
Niken pamit kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk memendam saja rasa penasarannya. Mungkin kalau kondisi Nabila masih muntah-muntah keesokan harinya, Niken akan menanyakan siapa bapak dari janin yang di kandungnya agar dia bertanggung jawab dan ikut merasakan penderitaan yang dialami Nabila.
Niken tengah asyik merebahkan diri ketika Cindy datang mengetuk pintu kamarnya, "Ada tamu."
Niken pun bangkit dan turun menuju ruang tunggu. Bayu sudah duduk menunggunya.
"Kok datang nggak bilang-bilang?" Niken kaget juga dengan kedatangan Bayu. Sudah hampir seminggu ini ia tidak datang berkunjung kecuali dua hari yang lalu saat mengantar Niken setelah menginap di tokonya.
"Harus laporan gitu? Surprise dong, biar kalo kamu di apelin cowok lain aku bisa langsung tau." Niken cemberut mendengar omongan ngawur Bayu. Niken itu makhluk yang paling setia di muka bumi walaupun sesekali masih suka sih balasin pesan dari cowok lain.
"Udah makan?" tanya Bayu begitu Niken duduk di sampingnya.
"Belum," sahut Niken manja, "Makan mie goreng di depan perempatan itu kayaknya enak deh."
"Hmm, ujung-ujungnya nggak ngenakin," gurau Bayu. Tapi tak pelak ia pun bangkit dan berniat mengendarai sepeda motornya untuk berangkat ke penjual mie goreng yang diinginkan Niken.
"Jalan kaki aja, dekat kok." Niken bergelayut di lengan Bayu dan menyeret tunangannya itu agar berjalan kaki ke perempatan jalan yang tak jauh dari tempat kosnya.
"Bang," panggil Niken disela-sela aktifitas mereka berjalan kaki.
"Hmm," sahut Bayu sembari menyelipkan juntaian rambut Niken ke telinga. Angin malam ini berhembus cukup kencang dan mereka berjalan pelan dengan tangan Bayu melingkar di bahu Niken.
"Udah 2 hari ini Nabila sakit, bang." Niken memberi laporan.
"Sakit apa?"
Niken terdiam sejenak, "Masuk angin kayaknya." Nike memilih bungkam. Niken tidak mau aib temannya itu tersebar kemana-mana walaupun Niken sudah terlanjur bercerita kepada Juna.
Bukan terlanjur sebenarnya tetapi memang Niken sampai saat ini belum bisa menyimpan rahasia sedikitpun kepada Juna. Walau Juna selalu menyebalkan setiap kali Niken mulai mengeluarkan keluh kesah tetapi Juna menjadi pendengar yang baik selama ini.
Mereka melanjutkan perjalanan dan memakan mie goreng dengan obrolan ringan ala sepasang anak manusia yang sedang kasmaran. Hingga pintu gerbang hampir tutup baru Bayu kembali pulang.
__ADS_1
Esok pagi saat Niken akan berangkat kerja dan membawakan sarapan untuk Nabila, didapatinya temannya itu kembali muntah-muntah. Niken yang tidak tega pun membantunya berbaring dan membersihkan muntahan yang tercecer di kamar mandi.
Setelah memberinya sarapan yang sengaja dibawanya dari lantai bawah, Niken mengoleskan minyak angin di sepanjang punggung Nabila. Niken tidak tau ini berpengaruh atau tidak tetapi Niken sudah mencoba. Seumur hidupnya, baru kali ini ia merawat orang sakit. Biasanya dirinya bak orang lumpuh walau hanya pusing sedikit saja. Tidak tau bila harus merasakan seperti yang Nabila rasakan.
"Bil, aku berangkat kerja dulu ya. Udah 2 hari aku libur. Nggak enak aku sama bu Salwa." Niken pamit dan di angguki oleh Nabila. Wajahnya kembali pucat. Mungkin efek ngidam yang dialaminya. Tapi bila sudah beranjak siang hingga malam, wajah itu tidak sepucat bila pagi hari.
"Nik!" Panggilan Nabila menghentikan langkah Niken yang sudah hampir mencapai pintu. Niken berbalik dan menatap wajah sendu Nabila.
