
"Intan dari tadi memang ngintilin aku terus, mulai dari pagi sampai istirahat kedua bahkan ke toilet pun aku diikuti." Rayya mengangkat tangannya begitu mendapat lirikan sengit dari Niken.
"Dia nunggu di pintu toilet kok, nggak ikut masuk." Niken diam sedangkan Rayya menggaruk rambutnya dengan gusar.
Ceritanya kan dia yang cemburu kenapa sekarang justru Niken yang marah padanya? Hmm ini gara-gara Intan yang kalo punya keinginan nggak dituruti pasti bakalan neror sampai ke liang lahat.
"Intan mau beli jaket di toko temannya, kebetulan jaket itu lagi harga promo. Masalahnya jaket itu couple, biasanya Intan beli barang-barang couple bareng Sandy karena dia nggak punya abang atau adik laki-laki, cowok pun dia nggak punya. Sandy nggak mau karena dia udah punya katanya, jadilah aku yang dijadikan sasaran karena nggak ada lagi yang bisa dijadikan teman couple an. Aku pun sebenarnya nggak mau, makanya dia maksa dan ngikuti aku kemana-mana macam lintah. Begitu aku bilang iya baru dia lepas nggak ngikuti aku kemana-mana lagi."
Selesai Rayya menjelaskan, Niken langsung berdiri dan memasuki bus karena kebetulan bus yang mereka tunggu sedari tadi sudah berhenti tepat dihadapan mereka. Mengabaikan Rayya.
Sesampainya didalam bus, Niken memilih duduk di bangku yang sudah terisi seseorang disebelahnya. Niken tidak mau bila dia memilih bangku yang masih kosong semua, pasti bangku sebelahnya akan diduduki Rayya.
Niken tidak tahu Rayya duduk disebelah mana, karena posisi duduknya yang berada dibelakang supir. Mau menoleh kebelakang tapi gengsi. Niken kan masih marah dengan Rayya. Enak saja Rayya menuduh Niken selingkuh dengan Dhani. Dia sendiri malah mau membeli jaket couple dengan Intan.
Bus melaju dengan perlahan. Mereka tidak menunggu lama untuk bus cepat penuh karena kebetulan bus sudah terisi penuh hampir seluruhnya anak dari sekolah Budi Utomo. Seperti biasa kenek bus berkeliling menagih ongkos. Begitu kenek bus berhenti di deretan bangku yang Niken duduki, Niken langsung merogoh saku bajunya dan akan ikut membayar seperti teman yang duduk disebelahnya tapi langsung ditolak oleh si kenek bus.
"Udah dibayar tadi sama temanmu yang duduk dibelakang itu. Katanya jangan marah lagi," ucapan kenek bus itu sontak mengundang senyum seseorang yang duduk disebelah Niken.
Niken sendiri langsung merah padam karena malu. Niken menoleh kebelakang karena tidak tahan. Dilihatnya Rayya yang mengarahkan wajahnya ke jendela bus dan pura-pura tidak melihatnya. Padahal dengan jelas senyum tersungging di bibirnya.
Isshh, Niken mau marah kan jadi tidak bisa.
***
Rayya : Maaf!!!
__ADS_1
Niken masih memandangi radio yang dijadikan Rayya untuk bertukar salam dan menyampaikan maaf padanya sejak 30 menit yang lalu itu. Sejujurnya Niken sudah tidak begitu sebal dengan Rayya dan sudah berniat akan memaafkannya besok tapi tanpa Niken sangka, saat ia tengah mendengarkan radio justru muncul salam dari Rayya.
Lelah dengan posisi tengkurap nya, Niken bangkit dan duduk dimeja belajarnya dengan kepala ia sandarkan miring menghadap radio yang masih berceloteh riang itu. Rayya hanya menyampaikan kata maaf tanpa embel-embel lainnya dan sempat menjadi bahan tertawaan si penyiar radio apalagi ketika si penyiar menanyakan berapa umur Rayya.
Niken mendengar suara motor berhenti didepan rumahnya dan percakapan yang sepertinya dilakukan om Uno dengan si pengendara motor. Niken tidak peduli karena bisa dipastikan itu tamu om Uno atau tante Runita.
