
Begitu sampai di lapangan Niken masih mencoba mengatur napasnya yang ngos-ngosan dengan bertumpu pada lutut saat panitia MOS menghampirinya.
"Darimana kamu?" Bentak kakak tingkat yang wajahnya sudah dibuat se judes mungkin.
"Keliling-keliling sekolah kak nyariin ketua OSIS," jawab Niken setelah berhasil mengontrol napasnya.
"Mana buku kamu? Sini!" Niken menyerahkan buku yang dibawanya dan sempat melirik name tag yang terpasang di baju panitia MOS itu. Hanum Salsabila.
"Kamu udah kenal ketua OSIS kita sebelumnya?" tanyanya galak.
"Belum kak," lirih Niken. Sudah tidak dapat dijelaskan lagi bagaimana perasaannya. Niken sudah pasrah bila harus keliling lapangan ataupun menyikat WC karena tidak dapat menemukan ketua OSIS dan meminta tanda tangannya.
"Jangan bohong?!" tanya Hanum. Tak cuma suaranya saja yang galak dan membentak tapi kali ini disertai dengan mata menyipit curiga. Niken langsung menciut dibuatnya.
"Nggak kak. Sumpah aku nggak bohong." Niken sampai mengangkat tangannya dan membentuk jarinya dengan simbol peace agar kakak judes dihadapannya ini percaya.
"Oke. Kamu udah bisa ke kantin buat istirahat." Hanum berucap ramah dan menyerahkan kembali buku Niken. Niken melongo. Tapi setelahnya langsung berlari secepat kilat sebelum si judes itu berubah pikiran.
Sesampai di kantin, Niken menolehkan kepala ke sekeliling penjuru kantin dan mendapati stand minuman penuh manusia, 'Sudah banyak juga rupanya yang bebas dari hukuman MOS yang aneh-aneh itu' pikir Niken.
Niken memutuskan untuk kembali ke kelas saja tapi matanya menemukan Juna tengah duduk dengan seorang murid laki-laki. Kontan saja Niken sumringah dan menghampiri Juna dengan riang.
"Jun!" sapa Niken setengah berteriak. Juna hanya mendongak dan menyedot kembali minuman dihadapannya.
"Kok bisa cepet banget masuk kantin?" Niken bertanya sembari merebut minuman dihadapannya dan meminumnya hingga habis tak bersisa. Teman Juna yang saat ini duduk dihadapan Niken dan Juna sampai terheran-heran melihat tingkah Niken.
"Aku dikasih hukuman ringan, cuma disuruh nulis nama-nama siswa di kelompokku. Emang hukumanmu apa?" Juna bertanya tapi matanya memandang minuman dihadapan Niken yang sudah habis tak bersisa setelah menghela napas pasrah barulah matanya beralih ke Niken yang sudah cemberut.
"Curang. Pasti yang ngasih tugas panitia perempuan, kan?" tuduh Niken sewot. Juna yang terkekeh sudah sangat membuktikan bahwa tuduhan Niken benar adanya. Pasti perempuan itu naksir sama si Juna songong ini.
"Emang tugasmu apa?" tanya Juna setelah kekehan gelinya reda.
__ADS_1
"Suruh nyari ketua OSIS dan minta tanda tangannya." Setelah mengucapkan itu barulah Niken sadar sesuatu. Niken kan tidak menemukan ketua OSIS itu apalagi mendapatkan tanda tangannya, kok bisa dirinya terbebas dari hukuman dan sudah diperintahkan untuk berleha-leha di kantin?
Dengan terburu-buru Niken membuka buku yang dibawanya mengabaikan pertanyaan Juna yang bertanya entah apa dan juga teman Juna yang sedari Niken datang tak bersuara hanya diam mengamati interaksi keduanya.
Andre Sanjaya.
Niken menemukan tulisan nama tersebut beserta tanda tangan diatasnya. Niken sampai terdiam beberapa saat memandangi tulisan di lembar bukunya.
Syukurnya senggolan yang dilakukan Juna di siku tangan Niken menyadarkan Niken dari keterkejutannya. Dipandanginya Juna yang tengah menatap dirinya heran.
"Ketua OSIS kita baik bangeeet." Niken menangkup kedua pipinya yang bersemu merah. Niken sudah membayangkan saat ini dimatanya sudah terdapat love-love seperti film kartun yang sering ditontonnya.
Juna dan temannya hanya menggelengkan kepala pasrah dengan tingkah perempuan yang sepertinya tengah dihampiri cupid ini.