"Boleh aku minta tolong, nanti sore panggilkan bang Bayu kesini?"
Niken mengerutkan kening heran, "Untuk apa?" tanya Niken heran.
"Ada sesuatu yang mau aku omongin sama dia."
Ucapan misterius Nabila sukses memporak porandakan sepanjang hari yang dilalui Niken.
***
Bayu pun sepertinya heran dengan permintaan Niken, pasalnya baru tadi malam dirinya datang dan hari ini Niken sudah memintanya datang kembali. Demi pujaan hati yang sepertinya akhir-akhir sering merindu, Bayu pun menyanggupi untuk datang.
Niken mengunjungi kamar Nabila untuk melihat bagaimana keadaan temannya itu. Nabila sudah mandi dan terlihat tengah bersandar dengan lesu di kepala ranjang.
"Masih muntah-muntah, Bil?" Niken bertanya begitu masuk ke dalam kamar Nabila.
"Udah nggak. Cuma tadi aja." Nabila menjawab lesu.
"Kuliahmu libur udah berapa hari?" Niken bertanya kembali karena semenjak muntah-muntah Niken belum melihat Nabila berangkat kuliah.
"Aku libur dulu. Nggak tau entah sampai kapan masuknya."
"Udah makan siang kan, Bil?" Niken bangkit dan membersihkan sampah bekas makanan yang terdapat di meja mini dalam kamar itu. Lagi-lagi makanan itu bersisa.
__ADS_1
"Udah."
Niken terdiam, tidak tau lagi harus bertanya apa. Nabila pun terlihat semakin lesu dari hari ke hari.
"Nik."
"Hmm."
"Udah minta bang Bayu untuk datang kesini?"
"Udah, tadi aku telepon katanya nanti malam baru bisa kesini. Ada perlu apa ya, Bil? Tadi malam bang Bayu baru dari sini padahal." Akhirnya keluar juga pertanyaan yang mengganggu pikirannya sepanjang hari ini.
"Nanti juga kamu tau."
Niken kembali terdiam dan mencoba berpikir positif. Mungkin memang pertemanan Nabila sama seperti pertemanannya dengan Juna. Melekat erat dan saling membutuhkan. Walaupun menurut Niken pertemanan Nabila dan Bayu tidak selengket antara dirinya dan si songong Juna.
Malam yang ditunggu pun tiba begitupun Bayu yang sepertinya kehadirannya sudah sangat dinantikan oleh Nabila.
Niken turun begitu Bayu memberi tahu sudah berada di ruang tunggu. Niken sengaja tidak memberi tahu Nabila terlebih dahulu kalau Bayu sudah datang. Niken ingin berbicara dan bertanya terlebih dahulu kepada Bayu. Ada apa sampai Nabila nekat menyampaikan pesan agar datang menemuinya?
"Ada apa kok tumben ngajak ketemu lagi?" tanya Bayu sembari menopang dagu. Tangannya ia letakkan di pinggir kursi dan memandang Niken dengan senyum tipis terpatri di wajah.
"Aku sebenarnya yang harus tanya ada apa. Ada apa antara Abang dan Nabila? Nabila yang nyuruh aku manggil Abang kesini!"
Bayu sempat terkejut dan menegakkan badan, "Nabila? Ada apa kok nyariin Abang?"
Niken mengangkat bahu menandakan ia juga tidak tau, "Kenapa kok Nabila nyariin Abang? Ada perlu apa kalian?" Niken merasa pertanyaan yang di ajukan masih di batas kewajaran. Karena mau bagaimanapun Bayu calon suaminya dan ia berhak tau sedikit banyaknya dengan kehidupan calon suaminya itu.
"Abang juga nggak tau, kenapa kok Nabila bisa nyariin Abang," sahut Bayu yang sepertinya juga nampak kebingungan sama seperti Niken.
"Dia bisa kan telepon Abang langsung tanpa harus menyampaikan pesan sama aku." Niken bertanya dengan heran. Tapi jawaban Bayu hanya kedikan bahu tanda tak tahu.
__ADS_1