
"Mamaaaa."
Hari ini Niken mendapat kejutan. Setelah diledek om Uno pasal lilin, Niken melanjutkan kegiatannya dengan sarapan, mandi pagi dan ikut tante Runita ke pasar, belanja kebutuhan sehari-hari. Niken tidak mendapat firasat apapun. Tante Runita pun tidak mengatakan apa-apa. Maka dari itu, kedatangan mamanya sangat mengejutkan Niken.
Niken langsung memeluk mamanya dengan perasaan rindu yang tidak bisa Niken sembunyikan. Padahal baru sebentar mereka berpisah. Mama datang sendiri tanpa ditemani papa yang pekerjaannya tidak bisa ditinggal.
"Mama kok datang nggak bilang-bilang?" Setelah masuk rumah dan menyuguhkan teh serta camilan, Niken masih memeluk lengan mamanya dengan erat. Seperti ular yang membelit mangsanya. Mama Niken membiarkan saja tingkah anaknya karena tak bisa dipungkiri mamanya pun rindu dengan Niken.
"Surprise dong. Mama mau sahur pertama mama di bulan ramadhan ini bareng anak mama."
"Ihh mama kok sweet banget." Niken tertawa-tawa sambil mengguncang-guncang lengan mama.
"Ah lebay kamu."
"Kangen mama."
"Mama nggak."
"Mama jahat."
"Emang."
Niken cemberut. Tante Runita datang dari dapur dan ikut bergabung bersama Niken serta mamanya. Mengobrol seru karena mereka kakak beradik yang memang jarang bertemu.
***
__ADS_1
"Om, lilin aku mana?" Begitu Niken selesai mandi sore dan sudah mendapati om Uno duduk santai di teras bersama mamanya, Niken langsung menodong pesanan yang ia pesan tadi pagi. Niken tidak mengetahui kapan om Uno pulang, mungkin saat Niken tengah mandi dan selesai mandi Niken bukannya keluar kamar tapi malah asyik bernyanyi-nyanyi mendengarkan musik dari radio.
"Lilin apa, Nik?" Mama yang bertanya. Sedangkan om Uno, dia seperti tengah berpikir.
"Aku tadi pagi pesan lilin sama Om Uno. Dibelikan kan, Om?" Niken bertanya dengan penuh harap. Bulan puasa tanpa lilin itu bagaikan Rindy tanpa muka judesnya. Tidak mungkin.
"Om lupa, Nik. Tadi pagi kamu nitip lilin ya?" Om Uno bertanya dengan wajah ragu-ragu nya dan seketika dia ingat bahwa memang tadi pagi Niken pesan lilin dan bunga api. Raut bersalah tidak dapat disembunyikan om Uno.
"Jangan bercanda Om. Nanti malam sepulang tarawih aku mau main lilin," rengek Niken sudah hampir menangis. Om Uno garuk-garuk kepala bingung. Dia benar-benar lupa kalau Niken pesan lilin kepadanya tadi pagi.
"Ya udah belinya besok aja Nik sama mama sekalian kita jalan-jalan." Mamanya langsung membujuk anak satu-satunya ini.
"Nggak mau. Aku mau nya sekarang." Niken sudah mencak-mencak.
"Beli dimana coba? Ini udah mau maghrib. Besok aja ya." Mama masih belum putus asa.
Terlahir sebagai anak semata wayang memang membuat Niken sedikit manja. Bila keinginannya tidak dituruti, Niken pasti akan merajuk. Faktor umur yang masih anak-anak juga mempengaruhi pola pikirnya.
"Dia disini sering merajuk gitu, No?" Rumila, mama Niken bertanya dengan perasaan cemas kepada Uno, adik iparnya. Rumila takut anaknya justru merepotkan selama tinggal dengan adiknya.
"Baru 2 kali ini kak. Dulu pernah juga merajuk karena Nita lupa beliin lem pipa untuk tugas sekolahnya. Dia bahkan sampai nangis-nangis karena besoknya harus buat prakarya tapi kelengkapan alatnya belum lengkap. Akhirnya pagi-pagi buta aku pergi ke toko bangunan buat beli lem pipa. Yang punya toko belum bangun aku paksa bangun," jelas Uno.
Wajahnya terlihat berseri-seri waktu menceritakan kejadian itu. Kontras sekali dengan isi ceritanya yang merepotkan si pemeran.
