
Setelah memasuki kelas 8c dan memilih bangku masing-masing, Eni menghampiri Niken dan menarik bangku disebelah Niken agar mereka bisa bergosip ria sambil menunggu bel tanda pelajaran dimulai, berdering. Aksinya diikuti oleh Fanny. Niken membiarkan saja teman-temannya mengerubungi mejanya. Sudah biasa.
"Eh, tapi Juna itu lumayan loh, waktu MOS kemarin dia cukup digemari dikalangan anak-anak baru." Info Fanny yang rupanya masih membahas seputaran Juna.
"Masa sih?" Niken meragukan kevalidan info itu.
"Iya. Banyak anak-anak berebut minta nomor telepon dia tapi nggak ada yang beruntung, pelit banget dia nggak ada yang dikasih satupun. Kamu punya nomor teleponnya Juna, Nik?" Niken tersentak kaget mendengar pertanyaan Eni.
"Punya."
"Fix. Kita aja temen sekelasnya nggak ada yang punya nomor telepon Juna. Seistimewa itu dirimu Niken Aryani!" seru Eni heboh.
Niken hanya bisa garuk-garuk rambut yang sebenarnya tidak gatal sama sekali." Niken manggut-manggut mendengar penjelasan Eni.
Menurut Niken sih wajah Juna emang lumayan tapi masih lebih ganteng wajah Rayya, Juna cenderung hitam manis sedangkan Rayya berkulit putih bersih, kayak mandi susu kalo kata Adila.
Eh kok tiba-tiba jadi inget kak Rayya sih!
***
"Jun." Niken harus berteriak karena posisi mereka saat ini yang berada di atas sepeda motor.
"Hmm."
"Langitnya gelap mau ujan." Beritahu Niken.
"Nenek-nenek kayang juga tau Nik, kalo langit gelap tandanya mau ujan." Juna pun ikut berteriak agar Niken juga dapat mendengar suaranya.
Saat bel pulang sekolah berdering, Niken segera berkemas dan menunggu Juna diparkiran. Tak sampai lima menit menunggu, Juna tiba juga diparkiran. Begitu mereka keluar dari gerbang sekolah langit mendung bersiap menumpahkan airnya. Juna melajukan sepeda motornya agak kencang membuat Niken juga mengeratkan pegangan tangannya di pinggang Niken.
"Berhenti dulu. Aku nggak mau keujanan!" teriak Niken lagi yang belum sempat dijawab Juna karena hujan sudah turun mengguyur bumi. Juna cepat-cepat memarkirkan motornya disebuah mini market yang sangat kebetulan mereka lewati.
Begitu menginjakkan kaki di teras minimarket, Juna langsung terburu-buru menduduki bangku yang tersedia di teras itu dan menyisahkan satu untuk Niken karena sudah mulai banyak para pengendara motor yang juga ikut berteduh seperti mereka. Niken menepuk-nepuk lengan baju dan rambutnya yang agak basah karena sempat terkena rintikan hujan sembari melangkah pelan mengikuti Juna yang sudah duduk manis.
"Kamu sakit, Nik?" Niken menoleh mendengar pertanyaan aneh Juna.
"Enggak. Alhamdulillah sehat walafiat. Kenapa?" tanya Niken heran.
__ADS_1
Juna menggeleng pelan, "Muka kamu pucat."
"Mungkin penyakit kurang darah ku kambuh," sahut Niken santai. Tak terlalu ambil pusing walau ia tau saat ini Juna tengah menatapnya dengan ekspresi khawatir, mungkin takut kalau tiba-tiba Niken pingsan.
"Haus nggak?" Setelah hening sekitar lima menit Juna bertanya lagi.
"Nggak terlalu dibanding haus aku malah agak laper." Juna langsung beranjak sedetik setelah Niken selesai bicara. Niken sampai mendongak dan mengikuti langkah Juna dengan pandangan matanya dan memilih cuek bebek.
"Nih." Juna menyerahkan sebungkus roti selai coklat dan sekotak minuman rasa kacang hijau dihadapan Niken yang tengah asyik melamun memandangi hujan. Diliriknya minuman rasa kacang hijau yang tergeletak dihadapannya dan minuman rasa jeruk yang dipegang Juna.
"Jun, tukar." Niken menyodorkan minumannya.
"Kenapa?" tanya Juna heran.
"Aku nggak suka rasa kacang ijo. Aku mau punyamu."
"Kamu lagi kurang darah, minuman kacang ijo bagus untuk nambah darah," sahut Juna tak menghiraukan rengekan Niken.
"Tapi aku nggak suka, Jun. Tukar ya?"
"Nggak."
Akhirnya Niken terpaksa meminum minuman rasa kacang hijau yang dibelikan Juna untuknya. Niken melirik sengit Juna yang asyik saja menyedot minuman rasa jeruknya sedangkan Niken berjuang menghabiskan satu kotak kecil saja rasanya seperti menghabiskan bergalon-galon air.
