
Sungguh Niken merasa seperti ada bisul yang bersemayam di pantat dan mengganggu kenyamanan duduknya. Berkali-kali Niken menggeser posisi duduknya, pandangan matanya juga tidak fokus.
'Kok bisa ada Andre sih disini?'
Berkali-kali Niken meyakinkan diri bahwa yang sedang bercuap-cuap didepan sana benarlah Andre. Niken bahkan sama sekali tidak dapat mendengar apa yang tengah Andre perbincangkan didepan sana.
'Ya Tuhan, begini rupanya rasanya cinta bertepuk sebelah tangan,' keluh Niken dalam hati.
Hanya melihat wajahnya yang ternyata sudah dimiliki orang lain itu sakit juga rasanya dan lebih sakit lagi harus sadar diri karena tidak bisa memiliki. Nabila rupanya menyadari tingkah Niken yang aneh semenjak kedatangan tutor mereka. Diulurkannya tangan agar dapat menjangkau lengan Niken, setelah berhasil mencolek lengan Niken, Nabila bertanya dengan kode mata yang dijawab Niken dengan gelengan. Nabila pun diam memendam rasa penasarannya.
Waktu sembilan puluh menit yang digunakan Andre untuk berbincang-bincang yang sama sekali tidak Niken mengerti didepan anak teater ini akhirnya selesai juga. Sembilan puluh menit yang sangat menyiksa bagi Niken. Karena ini pertemuan perdana belum ada kegiatan sama sekali. Semua murid berhamburan keluar ingin segera pulang ke rumah karena waktu juga sudah semakin sore.
Niken berjalan keluar beriringan dengan Nabila. Hampir berdesakan dengan murid yang lain. Nabila yang awalnya diam saja teringat dengan tingkah aneh Niken.
"Nik, kamu tadi kenapa?"
"Ha?" Niken yang kedapatan melamun menoleh kaget karena Nabila menyenggol bahunya.
"Tadi waktu didalam kelas?"
"Kenapa memangnya aku?" Niken malah balik bertanya dan menggaruk rambutnya yang mulai terasa lepek.
"Kayak gelisah gitu. Sakit perut?" Nabila yang bertanya dengan raut khawatir membuat Niken bingung harus memberi alasan apa.
"Laper, tadi siang nggak sempet makan." Syukurlah otak Niken bekerja cepat mencari alasan.
"Mau makan dulu? Biar aku temani." tawar Nabila. Niken menggeleng sungkan, karena merasa bersalah padahal teman barunya ini terlihat tulus.
"Nggak deh, makan dirumah aja. Oya kamu pulang naik apa? Kita searah nggak?"
"Aku naik angkot." Lalu setelahnya Nabila menyebutkan alamat rumahnya yang ternyata berlawanan arah dengan Niken.
"Kamu bawa motor?" tanya Nabila setelah mereka hampir sampai diparkiran.
"Nggak." Niken terburu-buru mencari ponsel yang ia sembunyikan di tasnya agar tidak ketahuan guru. Ditekannya tombol panggil.
"Juuuuunnn." Niken merengek sedetik setelah Juna mengangkat panggilan darinya.
__ADS_1
"Hmm." Juna diseberang sana menyahut malas. Entah sedang berkelana dalam mimpi atau sedang nongkrong dikamar mandi, Niken tidak terlalu peduli.
"Jemput aku Jun, aku tunggu di depan gerbang. Oke!" Niken langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu persetujuan Juna.
"Pacar?" Kepo Nabila sambil tersenyum menggoda.
"Bukan. Tetangga aku," sahut Niken cuek karena sudah terbiasa dengan prasangka orang-orang yang mengira dirinya berpacaran dengan Juna.
"Tetangga tapi mesra." Niken tertawa ngakak mendengar kalimat Nabila yang terdengar cocok bila dijadikan judul lagu dangdut.
"Kita nunggu jemputan bareng ya? Duduk di halte depan." Niken mengernyit dengan ajakan Nabila.
"Katanya naik angkot?" Niken bertanya heran.
"Emang," jawab Nabila yang terus melangkah menyeberang jalan menuju halte yang tepat berada didepan sekolah mereka.
"Kok nunggu jemputan bareng? Nggak jadi naik angkot apa gimana?" Niken masih saja heran.
"Kamu dijemput tetangga tapi mesramu, aku dijemput supir angkot yang selalu ada untukku," jawab Nabila setelah mereka duduk manis di bangku halte. Banyak murid lain yang juga menunggu angkot seperti Nabila ataupun menunggu jemputan seperti Niken.
Niken melengos dengan wajah datar mendengar gurauan receh Nabila.
