
"Aku jadi penasaran gimana rasanya pingsan," celetuk Marcel.
"Idih, emang kamu mau, pas lagi ada cewek yang ditaksir eh tiba-tiba kamu pingsan?" Marsya bertanya heran. Ia tau adiknya ini selalu menjaga yang namanya harga diri. Bisa runtuh harga diri yang disanjung-sanjungnya bila sampai pingsan didepan gebetan.
"Iya juga ya." Lirih Marcel, "Eh tapi kak, pingsannya jangan pas didepan gebetan dong," protesnya.
"Yang namanya pingsan kan nggak bisa di tebak kapan waktunya dek. Contohnya aja mama, pingsan pas jadi anak baru, jatuh tergeletak di depan ratusan murid." Niken menyahut membuat Marcel diam berpikir.
"Tapi ma, Juna peduli banget sama mama," sahut Marsya tak memperdulikan Marcel yang masih penasaran dengan gimana rasanya pingsan.
"Iya dia peduli banget sama mama, sampai-sampai..."
***
"Kalo nggak kuat olahraga kan bisa duduk dibawah pohon itu, jangan terlalu maksa, entar pingsan lagi." Juna cerewet ini mengoceh tiada henti sejak sepuluh menit jam pelajaran olahraga baru dimulai. Niken melirik Juna sengit.
"Cerewet." Niken melengos dan melanjutkan lari-lari kecil yang diperintahkan guru olahraga mereka dengan dalih pemanasan. Niken sendiri sudah hampir menjatuhkan diri kalau saja tidak melihat guru olahraga mereka membawa kertas untuk memberi nilai kepada anak didiknya.
Sejak insiden setahun lalu saat Niken pingsan karena tidak kuat berlari dikarenakan datang telat, Juna semakin protektif alias seperti emak-emak di penghujung bulan bila menyangkut tentang Niken. Tidak boleh capek, tidak boleh lari-lari, wajah pucat sedikit langsung panik, huftt Niken serasa anak kecil yang kemana-mana didampingi baby sitter.
Belum tau aja si Junawan Hartanto itu kalo nggak cuma lari-lari aja yang bisa membuat seorang Niken pingsan, upacara bendera pun Niken bisa tergolek manis ditengah lapangan. Syukurnya semenjak sekolah di SMP Hang Tuah ini, Niken belum pernah mengalami yang namanya pingsan saat upacara dan Niken selalu berdoa semoga dia tidak mengalami lagi yang namanya pingsan saat upacara.
Begitu jam pelajaran olahraga usai, para murid langsung berbondong-bondong menuju kantin. Apalagi tujuannya kalau bukan mencari minum dan terkadang ada yang sampai menyempatkan makan dengan alasan kehabisan tenaga setelah berolahraga padahal jam pelajaran selanjutnya sangat mepet waktunya.
Saat Niken, Fanny dan Eni sedang berjalan santai dan sesekali tertawa, Juna melewati mereka sembari menyodorkan air mineral kepada Niken.
"Jangan minum es!" Niken yang menerima sodoran air mineral dari Juna tertawa geli melihat wajah melongo Eni dan Fanny. Niken pun melambai riang kepada mereka setelah mengucapkan tidak jadi ke kantin karena sudah punya minum.
"Juuuunnn tungguuuu..." Niken berlari mengejar Juna.
"Kapan sih mereka segera menghalalkan hubungan?" Tanya Fanny gereget.
Eni langsung menoyor pelan kepala Fanny dan berucap "Masih bocah dodol."
***
"Perhatian bener. Tuh Cel, contoh si Juna, sama cewek harus perhatian biar gebetan nggak lari diambil orang." Marsya berucap sinis kepada adik semata wayangnya.
Marcel bersungut-sungut, "Aku masih SMP kak, jangan kau ajari hal yang tidak benar. Aku mau jadi orang sukses dulu baru cari gebetan dan langsung ke pelaminan."
__ADS_1
"Uluh-uluh, cita-cita yang mulia nak!" goda Niken sembari mengacak rambut Marcel. Marsya sendiri memutar bola mata jengah melihat senyum songong yang ditampilkan Marcel.
"Ma, tapi keliatannya Juna itu mulutnya pedes deh," tebak Marcel.
"Emang, tapi dia baik hati. Gitu-gitu Juna juga banyak yang naksir loh salah satunya Fanny. Selain Fanny ada juga yang sering kirim salam lewat mama. Nah waktu itu..."
***
Niken mendapati Juna tengah duduk meluruskan kaki dan mengipasi wajahnya dengan buku ketika Niken menghampirinya didalam kelas. Dikelas 8 ini ia dan Juna tidak ditakdirkan menjadi teman sekelas dan Juna menempati kelas 8b sedangkan Niken di kelas 8c tetapi Juna ataupun Niken sering bertandang ke kelas masing-masing. Juna hanya melirik ketika Niken menarik kursi dan duduk dihadapannya.
"Nggak ngantin?" tanya Niken sembari membuka tutup botol air mineral pemberian Juna dan menenggaknya hingga habis hampir setengah. Diletakkannya botol itu diatas meja, Juna langsung meraihnya dan meminum sisanya hingga kandas. Sudah menjadi pemandangan biasa bagi Niken. Bila Eni dan Fanny tau hal ini mereka pasti akan menjerit heboh.
