Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Ice Cream


__ADS_3

"Nik, lo pulang sekolah nanti disuruh Rindy ngantar absen ke ruang guru." Adila melapor. Niken yang sedang mencatat jadi melirik.


"Kok nggak langsung ngomong sama gue?"


"Masih sebel katanya gara-gara lo pulang satu bus sama kak Rayya."


"Didalam bus nggak cuma gue berdua doang padahal. Gimana jadinya kalau gue dibonceng naik motor? Alamat digantung gue besoknya." Niken menggerutu atas kecemburuan yang ditunjukkan Rindy.


"Kalian sama-sama kecil, masa lo kalah sih sama dia?" Adila tertawa.


"Badan boleh sih sama kecil tapi dia kan macan, apalah gue yang cuma semut."


"Nik, lo nggak risih gitu ?" Adila bertanya, Niken yang merasa pertanyaan Adila membingungkan dan keluar dari topik menghentikan kegiatan menulisnya dan menoleh kearah Adila.


"Maksud lo?"


"Tuh!" Adila mengedikkan kepala, melirik Mulyono yang selalu mengarahkan matanya ke arah Niken.


"Entahlah Dil. Masa gue mau marah-marah sama dia cuma karena setiap detik ngarah kesini mulu."


"Gimana Dhani dan anak-anak lain nggak makin ngecengin lo, kalau tingkahnya kayak gitu."


"Marwah sama Salsa kemana?" Malas membahas Mulyono, Niken lebih memilih mencari topik lain.


"Makan di kantin."


"Gila. Ini kan masih jam pelajaran. Istirahat kedua juga udah lewat. Kok bisa mereka malah asyik makan, nggak ngajak gue lagi."


"Guru juga nggak masuk, ya udah deh sesuka mereka aja mau ngapain."


"Rindy kemana kok tumben dia diam aja liat anak-anak berserak gini?" Niken mengedarkan pandangan ke penjuru kelas dan benar saja hanya ada tersisa beberapa murid yang tinggal dikelas. Sisanya entah kemana.


"Nggak tau juga gue." Adila mengedikkan bahu.


"Kantin juga yuk, laper gue." Niken berdiri dan menarik tangan Adila agar mau ikut dia ke kantin. Adila mempertahankan posisi duduknya.


"Males ah, nanggung, lima menit lagi juga udah lonceng pulang." Niken kembali duduk karena Adila menolak diajak ke kantin.


"Nggak asyik lo." Niken ngambek. Dia membereskan buku-bukunya yang masih berserak diatas meja. Adila cuek saja dan malah ngemil chiki.


"Dil, temenin gue ngantar absen yok." Niken merengek seperti biasa karena malas pergi ke ruang guru sendiri, bisa-bisa dia disuruh kembali memukul lonceng.

__ADS_1


"Nanti aja Nik, sabar nunggu lonceng. Nah, itu lonceng udah bunyi. Yok kita pulang." Adila langsung beranjak dan memakai ransel karena tidak perlu ada yang dibereskan.


"Eh temenin gue dulu."


"Males." Adila cuek saja berjalan meninggalkan Niken yang manyun. Alhasil, Niken berjalan sendiri menuju ruang guru. Koridor ramai oleh anak-anak yang mau pulang sekolah, begitupun ruang guru, banyak para sekretaris kelas yang akan menitipkan absen seperti Niken. Dengan wajah yang masih ditekuk karena masih sebal kepada Adila yang tidak mau menemaninya, Niken langsung menghampiri meja pak Jhon dan meletakkan absen disana.


Begitu keluar dari ruang guru, Niken berjalan cepat agar tidak ketinggalan bus sampai tidak menyadari ada yang memanggilnya bahkan sampai orang itu menarik ransel yang dikenakan Niken.


"Eeee apaan sih?" Niken melirik sebal dan tergagap setelahnya.


"Hmmm kak Rayya? Ng ngapain kak?"


"Manggilin kamu, tapi kamunya malah cuek aja. Kelihatannya buru-buru." Niken seketika langsung ingat busnya.


"Eh iya kak, aku buru-buru, takut ketinggalan bus." Baru Niken akan melangkah Rayya kembali menarik ranselnya.


"Aku anterin." Niken tidak mau tertipu untuk yang kedua kali nya.


"Anterin atau barengin kak."


"Anterin lah. Hari ini aku bawa motor."


"Kak kok kita malah kesini?" Niken bertanya heran sembari turun dari motor yang dikendarai Rayya.


Ya, Rayya memang membawa motor seperti ucapannya tetapi dia bukannya mengantar Niken pulang kerumah malah membawa Niken ke taman yang tak jauh dari sekolah mereka. Jelas saja Niken terheran-heran. Ini pertama kalinya Niken keluyuran sepulang sekolah. Pertama kalinya juga pulang sekolah diantar laki-laki.


