Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Jalan-jalan


__ADS_3

Hari minggu ini, Andre mengajak jalan-jalan Niken ke taman wisata alam mayang. Sulit untuk menyatukan jadwal mereka dan hari minggu adalah hari yang sangat cocok untuk mereka walau di batasi hanya sampai pukul empat sore karena Andre yang harus membuka gerai.


Sesampainya di taman alam mayang, pengunjung sudah mulai memadati tempat wisata yang cukup populer di Pekanbaru ini. Hari minggu memang hari yang sangat cocok untuk menghabiskan waktu bersantai bersama keluarga. Tak heran bila tempat ini selalu ramai dikunjungi bila hari minggu.


Niken dan Andre memilih duduk-duduk di bangku kayu yang disediakan oleh pihak pengelola, di bawah-bawah pohon rindang yang banyak tersebar di sekitar taman. Menikmati air danau yang tenang dan pengunjung yang asyik menikmati wisata air yang di sediakan.


"Mau makan apa?" tanya Andre yang mendapati sang kekasih terdiam disampingnya.


"Aku belum laper kak, nanti aja kalo mau makan. Kakak udah laper ya?"


"Belum juga. Kamu dari tadi diam aja, kakak kirain kamu laper."


"Nggak ah. Aku mau naik sepeda air. Ayo naik!" Ajak Niken semangat sembari menyeret tangan Andre menuju tempat penyewaan sepeda air.


Andre menurut saja karena tujuannya mengajak Niken ke taman ini adalah untuk menghabiskan hari minggu mereka dengan berkencan dan bersenang-senang.


Niken memilih sepeda air berwarna kuning dengan motif bebek karena terlihat imut dimatanya. Niken naik dan diikuti oleh Andre. Mereka mendayung santai sepeda air itu menuju ke tengah danau, melebur menjadi satu dengan pengunjung lainnya yang juga menyewa sepeda air.


"Nik, kemarin ayah tanya lagi, kapan keluarga kakak bisa datang berkunjung kerumahmu?" tanya Andre di sela-sela kegiatan mereka mendayung sepeda dan menikmati semilir angin.


"Kalau hanya untuk berkunjung dan bersilaturahmi biasa, kapan aja bisa kak, pintu rumah selalu terbuka kok." Niken menjawab santai walaupun dalam hati sudah ketar-ketir dengan jawaban Andre selanjutnya.

__ADS_1


"Maksud ayah kakak bukan silaturahmi say hello terus pulang. Tapi kapan keluarga kakak bisa melamar kamu?" Andre langsung saja menjelaskan maksud ucapannya.


"Kalau kakak udah bisa memenuhi syarat yang aku ajukan, besok pun aku siap kak," ujar Niken mantap dan sedikit tidak mengerti. Bisa-bisanya ayah Andre dan papanya kompak mendesak mereka agar segera menikah. Sebegitu tidak sabarnya kah mereka melihat ia dan Andre menikah?


"Nggak bisa di ganti ya Nik syaratnya? Enam bulan deh, sebulan itu terlalu cepat Nik. Emang bisa mempersiapkan pernikahan hanya dalam waktu sebulan? Dekor, cathering, gaun pengantin belum lagi persiapan yang lain," rayu Andre mencoba bernegosiasi dengan Niken.


"Syarat ku nggak bisa berubah kak. Aku nggak mau tunangan lama-lama. Kakak tau pasti alasannya. Mempersiapkan pernikahan dalam waktu sebulan bisa-bisa aja kak, sekarang banyak kok WO profesional yang bahkan mempersiapkan pernikahan dalam waktu tiga hari pun bisa."


"Tujuan kamu mengajukan syarat itu karena takut kejadian kamu ditinggalin tunangan terulang lagi kan Nik? Jangan samakan kakak dengan mantan tunangan kamu yang kabur itu Nik. Kakak nggak mungkin tinggalin kamu. Tapi kayaknya rasa percaya kamu sama kakak masih tipis. Kamu samakan semua laki-laki dengan mantan tunangan mu itu." Andre mengucapkan kalimat itu dengan nada datar tapi Niken sadar terselip amarah dalam ucapan itu.


