Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Godaan Teman


__ADS_3

Sepanjang pelajaran Matematika berlangsung, Salsa tak hentinya menggoda Niken dengan cara melemparinya dengan gulungan kertas yang ia potong kecil-kecil, tak lupa senyuman geli Salsa lemparkan bila Niken kedapatan meliriknya. Susunan bangku di sekolah mereka terdiri dari satu meja dua bangku. Niken yang semeja dengan Adila berseberangan dengan Salsa yang semeja dengan Marwah.


Adila yang melihat tingkah absurd Salsa mengomel sebal, pasalnya kertas yang dilempar salsa terkadang mengenai dirinya.


"Sebenarnya anak itu kenapa sih? Tingkahnya nggak jelas banget. Liat nih, meja kita jadi penuh sampah." Niken yang sedari awal sudah tau maksud Salsa hanya bisa pasrah dan mengumpulkan remahan kertas itu dan mengumpulkannya di ujung meja.


"Udah biarin aja. Entar capek juga berhenti sendiri."


"Tapi masalahnya meja kita jadi penuh sampah Nik." Adila berbisik tertahan. Sebenarnya Niken juga sebal tapi Niken bisa apa selain diam.


Niken mengedarkan pandangan ke penjuru kelas dan tak sengaja dia melihat ke arah Mulyono yang ternyata tengah memandangnya sembari menopang dagu. Mulyono panik karena ketahuan memandangi Niken, dengan terburu-buru dia menyusun buku yang berada di mejanya padahal pelajaran tengah berlangsung. Dhani yang kebetulan menoleh kearah Niken mengikuti arah pandang Niken dan tersenyum geli.


Lonceng berbunyi. Waktunya istirahat. Surga bagi mereka yang begitu mendengar pelajaran matematika disebut sudah merasakan kepala berasap.


"Kantin woy kantin, laper." Marwah berseru heboh.


"Berisik." Rindy menyahut judes dari tempat duduknya.


"Ye nenek lampir." Marwah bersungut-sungut.


Benar seperti yang dikata Dhani. Rindy cocok sekali menjadi ketua kelas. Walaupun punya wajah baby face dengan pipi cabi, tapi galaknya ampun-ampunan. Banyak orang yang tertipu dengan penampilannya. Marwah bahkan anti sekali dengan Rindy.


"Mau kantin mana?" Adila bertanya. Mereka berjalan beriringan keluar kelas. Disekolah mereka disediakan dua kantin untuk anak-anak mengisi perut saat istirahat. Kantin depan dan kantin belakang.


"Kantin belakang aja." Marwah yang menjawab.


"Niken!" Niken yang dipanggil oleh Dhani tapi Adila, Marwah dan Salsa ikut menoleh.


"Aku teringat kamu." Tak lupa kecupan jauh Dhani berikan untuk Niken yang sudah berwajah datar. Salsa yang tau maksud dari Dhani seketika tertawa ngakak. Sementara itu Mulyono merona, padahal Niken yang mendapat godaan. Adila menjawil lengan Marwah.


"Ada apa sih?" Marwah yang tak tau pun hanya mengedikkan bahu dan langsung menyeret Salsa yang masih saja tertawa. Anjani menggandeng Riska yang rasanya sudah ingin mengacak-acak rambutnya karena gemas dengan tingkah Ahmad.


"Mulyono nembak Niken." Adila dan Marwah langsung menoleh kearah Niken begitu mendengar info yang dibawa Salsa. Sementara Niken yang baru setengah badan ingin duduk mematung dan melotot ke arah Salsa.


Begitu tersadar dengan keterkejutannya, Niken langsung melempar Salsa yang tertawa terbahak-bahak dengan serbet yang kebetulan ada di atas meja.


"Jangan buat pengumuman ngaco."


"Beneran Nik, Mulyono nembak lo?" Adila langsung bertanya heboh.

__ADS_1


"Nggak ya, jangan dengerin Salsa." Niken melirik sengit kearah Salsa.


"Iya juga nggak papa kali Nik." Marwah menyahut kalem dari tempat duduknya.


"Tapi ya lo harus sabar karena gue yakin lo bakalan kalah gemulai dari dia," lanjut Marwah.


"Kalian mau pesen apa? Biar gue pesenin." Salsa beranjak dari tempat duduknya setelah mendapat request menu teman-temannya.


"Gimana ceritanya sih Nik kok Mulyono bisa nembak lo?" Adila masih saja heboh.


"Gue nggak ditembak kok, tadi pagi dia cuma ngasih coklat aja." Niken mencoba menjelaskan dengan sabar.


"Ihhh kok bisa sih? Coklat kan tanda sayang, iya nggak Wah?" Marwah hanya mengangguk.


"Sayang kalau dibuang."


"Ya kalau sayang dibuang kan bisa aja dikasihkan Herman yang jelas-jelas teman se mejanya, ngapain dia jauh-jauh nyebrang meja cuma mau ngasihkan coklat doang." Adila nyerocos tak tentu arah.