Tetapi bukannya diturunkan di depan rumah malah berhenti di taman ini. Jelas saja Niken ketakutan walaupun disini banyak orang berlalu lalang dan tak sedikit yang berpakaian sekolah seperti dirinya.


"Aku traktir es krim. Tuh, penjual es krim nya disana. Kamu bebas pilih rasa apa aja."


"Beneran di traktir ini?" Rayya hanya mengangguk dan mengajak Niken berjalan menuju penjual es krim. Niken sempat ketar-ketir, bila tidak ditraktir matilah dia. Uang sakunya hanya tersisa untuk ongkos naik bus, yang tentunya tidak akan cukup untuk membeli es krim ini.


Niken memilih varian vanilla dan Rayya memilih varian buah. Setelah mendapatkan es krim yang mereka mau, Rayya dan Niken duduk-duduk di bangku yang disediakan.


"Ternyata sepulang sekolah disini ramai juga ya anak-anak yang nggak langsung pulang kerumah." Niken mengamati sekitar.


"Kamu belum pernah kesini sebelumya?" Rayya bertanya heran dan dijawab gelengan kepala oleh Niken.


"Padahal Salsa sama Marwah sering nongkrong disini sepulang sekolah. Kamu nggak pernah diajak?" Niken terkejut mengetahui fakta tersebut.


"Aku nggak pernah keluyuran sepulang sekolah kak. Waktu rapat OSIS, itu pertama kalinya aku pulang telat. Oya, ngomong-ngomong kakak kok kenal Marwah sama Salsa?"

__ADS_1


"Adik kelas dulu waktu SD."


"Oh mereka satu SD ternyata, pantes aja sedari awal masuk sekolah mereka udah akrab."


"Kamu belum tau ya. Padahal udah sebulan kalian temenan."


"Aku nggak pernah tanya-tanya. Oya kak, kalau SD Pelita Jaya itu dimana?" Tiba-tiba Niken teringat Adila yang berasal dari SD itu. Rayya mengernyit mendengar pertanyaan Niken.


"Kamu nggak pernah baca plank didepan gerbang sekolah ya?"


"Eh." Niken kebingungan mendapat pertanyaan seperti itu. Niken kan tanya SD Pelita Jaya, kenapa larinya ke plank sekolah?.


"Pernah kok, SMP Budaya kan?"


"Bukan, plank yang disebelahnya." Rayya tersenyum geli melihat wajah kebingungan Niken.


Niken menggeleng pelan sembari menyahut " Nggak pernah aku baca-baca kak."


"Besok baca ya biar tau SD Pelita Jaya itu dimana."


Niken tersenyum malu. Salahkan saja Niken yang tidak terlalu peduli dengan sekitar. Jarang melihat apa yang bukan tujuannya. Mungkin kalau tidak pernah menemani Adila ke toilet, Niken tidak akan tau dimana letak toilet padahal disitu tertera besar-besar tulisan toilet di dinding nya.


"Emang kamu bukan dari daerah sini ya, Nik?" Rayya bertanya setelah hening diantara mereka. Setelah dipikir-pikir dia tidak tau apa-apa tentang perempuan yang terdiam tenang disampingnya ini. Niken yang sedang menghayati memakan es krim nya pun menoleh.


"Aku dari Pekanbaru kak, sejak lahir disana, setelah tamat SD diminta tante Runita ikut tinggal bareng dia." Rayya manggut-manggut mendengar informasi itu.


Niken sebenarnya gelisah ingin cepat pulang. Niken melirik jam tangan yang dipakai Rayya. Pukul 3 lewat 10 menit. Semoga tante Runita tidak gelisah menunggunya pulang. Sewaktu rapat OSIS kemarin saja tante Runita sampai menunggu di teras rumah karena tidak ada kabar Niken akan pulang telat. Bagaimana mau memberi kabar bila rapatnya diadakan dadakan.


Ingin mengajak Rayya pulang tapi takut Rayya akan tersinggung karena walau bagaimanapun Niken sudah ditraktir es krim. Dibiarkan saja takut waktu semakin sore. Es krim mereka sudah habis tapi Rayya masih anteng duduk. Tidak ada percakapan diantara mereka. Membuat Niken semakin gelisah saja.


"Kak!" Rayya menoleh mendengar panggilan dari Niken.


"Hmm mmm." Niken bingung harus memulai darimana.


"Kenapa?"


Ditanya kenapa malah semakin membuat Niken kelabakan. Matanya tak fokus mengarah kemana.


"Nggak jadi deh!"


Dan Niken merutuki ketidakjelasannya.

__ADS_1


__ADS_2