
Niken kembali ke kelas dengan rasa malu bukan kepalang. Rayya mengumumkan status mereka ke seantero sekolah sedangkan Niken sendiri saja hanya dengan ke tiga temannya berani bercerita itupun dengan rasa malu yang sudah berada di level 1000. Tapi tak dapat dipungkiri, Niken senang karena Rayya tidak malu mengakui bahwa mereka berpacaran. Wajahnya tidak jelek-jelek amat kan untuk bersanding dengan si ketua OSIS?
Niken menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan tersenyum-senyum sendiri disepanjang lorong kelas. Dirogohnya kantong baju dan menemukan permen karet pemberian Rayya disana. Sepertinya ide untuk menjadikan permen ini sebagai pajangan tidak buruk-buruk amat. Niken hampir terkekeh geli sendiri.
Raut bahagia Niken sirna tatkala Niken berbelok masuk kedalam kelas dan menemukan teman-temannya memandang Niken dengan raut geli. Awalnya Niken heran tapi begitu Niken duduk di bangkunya dan melihat papan tulis seketika Niken berdiri kembali dan memandang teman-temannya satu persatu. Tak ada Marwah dan Salsa. Sekarang barulah Niken paham mengapa teman-temannya memandang Niken geli bahkan sekarang ada yang sudah tertawa.
Satu papan tulis penuh dengan coretan Niken mencintai Mulyono, Mulyono mencintai Niken, couple goals 7b dan banyak lagi coretan-coretan lainnya yang bernada serupa bahkan ada gambar sepasang orang berciuman. Niken langsung mengambil penghapus papan tulis dan dengan air mata yang sudah akan tumpah, Niken menghapus semua tulisan itu sebisanya.
Niken melompat-lompat agar dapat menjangkau tulisan yang berada di paling atas papan tulis. Sepertinya yang menulis coretan itu tau Niken tidak mungkin dapat menjangkau ujung papan tulis dengan tubuh pendeknya sehingga ditulisnya tebal-tebal Niken mencintai Mulyono di papan tulis paling atas.
Niken melempar penghapus ke sudut ruangan dekat dengan meja guru dan berbalik menghadap teman-temannya. Dipandanginya semua temanya satu persatu yang menertawakannya tanpa ada rasa empati sedikitpun. Mulyono yang menjadi bahan ejekan pun hanya duduk terdiam tanpa melakukan apa-apa. Mungkin dia senang menjadi bahan olok-olokan teman sekelas.
Ingin rasanya Niken berteriak untuk menyalurkan amarahnya tapi sebisa mungkin Niken tahan. Niken tidak mau semakin membuat teman-temannya senang dan menertawakannya lebih kencang lagi. Alhasil, Niken hanya keluar kelas tanpa mengatakan apapun dan justru keluar kelasnya Niken diiringi dengan tawa teman-temannya.
Niken berjalan tak tentu arah dan begitu melihat plank perpustakaan tanpa berpikir panjang Niken langsung berbelok dan memilih bangku yang paling sudut. Tersembunyi diantara tingginya rak-rak buku. Niken langsung menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangan dan terisak setelahnya.
Niken tak habis pikir, apa sebenarnya salahnya kepada mereka. Niken sudah menjadi murid normal lainnya. Niken tak pernah mencari masalah bahkan cenderung pendiam. Niken hanya berbaur dengan Adila, Marwah dan Salsa . Tak pernah Niken mengusik kehidupan temannya. Masih teringat jelas diingatan Niken, tak ada satupun temannya yang berinisiatif membelanya atau membantu untuk menghapus coretan itu. Niken jadi berpikir apabila ada ketiga temannya yang Niken anggap sebagai teman dekat, akankah mereka membelanya atau minimal membantunya menghapus coretan dipapan tulis itu?
Disaat Niken masih terisak, Niken mendengar bangku didepan mejanya berderit dan tak lama ada sesuatu yang dingin menyentuh lengannya. Sebenarnya Niken penasaran dengan sosok itu tapi Niken malu untuk mengangkat wajahnya yang pasti sudah sembab akibat menangis. Niken masih bertahan di posisinya tapi sosok itu tak juga kunjung pergi ataupun bersuara. Sensasi dingin di lengannya sudah mulai berkurang walaupun sesuatu itu masih ada dan menempel di lengannya.
Setelah 5 menit berperang dengan batin untuk mengangkat wajah atau tidak akhirnya Niken memutuskan untuk mengangkat wajahnya. Selain penasaran dengan siapa sosok yang duduk didepannya, lehernya juga pegal karena terlalu lama bertumpu dengan lengan. Niken agak terkejut dengan seseorang yang duduk didepannya sekarang ini. Tak ada sedikitpun terlintas dipikirannya seseorang ini akan menyusulnya kesini dan menemukannya.
__ADS_1
"Maaf," ucapnya pelan.
"Ngapain lo kesini? Gue muak lihat muka lo. Kalo nggak gara-gara lo semua ini nggak bakalan kejadian. Ngapain sih lo pake acara naksir gue segala?" Niken tau kata-katanya jahat tapi sungguh Niken benci dengan Mulyono.
