Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Pelakor Berkeliaran


__ADS_3

Niken dan suaminya bergandengan tangan menyusuri pantai dengan langit yang mulai menguning. Setelah selesai bercerita dengan Marsya dan Marcel, kepala rumah tangga mereka tiba-tiba saja sudah berada di dalam hotel, ikut bergabung mendengarkan cerita Niken. Sayangnya, begitu suaminya tiba dan ikut bergabung Niken sudah selesai bercerita. Jadilah suaminya itu hanya menghela napas dan memutuskan untuk mandi dan mengajak mereka segera bergegas menikmati sunset yang sebentar lagi tiba.


Marsya dan Marcel memilih memisahkan diri, membiarkan mama dan papanya menikmati quality time berdua. Mereka lebih ke berburu wisata kuliner dan poto-poto untuk di unggah di media sosial.


"Lihat, mataharinya udah mulai tenggelam." Tunjuk Niken girang.


Mereka bergandengan tangan dan menghadap pantai menyaksikan keagungan yang maha kuasa. Suasana begitu romantis, apalagi view yang disajikan juga sungguh memanjakan mata membuat siapapun yang berada disana betah berlama-lama.


"Selamat sore pak!" sapa seorang perempuan, membuat Niken dan suaminya kompak menoleh.


"Eh, selamat sore bu Dina." Suami Niken juga menyapa tak kalah ramah sembari berjabat tangan.


"Saya kira tadi saya salah melihat, ternyata benar bapak perwakilan dari cabang Pekanbaru," ucap perempuan dengan perawakan khas suku Jawa itu tersenyum.


Niken menilai perempuan ini cukup menarik. Dengan postur badan yang cukup tinggi untuk ukuran perempuan, kulit sawo matang dan rambut bergelombang serta hidung mancung menambah kesan manis di wajahnya.


Suami Niken hanya tersenyum menanggapi perempuan bernama Dina itu. Diliriknya Niken yang masih berdiri tenang di sampingnya.


"Sedang menikmati keindahan pantai di Jogja ini ya pak? Saya kira bapak datang sendiri ternyata bapak mengajak adiknya," lanjut Dina sembari tersenyum ramah menyapa Niken. Niken sendiri tersenyum asimetris. Sudah biasa dianggap adik dari suaminya oleh orang-orang. Walau sudah biasa tapi tetap sebal juga.


"Eh ini.." Suami Niken ingin menjelaskan siapa perempuan yang berdiri disampingnya ini tetapi Dina sudah keburu menyahut, "Masih banyak pantai disini yang tak kalah indah dari ini pak, besok kemungkinan jadwal meeting kita hanya sampai siang, kalau bapak berkenan saya bisa menemani bapak menjelajahi pantai yang lain. Adik bapak juga bisa kok ikut di ajak."


"Eh bu Dina, ini tuh..."


"Sunset sudah tenggelam sepenuhnya pak, mari kita makan malam di saung sana, makanannya enak-enak loh," tawar Dina.


"Kak, aku mau beli es kelapa di ujung sana, kakak pergi duluan aja." Niken langsung beranjak menuju stand penjual es kelapa muda sebelum suaminya melarang dan komentar macam-macam.


Dilihatnya kebelakang, suaminya masih berdiri di tempat yang sama dan masih mendengarkan si perempuan bernama Dina-Dina itu asyik berceloteh entah menceritakan apa. Suaminya tampak menggaruk-garuk rambut belakang kepalanya.


Niken memesan sebungkus es kelapa muda yang ternyata di simpan di wadah cup dan menolak sewaktu si penjual menawarkan sebutir kelapa yang dapat dinikmati dengan duduk di pasir pantai dengan deburan ombak.


Niken kembali ke tempat suaminya berada. Mereka berjalan pelan, sepertinya akan menuju saung rekomendasi dari Dina untuk bersantap makan malam. Niken berjalan dengan tenang dan suaminya yang menyadari kehadiran dirinya, menghentikan langkah.

__ADS_1


Begitu sudah akan mendekati mereka, Niken sengaja berjalan oleng dan seolah-olah akan terjatuh. Es kelapa yang berada di tangannya sengaja Niken arahkan ke tempat Dina berdiri dan tumpah mengenai baju yang dikenakan perempuan itu. Dina menjerit antara kaget dengan kelakuan adik dari kliennya itu dan menjerit karena rasa dingin yang mengaliri dada hingga perutnya.


"Opss nggak sengaja, kak." Niken pura-pura terkejut dan menutup mulut. Wadah cup es kelapa ia buang ke tong sampah yang berada di dekat mereka.