"Udah deh Dil, ngapain sih heboh" Marwah berujar tenang.


"Cakep." Niken senang karena Marwah tak seheboh Adila dan segacor Salsa.


"Marwaaaahhh." Niken hampir menangis dibuatnya. Sungguh Niken sangat malu bila harus digodain dengan Mulyono. Mulyono yang terkenal dengan julukan si gemulai. Adila dan Marwah tertawa mendapati reaksi Niken.


"Hai hai hai." Salsa datang dengan nampan berisi penuh makanan.


"Ini mie goreng untuk Niken, soto untuk Marwah dan Adila, mie ayam untuk diriku." Setelahnya Salsa berlalu untuk mengembalikan nampan dan kembali lagi dengan empat botol air mineral ditangannya.


"Lo cocok Sa jadi pelayan." Marwah menyahut sembari menuang sambal di mangkoknya.


"Pelayan masyarakat dong, melindungi dan mengayomi."


"Lo mau jadi polisi Sa?" Adila bertanya heran.


"Iya. Kenapa?" Salsa bertanya sambil menoleh kearah temannya yang duduk disamping dan depannya. Marwah, Niken dan Adila terlebih dahulu berpandang-pandangan.


"Kalau Adila yang cita-citanya jadi polisi gue sih percaya karena tingginya mendukung." Marwah menjawab sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


"Gue lagi masa pertumbuhan ya. Tinggi badan gue masih bisa bertambah dari tahun ke tahun." Salsa menyahut sebal karena paham betul dengan maksud ucapan Marwah. Tinggi badannya kurang.

__ADS_1


"Banyak-banyak minum susu ya, Sa." Adila meledek. Niken dan Marwah jadi ikut tersenyum geli.


"Coklat dari ayang embeb tadi udah lo makan, Nik?" Tak mau terus-menerus jadi bahan ledekan Adila dan Marwah tentang cita-citanya, Salsa mencari topik lain untuk jadi bahan ledekannya.


"Apaan sih Sa? Kalau mau bilang aja, masih ada tuh di laci meja. Masih tersegel. Tapi saran gue sih lo jangan banyak-banyak makan coklat, entar gigi lo keropos nggak bisa lolos seleksi jadi polisi."


Niat hati ingin berpindah haluan menggoda Niken malah Niken yang ikut-ikutan menggoda dirinya. Salsa cuma bisa manyun.


***


"Niken, absen nanti letak di ruangan pak Jhon ya." Rindy menyerahkan absen yang diterima Niken dengan wajah bingung.


"Kok gue? Biasanya lo yang kekantor nitipin absen."


"Jadi tugas lo sebagai sekretaris apa kalo cuma nitip absen aja harus gue." Rindy sewot mendengar pertanyaan Niken yang menurutnya pertanyaan yang tidak penting.


"Biasa aja kali, nggak perlu langsung ngegas. Niken kan cuma nanya, nggak perlu jawab pake urat juga." Marwah yang kebetulan sedang bersama Niken memasuki kelas menyahut.


"Gue nggak ada urusan sama lo ya, Wah."


"Gue juga males berurusan sama lo. Oya yakin lo absen mau Niken yang nitipin? Entar lo nggak bisa ketemu kak Rayya lagi." Marwah yang sedari awal sudah tidak suka dengan Rindy sepertinya sengaja mencari gara-gara.


"Ya gimana ya, bus jemputan gue hari ini datangnya dipercepat jadi gue buru-buru pulang. Ya udah deh Nik, jangan lupa absennya." Rindy berlalu setelah sebelumnya melotot kearah Marwah.


"Rayya siapa sih, Dil?" Niken penasaran dan bertanya kepada Adila.


"Masak lo nggak tau sih, Nik? Dia itu ketua OSIS kita." Salsa yang daritadi duduk tenang menjadi penonton menyahut dari balik mejanya.


"Lah, mana gue tau ketua OSIS kita siapa? Temen sekelas kita aja gue belum hapal semua."


"Gimana lo mau hapal kalo selalu Rindy yang ngabsen setiap hari. Untung lo nggak digaji Nik, udah makan gaji buta lo kalo sampe ada dana yang digelontorkan untuk sekretaris." Niken nyengir mendengar gerutuan Adila.


"Ini bisa dititipin sekarang nggak sih?" tanya Niken. Dibukanya absen dan terpampang tulisan tangannya yang menurut pak Jhon paling cantik sekelas.


"Bisa deh kayaknya. Ini kan udah jam pelajaran terakhir."


"Temenin yuk, Dil." Niken langsung saja menarik tangan Adila. Adila sampai kaget dan hampir tersungkur.


"Eh, Nik sama gue aja, gue sekalian mau ke toilet." Marwah berlari mengejar Niken yang sudah hampir sampai di ambang pintu.

__ADS_1


Karena Marwah sudah menemani, Adila kembali lagi ke bangkunya sembari mengomel untung tidak jatuh.


__ADS_2