Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Memulai Dari Nol


__ADS_3

Niken tetap menggeleng dan disentuhnya jemari Andre serta di genggamnya, "Gimana kalau kita buka rekening bersama. Setiap bulan kita bisa menabung dengan jumlah yang sama dan tabungan itu akan kita gunakan untuk membeli rumah kalo kita menikah nanti," usul Niken.


Andre menghembuskan napas keras, "Kakak setuju sih Nik, tapi penghasilan kakak tidak pasti setiap bulannya. Hasil penjualan nggak menentu. Kadang banyak kadang sedikit," resah Andre. Cita-citanya untuk hidup bahagia bersama Niken besar dan ia tidak mau Niken kesusahan hidup bersamanya apalagi Andre pernah mendengar dari temannya berapa gaji dari bekerja di butik Salwa. Niken desainer dan gaji desainer adalah gaji yang paling besar dari semua karyawan yang bekerja disana. Andre minder dengan kondisi keuangannya. Ia takut bila membuka rekening bersama justru Niken lah yang akan menabung lebih banyak untuk masa depan mereka.


"Aku bakalan ikutin berapa mampunya kakak setiap bulannya. Kalau kakak hanya mampu lima ratus ribu aku juga bakalan nabung lima ratus ribu kalo kakak mampunya lebih sedikit aku juga bakal ikutin," ujar Niken sabar. Resah di wajah Andre kentara sekali terlihat.


"Woy, gerbang udah mau di tutup. Bubar kalian semua," teriak Cindy sembari memegang besi pagar, membuat Andre dan Niken segera melepaskan tautan tangan mereka. Para penghuni kos lainnya yang kedatangan tamu juga segera membubarkan diri.


"Kakak bakalan pikirkan lagi," ucap Andre seraya berpamitan pulang.


Niken hanya tersenyum dan ikut berlalu menuju kamarnya. Besar harapannya, Andre akan menjadi persinggahan terakhirnya. Niken tidak mau mengalami kegagalan untuk yang kedua kalinya. Sakitnya bahkan masih terasa sampai sekarang. Apalagi bila mengingat Nabila ngidam dan muntah-muntah Niken yang merawatnya dengan sepenuh hati tanpa Niken tau bayi yang di kandung Nabila justru bayi hasil perselingkuhan  dengan tunangannya.


***


"Gimana menurutmu, Jun?"


Hari minggu pagi ini digunakan Niken untuk bermalas-malasan dan menelepon Juna. Seperti biasa, sesi curhat dimulai, Juna harus siap sedia mendengarkan keluh kesah Niken dan sesi kali ini Niken menanyakan pendapat Juna tentang tabungan bersama yang sempat di cetuskannya kepada Andre.


"Bagus sih tapi harus kau yang megang buku tabungannya jangan Andre."


"Kenapa rupanya Jun kalo kak Andre yang megang?" tanya Niken heran.

__ADS_1


"Emang kau nggak takut uang mu di bawa lari sama Andre?" tanya Juna juga ikutan heran.


"Kalo gitu prinsipnya, kak Andre juga pasti bakalan takut lah uangnya aku bawa lari? Keluarga mereka baik kok Jun, nggak mungkin lah tega bawa lari uang itu. Lagian kan aku udah kenal semuanya, tau alamat rumahnya juga. Kalo mereka macam-macam ya tinggal datangin rumahnya."


"Hey, Niken anaknya bapak Wijaya, asal kau tau ya, sahabat bapakmu aja bisa bawa lari uang bapakmu padahal mereka udah dekat banget dan join bisnis bertahun-tahun apalagi yang cuma status pacaran dan di bawa kerumahnya sekali. Pikir dong!" seru Juna geram dengan kepolosan Niken.


"Iya juga ya. Sampai kami bangkrut dan ujung-ujungnya aku nggak kuliah."


