Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Kamu Cantik


__ADS_3

Seperginya Rayya, Niken menggeser duduknya dan berbisik kepada Adila.


"Dil, kayaknya yang gue takutin bukan si cantik Rindy deh yang bakal ngerebut Rayya dari gue."


"Terus siapa?" Tanya Adila penasaran. Adila bahkan sampai menempelkan kepalanya agar lebih dekat dengan Niken.


"Elo!" sahut Niken datar.


Adila menoleh horor dan menunjuk dirinya sendiri, "gue?" Niken mengangguk masih dengan mempertahankan wajah datarnya.


"Aseemm!"


Perform yang dimaksud oleh Rayya ternyata permainan gitar yang dimainkan oleh Rayya dan seorang perempuan yang mungkin teman sekelas Rayya sebagai penyanyinya. Niken sendiri tidak mengenal siapa perempuan yang kemungkinan kakak kelasnya itu tapi yang pasti kolaborasi mereka dalam menyanyikan lagu-lagu sholawat itu sungguh memukau. Adila sendiri sampai tak berhenti meremas tangan Niken karena gemas sedangkan Marwah dan Salsa sudah bersiul-siul berisik menggoda Niken.


Acara maulid nabi itu berjalan lancar dan sukses, Niken dan teman-temannya bahkan tidak beranjak dari tempat duduk masing-masing seperti rencana awal mereka yang akan kabur bila acaranya membosankan. Begitu acara bubar, semua murid diperkenankan kembali ke kelas masing-masing. Riska dan yang lainnya langsung membubarkan diri dengan keluhan gerah karena cuaca yang cukup terik di siang menjelang sore ini.


"Dil!"


"Hmm." Adila menyahut sembari mengipas wajahnya dengan tangan.


"Gue kayaknya belum bisa jadi umat muslim seutuhnya deh, baru pakai hijab setengah hari aja gue udah kegerahan."


"Gue juga nih, Nik, sumpah panas banget. Salsa sama Marwah kabur kemana, sih?"


"Ke kantin, mereka langsung beli minuman."


"Lo nggak nitip, Nik? Mereka ke kantin kok nggak ngabarin gue sih? Gue kan mau ikut." Adila misuh-misuh sendiri, "ayo Nik, kita ke kantin juga. Gue haus banget." Adila langsung menyeret Niken dan membawanya ke arah kantin. Kontan saja Niken langsung menghentikan Adila.


"Gue udah nitip minuman sama mereka Dil, lagian pun gue males banget ke kantin, pasti semua anak-anak pada nyerbu kantin."


"Ya udah deh kalo lo udah nitip minuman sama mereka. Kita tunggu dikelas aja."


Begitu sampai di kelas, lagi-lagi papan tulis dihiasi dengan coretan Niken love Mulyono dan sebagainya. Niken hanya melirik dan langsung duduk di bangkunya dengan lesu. Gerah karena hijab dan cuaca panas ditambah lagi dengan haus yang menggerogoti tenggorokan membuat Niken malas sekali bila harus meluangkan waktunya untuk menghapus coretan tidak berguna itu, lebih baik Niken berleha-leha di bangkunya.


Justru Adila lah yang langsung secepat kilat mengambil penghapus dan menghapus coretan yang memenuhi hampir seluruh luas papan tulis itu.


"Lama-lama bosan juga gue tiap hari selalu ngapusin papan tulis melulu," keluh Adila.


"Nggak usah dihapus Dil, biarin aja, lama-lama juga yang nulis bosan sendiri," sahut Niken ringan. Niken bersandar didinding dan mengipasi wajahnya dengan buku tulis. Adila sendiri tengah melepas hijabnya dan langsung mencari buku tulisnya sendiri mengikuti jejak Niken.

__ADS_1


"Tapi mereka nggak ada bosan-bosannya, Nik."


Niken sendiri sebenarnya sudah bosan dengan ulah orang yang kurang kerjaan itu dan penasaran setengah mati siapa sebenarnya yang setiap hari tidak ada lelahnya menulis tulisan tidak bermanfaat itu tapi biarlah, Niken tidak mau ambil pusing walaupun sebenarnya Niken malu dengan godaan teman-temannya yang setiap hari selalu menyebutnya dengan sebutan nyonya Mulyono.


***


"Assalamualaikum!" Terdengar suara salam dan luar dan tak lama muncul si papa, menenteng tas kerja dengan wajah lelah yang tidak bisa di tutupi.


"Waalaikumsalam!" sahut Niken dan kedua anaknya kompak.


Marsya segera bangkit mengambil tas kerja papanya sedangkan Marcel langsung memijit pundak si papa begitu lelaki paruh baya itu duduk. Niken sendiri segera menjerang air panas untuk mandi dan membuat secangkir kopi.


"Nggak mau mandi dulu, pa?" tanya Niken begitu selesai membuat kopi dan menyuguhkan ke hadapan suaminya. Air untuk mandi masih berada di atas kompor.