Ya, yang menemukannya terisak disudut perpustakaan ini adalah Mulyono. Mulyono si penyebab semua olok-olokan ini terjadi.
"Hati kan nggak bisa milih mau suka sama siapa." Lirih Mulyono pelan seraya menatap meja.
"Sok puitis lo, masih kelas 7 juga udah pake acara ngomongin hati. Emang dengan lo diem aja waktu papan tulis itu penuh coretan ejekan untuk kita, lo punya hati?" sahut Niken murka. Syukur saja Niken memilih tempat duduk paling pojok yang jarang dilalui murid lain. Tempat duduk yang Niken pilih membantu menyembunyikan perdebatannya dengan lelaki gemulai ini.
"Iya aku tau aku salah, makanya aku minta maaf. Kamu juga masih kelas 7 udah pacaran sama kak Rayya."
"Iya sih suka-suka kamu karena kamu yang punya hati begitupun aku, suka-suka aku kan mau suka sama siapa?" Niken terdiam dan bangkit dari duduknya. Baru juga berjalan selangkah melewati Mulyono, Niken berhenti karena ucapan Mulyono.
"Apa karena kak Rayya ganteng, ketua OSIS, udah jadi kakak kelas makanya kamu lebih milih dia?"
"Jangan suka gue karena gue nggak suka lo." Setelah mengucapkan itu Niken meneruskan langkahnya keluar perpustakaan. Walaupun tujuannya tidak jelas mau kemana. Mau kembali ke kelas Niken masih tidak sudi melihat wajah teman-temannya apalagi dengan wajah sembabnya yang seperti ini. Alhasil, Niken memilih mengelilingi sekolah saja, biarlah betisnya encok daripada harus kembali ke kelas
Niken berjalan pelan melewati kelas demi kelas. Banyak kelas kosong tidak ada guru yang mengajar. Mungkin karena pengaruh hari pertama masuk sekolah setelah libur Idul Fitri. Sampai Niken tidak sadar sudah menapak di lantai 2, lantai paling atas di sekolahnya dan dikhususkan untuk murid kelas 2. Lantai yang sekalipun tidak pernah Niken pijak.
Melihat tangga yang terhubung kelantai atas lagi membuat Niken mengernyit penasaran. Sekolah mereka hanya terdiri dari 2 lantai. Mengapa ada tangga lagi disini? Selama sekolah di Budaya tempat yang pernah Niken kunjungi hanya kelas 7b Yang tak lain adalah kelasnya, kantin, perpustakaan, toilet, ruang guru itupun karena kewajiban menitipkan absen dimeja pak Jhon dan yang terakhir laboratorium.
__ADS_1
Tak pernah sekalipun Niken menginjak lantai 2. Karena didorong rasa penasaran, Niken nekad naik ke tangga itu. Diujung tangga terdapat pintu besi warna biru yang catnya sudah mulai pudar. Niken mengira pintu itu sudah rusak karena terdapat banyak karat tapi samar-samar Niken mendengar suara berisik orang-orang. Niken mendekat dan sampai hampir menempelkan telinga ke pintu agar dapat mendengar dengan jelas suara yang terdapat dibalik pintu itu.
"Lo cuma beli sebungkus. Mana cukup."
"Ya elah emang mau lo hisap berapa batang sih? Sebatang aja lo udah batuk-batuk."
"Ribut banget sih. Tinggal make doang nggak perlu beli." Niken mengernyit mendengar suara yang terakhir. Niken seperti familiar dengan suara itu. Tapi Niken tidak yakin.
"Cewek lo tau kalo lo kayak gini?"
"Ya nggak lah, gila aja. Baru jadian 2 bulan gue, entar kalo diputusin gue jomloh kayak lo-lo pada."
"Sombong amat lo." Terdengar tawa setelahnya.
Kalau saja Niken tidak ingat pintu biru itu sudah berkarat Niken pasti akan menempelkan telinganya di pintu itu. Sungguh Niken penasaran dengan suara seseorang yang ada diantara mereka. Niken sangat yakin sekali mengenal suara itu. Karena sudah terlanjur sampai disini dan dorongan rasa penasaran sekalian saja penasaran yang lain harus dituntaskan. Itu tekad Niken. Kalau Niken salah orang Niken akan minta maaf, urusan mereka marah atau tidak karena Niken pergoki dan mengganggu aktifitas mereka, itu urusan belakangan.
Niken mendorong pintu itu yang anehnya tidak ada suara berderit sama sekali padahal bila dilihat dari kondisi pintunya akan aneh bila tidak ada suara yang ditimbulkan akibat dari pergerakan engselnya. Ternyata pintu itu penghubung ke rooftop. Niken berjalan pelan dan menemukan beberapa anak laki-laki yang sedang duduk-duduk santai dibangku kayu.
Ada Rayya diantara mereka.
Sedang merokok.
__ADS_1