
Niken baru saja turun dari motor Juna pagi itu ketika dilihatnya Fanny memasuki pintu gerbang. Niken tertawa dan Fanny yang baru menyadari kehadiran Niken di parkiran langsung cemberut karena paham betul objek yang menjadi bahan tertawaan Niken tak lain dan tak bukan adalah dirinya. Juna yang melihat tingkah aneh Niken mengernyitkan kening.
"Kenapa? Belum minum obat? Gilanya kumat?" tanya Juna beruntun karena Niken terus saja tertawa bahkan sampai berjongkok memegangi perut.
Fanny yang mendengar pertanyaan Juna langsung dengan cepat menghampiri Niken dan berusaha sekuat tenaga menyeretnya. Jangan sampai Niken menceritakan insiden kecebur selokan kepada Juna. Bisa malu sampai umur lima puluh tahun dirinya. Apalagi Fanny sedikit naksir dengan Juna, sedikit ya, walaupun seandainya Juna tiba-tiba gila dan nembak dirinya, tanpa ragu dan malu Fanny akan menganggukkan kepala.
Fanny yang berhasil menyeret Niken hingga masuk kedalam kelas cuma bisa misuh-misuh karena Niken belum juga berhenti tertawa.
"Udah deh Nik, jangan ketawa mulu," gerutu Fanny nelangsa, ia bahkan menempelkan pipi kirinya di meja.
"Udah mandi kembang tujuh rupa belum Fan?"
"Udah. Aku udah mandi kembang tujuh rupa, tujuh sumur tengah malam," sewot Fanny. Niken kembali tertawa.
"Kan udah aku bilang, ada selokan Fan, siapa suruh ngeyel, minta foto aja."
"Arrgghh...." Fanny berteriak frustasi. Teman-teman sekelasnya sampai melirik heran melihat tingkah anehnya.
Masih teringat jelas dalam ingatannya, setelah jatuh kedalam selokan, dua teman kunyuk nya ini bukan menolong tapi malah tertawa terpingkal-pingkal. Niken bahkan sibuk memotret dirinya yang sudah seperti tikus got.
Setelah puas menertawakan dan melihat Fanny yang kesusahan naik ke atas barulah mereka berbondong-bondong mengulurkan tangan. Melihat penampilan Fanny yang sudah entah seperti apa rupanya, sepatu, rok dan sebagian kemejanya sudah berwarna agak kecoklatan belum lagi baunya yang agak menyengat, Niken dan Eni kembali tertawa terbahak-bahak.
Dasar teman kurang asyem...
Syukurnya Eni membawa jaket yang langsung dipinjamkan karena kasihan melihat Fanny yang menjadi bahan lirikan orang-orang yang melihat mereka. Jaket itu ia ikatkan di pinggang karena yang kotor parah adalah bagian paha ke ujung kaki.
"WOY FANNY, JIWA SEHAT?" Fanny menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya mendengar sapaan Eni yang menggelegar bagai toa masjid.
"Berisik." Eni tertawa mendengar jawaban judes Fanny.
"Jadikan itu sebagai kenangan terindah nak." Eni menepuk-nepuk bahu Fanny sok prihatin padahal aslinya ia ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi kasihan juga melihat Fanny yang sedari semalam sudah mereka jadikan bahan lawakan.
"Awas kalian kalo sampai aib aku bocor kemana-mana," ancam Fanny sok garang.
"Loh kenapa? Rencananya mau ku buat cerpen dan tempel di mading. 'Hari ini aku bahagia karena mendapat lawakan, temanku masuk selokan'. Gitulah kira-kira judulnya." Eni langsung tertawa melihat raut sok polos Niken. Fanny menghampiri Niken dan seakan-akan mencekik leher Niken.
"Jahaaaaattt."
__ADS_1
***
Marsya dan marcek tertawa ngakak mendengar cerita mamanya. Marcel bahkan sampai berguling di pasir dengan lebaynya.
"Iyyuwww, pasti bau banget itu kecebur di selokan." Marsya bergidik jijik, tak lupa ekspresi lebay juga ikut menyertai.
"Baunya sih masih bisa di tahan tapi malunya itu loh," sahut Marcel masih dengan tawa. Niken hanya menggeleng dan jadi ikut-ikutan geli melihat tingkah anak-anaknya.
"Terus ma, apa yang terjadi sama Fanny?" tanya Marsya masih penasaran dengan nasib teman mamanya itu.
"Ya nggak terjadi apa-apa, paling juga kalo reuni masih di ungkit itu kejadian." Lagi-lagi tawa menggema. Para pengunjung bahkan sampai melirik mereka. Niken, Marsya dan MarcelĀ tidak seperti ibu dan anak tetapi lebih seperti ke anak-anak tersesat.
"Ma, dulu mama pernah nggak sih, telat waktu berangkat ke sekolah? Kayaknya mama aman-aman aja itu, pulang pergi bareng Juna?" tanya Marcel yang diangguki semangat oleh Marsya.
"Ya pernah dong. Mama pernah dihukum lari keliling lapangan gara-gara telat," sahut Niken.