"Ya ampun anak itu. Tinggal tempat orang juga masih sifat merajuknya nggak bisa di rubah. Niken memang setiap bulan puasa harus stok lilin banyak-banyak. Dia senang banget main lilin, semua anak tetangga dikumpulkannya biar bisa main lilin bareng-bareng. Kakak kira setelah masuk SMP dia udah malu main lilin tapi ternyata masih aja. Maaf ya No kalau anak kakak ngerepotin kalian selama tinggal disini." Rumila sungguh-sungguh meminta maaf tapi ternyata hanya ditanggapi dengan tawa oleh Uno.
__ADS_1
"Apaan sih kak. Justru kami senang Niken tinggal disini. Kami merasakan betul gimana rasanya punya anak semenjak Niken disini. Justru kami yang harusnya minta maaf karena udah meminta Niken tinggal disini bersama kami." Gantian Uno yang merasa tidak enak hati dengan kakak iparnya ini.
Dulu, mereka memang yang meminta agar Niken mau ikut dengan mereka bila Niken sudah tamat SD. Syukurnya Niken mau dan dengan berat hati mamanya mengijinkan.
"Nggak apa-apa, No. Kakak juga mau Niken belajar mandiri dengan ikut kalian. Niken kalau dirumah memang terlalu manja. Faktor anak semata wayang memang membuat kami terlalu memanjakan Niken. Niken jadi terlalu kekanak-kanakan dan mudah ngambek."
"Niken mandiri kok selama disini, nggak pernah nyusahin dan jarang ngambek juga. Niken memang masih anak-anak kan kak tapi biar sifat nya tuh bocah masih terlihat banget sisi anak-anaknya, dia udah ada yang naksir loh." Info Uno sembari tertawa. Rumila berusaha menyembunyikan raut tidak percayanya.
"Bahkan aku udah ketemu sama anaknya. Baru kemarin dia datang kesini. Masih satu SMP katanya dengan Niken, kakak tingkatnya 2 tahun."
Penjelasan Uno membuat Rumila terang-terangan menunjukkan raut tidak percayanya. Ada gitu yang mau sama anaknya yang super manja itu.
"Kamu yakin, No kalau nih anak ada yang naksir?" Rumila berbisik kepada Uno yang duduk tak jauh darinya.
"Yakin lah kak, kan aku udah bilang tadi kalau aku udah ketemu sama temen cowoknya itu." Uno ikut mencondongkan tubuhnya seperti halnya Rumila agar bisa berbisik-bisik dan percakapan mereka tidak terdengar oleh Niken yang keberadaannya tak begitu jauh dari posisi mereka.
"Temennya atau cowoknya sih?" gerutu Rumila masih dengan berbisik.
"Mereka bilangnya sih temen tapi wajah dan gestur mereka kan nggak bisa bohong kak. Aku juga pernah lah ngalamin yang namanya naksir-naksiran, cinta monyet. Nah ekspresinya itu persis kayak mereka," sahut Uno yakin dengan hipotesanya.
"Tapi kalau emang dia udah punya temen yang ditaksir masa kelakuannya masih kayak gitu sih No," keluh Rumila frustasi. Uno hanya tersenyum.
Walau Niken sudah bisa naksir dengan teman lawan jenisnya tapi tetap saja jiwa anak-anak dalam dirinya belum bisa hilang karena Niken memang masih anak berusia 13 tahun. Justru bila Niken sudah dewasa sebelum waktunya itu yang patut diwaspadai.
Niken sendiri tengah asyik bermain lilin yang diletakkan didalam batok kelapa. Tak lupa bunga api juga tengah Niken mainkan.Tak sadar bahwa dirinya sedang menjadi bahan gosip oleh mama dan om nya. Niken sudah bahagia walau hanya bermain seorang diri. Biasanya bila di rumah mama, Niken akan bermain bersama dengan anak-anak tetangganya yang sebaya dengannya ataupun yang lebih kecil darinya.
__ADS_1
Niken mendapatkan lilin dan bunga dari aksinya merajuk sepanjang makan malam bahkan sampai pulang tarawih pun Niken masih memasang wajah cemberut. Akhirnya Om Uno pergi berkeliling mencari lilin dan bunga api. Tak tanggung-tanggung, Om Uno membeli 10 pack lilin yang setiap pack nya berisi 10 lilin dan membeli bunga api berbagai ukuran untuk menyenangkan kembali keponakannya itu.
Mama Niken sampai mengomel karena Uno membeli terlalu banyak lilin yang bahkan sampai bisa untuk membuat festival lilin. Niken sendiri tentu sudah kegirangan bukan main, sampai melompat-lompat saking gembiranya. Om Uno dan tante Runita hanya bisa geleng-geleng melihat tingkahnya.