Niken menghembuskan napas melalui mulut, sejujurnya ia sedikit tersinggung dengan ucapan Andre tetapi sebisa mungkin tak semakin memantik amarah di hati kekasihnya itu. Bukan maksud hatinya menyamaratakan semua lelaki sama dengan Bayu. Bukan maksud hatinya juga tak percaya dengan Andre. Tetapi ketakutan itu selalu muncul dengan sendirinya. Niken gelisah sendiri bila mengingat pertunangan.


"Aku udah kasih solusi, pakai dulu tabungan kita. Aku nggak papa untuk sementara waktu tinggal di rumah kontrakan kalau kakak nggak mau tinggal di salah satu orang tua kita."


"Uang itu khusus untuk rumah kita setelah menikah Nik, kakak nggak mau pakai uang itu selain untuk kebutuhan lain." Andre masih bersikeras menolak.


Niken jadi bingung sendiri, "Sebaiknya memang kita jalanin aja dulu kak. Bila perlu kita stop tabungan kita untuk sementara waktu agar kakak bisa fokus menabung untuk melamar aku dan penuhi persyaratan dari aku. Cuma cincin sederhana juga nggak papa kok, nggak perlu yang mahal dan mewah."


Andre terdiam dan Niken pun jadi ikut terdiam. Mereka fokus mengayuh sepeda air yang mereka naiki dan melihat orang-orang tertawa menikmati permainan yang sedang mereka nikmati.


"Maaf ya Nik." Niken menoleh mendengar ucapan maaf dari Andre. Ia sempat mengernyit karena tak paham mengapa Andre tiba-tiba meminta maaf. Andre juga menggenggam tangannya dan mengelusnya pelan.

__ADS_1


"Maaf belum bisa jadi yang terbaik untuk kamu. Maaf karena kamu jadi ikutan pusing mikirin keuangan kakak yang masih berantakan. Maaf juga belum bisa jadi sosok yang sempurna yang bisa berikan kamu segalanya." Sesal itu terlihat jelas di wajah Andre. Niken sedikit memahami, mungkin Andre tidak percaya diri dengan keadaannya sekarang.


"Apaan sih kak? Kakak itu yang terbaik. Aku salut sama kakak yang pantang menyerah dan terus berjuang. Aku yakin kita bisa lewati ini. Terus semangat, aku yakin kakak bisa wujudin semua keinginan kakak." Niken tersenyum sewaktu mengucapkan itu tetapi air matanya justru menetes.


"Maaf." Lirih Andre sembari menghapus air mata di pipi Niken.


Niken tertawa untuk memecah suasana melow diantara mereka, "Lebaran masih lama, entar aja maaf-maafannya."


Tak ayal Andre pun ikut terkekeh geli dan mengacak rambut Niken gemas. Mereka menepikan sepeda air yang mereka naiki karena cuaca yang mulai panas. Memancing menjadi pilihan mereka selanjutnya walaupun seumur hidupnya baru kali ini Niken memegang joran.


Niken berteriak heboh sampai mendapat lirikan pengunjung sewaktu umpannya dimakan ikan. Bersusah payah ia menarik joran. Andre yang tak mau sampai kekasihnya itu terseret ikan pun ikut membantu menarik joran.


Niken melompat senang sewaktu ikan berhasil di tarik keluar. Pantas saja susah ternyata ikan yang ia dapatkan lumayan besar.


"Kita panggang aja kak, di warung itu," usul Niken.


"Boleh deh daripada di bawa pulang susah bawanya."


Andre membawa ikan hasil tangkapan Niken ke sebuah warung yang memang khusus mengolah ikan hasil tangkapan para pemancing. Andre meminta agar ikan itu di panggang dan membayar bumbu untuk mengolah ikan serta sambal untuk pelengkap sewaktu di sajikan.


Niken menunggu di kursi-kursi kayu yang disediakan pemilik warung. Ia menggoyangkan kaki sembari memainkan ponsel dan sesekali berpoto. Andre yang baru selesai berurusan dengan perikanan datang menghampiri Niken dan ikut berpoto.

__ADS_1


__ADS_2