Dina mengibas-ngibaskan baju yang sudah basah sebagian itu sembari menunjukkan wajah yang tidak enak di pandang menurut Niken.


"Bu Dina, ibu tidak apa-apa? Maaf ya, Bu." Suami Niken berdiri serba salah dan menatap istrinya yang tengah menunjukkan wajah songong ke arahnya.


"Tidak apa-apa pak, lagian ini bukan salah bapak. Mungkin adik bapak tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dina dengan senyum paksa dan berusaha berbicara selembut mungkin dengan Niken.


"Aku nggak papa kak, seharusnya aku yang tanya begitu sama kakak, kakak nggak papa kan?" Niken bertanya dengan wajah yang dibuat sekhawatir mungkin.


Dina menggeleng dan melirik lelaki yang berdiri di sampingnya, "bapak bisa nggak temani saya ke kos untuk berganti pakaian?" Dina berucap penuh harap.


Niken melotot terkejut dan menatap tajam suaminya. Siap mengeluarkan api naga bila sampai suaminya itu mengiyakan ajakan perempuan yang sok kalem di depannya ini.


"Eh, saya nggak bisa bu, saya udah dapat panggilan darurat agar segera kembali ke hotel."


Niken menghembuskan napas lega karena suaminya masih takut dengan tatapan laser nya dan tertawa jahat ketika melihat raut kecewa tergambar jelas di wajah Dina.


"Saya yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat baju ibu basah."


"Nggak papa pak. Permisi pak," pamit Dina seraya mengangguk tanpa menghiraukan keberadaan Niken.


"Perasaan nggak ada deh yang minta di temani makan malam dan minta rekomendasi saung mana yang enak," dumal Niken sebal.


Suami Niken menoleh, "Kamu sengaja ya, ma?"


"Sengaja apa?" tanya Niken sembari berjalan pelan menuju hotel. Ada kepuasan tersendiri telah berhasil mengusir bibit pelakor yang mencoba menggoda suaminya.


"Itu, sengaja nyiram bu Dina pake es kelapa."


"Masih syukur aku siram pakai es, nggak aku siram pake kuah panas bakso." Niken berucap dengan nada datar membuat suaminya menggeleng dan tersenyum geli.

__ADS_1


"Tapi dia klien ku loh sayang, aku kan jadi nggak enak sama dia kalo ketemu besok. Mana masih ada sisa enam hari lagi kita disini." Suami Niken memeluk bahu istrinya karena tau sebentar lagi pasti nyonya di hatinya itu akan mengajukan protes.


"Jadi kamu lebih bela dia daripada aku," sengit Niken sembari memandang tajam suaminya.


Tuh kan!


"Nggak sayang. Aku kan cuma bilang nggak enak aja."


"Kalo nggak enak ya dibuang, kasih kucing." Niken masih sewot.


"Uluh-uluh yang cemburu nya langsung eksekusi," goda suaminya mencubit pipi Niken.


"Aku nggak suka basa-basi."


"Mamaaa papaaaa!" Niken dan suaminya kompak menoleh.


Anak-anaknya berlari saling mengejar untuk dapat sampai lebih dulu. Marcel yang lebih dulu sampai dan memegang erat lengan Niken, disusul Marsya kemudian. Nafas mereka terengah-engah.


"Kalian darimana sih?" tanya si papa heran melihat kelakuan anak-anaknya yang masih seperti anak-anak padahal mereka sudah beranjak remaja bahkan si kakak sudah bisa dikatakan dewasa dengan usianya yang hampir menginjak 16 tahun.


"Jalan-jalan dong pa sambil jagain kakak biar nggak di godain bule." Marcel menyahut bangga. Marsya hanya melengos malas.


"Emang ada bule, dek?" tanya Niken heran. Setau dirinya yang banyak bule hanya di Bali, sedari tadi dia berjalan menyusuri pantai, belum menemukan satupun bule yang berseliweran.


"Ada ma, banyak disana, ganteng-ganteng lagi." Marsya menyahut sembari menunjuk sekumpulan bule berada.


"Jangan nikah sama bule, kak," sahut papanya.


"Kenapa, pa?" Marcel yang bertanya tapi semua menanti jawabannya.


"Ongkos keluar negeri mahal," jawab si papa dengan raut datar.


"Marsya, Marcel, tugas kalian sekarang kawal papa kalian dimana pun berada." Niken memberi perintah yang membuat anak-anak dan suaminya bertanya kenapa.

__ADS_1


"Ada banyak pelakor berkeliaran," sahut Niken datar.


Suami Niken menepuk jidat. Alamat seumur hidup kejadian ini akan terus diungkit.


__ADS_2