"Niken, kamu lagi ngapain?" Tante Runita yang tiba-tiba sudah masuk kedalam kamarnya mengejutkan Niken yang masih asyik memandangi radio. Niken langsung menegakkan tubuhnya dan mematikan radio agar Tante Runita tidak kepo dengan apa yang dilakukan Niken.
"Nggak ada Tan, tadi ngerjain PR tapi udah selesai. Kenapa Tan?"
"Kamu beneran pacaran sama adiknya Sinta ya?" Pertanyaan penuh semangat itu menimbulkan kernyitan di kening Niken. Niken garuk-garuk kepala, bingung harus menjawab apa. Pasalnya Niken sadar diri dia masih dibawah umur, masih 13 tahun belum waktunya untuk pacar-pacaran.
"Tante kenapa kok tiba-tiba tanya itu?" Dengan jantung yang mulai berdegup kencang akhirnya pertanyaan itu yang terlontar dari mulut Niken.
"Tuh pacar kamu ngapelin. Lagi di interogasi sama om kamu."
"Rayya datang, Tan? Sama siapa? Sendiri atau sama temannya? Ngapain sih tuh anak pakai acara kesini segala?" Niken bertanya dengan panik dan mondar-mandir bingung didepan pintu kamarnya.
"Dia datang sendiri. Tante sih belum tanya dia kesini mau ngapain tapi mungkin om Uno udah tanyain. Udah kamu buruan ke depan sebelum pacar kamu meleleh di sinar laser sama om kamu." Niken semakin panik dan buru-buru keluar dari kamarnya tapi baru beberapa langkah Niken melangkah dia kembali masuk ke kamarnya. Mengundang senyum geli di wajah Tante Runita.
"Kenapa, kok balik lagi?"
"Rambut aku berantakan gini Tan. Ya ampun." Niken meraih sisir dengan panik dan menyisir rambutnya dengan terburu-buru.
"Yang mau ketemu pacarnya, panik bener sih. Sini Tante bantu sisir rambutnya." Tante Runita tersenyum geli.
__ADS_1
"Paniklah Tan, kalau kak Rayya sampai di apa-apain sama om Uno gimana?"
"Emangnya om Uno mau ngapain pacar kamu sih? Kamu beneran pacaran sama adiknya Sinta, ya?" Pertanyaan Tante Runita lagi-lagi masih sama karena ia begitu penasaran dan membuat Niken kembali panik.
"Ya enggak lah Tan, kami cuma berteman kok. Ada hubungan antara ketua OSIS dan sekretaris kelas."
Ya ampun, Niken ngomong apa sih? Panik memang membuat orang semakin bodoh saja. Wajahnya merah padam karena malu.
"Kalau cuma berteman kenapa mesti panik gitu?" Sahut Tante Runita sembari meletakkan sisir di meja rias mini yang dibawa langsung oleh Niken dari rumah mamanya.
Jleb!!! Niken diam tak berkutik.
Daripada wajahnya semakin merah padam lebih baik Niken kabur menemui Rayya.
Om Uno memandang Niken yang berlari kearahnya. Lantas ia pun berdiri meninggalkan Niken dan Rayya sebelum berpesan untuk segera pulang bila urusannya telah selesai. Niken dan Rayya sama-sama mengangguk mengiyakan. Setelah kepergian om Uno, Rayya langsung menangkup kedua pipi Niken dengan tangannya. Niken mengernyit.
"Dingin banget." Sahut Niken heran.
"Aku gugup, Nik." Niken langsung tertawa mendengar jawaban polos Rayya.
"Waktu pertama kali aku nyampein pidato setelah terpilih jadi ketua OSIS, aku nggak se gugup ini," gumam Rayya. Niken masih tersenyum geli.
"Emang ngomongin apa aja sama om Uno sampai gugup gitu? Kamu nggak diberi tembakan laser kan?" Niken sempat mengernyit sejenak sebelum tersenyum dan menggeleng.
"Rahasia laki-laki." Niken mencebik.
__ADS_1
"Gaya banget sih."