"Serius, ma?" Marsya dan Marcel kompak menyahut tidak percaya. Pasalnya selama ini mamanya terlalu disiplin mendidik mereka. Mereka jadi meragukan mamanya pernah telat juga berangkat ke sekolah.
"Serius dong. Mau tau ceritanya?"
Marsya dan Marcel kompak mengangguk.
***
"Kenapa telat?" Pak Harto yang menjabat sebagai guru BP bertanya garang. Niken sedang mengatur napasnya yang ngos-ngosan melirik Juna yang adem ayem tanpa ada raut takut diwajahnya sedangkan Niken sudah deg-degan tak karuan. Entah karena habis berlari atau karena ini pertama kalinya dalam sejarah ia menempuh pendidikan mengalami yang namanya telat.
"Ya karena nggak datang tepat waktu pak makanya telat." Niken melongo mendengar jawaban enteng Juna sementara pak Harto sudah melayangkan penggaris panjangnya di betis Juna. Niken meringis ngeri sementara Juna meringis nyeri.
"Mau main-main ya kamu sama saya?" Pak Harto melotot garang.
"Siapa yang mau main-main sih pak, saya kesini mau belajar." Juna yang menjawab tapi Niken yang ketar-ketir dibuatnya. Juna ini apa-apaan sih?
"Kamu? Kenapa telat?" Niken langsung mengangkat kepalanya mendengar bentakan pak Harto tapi bukannya menjawab Niken malah melirik Juna. Bingung mau membuat alasan apa supaya mereka bebas dari interogasi guru yang terkenal galak ini.
"Ban motor kami bocor pak, ditempel dulu makanya kami bisa telat." Juna menjawab cepat setelah sadar Niken sedari tadi meliriknya seolah memberi kode bahwa ia butuh pertolongan.
"Kamu dari tadi saya tanya jawabnya nggak pernah beres, giliran perempuan ini yang saya kasih tanya kamu jawabnya cepat. Dasar kelakuan anak jaman sekarang." Pak Harto geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Lari keliling lapangan lima putaran."
"Ha?" Niken cengo mendapat perintah tiba-tiba dari pria berkepala plontos ini.
"Sepuluh putaran."
Juna langsung menyeret Niken menuju lapangan sebelum guru gila, menurut Juna itu menambah jumlah putaran.
Niken sudah hampir kehabisan napas padahal mereka baru berkeliling selama dua putaran. Juna yang menyadari langkah Niken semakin lambat ikut memelankan laju larinya.
"Masih kuat?" Niken yang bertumpu pada lutut masih mengatur napas dan menegakkan tubuh.
"Nik, mukamu pucet banget." Juna panik.
"Ha? Udah biasa ini," sahut Niken santai sambil mencoba berlari meneruskan hukuman dari pak Harto. Masih ada 8 putaran lagi. Harus kuat.
"Ke UKS aja yok!" Niken hanya menggeleng menanggapi kekhawatiran Juna.
"Nggak lagi-lagi Jun, aku berangkat telat. Capek pagi-pagi harus olahraga. Aku takut terlalu sehat." Juna menoyor pelan kepala Niken.
"Yang buat kita telat itu siapa coba." Niken cengengesan. Salahkan saja alarm dikamar Niken yang sudah berbunyi dipukul lima lewat tiga puluh tapi Niken malah menekan tombol off dan lanjut tidur kembali, sampai mama menggedor pintu kamar Niken dengan suara menggelegar dipukul enam lewat tiga puluh barulah Niken kucek-kucek mata dan beranjak malas ke kamar mandi.
Satu putaran berhasil dilewati, masih ada tujuh putaran lagi, Niken memotivasi dirinya sendiri 'Ia pasti kuat, pasti bisa, pasti kuat, pasti bisa, semangat, semangat'. Jantungnya sudah berdetak sangat kencang, lututnya lemas belum lagi perutnya yang sudah tidak bisa dijelaskan lagi rasanya seperti apa. Dengan napas terengah-engah, Niken menumpuhkan tangannya di atas lutut. Juna yang berada di sampingnya ikut menghentikan langkah.
"HEY ITU YANG DISANA, JANGAN PACARAN AJA, LARI...LARI...!!" Pak Harto berteriak dari pinggir lapangan. Juna yang geram ikut membalas dengan teriakan juga.
"Pak, ada yang nggak tahan ini!"
"Nggak usah pura-pura kalian. Udah cepat sana lari!"
"Nik, are you ok?" Juna bertanya khawatir. "UKS aja yok!"
Niken menegakkan badannya kembali dan mulai berlari kembali.
"I'm ok," sahut Niken tapi baru tiga meter Niken mencoba berlari kembali, badannya sudah tidak tahan lagi memberi kekuatan alhasil Niken ambruk.
"Nik, Niken!" Juna yang panik menepuk-nepuk pipi Niken mencoba membuat Niken tetap sadar.
__ADS_1
Pak Harto yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka tak dihiraukan Juna karena Juna langsung melesat secepat yang ia bisa membawa Niken ke UKS.