"Nanti deh, mau minum kopi buatan istri dulu," ujar si suami sembari senyum-senyum genit. Marsya yang telah kembali dari menyimpan tas kerja papanya memutar bola mata begitupun Marcel. Mereka sudah tidak heran dengan kelakuan papanya yang selalu merasa masih ABG.


"Bisa ae si akang," balas Niken.


"Tumben udah mau pukul sepuluh malam masih pada kumpul? Biasanya abis isya udah nggak nampak batang hidungnya. Asyik dikamar masing-masing," tanya papa nya heran sembari menyeruput kopi buatan istrinya dengan pelan.


Marsya dan Marcel saling lirik lalu kompak mengarahkan mata kepada sang mama. Berharap mamanya mau memberi alasan mengapa sampai jam segini masih berada di ruang keluarga.


"Biasanya juga aku pulang malam kamu udah molor," celetuk si suami ringan. Niken melotot tak terima tapi memilih diam saja.


Marsya dan Marcel pamit pergi tidur. Tinggallah Niken dan suaminya.


"Aku siapin air panas dulu ya, kamu buruan mandi! Entar kemalaman. Udah pukul sepuluh lewat ini," perintah Niken sembari beranjak menyiapkan air panas dan keperluan mandi suaminya.


Si suami juga ikut beranjak dan langsung memeluk tubuh istrinya yang sudah hampir mencapai dapur.


"Habis mandi kita program punya anak ya?" rayu sang suami yang di sambut Niken dengan memutar bola mata.


"Ingat umur, udah tua. Aku udah nggak kuat punya anak lagi," omel Niken sembari menikmati pelukan suaminya.


"Yang kerja kan aku, kamu tinggal nerima aja. Aku masih kuat kok," sahut sang suami meyakinkan.


Niken tertawa geli dan segera mencubit lengan suaminya.


***

__ADS_1


Niken sedang menunggu bus yang akan mengantarkan dirinya pulang saat seseorang menyerukan namanya.


"Aku kira kamu udah pulang dari tadi." Rayya yang rupanya menyerukan nama Niken berjalan terburu-buru menghampiri.


"Belum kak, tadi begitu bubar acara, aku duduk-duduk dulu dikelas bareng Adila. Kakak kok udah pulang? Bukannya kakak ikut jadi panitia ya?"


"Ijin pulang duluan," sahut Rayya diplomatis.


"Emang boleh?" tanya Niken heran.


'Bukannya kalau jadi panitia itu harus sudah beres semua baru boleh pulang ya?' Tentu saja pertanyaan itu hanya ditanyakan Niken untuk dirinya sendiri.


"Boleh kok. Ini buktinya aku ada disini." Niken hanya mengangguk mendengar jawaban yang diberikan Rayya. Rayya yang sudah terbiasa dengan diamnya Niken mengeluarkan kamera dari saku baju koko yang dikenakannya.


"Boleh foto bareng, nggak?"


"Ha?"


"Foto." Rayya menunjukkan kameranya.


"Untuk apa kak?" tanya Niken heran dengan permintaan Rayya.


"Ya untuk kenang-kenangan lah. Masa aku nggak boleh punya foto pacar aku sendiri." Kalimat yang diucapkan Rayya sederhana sebenarnya tapi Niken sudah tersipu malu mendengarnya sampai rona diwajahnya berubah.


"Bolehkan?" tanya Rayya lagi. Niken mengangguk mengiyakan dan Rayya langsung mendekatkan wajahnya disamping wajah Niken.


Mereka berpose bersama dengan Rayya yang masih mengenakan peci dan baju Koko biru serta Niken yang mengenakan jilbab segi empat berwarna coklat susu dan baju semi kebaya berwarna pink. Tak puas dengan pose duduk, Rayya meminta tolong kepada murid lain yang kebetulan juga sedang menunggu bus yang sama dengan Niken untuk memotret mereka berdua dengan pose berdiri.


Bus datang tepat setelah mereka selesai berfoto bersama. Niken langsung berdiri begitu bus berhenti tepat didepan mereka. Rayya pun ikut berdiri.


"Kakak nggak ikut naik?" tanya Niken heran karena melihat Rayya yang hanya berdiri diam padahal Niken sudah tiga langkah didepannya.


Rayya menggeleng dan mengusap tengkuk dengan salah tingkah, "tadi aku ijin cuma mau nemeni kamu nunggu bus." Rayya melirik kearah lain sejenak dan menghadap Niken kembali.


"Aku udah bilang belum kalau kamu cantik?"


Blushhh


Niken langsung ngacir naik kedalam bus tanpa berani menghadap Rayya. Begitu duduk di kursi bus, Niken langsung mengusap wajahnya dengan lengkungan bibir yang hampir menyentuh telinga. Pasti wajahnya sudah semerah tomat sekarang.

__ADS_1


__ADS_2