"Jun." Niken berteriak agak kencang memanggil Juna sambil menepuk bahunya. Juna hanya melirik melalui kaca spion motornya.
"Aku dapet temen baru. Cantik banget orangnya. Besok aku kenalin ya." Niken masih menggunakan volume suara kencang agar Juna yang tengah mengenakan helm mendengar suaranya.
"Untuk apa?" tanya Juna heran.
"Ya kenalan lah, kali aja cocok. Anaknya baik kok kayaknya." Niken berusaha meyakinkan yang justru disambut Juna dengan senyum meremehkan.
"Baru kenal tadi?"
"Iya."
"Belum ada dua puluh empat jam kenal, kok udah bisa nilai dia orangnya baik?" tanya Juna sarkas. Niken menggaruk pelipisnya.
"Eemmm, ya kelihatan aja dari muka dan tingkah lakunya." Juna menggelengkan kepalanya, miris dengan pemikiran polos Niken.
__ADS_1
"Orang yang banyak tatonya di cap sebagai preman dan brandalan padahal dia suka beramal. Ada juga yang wajahnya alim eh nggak taunya pemakai narkoba. Kamu pilih yang mana, Nik?" Niken memukul bahu Juna, antara malu dan gemas serta tidak dapat menjawab pertanyaannya.
***
"Orang yang banyak tatonya di cap sebagai preman dan brandalan padahal dia suka beramal. Ada juga yang wajahnya alim eh nggak taunya pemakai narkoba. Keren kata-katanya, mau aku catat ah, di buku harian kak Marsya" celetuk Marcel.
Marsya menoleh heran, "Kenapa harus di buku harianku?"
"Ya biar kakak nggak nilai orang sembarangan. Selama ini kan kakak selalu menilai orang dari covernya." Marcel sepertinya sengaja mengajak kakaknya berdebat.
"Hey Marcel, kapan ya aku menilai orang cuma dari covernya?" sengit Marsya tidak terima dengan tuduhan adiknya, sementara Marcel memainkan bibirnya mengikuti celotehan kakaknya.
"Itu buktinya kak Irza selalu kakak bilang jelek padahal dia mah ganteng. Iya kan ma? Calon mantu mama yang bernama Irza itu ganteng?" Marcel menatap mamanya mencari dukungan.
"Menurut mama sih ganteng, mirip Kim Soo Hyun," ucap Niken menanggapi ledekan Marcel.
"Ih jauh kali," sungut Marsya sebal. "Aku menolak keras Irza di bandingin sama Kim Soo Hyun." Marsya mencak-mencak.
"Masih gantengan Irza kemana-mana ya kak," ledek Marcel makin menjadi.
"Diam nggak. Aku masih mau dengerin kelanjutan cerita mama. Kalo kamu mau berisik, hus pergi jauh-jauh." Marsya membuat gerakan seolah mengusir. Marcel walaupun masih ingin lanjut meledek kakaknya tapi tetap menurut untuk tenang dan tak bersuara. Menunggu mamanya melanjutkan kisah.
"Jadi selepas mama kenal dengan Nabila --"
***
Niken melambai begitu melihat Nabila berdiri canggung didepan pintu kelasnya. Semenjak perkenalan di kelas teater hubungan mereka bisa dibilang semakin dekat. Sekarang Niken kemana-mana sudah tidak selalu bersama Juna lagi. Posisi Juna sudah dibilang tergantikan oleh kehadiran Nabila.
Nabila yang baru pertama kali ini mengunjungi kelas Niken kikuk begitu melangkahkan kaki kedalam dan mendapati ada sebagian yang menatap penasaran dirinya walau tak sedikit yang cuek bebek tidak peduli.
"Tumben kesini?" tanya Niken riang. Niken segera mengemasi barang-barangnya kedalam tas agar mereka segera ke kantin mengisi amunisi perut.
"Aku segan, masa tiap hari kamu melulu yang nyamperin ke kelas aku." Nabila menyahut dengan berbisik, masih tetap berdiri di depan meja Niken, menunggu Niken selesai memasukkan buku-bukunya.
"Halah kayak sama siapa aja," sahut Niken mengibaskan tangan dan segera bangkit keluar.
"Jun, yok ke kantin," ajak Niken. Juna beranjak dengan malas. Sebenarnya dia tidak bersemangat, entah kenapa hari ini tubuhnya agak lemas. Ingin tidur didalam kelas saja tapi agak risih juga bila didalam kelas sama sekali tidak ada orang.
__ADS_1
"Gara-gara kamu sering ke kelas aku, kamu jadi punya fans." Nabila terkekeh geli dan mendapat lirikan mata dari Juna.