"Jun, Fanny minta nomor teleponmu Boleh?" Disela kegiatannya memakan roti dan menunggu hujan reda Niken tiba-tiba teringat percakapannya dengan Eni dan Fanny tadi pagi. Niken akan memastikan sendiri apa benar Juna tidak menyimpan nomor telepon teman-teman sekelasnya, karena Niken sendiri saja menyimpan nomor teman dari kelas lain yang ia kenal.
Walaupun harus mengorbankan nama Fanny.
"Untuk apa dia minta-minta nomor aku?" Ish sengak banget sih jawabannya, gerutu Niken walau hanya diucapkannya dalam hati.
"Untuk kasih makan kucing," sahut Niken sewot. Juna menoleh mendengar jawaban Niken, "Boleh ya?" tanya Niken lagi.
"Nggak."
Niken langsung cemberut.
***
__ADS_1
***
"Jun, pacarmu tumben ke kantin sendirian?" Doni menyenggol lengan Juna yang tengah asyik makan soto.
Juna berdecak, tapi tak ayal ia menoleh juga kearah yang ditunjuk Doni. Dilihatnya Niken yang celingak-celinguk kebingungan. Doni dan Rizal sudah cengengesan dan saling sikut melihat perhatian yang selama ini diberikan Juna kepada Niken. Katanya sih cuma teman, tapi Doni dan Rizal sama sekali tidak percaya. Mana ada cuma teman tapi berangkat dan pulang sekolah selalu bareng, belum lagi mata Juna yang selalu jeli dimana pun Niken berada dan diam-diam curi-curi pandang. Siapapun pasti akan curiga kalau Juna ada rasa dengan Niken.
"NIKEENN!" Niken menoleh dan langsung menghampiri Juna dengan langkah riang.
"Hai teman-temannya Juna." Niken yang memang belum mengenal teman baru Juna ini menyapa keduanya sembari melambaikan tangan.
"Hai juga pacarnya Juna." Doni dan Rizal menyahut heboh dan tak kalah semangat dengan keriangan yang ditampilkan Niken. Niken hanya tertawa dan Juna langsung melotot ke arah mereka berdua yang tentu saja tak digubris keduanya.
"Yang nyebar berita kalo kami pacaran itu sebenarnya siapa sih?" tanya Niken heran yang tak mendapat tanggapan sama sekali dari ketiga anak remaja ini.
"Aku Doni." Doni mengulurkan tangan yang segera saja disambut Niken dengan menyebutkan namanya juga. Begitu juga Rizal.
"Tumben sendirian? Yang lain kemana?" Tanya Juna begitu Niken selesai berbasa-basi dengan Doni dan Rizal.
"Pada nggak mau diajak ke kantin. Mereka lagi sibuk ngerjain PR. Aku kehausan, mau beli minum tapi antrinya ngalahin antri sembako," keluh Niken, sembari menoleh kearah penjual minuman yang masih saja ramai.
"Nih minum. Masih baru." Juna tanpa ragu menyodorkan teh manis dingin yang ia punya dihadapan Niken. Niken yang memang sudah kehausan langsung saja meminumnya.
"Makasih Juna," sahut Niken setelah selesai menghabiskan setengah gelas teh manis dingin itu. Juna yang sudah menandaskan semangkok soto miliknya meminum teh manis setengah gelas yang disisakan Niken. Entah sengaja disisakan oleh Niken atau Niken yang tak sanggup menghabiskannya. Juna tak mau ambil pusing. Yang penting ada minuman dihadapannya.
Niken melirik Juna yang tengah meminum teh manis dingin bekas darinya. Rupanya tak hanya Niken yang melirik, Doni dan Rizal bahkan terang-terangan memperhatikan Juna. Juna sendiri cuek saja.
"Kamu ada yang mau dibeli lagi?" Juna menghadap Niken yang tengah melongo memperhatikan dirinya. Sontak saja Niken gelagapan dan langsung menggeleng.
"Nggak ada, aku tadi kesini cuma mau beli minum. Aku duluan deh kalo gitu. Dadah semuanya." Niken berpamitan tak hanya kepada Juna tapi juga kepada Doni dan Rizal.
"Gitu katanya nggak pacaran, minum di gelas bekas Niken juga dijabanin." Doni geleng-geleng kepala.
"Jangan-jangan mereka udah pernah ciuman lagi Don." Rizal berbicara seolah berbisik-bisik tetapi siapa pun tau kalau volume suaranya dapat didengar oleh temannya yang berada diseberang meja.
"Sembarangan." Juna langsung melempar sedotan kearah Rizal. Air dari sisa sedotan mengenai baju seragam dan membuat Rizal misuh-misuh.
"Aku nggak pacaran sama dia," lanjut Juna.
__ADS_1
"Hari ini nggak pacaran, tau deh besok." Doni tertawa setelah mengucapkan kata itu sementara Juna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Malas membahas lebih lanjut. Toh, mereka tetap nggak percaya.