
"Papa ada tugas ke Jogja seminggu, gimana kalo kita sekalian liburan? Kebetulan banget kan, kalian juga lagi libur semester," ucap kepala rumah tangga di rumah itu, suatu sore. Saat mereka sedang santai menikmati suasana senja sembari melihat orang berlalu lalang dari teras rumah dengan tujuan masing-masing serta para tetangga yang lewat dan sesekali menyapa.
Marsya dan Marcel terdiam, saling lirik dan selanjutnya bersorak senang. Tak peduli orang-orang yang berlalu lalang melirik mereka heran. Kesempatan langka, mereka dapat berlibur ke Jogja. Liburan paling jauh mereka selama ini adalah Jakarta dan Medan serta Palembang. Itupun lebih ke mengunjungi para saudara daripada healing.
"Kapan berangkatnya, pa?" tanya Niken. Anak-anaknya masih bersorak-sorai merancang apa saja kegiatan yang akan dilakukan selama di Jogja nanti.
"3 hari lagi. Tadi surat pengantar nya udah masuk, tinggal persiapan dan berangkat. Papa inisiatif ajak kalian sih daripada anak-anak nggak kemana-mana. Ya, walaupun harus rogoh kocek sendiri karena yang ditanggung perjalanannya cuma papa." Lelaki yang tak lagi muda itu memberi penjelasan.
"Ya lumayanlah pa, ongkos pesawat cuma bertiga yang bayar sendiri, makan juga kami cuma bertiga, semua-semua cuma bertiga," canda Niken.
"Tapi papa disana kerja, jadi ya kemungkinan kalian kalo mau jalan-jalan juga bertiga." Sang suami ternyata tak keberatan karena memang liburan ini di sambi dengan kerja.
"Nggak papa deh pa, papa yang cari duit kami yang ngabisin," celetuk Marcel yang di angguki oleh Niken dan tawa Marsya.
Persiapan yang dilakukan selama 3 hari itu ternyata cepat sekali berlalu. Kini keluarga kecil itu sudah berada di Jogja dan sudah istirahat di sebuah hotel yang tidak terlalu mewah. Mereka memilih hotel yang tidak terlalu mewah karena selain harganya lebih murah, mereka juga hanya numpang tidur di hotel tersebut.
Mereka melakukan penerbangan pagi sehingga sampai Jogja masih ada waktu untuk beristirahat dan berencana menikmati sunset di sore hari. Papa mereka begitu sampai langsung meluncur ke kantor cabang tanpa sempat beristirahat.
Marsya, Marcel serta mamanya kini tengah duduk santai di balkon hotel menikmati pemandangan pantai yang nampak dari kejauhan. Mereka lebih memilih duduk bersantai daripada istirahat dan tidur. Seperti biasa, Niken duduk di tengah serta Marsya dan Marcel mengapitnya.
__ADS_1
"Ma, gimana keadaan Niken setelah pindah ke Pekanbaru?" tanya Marsya tiba-tiba. Ia teringat mamanya masih menggantung cerita masa mudanya.
"Oiya, lanjutin ma!" seru Marcel semangat.
Niken memandang jauh kedepan. Menggali memori indah saat pertama kali menginjakkan kaki di SMP barunya. Dengan senyum tipis yang terukir, Niken berujar, "waktu pertama kali pindah sekolah ya? Jadi waktu itu..."
***
Hari yang ditunggu-tunggu Niken akhirnya tiba juga. Sekolah baru dan semoga saja masa depan baru. Niken berangkat sekolah dengan semangat yang membara setelah seminggu dari waktu kepulangannya ia habiskan mencari sekolah terbaik yang terjangkau oleh otaknya. Akhirnya disinilah dirinya berada.
Di SMP Hang Tuah.
"Hai semua, kenalin nama saya Niken Aryani dari SMP Budaya Jakarta." Niken memperkenalkan dirinya setelah sebelumnya diantar oleh wali kelasnya dan Niken berada di kelas 7c.
"Panggil aja aku Niken," sahut Niken kalem seraya tersenyum malu. Niken juga harus menyesuaikan bahasa disini. Penggunaan sapaan Lo Gue masih awam disini, daripada dikira murid sok gaul, Niken memilih mengikuti kebudayaan disini yang masih menggunakan sapaan aku kamu.
Setelah berkenalan singkat dengan teman-teman barunya, Niken diarahkan untuk duduk di bangku paling belakang, karena hanya bangku itu yang belum ada penghuninya. Niken menurut saja, toh hanya masalah urutan duduk, mau duduk di mana pun Niken tidak masalah, selagi matanya masih sehat, dapat melihat dari jarak dekat maupun jauh.
Niken mengikuti pelajaran setekun mungkin, karena belum ada teman yang ia kenal dikelas ini. Mungkin ada satu dua teman dari SD nya dahulu yang bersekolah disini tapi Niken belum bertemu. Mungkin juga berada dikelas lain karena mustahil bila tidak ada teman dari SD nya yang bersekolah disini berhubung SMP ini termasuk salah satu SMP favorit dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Bel tanda istirahat berdering. Niken mengemasi buku-buku pelajarannya dan masih bingung akan beranjak ke kantin atau tetap di dalam kelas karena belum ada satupun teman yang berkenalan dengannya. Ketika masih menunduk memeriksa jumlah pena dan pensil yang dibawa, ada seseorang yang mencolek lengannya dan menanyakan kabar. Niken mendongakkan kepala dan tertawa melihat seseorang itu.
"Juna!"
"Kamu sekolah disini, Jun?" jawaban Juna hanya berupa anggukan dan malah memandangi wajah Niken membuat Niken jadi salah tingkah.
"Kok bisa balik kesini lagi? Nggak betah di Jakarta?" Juna bertanya setelah sebelumnya tertawa karena berhasil membuat Niken salah tingkah.
"Emang disini udah nggak boleh nampung aku lagi, ya?" Juna hanya mengedikkan bahu.
"Sayang aja kenapa nggak nunggu sampai satu semester baru pindah. Nanggung kan sebulan lagi."
"Nggak betah aku, Jun disana." Niken memberi alasan paling umum yang sekiranya tidak membuat Juna bertanya-tanya lagi kenapa dia harus pindah sekolah.
"Bilang aja kamu nggak betah karena jauh dari ketiak omak kau," gerutu Juna yang langsung dihadiahi tawa oleh Niken.
"Kantin yuk. Aku traktir sebagai ucapan selamat datang di SMP Hang Tuah." Tentu saja Niken bergembira ria menyambut ajakan Juna.
Sepanjang waktu istirahat, Niken habiskan mengobrol tentang keadaan teman-teman mereka setelah Niken tinggal bersekolah di Jakarta. Ternyata tidak banyak teman-teman Niken yang bersekolah di SMP Hang Tuah, kebanyakan dari mereka memilih bersekolah di SMPN 1 yang memang telah dipatenkan menjadi SMP terfavorit di daerah mereka.
__ADS_1
Niken dan Juna sendiri berada di SD yang sama. Rumah mereka juga bisa dibilang tidak terlalu jauh, hanya berbeda jalan. Walau begitu hubungan mereka tidak begitu dekat, hanya sebatas kenal nama dan wajah serta berada disekolah yang sama.
Perpisahan mereka yang terjadi hanya lima bulan tentu saja masih sangat melekat di ingatan Juna bahwa Niken teman SD nya dulu. Maka dari itu begitu waktu istirahat tiba Juna langsung menghampiri Niken dan berbasa-basi menyapanya. Niken yang tidak begitu memperhatikan wajah temannya satu persatu tentu saja kaget dihampiri Juna yang ternyata satu kelas dengannya.