Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Keanehan


__ADS_3

Niken melangkahkan kakinya dengan lesu menaiki tangga menuju kamarnya. Hari ini pekerjaannya cukup sibuk, banyak para calon pengantin datang dan ingin menyerahkan urusan gaunnya ke butik Salwa membuat Niken yang bertugas sebagai perancang busana ikut repot mencari ide dan mangarsirnya menjadi gambar yang sesuai dengan keinginan pelanggan.


Begitu melewati pintu kamar Nabila, terlihat si pemilik kamar sedang rebahan dan memainkan ponsel. Pintu kamar dibiarkan terbuka padahal kondisi kamarnya masih berantakan akibat ulahnya tadi pagi mencari kartu ATM yang tak kunjung ketemu. Wajahnya seperti bahagia, senyum-senyum menatap benda pipih tersebut.


"Niken!" Panggilan dari Nabila membuat Niken menghentikan langkah dan menoleh kearah Nabila.


"Apa?" tanya Niken melangkah masuk karena Nabila melambaikan tangan, mengkode agar Niken masuk kedalam kamarnya.


"Baru pulang?"


"Iya. Udah ketemu kartu mu?" tanya Niken sembari matanya berkeliling melihat kondisi kamar yang masih berantakan.


"Belum, tapi udah aku urus tadi di bank bareng sama bang Bayu," sahutnya enteng tanpa memperdulikan Niken yang langsung berubah pias.


Sama bang Bayu? Tapi setelah mereka berpisah tadi pagi, Bayu sama sekali belum ada mengabari dirinya. Padahal Niken berharap Bayu akan berbasa-basi menanyakan keberadaan Niken ataupun berniat menjemputnya sepulang kerja untuk mengganti kegagalannya tadi pagi mengantar Niken bekerja.


Niken hanya berpikir mungkin saja Bayu sedang sibuk sehingga tidak sempat memberinya kabar, tapi begitu mendengar bahwa ternyata Bayu bersibuk ria mengantar Nabila ke bank membuat Niken kesal.


"Oh, udah di tarik dong uangmu?" tanya Niken seakan mengkode hutang 300 ribu tadi pagi.


"Udah. Mujur juga hari ini aku, fotokopi tugas ku yang seabrek-abrek itu di kerjakan bang Bayu dan di kasih gratis. Alhamdulillah, selamat uang 300 ribu ku." Nabila berkata dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.


"Ada hikmah di balik kehilangan berarti." Niken hanya bisa menanggapi dengan kalimat itu. Tak tau harus merespon apa.


Lupa kah Nabila dengan hutangnya?


Atau mungkin dibayar nanti?


Niken masih berusaha berpikir positif.


"Eh Nik, bantuin beresin kamarku yok!" Nabila bangkit dari posisi rebahannya dan menyeret Niken menuju lemari pakaian yang sudah tidak dapat di ceritakan lagi bagaimana bentuknya. Semua barang keluar dari tempatnya.

__ADS_1


Niken yang memang mempunyai sifat tidak bisa menolak hanya bisa mengerjakan perintah Nabila. Nabila sendiri membereskan kasur dengan sekali-kali berbalas pesan yang masuk di ponselnya. Senyum pun masih tersemat manis di bibirnya.


Niken hanya berpikir Nabila sedang jatuh cinta dan mungkin belum sempat menceritakan kepadanya.


Hampir 1 jam Niken baru selesai membereskan kamar Nabila dan langsung memasuki kamarnya sendiri. Di rebahkannya badan yang seakan remuk redam. Malas sekali rasanya untuk ke kamar mandi membersihkan diri. Tapi badan terasa sangat lengket dan dengan alasan itulah Niken memaksakan diri ke kamar mandi.


Selesai mandi, Niken memeriksa ponsel yang tergeletak begitu saja di kasur kamarnya. Berharap sang tunangan mengiriminya pesan atau menelepon tetapi nihil. Hanya terdapat 2 pesan dari Juna yang menanyakan sudah makan atau belum dan Niken segera membalasnya.