***
Niken menghentikan cerita ketika dilihatnya sang suami masuk ke dalam kamar hotel dan mendapati anak-anaknya tengah mengapit ibu mereka.
"Kalian ngapain disini? Kan udah papa booking kan kamar masing-masing?" Marsya dan Marcel saling lirik dan memberi kode agar kompak membuat alasan.
"Tadi mau pinjam pembersih muka mama terus lihat mama sendirian disini, ya udah aku jadi temenin mama aja." Marsya memberi alasan.
"Marcel nemenin kakak, Pa," sahut Marcel tanpa ditanya karena sadar papanya menatap dirinya.
"Kok udah pulang Pa?" Kali ini Niken yang bertanya.
Suaminya itu masuk dan merebahkan diri di sebelah Marcel setelah sebelumnya menggeser paksa kaki Marcel yang tengah selonjoran.
"Masih diperjalanan ternyata. Bu Dina ada-ada aja, barang datang udah malam pun masih juga di tampung, nggak tau apa ya, karyawannya juga mau istirahat." Suami Niken misuh-misuh.
"Bibit pelakor itu emang sampek sekarang belum tau Pa, kalo Papa udah punya anak istri?" Marsya bertanya heran.
__ADS_1
"Nggak tau juga. Nggak pernah tanya-tanya lagi."
"Papa kamu emang seneng nyembunyiin statusnya Sya, biar dikira anak bujang terus," celetuk Niken yang sontak mendapatkan tatapan dari ketiga manusia yang juga berada di ranjang yang sama dengannya.
"Kamu ngomong apa sih, Ma?" sungut suaminya tidak suka, "Aku kan kemarin udah mau jelasin siapa kamu sebenarnya tapi emang dasarnya bu Dina aja yang suka ambil kesimpulan sendiri."
"Pa, kalo papa berani macam-macam, Marcel yang akan turun tangan. Marcel nggak terima ya kalo mama sampai tersaingi sama pelakor," ancam Marcel.
"Tenang Cel, kamu nggak sendiri, aku juga nggak bakalan tinggal diam kalo perempuan ganjen itu berani macam-macam. Bakalan aku jadiin dia tumbal di pantai selatan, biar jadi budak Nyi Roro Kidul." Marsya pun berujar tak mau kalah.
Marsya dan Marcel bertos ria sedangkan Niken memberi senyum kemenangan kepada suaminya. Kalau berani macam-macam maka anak-anaknya lah yang akan bertindak.
"Ya ampun, banyak banget bodyguard yang mengelilingi," keluh suami Niken.
***
"Ma, nggak terasa ya anak-anak udah pada besar. Kayaknya baru kemarin kamu nangis-nangis waktu aku nyanyiin lagu pernikahan kita diatas panggung." Kenang suami Niken.
Niken dan suaminya tengah menikmati pagi masih di hotel yang berada di Jogja. Sore ini mereka berencana akan kembali pulang kerumah karena sudah satu minggu mereka menghabiskan waktu liburan di Jogja. Sebenarnya pagi ini mereka berencana akan menghabiskan waktu di Malioboro dan berburu kuliner tetapi rencana tinggallah rencana. Gerimis datang sejak tadi malam dan belum berhenti hingga sekarang.
Jadilah mereka menghabiskan waktu hanya didalam kamar. Sarapan pun mereka putuskan untuk delivery. Anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain game di kamar masing-masing.
"Sindir aja terus," sungut Niken sebal, suaminya selalu mengingat momen yang menurut Niken paling mengharukan tetapi justru di mata suaminya menjadi momen menggelikan.
"Kamu ngegemesin loh waktu itu, aku romantis banget ya sampai kamu terharu gitu."
"Ya ya ya, kamu romantis dan paling manis," ujar Niken sembari memutar bola mata.
Tetapi percayalah walaupun Niken sebal, suaminya memang paling romantis dan manis kala itu. Niken sampai menangis haru di momen suaminya menyanyikan 2 buah lagu saat pesta pernikahan mereka.
"Kamu lagi ada bisnis apa sih sama anak-anak?" tanya suami Niken sembari menatap istrinya. Posisi mereka yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang memudahkan tangannya mengelus lembut rambut Niken.
__ADS_1
"Bisnis?" tanya Niken heran dengan pertanyaan yang diajukan suaminya. Seingatnya dia tidak pernah menceritakan perihal bisnis kepada anak-anak.
"Aku udah sering mergoki kalian duduk bareng entah ngobrolin apa?"