"Males kantin rame. Kok nggak ngantin juga?"
"Males udah ada yang ngasih minum, sayang duitnya kalo harus beli minum lagi."
"Tiga ribu."
"Ha?"
"Harga sebotol minuman itu." Niken langsung melempar botol kosong bekas air mineral kearah Juna yang dengan mudah ditangkis olehnya dan gelak tawanya memenuhi kelas yang hanya diisi oleh mereka berdua karena murid lain masih mengisi amunisi di kantin.
Niken mengambil botol plastik itu kembali dan membuangnya ke tong sampah dan menuju ke pintu keluar.
"Toilet, ganti baju."
"Ganti baju disini aja, cuma ada aku kok." Niken melengos begitu gelak tawa Juna terdengar lagi.
Selesai mengganti baju olahraga dengan baju seragam biasa, Niken menyempatkan cuci muka dahulu di wastafel yang berada didalam toilet itu. Sudah banyak murid yang mulai memasuki toilet dengan tujuan yang sama dengan Niken. Mungkin mereka sudah selesai dengan urusannya di kantin. Ketika masih mengeringkan wajah dengan tisu, Niken dihampiri Aisyah yang juga berada dikelas yang sama dengan Juna
"Nik!"
"Hmm."
"Kamu beneran nggak pacaran sama Juna kan?" Niken menoleh. Pertanyaan yang ke dua ratus tujuh puluh lima kali semenjak Niken menginjakkan kaki disekolah ini dan terlihat akrab dengan Juna. Niken menggeleng.
"Titip salam dong. Nanti aku traktir bakso," rayu Aisyah.
"Yaelah Syah, Juna sama kamu cuma dipisahkan satu meja, kenapa nggak disamperin aja sih. Bilang basa-basi mau ke kantin bareng kek, ngerjain PR bareng kek, ya pinter-pinter kamu lah."
__ADS_1
"Nggak berani Nik, Juna jutek banget. Kamu mau ya jadi Mak comblang aku, nanti aku belikan perangko." Niken memutar bola mata. Juna itu bukan jutek tapi sok ganteng. Beli baksonya aja belum terpenuhi ini mau belikan lagi perangko.
Hadeehhh!!!!
Kadang Niken bersyukur selama ia bersekolah di Hang Tuah ini belum ada anak laki-laki yang iseng kirim salam ataupun naksir-naksiran kepada dirinya. Hidupnya aman, tidak seperti ketika ia bersekolah di Budaya.
"Iya entar aku sampein." Akhirnya Niken memberikan jawaban yang sama untuk yang ke dua ratus tujuh puluh tujuh kali kepada para cewek yang kirim salam kepada Juna.
Eh dua ratus tujuh puluh tujuh atau dua ratus tujuh puluh lima ya?? Ah entahlah, Niken pusing.
Sementara itu Juna didalam kelas melihat keadaan sekitar, kelas masih sepi, Juna segera mengganti pakaian olahraganya saat itu juga. Terlalu malas bila harus melangkah ke toilet. Tepat ketika Juna selesai mengancingkan celananya, masuk Ardi, kakak kelas mereka.
"Eh ngapain itu, pegang-pegang kancing celana? Masturbasi ya?" Ardi terkekeh setelah Juna melemparnya dengan buku yang sedari tadi dijadikan kipas.
"Ngapain masuk-masuk kelas ini? Kangen jadi murid kelas 8 lagi?" balas Juna sengak.
"Dasar adik kelas nggak punya sopan santun," gerutu Ardi. Ardi dan Juna sudah kenal akrab diluar sekolah, tak heran bila tak ada kasta adik dan kakak kelas diantara mereka.
"Eh gimana, Niken?" tanya Ardi semangat. Dia sudah duduk manis dihadapan Juna yang terhalang meja.
"Alhamdulillah, masih hidup," sahut Juna kalem-kalem nyebelin.
"Masih cantik kan?" tanya Ardi lagi tak menghiraukan jawaban nyeleneh Juna.
"Ngapain sih nanya-nanya Niken?" Juna mulai curiga dengan kelakuan kakak kelas yang sudah dikenalnya sejak ia mulai mengikuti MOS di SMP ini. Ardi cengengesan dan garuk-garuk kepala.
Ditolehkannya kepala mengamati keadaan kelas yang masih saja sepi. Masih ada kurang lebih sepuluh menit lagi untuk jam pelajaran baru dimulai.
"Boleh kali comblangin. Punya temen imut gitu diam-diam aja, sayang kecantikannya tau." Suara Ardi terasa menyebalkan ditelinga Juna.
"Terus aku harus gimana? Harus berkoar-koar gitu kalo punya temen imut."
"Kirim salam ya." Juna mengerutkan kening.
"Emang kakak kelas yang terhormat ini nggak tau ya?" tanya Juna dengan wajah sok bingung.
"Tau apa?" Ardi juga menampilkan wajah bingung yang asli tanpa dibuat-buat.
"Niken kan udah punya pacar?" ucap Juna yang masih saja mempertahankan raut bingungnya.
__ADS_1
"Ha? Siapa? Dari sekolah mana? Anak Hang Tuah juga? Serius lah kau, Jun?" tanya Ardi panik dan tak percaya.
"Serius. Aku pacarnya," jawab Juna untuk yang ketiga ratus empat puluh satu kali.