Niken memilih mengalah dan mengirimi pesan terlebih dahulu untuk kekasih yang beberapa bulan lagi menjadi suaminya itu. Selama ini Niken jarang sekali mengirimi pesan, ia lebih senang menelepon agar dapat mendengar langsung suara sang pujaan hati.


Hari ini aku capek banget, banyak pelanggan datang ke butik pesan baju pengantin


Ya udah. Istirahat aja


Balasan datang 5 menit kemudian membuat Niken mengerutkan kening. Tumben Bayu begitu cuek dan membalas pesannya dengan singkat. Niken yang penasaran mencoba menelepon tetapi nomor yang dituju sedang sibuk.


Niken yang sebal memilih membaringkan tubuhnya ke ranjang tetapi perut yang keroncongan membuat Niken bangkit kembali dan keluar kamar untuk mencari makanan. Walau tubuh terasa letih tetapi makan tetap menjadi prioritasnya. Selain untuk kesehatannya, ada Juna dan mamanya yang selalu mengomel bila ketahuan Niken telat makan.


Nabila berbisik sebentar kepada lawan bicara nya dan segera memutuskan sambungan telepon.


"Mau makan apa?" tanya Nabila sembari memakai sweater dan membawa dompet.


"Yang mengenyangkan. Aku lapar banget," sahut Niken begitu mereka sudah keluar kamar.


"Nasi uduk mau? Udah lama kita nggak makan nasi uduk," usul Nabila.


"Boleh deh."


Niken dan Nabila berjalan pelan keluar gerbang dan menyusuri jalan yang biasanya ramai berjejer para pedagang makanan.


"Bil, kakimu keseleo?" tanya Niken aneh melihat cara jalan Nabila yang tak seperti biasanya.

__ADS_1


"Eh!" Nabila tersentak kaget dan langsung melihat kakinya.


"Agak sakit aja, mungkin pengaruh pembalut."


Niken mengerutkan kening heran dengan alasan yang diberikan Nabila. Bukankah mereka sama-sama datang bulan seminggu yang lalu? Pembalut apa yang Nabila maksud? Niken memilih diam karena tau Nabila semakin di desak pasti akan semakin tidak jujur.


Mereka menuju penjual nasi uduk dan memilih meja setelah sebelumnya memesan menu apa yang mereka inginkan. Nabila masih fokus ke ponsel dengan sesekali tawa meluncur dari bibirnya. Niken jadi curiga Nabila sedang jatuh cinta.


"Dapat kenalan baru ya, Bil?" tanya Niken kepo.


Nabila diam tak menjawab dan hanya memandang Niken.


***


Niken berhenti bercerita ketika terdengar suara suaminya memanggil dari lantai bawah. Segera Niken bangkit untuk menemui suaminya. Membuat Marsya dan Marcel cemberut karena cerita mereka terpotong padahal mereka sedang penasaran jawaban apa yang akan di berikan Nabila.


"Cel, kira-kira Nabila sedang jatuh cinta sama siapa ya? Sama Juna kah?" Marsya mengajak Marcel tebak-tebakan.


"Kenapa kau tiba-tiba bahas Juna, kak?" Marcel bertanya heran. Bukankah Juna sedang berada di Medan saat itu.


"Ya nebak aja sih." Marsya menyahut cuek dengan mengangkat bahu.


"Kak, kalo cerita mama di film kan jadi series pasti seru," celetuk Marcel.


"Sutradara mana yang mau ambil kisah ini jadi film?" Marsya memutar bola mata dengan khayalan adiknya.


"Aku mau tulis cerita mama jadi novel , siapa tau dilirik penggiat film."


"Yayaya coba aja sana. Tapi harus sabar karena mama belum mengakhiri kisahnya." Marsya yang mengetahui adiknya hobi menulis hanya mengiyakan saja walau ia seratus persen yakin kalau impian adiknya itu terlalu muluk. Sejauh ini Marcel hanya hobi membuat komik dan sudah banyak komik hasil karangannya.


Niken datang tak lama kemudian, "Mau dilanjut?" tanya Niken iseng tetapi disambut antusias oleh anak-anaknya.

__ADS_1


"Lanjut maaaa---"


__ADS_2