinginan kalian di lancarkan dengan mudah. Kalau menurut papa sih, lebih baik kalian segera menikah. Jangan lama-lama pacaran. Dua tahun itu udah lama kalau menurut papa."
__ADS_1
Niken hanya mengangguk mendengar ucapan papanya. Andre bukannya tak sekali dua kali meminta Niken agar siap untuk dilamar tetapi Niken selalu menolak. Syarat dari Niken masih sama, dilamar dan satu bulan kemudian menikah. Tetapi Andre masih keberatan dengan syarat itu. Apalagi kendalanya kalau bukan faktor keuangan.
Niken pernah mengusulkan agar uang di tabungan bersama yang selama ini mereka kumpulkan itu dipakai terlebih dahulu untuk biaya menikah tetapi Andre menolak. Uang itu untuk rumah masa depan mereka dan Andre tidak mau menggunakannya sedikit pun.
Niken membuka kembali buku tabungan bersama yang selama ini ia simpan. Tertera nominal uang yang selama ini telah berhasil mereka kumpulkan. Tak banyak jumlahnya karena Niken harus mengikuti arus naik turunnya pendapatan Andre setiap bulannya. Tetapi Niken bersyukur setidaknya ada sedikit pegangan untuk masa depan mereka nanti.
Dan sekarang papa nya ingin segera Niken menikah. Niken bingung sendiri. Andre belum bisa memenuhi persyaratan dan menolak usulannya. Haruskah Niken menerima lamaran dari Andre terlebih dahulu dan menunggu hari pernikahan tiba yang entah kapan akan terjadi?
Sejujurnya Niken masih mengalami ketakutan dengan kata pertunangan. Niken takut gagal lagi. Ketakutan akan kegagalan itu terus menghantuinya. Ia ingin menikah tetapi tidak ingin bertunangan. Niken bingung sendiri dengan perasaannya. Menikah tanpa bertunangan? Mamanya pasti tidak akan setuju. Dirinya juga pasti akan di gosipkan hamil duluan oleh para tetangga karena tau-tau langsung menikah.
NikeĀ mengacak rambutnya sebal. Sebal dengan perasaannya sendiri dan sebal dengan desakan dari orang-orang sekitar. Umurnya baru 22 tahun. Masih banyak waktu untuk bersenang-senang tanpa harus dibebani dengan pertanyaan kapan menikah. Juna saja masih bisa bebas melanglang buana kesana kemari menikmati hidup.
Diraihnya ponsel dan menghubungi nomor Juna. Sepertinya berbincang dengan Juna akan sedikit mengurangi kegundahan hatinya.
"Apaan?" sahut Juna begitu panggilan tersambung.
"Laper," keluh Juna.
"Yang makan dong. Keabisan duit kau?" sewot Niken sedikit heran. Tak biasanya Juna mengeluhkan lapar.
"Aku mau pergi kondangan. Tapi partner yang aku ajak lama banget besoleknya. Kelaparan aku." Juna masih menggerutu di seberang sana membuat Niken tertawa geli.
"Ciyee Juna udah punya gebetan," goda Niken. "Jangan-jangan udah jadi pacar lagi." sambung Niken lagi.
"Apaan? Terpaksa ini aku berangkat. Temenku nikah dan kebetulan yang aku ajak ini kenal sama mempelainya, ya udah deh kami berangkat bareng."
"Iyain aja deh, biar cepet." Niken tertawa setelah mengucapkan itu dan sangat yakin Juna pasti memutar bola mata sebal di ujung sana.
__ADS_1
"Rasanya punya pacar gimana sih Nik?" tanya Juna tiba-tiba.
"Kalau mau tau rasanya hendaklah coba!" jawab Niken enteng sembari menirukan suara Upin Ipin.
"Serius aku, Nik."
"Aku juga serius Jun, kalau mau tau rasanya, coba deh sekali-kali pacaran. Aku capek sendiri liat kau jomloh terus."
"Kalau aku punya pacar, entar kau nggak bisa jadi prioritas ku lagi. Kalau kau butuh apa-apa aku nggak bisa siap sedia ada."
Niken terdiam dan mencerna kata-kata Juna. Memang selama ini walaupun mereka berjauhan tetapi Niken masih sangat bergantung dengan Juna. Niken selalu mencari Juna disaat dirinya sedang bingung dan butuh pendapat. Juna memang tidak selalu ada raganya tetapi pendapat yang diucapkan Juna selalu menjadi pegangan Niken dalam mengambil keputusan.
"Mungkin itu konsekuensi yang harus aku tanggung Jun. Kalau kau punya pacar aku pasti nggak bakalan sering-sering neleponin kau dan minta bantuan mu," ucap Niken lirih. Sesak juga rasanya mengatakan itu.
"Jadi pacarku aja, biar kau tetap bisa jadi prioritas ku dan aku bisa ngerasain rasanya punya pacar."
"Ha?"
Juna pasti salah minum obat hingga mengucapkan ajakan berpacaran dengannya. Atau jangan-jangan efek lapar memang membuat otaknya sedikit konslet.
"Maksudmu apa Jun? Bercanda mu nggak lucu," gerutu Niken sebal.
Juna di seberang sana terkekeh, "Udah, nikah sama aku aja kalo sama yang ini nggak beres juga kayak si Bayu itu."
Belum sempat Niken membalas ucapan Juna, ia sudah pamit dan menutup telepon karena teman yang di tunggunya sudah selesai merias diri.
Niken sampai mengerutkan kening dan menatap ponsel cukup lama. Heran dengan kelakuan Juna yang tidak bisa di tebak. Niken lebih memilih mengacuhkan ucapan Juna dan membuka pesan untuk mengabarkan keberadaan pacarnya, apakah sudah sampai gerai atau belum?
__ADS_1