"Keluarganya baik tapi nggak menjamin anaknya juga ikut baik Nik, kalo tiba-tiba Andre ngilang dan bawa lari uang kalian, keluarganya nggak mau tanggung jawab, kau mau minta uang itu kemana? Kantor polisi? Paling juga laporan mu nggak di gubris." Juna masih berucap dengan berapi-api membuat Niken mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Salut juga dengan logika Juna yang masih main. Tak sia-sia dia minta pendapat dengan lelaki jomloh ini.


"Jun!" Panggil Niken yang di jawab deheman di ujung telepon sana.


"Kau kapan nikah?" tanya Niken iseng, membuat Juna mendengus dan jengah dengan pertanyaan yang mengandung unsur ejekan itu.


"Kulkas mahal Jun, gimana kalo aku kasih gelas aja. Selusin deh," tawar Niken.


"Nggak mau tau pokoknya kulkas."


"Ya udah deh, entar kalo aku nikah, kau kasih aku tv 50" inch." Niken juga tak mau kalah meminta hadiah mahal.


"Jangan 50" inch, kau bakalan tinggal di rumah sewa, nggak muat rumah mu," ejek Juna dan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Kak Andre nggak tega kalo aku tinggal di rumah sewa makanya dia pusing gimana caranya begitu nikah langsung punya rumah sendiri." Niken berujar bangga.


"Jadi kau udah pernah di ajak kerumahnya ya, Nik?" Juna mengabaikan kebanggaan yang coba di pamerkan Niken.


"Udah, waktu kami anniv kemarin."


"Aku dulu sering main kerumah mereka waktu masih sekolah. Kehidupan mereka memang biasa aja. Makanya mereka nggak ada yang kuliah dan memilih berdikari. Martabak itu dulu usaha bapaknya dan di teruskan turun temurun ke anaknya dengan versi kekinian."


Niken menganggukkan kepala tanda mengerti. Andre tidak pernah menceritakan kehidupan keluarganya dan Niken justru mendengar dari orang lain. Tapi biarlah, mungkin Andre tidak begitu percaya diri dengan ekonomi keluarganya makanya ia enggan menceritakannya dengan Niken.


"Udah sejak kapan mereka buka usaha gerai martabak itu Jun?" tanya Niken yang semakin kepo dengan kehidupan pacarnya.


"Kau pacarnya, seharusnya kau lebih tau sama kehidupan mereka. Ngapain pula tanya aku." Juna mulai berulah dan siap menyemburkan api naga berupa kata-kata nyelekit.


"Kak Andre nggak pernah cerita tentang kehidupan dia. Kau kayaknya lebih tau jadi bagilah sedikit kisahnya," bujuk Niken berharap Juna mau berbaik hati.


"Itu aja sih yang aku tau. Kalo masalah buka gerai, aku malah tau dari kau. Kayaknya sih begitu Anjas tamat sekolah deh baru gerai itu di buka soalnya dulu Andre sempat kerja di toko. Aku juga kurang tau toko apa."


"Gitu ya, ya udah deh, nggak ada faedah nya aku nelepon kau lama-lama. Cuma ngabisin pulsa. Bye Jun," pamit Niken langsung menutup sambungan telepon. Niken yakin Juna disana pasti sedang marah-marah karena teleponnya di tutup secara sepihak.


Selesai meletakkan ponsel di ujung kasur, Niken merebahkan kepalanya di bantal dan posisi tubuhnya yang telungkup membuat kaki Niken dapat di tekuk naik dan di goyang-goyangkan.

__ADS_1


Niken berpikir, keputusannya untuk membuka tabungan bersama sudah tepat dan Niken yakin dapat membantu perekonomian keluarga mereka nanti setelah menikah apalagi semenjak Niken tau ekonomi Andre yang memang serba sederhana. Mudah-mudahan Andre dapat memberikan keputusan secepatnya dan setuju dengan idenya membuka tabungan bersama itu.


__ADS_2